Datan baru tengah bertanding lari di lapangan kampus dengan salah satu teman sekelasnya. Mereka bertanding untuk melakukan pertaruhan, yang menang akan mendapatkan kencan selama satu bulan dengan wanita terpopuler di kampus bernama Elisha Pratama. Wanita populer yang merupakan anak dari seorang pengusaha besar di bidang Fastfood. Datan tengah melakukan pertarungan itu bersama seorang pria bernama Arden. Mereka melakukan balapan lari menyusuri area kampus yang sangat luas. Tak ada kata menyerah dalam kamus Datan, dia terus berlari dan berlari.
Hingga saat di belokan, Datan melihat Pretty tengah berjalan menuju ke arahnya. Ia yang sedang tak ingin berpapasan dengan Pretty bersembunyi dulu di balik dinding hingga Pretty berlalu pergi, setelahnya Datan kembali berlari untuk mencapai garis finish. Datan tersentak kesal saat sampai di garis finish, Arden tengah berdiri santai dengan melambaikan kepalanya.
"Dasar lamban!" ejek Arden membuat Datan kesal. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya, Datan mendengus kesal. Ini karena Pretty tadi yang menghambatnya, kalau saja tidak ada Pretty pasti Datan memenangkan pertarungan ini. "Sekarang terima hukuman loe, Datan." "Jangan jadi looser!" ejek Arden dengan menyebalkannya merangkul Elisha di depan Datan dan mengecup kepalanya. Datan semakin kesal saja, ingin rasanya dia melayangkan bogemnya ke wajah Arden.
"Gue bukan pengecut kayak loe," ucap Datan berkacak pinggang. "Apa hukuman gue?"
"Loe katakan kata-kata puitis cinta pada siapapun yang keluar lift itu," ucap Arden.
"Segitu saja? Gampang banget," ucap Datan percaya diri.
Semua mahasiswa menyorakinya dan menyemangatinya. Datan berjalan menuju ke depan pintu lift dengan percaya dirinya. Ia sudah merelakan Elisha, apalagi melihatnya langsung mau bergandengan dan mencium pipi Arden membuat Datan ilfeel seketika. Datan bersiul sambil merapihkan rambut dan jambul khatulistiwanya yang sudah ngalahin princes Syahrini.
Ting
Datan bersiap menghadap ke lift dan duduk rengkuh di depan pintunya. "A-"
Deg
Lidah Datan mendadak kelu saat melihat siapa yang keluar dari dalam lift, Datan merasa semua ototnya kaku dan sulit untuk di gerakkan. Seseorang yang berdiri di dalam lift hendak keluar mengernyitkan dahinya melihat Datan yang duduk rengkuh di depannya. "Ada apa, Datan?" tanyanya.
Datan mendadak sulit untuk berbicara dan membuka mulutnya, seperti lidahnya di paku sesuatu. "Datan?" tanyanya kembali, dia kebingungan apalagi saat melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi menonton mereka berdua. Orang yang tak lain adalah dosen muda bernada Pretty Jonshon itu langsung beranjak melewati Datan karena tidak nyaman menjadi tontonan gratis.
"Cita-citaku dulu pengen jadi Dokter tapi setelah ketemu sama kamu berubah jadi pengen membahagiakan kamu." Ucapan Datan menghentikan langkah Pretty. Pretty berbalik ke arah Datan yang juga sudah berdiri dan menghadap kearah Pretty. Tatapan mereka beradu dan terpaut satu sama lain.
"Ka-kamu?"
"Kata orang, Nyasar itu rugi banget, tapi aku nggak ngerasa rugi karena cintaku sudah nyasar ke hati kamu!" tambah Datan membuat Pretty semakin mengernyitkan dahinya tak paham. "Aku ingin membuatmu bahagia, ijinkan aku melakukannya." Datan menghapus jarak di antara mereka berdua, Pretty masih menengadahkan kepalanya menatap manik mata Datan yang tajam. "Aku ingin ka-"
"Cukup!" ucap Pretty dengan tegas menghentikan ucapan Datan. "Jangan mengatakan apapun lagi," ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan semuanya.
