Datan memasuki dapur dan meneguk segelas air putih. Setelahnya Datan beranjak keluar dari dapur.
Brug
Datan menabrak seseorang dan hampir saja tubuh wanita itu membentur lantai kalau tidak di rengkuh oleh tangan kekarnya. Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Wanita yang tak lain adalah Pretty. Pretty yang sadar terlebih dulu langsung memalingkan pandangannya dan hendak melepas rengkuhan Datan tetapi sangat sulit sekali. "Datan,, Datan hey. Lepasin!" ujar Pretty tetapi Datan tetap tak bergeming. "Datan,," Pretty melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Datan membuatnya tersadar dan segera memalikan wajahnya.
"Datan tanganmu," ucap Pretty membuat Datan seketika melepaskannya dan segera mundur menjauhi Pretty. "Kamu baru pulang?" tanya Pretty tetapi tak di indahkan oleh Datan. Datan tiba-tiba saja beranjak pergi meninggalkan Pretty sendiri dengan terburu-buru. "Apa yang terjadi padanya?" gumam Pretty dengan kebingungannya dan beranjak untuk mengambil air minum.
Datan mempercepat langkahnya memasuki kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan cukup keras. "Sialan!!! kenapa gue barusan? Ada apa di matanya, kenapa gue seakan terhipnotis oleh matanya? Pasti mbak Pretty punya keahlian untuk menghipnotis orang melalui matanya," gumam Datan. "Bahaya kalau seperti itu, bisa-bisa gue akan terhipnotis lagi dan dengan mudahnya dia mengatur gue." Gumam Datan.
"Tidak tidak Datan, kamu tidak boleh sampai terhipnotis olehnya. Mungkin saja dia mau nyuri sesuatu dari gue," gumam Datan mondar mandir tak jelas di dalam kamarnya.
♣♣♣
Pagi itu, Pretty membangunkan Datan karena di suruh Chacha. Ia memasuki kamar Datan perlahan dan terlihat Datan tengah terlelap di balik selimutnya yang tebal. Ia sempat ragu, tetapi akhirnya berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang yang Datan tempati. Tangannya terangkat untuk menyentuh pundak Datan. "Datan bangun," ucap Pretty menggoyangkan pundak Datan.
"Masih ngantuk Mom," ucap Datan menutup wajahnya dengan bantal. Pretty menarik bantal yang menutupi wajah Datan. Ia sempat terpaku melihat wajah Datan yang tampan dan imut tengah terlelap dengan tenang.
Seketika Pretty memalingkan wajahnya menghindari kontak dengan Datan. 'Tidak Pretty, kamu milik Azka' batin Pretty. "Datan bangun." Pretty memalingkan tatapannya tanpa ingin melihat wajah Datan. Dan tanpa di sangka-sangka, Datan merebahkan kepalanya ke paha Pretty dan memeluk pinggang Pretty dengan erat, menenggelamkan wajahnya ke perut rata Pretty.
"Masih ngantuk Mommy Sayang," gumamnya. Datan mengira itu adalah Mommy tersayangnya.
Tubuh Pretty begitu tegang dan sulit untuk bergerak. Ada gelenyar aneh di dalam tubuhnya. "Da-datan," gumam Pretty.
Datan mengernyitkan dahi dalam tidur saat mendengar suara lembut seseorang. 'Ini bukam suara Nenek lampir, ini terdengar lebih lembut,' batin Datan.
Datan mengendus-endus dan mencium parfum milik wanita yang dia peluk itu. Datan membuka matanya dan langsung bertemu pandang dengan mata milik Pretty. "oh God!" pekik Datan.
Brak
Pretty terpekik saat melihat Datan terjatuh ke lantai. Datan langsung duduk dan memunggungi Pretty. "Datan, kamu baik-baik saja kan?" tanya Pretty beranjak ke hadapan Datan tetapi seketika Datan langsung berbalik memunggungi Pretty membuat Pretty mengernyitkan dahinya bingung.
"Tidak!" Datan berusaha menghindari kontak dengan Pretty. Pretty kembali berjalan ke hadapan Datan dan seketika Datan langsung berdiri dan berjalan ke dekat jendela dengan masih memunggungi Pretty membuat Pretty semakin bingung.