Datan menatap cairan bening di pelupuk mata Pretty, membuatnya merasa bersalah. Datan melihat ke arah Leonna dan Chella yang baru saja datang dengan kebingungannya melihat Pretty yang berlalu pergi dengan tangisannya.
♣♣♣
3 hari sudah berlalu, selama itu Datan lebih memilih menginap di rumah Dhika karena merasa malu saat bertemu dengan Pretty. Datan memilih menjauh karena entah apa yang terjadi, dia merasa sakit hati melihat air mata itu keluar dari mata Pretty. Ia tak memahami apa yang tengah dia rasakan itu, ia tidak berpikir panjang saat menjanjikan sesuatu untuk membuat seseorang bahagia.
Saat ini Datan kembali pulang, karena harus menghadiri acara pertungan Percy dan Rasya. Datan pikir Pretty tidak ada di rumah, tetapi ternyata dia salah. Pretty terlihat tengah berbincang dengan Chacha di ruang keluarga. Datan beranjak memasuki kamarnya tanpa ingin menyapa mereka berdua. Saat ini Datan sudah memakai tuxedo berwarna abunya, dan beranjak keluar kamar. Tetapi langkahnya terhenti saat hampir saja bertabrakan dengan Pretty. Datan langsung berpaling memunggungi Pretty yang terlihat cantik memakai Gaun berwarna pinknya. Datan benar-benar belum siap bertatapan dengan Pretty kembali. Sebelumnya saja sudah membuatnya tidak bisa tidur. Pretty terlihat tidak menunjukkan ekspresi apapun, seakan ia sudah melupakan kejadian beberapa hari yang lalu di kampus.
"Watis selalu ada dimana-mana, mirip hantu," gerutu Datan dan beranjak pergi.
"Datan tunggu," panggil Pretty membuat Datan menghentikan langkahnya. "ck,, nih watis mau ngapain sih," gumam Datan kesal.
Pretty berjalan ke hadapan Datan, dan hendak menyentuh kerah baju Datan, tetapi seketika Datan menghindar dan mundur selangkah. "Eitss,, mau ngapain mbak?? Jangan sentuh-sentuh, kita bukan muhrimnya," cegah Datan membuat Pretty mengernyitkan dahinya bingung. Ekspresi bingung Pretty, terlihat menggoda bagi Datan. Datan merasa dirinya terkena percikan api, karena mendadak tubuhnya panas dan tidak tenang. 'Shitt!! ada apa denganku. Kenapa ekspresi itu membuat imanku tergoda. Si ujang pake acara bangun segala lagi. Oh ayolah watis, jangan semakin mengerutkan keningmu dan membuka bibirmu. Sebelum aku kerasukan lucyfer dan menarikmu ke dalam kamar,' batin Datan.
"Ahh sial!" Datan menghembuskan nafasnya kasar dan memalingkan wajahnya ke arah lain. 'Virus apa yang di sebarkan si watis titisan pemodus kelas kakap ini. Ya tuhan, pertama kalinya seorang wanita berhasil menguji keimananku kepada tuhanku dan kenapa si ujang malah semakin tegak saja. Ampuni hambamu yang unyu dan tampan ini,' batin Datan semakin konyol.
"Datan ada apa denganmu?" tanya Pretty semakin kebingungan.
"Tidak ada, minggirlah Mbak. Dan jangan pernah menyentuhku, kita bukan muhrimnya, oke" ucap Datan.
"Tapi kerah baju kamu kurang rapi," ucap Pretty dengan polos.
"Ini sedang trend, jadi jangan sok perhatian." Setelah mengucapkan itu, Datan berlalu pergi meninggalkan Pretty yang masih mematung bingung di tempatnya.
"Ada apa dengannya? Dia aneh sekali," gumam Pretty seraya beranjak mengikuti Datan menuruni tangga.
Di bawah terlihat Chacha dan Okta sudah bersiap dengan pakaian pesta malamnya. Okta terlihat memakai tuxedo berwarna coklat dan terlihat sangat gagah, disampingnya Chacha juga tak kalah cantiknya dengan dress berwarna merah maroon dan sangat pas dengan badan montoknya. Mereka semua hendak menghadiri acara pertunangan Percy dan Rasya yang akan di gelar di salah satu hotel bintang 5 di Jakarta. "Hai Mom, Dad," sapa Datan.
"Oh ayolah Little crocodile, jangan membuat malu Daddy tampanmu ini," keluh Okta.
"Ada apa sih Dad? Perasaan Datan sudah tampan dan unyu, melebihi Daddy malah," celetuk Datan dengan santainya.
"Kamu terlihat seperti badut pesta, Little crocodile," celetuk Chacha terkikik.
"Astaga Mommy kejam banget ngatain Datan seperti itu." Datan mulai merengut, dan saat itu juga Pretty baru sampai di antara mereka.
"Kamu butuh cermin besar seukuran pintu yah, supaya bisa melihat tampilan kamu di cermin," ucap Okta.
"Apa yang salah sih?" tanya Datan bingung.
"Ini." Chacha membenarkan keras jas Datan yang terlihat tidak rapi. "kalau bercermin itu jangan asal.”
"Butuh cermin ukuran kolam renang kali," celetuk Okta.
"Oh ini, bilang dong dari tadi," kekeh Datan. Pretty hanya terkikik dan menggelengkan kepalanya di belakang mereka.
"Ayo kita berangkat, sebelum telat. Dan Datan, kamu yang nyetir yah," ucap Okta beranjak terlebih dulu seraya merengkuh pinggang Nela tersayangnya.
"Baiklah pak bos," ucap Datan berjalan tanpa melirik Pretty yang bisa menggoda imannya.
Di pekarangan rumah, terlihat Mommy dan Daddynya sudah duduk manis di kursi penumpang belakang. "Yak...kenapa kalian duduk di kursi belakang?" pekik Datan kesal
"Apa ada yang salah, Little crocodile? Kamu nyetir saja di depan bareng Pretty," ucap Okta dengan santai dan tak tau malunya merangkul Nelanya dengan mesra.
"Ya Tuhan, ampunilah segala dosa dosa Daddyku. Dia mempertontonkan adegan dewasa di depan anaknya yang masih polos dan lugu," celetuk Datan dengan ekspresi lebaynya membuat Pretty terkikik dan Chacha hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Lihat Nela, ini karena saat kamu hamil. Kamu ngidamnya aneh-aneh, jadi anaknya aneh kayak gini," ucap Okta membuat Nela mendengus.
"Lagian juga sifat Datan reflika kamu," jawab Chacha.
"Oh ayolah Nela sayang, jangan hanya menyalahkan aku. Aku gak selebay dan seaneh anak ini," ucap Okta tak terima.
"Kasian banget, Datan anak yang tak di akui bapaknya," celetuk Datan. "Padahal jelas-jelas titisannya." Pretty semakin terkikik di pintu mobil yang masih terbuka keempat-empatnya.
"Biarkan saja, Papamu tidak mau mengakuimu. Yang penting Mommy mengakuimu dan menyayangimu, Little Crocodile sayang," ucap Chacha membuat Datan besar kepala.
"Mommy I love you so much," ucap Datan memberi kecupan jauh pada Chacha.
"Sudah ah, biar aku saja yang menemani putraku di depan," ucap Chacha hendak menuruni mobil tetapi Okta menarik lengan Chacha dan menahannya untuk tetap duduk di sampingnya.
"Tidak boleh kemana-mana Nela sayang, biarkan saja anak itu di depan bersama Pretty," ucap Okta menahan Chacha.
"Isshhh Daddy, aku dan mbak Pretty ini bukan muhrimnya," celetuk Datan masih tak mau berdekatan dengan Pretty.
"Memangnya kalian mau ngapain? Tenang saja Mommy dan Daddy akan mengawasi kalian berdua," ucap Okta tetep pada pendiriannya.
Selalu begini....
Chacha pusing kalau anak dan suaminya cekcok karena ingin memperebutkan dirinya. "Kalau begitu Daddy setannya dong. Kan dimana-mana juga kalau cewek sama cowok berdekatan, nah yang ketiganya setan," ucap Datan dengan polos.
"Dasar bocah gemblung!! Kualat sama Daddy sendiri. Heh Nela, kamu kasih makan apa sih anak ini," sewot Okta kesal dan Chacha hanya bisa terkikik saja melihat adu mulut mereka.
"Kalian itu lebih rempong dari para wanita," ucap Chacha membuat Datan dan Okta mendengus kesal.
"Datan gak mau duduk bareng mbak Pretty di depan," ucap Datan masih berdiri di luar mobil.
"Astaga ini bocah, apa perlu tuh kepala gue jedotin!" gerutu Okta kesal.
Pretty merasa tak nyaman dengan sikap kekanak-kanakan Datan. Pretty juga sadar kalau selama ini Datan terlihat tak senang dengan kehadirannya. Apalagi setelah kejadian di kampus waktu itu. "Emm, Om, Tante. Pretty akan naik taksi saja," ucap Pretty akhirnya.
"Lho jangan Sayang, bahaya malem-malem naik taksi sendirian. Sudah di sini duduk bareng tante. Kamu pindah ke depan Crocodile, jangan pengen nempel terus," usir Chacha.
"Tidak apa-apa Tante, Pretty akan naik taksi saja," ucap Pretty dan beranjak pergi meninggalkan semuanya.
"Lho itu Pretty mau kemana, ini karena kalian berdua benar-benar kayak bocah. Heran deh!" omel Chacha hendak mengejar Pretty, tetapi ditahan Okta.
"Heh Little crocodile, kejar dia. Tanggung jawab, dia tersinggung dengan ucapanmu. Cepat son, jangan jadi pria pecundang," ucap Okta, Datanpun segera mengejar Pretty.
Pretty terlihat berjalan menyusuri trotoar berjalan kaki dengan menggerutu kesal. "Heyy bu guru! Bu dosennn,,, tunggu!" panggil Datan mengejar Pretty yang mempercepat langkahnya.
"Watis tunggu....!!! Ehh maksudku mbak Pretty..." panggil Datan lagi hingga akhirnya terkejar dan Datan langsung menarik lengan Pretty. Pretty menepis tangan Datan tetapi tetap berbalik ke arah Datan. Datan kaget melihat Pretty yang menangis, membuat Datan merasa sangat bersalah. Dua kali dia membuat Pretty menangis.
"Mbak, maaf aku gak bermaksud seperti itu."
"Kamu kenapa sih Datan? Kamu selalu bersikap sinis padaku, bahkan dari awal aku datang ke rumah ini. Kamu terlihat terusik dengan kehadiranku, kamu selalu saja mengeluarkan kata-kata yang menyinggungku. Apa salah aku sama kamu, Datan? Bukankah kita sudah saling kenal dari sejak kecil, walaupun tidak dekat. Tapi apa masalahmu sama aku? Kamu bahkan terlihat enggan berdekatan denganku, kamu terlihat jijik berdekatan denganku!" tangis Pretty pecah membuat hati Datan ikut sedih melihatnya.
Entah apa yang Datan rasakan, tetapi melihat Pretty kembali menangis. Hatinya marah dan kesal, ada ketidakrelaan di dalam hatinya. "Kalau kamu merasa terusik dan tidak suka denganku katakan saja. Jangan hanya menyindir dan menyinggungku,, hikzzz" isak Pretty.
"Maaf," ucap Datan lirih dan kedua tangannya terulur menyentuh kedua pipi Pretty dan menghapus air matanya membuat Pretty dan Datan saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Pretty menengadahkan kepalanya karena Datan lebih tinggi darinya. Ia dapat melihat sesuatu yang terpancar dari tatapan Datan dan itu mampu menenangkannya. "maaf karena aku begitu kekanak-kanakan," tambah Datan.
Melihat ekspresi Pretty yang seperti ini mampu membuat Datan luluh dan tidak keras kepala lagi. Pretty mampu mengubah emosinya dalam seketika hanya melihat tatapannya. "Aku tidak membenci kamu, sama sekali tidak." Pretty bingung dengan kata 'kamu' yang Datan ucapkan. "Jangan menangis lagi," tambah Datan tersenyum manis dan kembali menghapus air mata Pretty.
Tiiinnn tinnn tinnn
Adegan Romantis Datan dan Pretty hancur sudah karena kelakuan sang buaya aki aki alias Aligator sang raja buaya. "Cukup tatap-tatapannya, sekarang cepatlah naik sebelum terlambat ke acara pertunangan," ujar Okta seraya menjulurkan kepalanya keluar jendela mobil.
"Dasar buaya aki-aki, ganggu orang saja!" gerutu Datan berjalan mendekati pintu diikuti Pretty. Datan bahkan membukakan pintu untuk Pretty.
"Makasih," ucap Pretty dan Datanpun menaiki mobilnya. Duduk berdampingan dengan Pretty. Chacha melirik dari kaca spion depan, terlihat Pretty dan Datan sama-sama sibuk melamun dan menatap ke luar jendela mobil.
♣♣♣
Akhirnya setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka semua sampai di Hotel tempat acara pertunangan Percy dan Rasya berlangsung. Banyak sekali tamu undangan yang datang, termasuk tamu kehormatan yang tak lain adalah Brotherhood Family. Anak-anak merekapun hadir di sana, kecuali Vino dan Rindi yang tidak datang. Para tetua Brotherhood terlihat sedang asyik berbincang. Bahkan Okta dan Chacha juga sudah hadir dan sibuk bercengkraman dengan yang lain.
Pretty sudah berlalu pergi membantu sang Mama menyiapkan segalanya. Sedangkan Datan tengah duduk santai bersama Adrian yang memakai kemeja hitam garis-garis, membuatnya terlihat imut dan tampan. Tak ketinggalan juga Leon yang terlihat sangat tampan malam itu, dia memakai kemeja putih dengan jas berwarna merahnya. Membuat ketampanannya bertambah menjadi 10 kali lipat. Bahkan tak seorangpun wanita yang tak meliriknya. Tetapi Leon tetap memasang wajah dingin dan datarnya. Berbeda dengan Datan yang terus curi pandang bahkan menggoda beberapa tamu cantik yang hadir di sana. Tak lama Leonna dan Verrel datang, Leonna terlihat cantik dengan memakai dress seatas lutut berwarna gold dan kontras dengan kulit putihnya. Rambutnya di biarkan terurai tetapi sebagiannya di pakaikan jepitan membuatnya terlihat seperti ibu peri. Disampingnya Verrel tak kalah gagah dan tampannya dengan memakai tuxedo berwarna krem hampir senada dengan pakaian yang di gunakan Leonna.
Saat ini semuanya tengah menatap ke arah podium, dimana Percy dan Rasya yang tengah berdiri. Rasya terlihat cantik dengan gaun berwarna biru yang di padu warna putihnya. Sedangkan Percy terlihat tampan dengan tuxedo birunya. Senyum terpancar dari wajah keduanya, para tamu undangan bahkan berkomentar kalau mereka berdua terlihat sangat cocok. Randa merasa hatinya begitu sakit, rasa sakit yang pastinya dirasakan oleh Rindi. 'Pasti Rindi lebih hancur dari ini' batin Randa menatap Percy yang memasangkan cincin berlian di jari manis Rasya.
Di podium juga terlihat kakek Percy yang duduk di kursi roda tersenyum bahagia melihat cucunya bertunangan. Riuk pikuk tepuk tangan menggema di sana saat keduanya sudah saling menyematkan cincin di jari manisnya. Dewi bahkan berpelukan dengan Ratu dan Angga begitupun juga dengan Edwin, akhirnya mereka bisa berbesanan.
Setelah melakukan beberapa acara, sampailah pada acara hiburan, seorang penyanyi menyanyikan sebuah lagu cinta, penuh pengkhayatan dan begitu menyentuh. Pretty yang berdiri di samping Mamanya, mulai berkaca-kaca. Perihalnya ini lagu yang pernah di nyanyikan Azka saat melamar dirinya. Tangis Pretty semakin pecah saat memasuki reff lagu yang menyampaikan betapa beratinya dirimu bagiku, dan betapa besarnya cintaku untukmu. Pretty yang sudah tak tahan lagi, langsung berlari meninggalkan semua. Dewi terpekik kaget melihat Pretty yang berlari begitu saja. Dewi langsung mengejar Pretty diikuti Chacha dan Okta, karena kebetulan Chacha juga melihatnya.
Di toilet, Datan baru saja keluar dan kaget melihat Pretty yang menangis dan memasuki toilet wanita tanpa melirik Datan. "Si watis kenapa yah?" gumam Datan. Dan tak lama datanglah Dewi, Chacha dan Okta.
"Ada apa, Mom, Dad?" tanya Datan tetapi tak dijawab oleh mereka
"Pretty Sayang, buka pintunya nak. Ada apa?" tanya Dewi mengetuk pintu toilet wanita yang di kunci dari dalam.
Di dalam toilet, Pretty terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya dan menangis sejadi-jadinya mengingat Azkanya. Tangisannya begitu memilukan sampai terdengar sampai keluar kamar mandi. "Sayang, buka pintunya Nak," isak Dewi seraya menekan knop pintu yang di kunci.
"Pretty sayang, buka pintunya. Bicaralah dengan kami," ucap Chacha ikut membantu.
"Gator,, tolongin ini gimana,, hikzzz" isak Dewi.
"Kalian menyingkirlah," ucap Okta membuat kedua wanita paruh baya itu menyingkir. "Pretty sayang, buka pintunya nak. Kalau tidak, Om akan dobrak pintunya!"
"Tinggalkan aku sendiri, hikzzz... aku ingin sendirian Ma, Tan, Om. Biarkan Pretty sendirian," isak Pretty.
"Tidak bisa Gator, gue takut Pretty berbuat macam-macam di dalam sana," isak Dewi, membayangkan Pretty yang selalu berbuat nekat.
"Baiklah, biar gue dobrak!" ujar Okta sudah bersiap hendak mendobrak pintu.
"Eitsss,,, Dad tunggu!" tahan Datan membuat ketiga orang itu mengernyitkan dahinya. "Gak sayang nih sama pintu, ini kan salah satu proferty hotel Daddy yang akan di wariskan ke Datan nanti," ucap Datan dengan santai membuat ketiganya melongo.
"Menyingkirlah Son, jangan bercanda sekarang," ucap Okta.
"Iya Datan, nanti pintunya Tante akan ganti," ucap Dewi sedikit geram.
"Maksud aku bukan gitu, Daddy kan udah tua nih. Kalau dobrak nih pintu pasti encok nanti," ucap Datan kembali menahan Okta.
"Datan jangan bercanda!"
"Gunakan ide smart, Dad. Jangan buat pintu ini rusak karena cinta yang terpuruk," ucap Datan dengan santainya. "maaf Tante, boleh minjem jepitan rambutnya," pinta Datan dan Dewi melepaskannya yang terpasang di sanggul rambutnya. Datan menerima jepitan itu dari Dewi. "gunakan ide smart, Dad." ucar Datan seraya memasukan jepitan kecil itu ke lubang pintu. Hingga
Ceklek
"Tidak sulit kan, Dad. Jangan terlalu mendramatisir keadaan." ucapan Datan membuat Okta mendengus kesal dan Chacha hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Dewi hendak masuk ke dalam tetapi di tahan Okta. "Biarkan saja, Little Crocodile bisa mengatasinya," ucap Okta dan Dewi hanya berdiri saja di luar pintu.
Datan berdecak kesal, dan berdiri di samping Pretty yang menunduk menangis sambil memeluk kedua lututnya. "Hei Bu dosen, bangunlah!" ucap Datan tetapi Pretty tak bergeming. "ayolahh watis bangun!" tambah Datan menarik lengan Pretty membuat Pretty tertarik dan berdiri di hadapan Datan. Wajah Pretty sudah basah karena air mata, matanya sendu dan merah, beberapa helai rambutnya bahkan menempel di wajah cantiknya.
"Ada apa lagi sih? Kenapa hidup kamu selalu penuh dengan drama? Aku tau kamu baru saja kehilangan kekasih, tapi apa harus seperti ini terus? Terus di ratapi ???" pekik Datan. "Jangan terpuruk ketika kamu tengah berada dalam situasi terburuk. Tuhan memberikannya padamu, karena Dia ingin kamu lebih kuat dari sebelumnya. Tuhan tidak akan berikan cobaan melebihi kemampuanmu. Ketika putus asa, ingatlah, jika Tuhan memberinya padamu, Dia akan membantumu melewatinya."
"Kamu gak paham, Datan. Aku sangat mencintainya, dan kenangan bersamanya terus terngiang di benak dan pikiranku. Kamu gak paham tentang cinta, Datan!" pekik Pretty dengan tangisnya.
"Ya, aku memang tidak paham dengan cinta. Aku bahkan tak tau apa itu arti cinta, tapi cinta juga tak harus di ratapi seperti ini. Orang yang sudah mati, tidak akan pernah hidup lagi. ingat itu!!!" pekik Datan tersulut emosi. "Sadarlah, Azka sudah tenang di alam sana. Dan apa kamu akan seperti ini terus sampai kamu tua? Apa kamu akan puas dengan menikmati keterpurukan ini? apa kamu merasa bahagia dengan meratapinya terus???"
"Tapi kenangannya tidak akan pernah hilang, Datan. Apalagi lagu yang di nyanyikan penyanyi tadi, itu mengingatkanku pada Azka yang tengah melamarku,, hikzzz!" isak Pretty menundukkan kepalanya. "Aku tidak ingin begini, tetapi kenangannya selalu mengusik pikiranku. Aku tak bisa lepas darinya,, hikzzz. Aku tak ingin mendramatisir segalanya, tapi apa yang harus aku lakukan? Aku merasa sangat terpuruk dan sendirian."
"Berjalanlah dengan sebuah harapan baru, maka kamu tidak akan pernah berjalan sendirian." Entah dorongan darimana Datan menarik Pretty ke dalam pelukannya dan mengusap kepala Pretty dengan sayang. Pretty terlihat nyaman menangis di d**a bidang Datan dengan kedua tangannya melingkar di perut Datan.
Okta, Dewi dan Chacha memperhatikan mereka berdua, dan saling pandang dengan pandangan misterius mereka. "Kenangan? Baiklah, katakan padaku semuanya. Apa yang pernah Azka lakukan bersama mbak, aku akan menggantikan kenangan itu dengan kenangan yang lebih indah," ucap Datan terdengar tulus. Pretty masih terisak di pelukan Datan, hingga Datan melepaskan pelukannya.
"Ikut denganku!" Datan menarik pergelangan Pretty keluar dari kamar mandi melewati ketiga orang yang masih berdiri di sana.
Datan sampai di tempat acara, di ikuti Chacha, Dewi dan Okta. Datan kembali menarik tangan Pretty ke atas panggung. Pretty awalnya menolak, tetapi Datan memaksanya. "Tes tes,, selamat malam semuanya." Datan mulai berbicara di microphone panggung membuat para tamu melihat ke arahnya.
"Si kunyuk Datan mau ngapain tuh, ngajakin mbak Pretty naik ke atas panggung," gumam Leonna, membuat Leon mengedikkan bahunya tak tau.
Pretty menunduk karena sangat malu, tetapi Pretty tak bisa pergi karena Datan menggenggam tangannya dengan sangat erat. Apalagi semua mata tertuju padanya, termasuk keluarga Pretty. Tanpa di sangka-sangka Datan menyanyikan lagu penuh cinta itu, lagu yang sama yang pernah Azka nyanyikan untuk Pretty. Pretty terpekik kaget melihat ke arah Datan yang tengah bernyanyi mengkhayati lagu. Datan bahkan menatap Pretty dengan teduh dan bahkan sebelah tangannya membelai pipi Pretty dengan lembut, Datan benar-benar mencoba menggantikan kenangan Azka dengan dirinya yang jauh lebih indah. Bahkan di tengah lirik, Datan terhenti karena tak tau lirik, tetapi dengan tingkah konyolnya dia mampu membuat keadaan menjadi sangat lucu, Pretty bahkan mampu tertawa melihat tingkah konyol Datan. Datan berhasil mengobati luka di hati Pretty. Dewi tersenyum senang melihat Pretty yang tersenyum dan terkikik melihat tingkah Datan.
"Datan keturunan buaya memang sangat mirip dengan biangnya," kekeh Daniel yang di angguki Dhika.
'Aku akan menggantikan semua kenangannya dengan kenanganku. Lebih baik melangkah daripada terus di menghindar yang ada akan semakin menyakitiku. Aku ingin tau, perasaan apa sebenarnya yang aku rasakan ini.'
♣♣♣