"Datan ada apa?" tanya Pretty.
"Keluarlah Mbak, sampaikan ke Mommy, lima menit lagi aku turun," ucap Datan.
"Baiklah," ucap Pretty akhirnya dengan masih terheran-heran melihat tingkah Datan yang terlihat tak mau melihatnya.
"Ya tuhan wanita tukang hipnotis alias watis itu kenapa terus menggangguku? Kalau begini, aku harus selalu memakai kacamata biar tidak terhipnotis lagi olehnya. Aku benar-benar harus siaga 1!" gumam Datan.
♣♣♣
Datan baru saja sampai di rumahnya, setelah pulang dari bengkel milik Leon. Di ruang keluarga, terlihat sang Mommy, Dad dan Pretty tengah berbincang-bincang dan bersantai karena ini akhir pekan. "ck, si Watis masih ada di sini. Ngapain sih dia," gumam Datan dan segera memakai kacamata hitamnya. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab ketiganya serempak.
"Datan, tumben sekali kamu pakai kacamata di dalam rumah," ujar Chacha saat Datan sudah berada di antara mereka.
"Lagi bintitan Mom," jawab Datan dengan santai.
"Memang kamu habis ngintipin siapa, Datan? Pasti ngintipin si Conel berendam dengan telanjang makanya tuh mata bintitan," ujar Okta.
“Si Conel kan gak pernah pakai baju, Dad.” Datan mendengus kesal membuat Chacha menggelengkan kepalanya.
"Mana coba Mommy lihat mata kamu." Chacha hendak menarik kacamata Datan tetapi di tahan olehnya. "Takutnya kena sengatan binatang."
"No Mom,, this Danger!" pekik Datan membuat Chacha mengernyitkan dahinya bingung.
"Apanya yang bahaya, Little Crocodile?" tanya Okta yang juga bingung.
"Datan harus siaga 1 Dad, sebelum bahaya itu datang. keep guard of danger, Dad," jawab Datan. "istilahnya itu harus sedia payung sebelum hujan," jawab Datan penuh keyakinan membuat semua orang kebingungan.
"Mommy gak paham, Datan," ujar Chacha bingung begitupun dengan Pretty dan Okta.
"Nela, anak kamu semalam di kasih makan apa sih? gak ketuker kan sama makanannya si conel?" tanya Okta membuat Pretty terkikik.
"Daddy jahat banget, memangnya Datan sumanto, yang ada juga anaknya sumanto, kan sumantonya Daddy," kekeh Datan.
"Dasar anak Buaya!" cibir Okta mendengus kesal.
Pretty merasa sangat terhibur tinggal di rumah ini. keluarga yang penuh kasih sayang, dan canda tawa. Ia merasa sangat nyaman berada di tengah-tengah keluarga seperti ini. Dan itu perlahan lahan mampu membantunya mengobati luka dan rasa sakit di dalam hatinya. Setidaknya rasa sakit itu tak terlalu menyesakkan dadanya.
"Sudah-sudah, sekarang ayo kita makan siang bersama," ucap Chacha seraya beranjak dari dudukny.
"Aku bantu yah Tante," ujar Pretty yang di angguki Chacha. Pretty beranjak dari duduknya, tetapi seketika kakinya tersandung permadani di hadapannya membuat tubuhnya oleng dan tubuhnya terjatuh tepat sekali menimpa tubuh Datan yang duduk di sofa single.
Duk
Pretty berada di pelukan Datan, membuat keduanya mematung.
Deg
Detak jantung Datan berpacu dengan cepat, dan Datanpun merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya.
"Aduh!" pekik Pretty mengusap pantatnya karena Datan mendorong tubuh Pretty dari atas tubuhnya saat perasaan aneh menghinggapi hatinya.
"Datan, kenapa kamu kasar sekali," pekik Chacha membantu Pretty terbangun. Datan mendadak salting dan berlalu pergi tanpa mengatakan sesuatu lagi. "Dasar anak itu, kamu gak apa-apa kan Prit?"
"Tidak Tante, aku tidak apa-apa," ucap Pretty. Okta hanya terdiam dan menerka-nerka kelakuan anak semata wayangnya.
Di dalam kamarnya, Datan uring-uringan tidak jelas. Kejadian tadi sungguh membuatnya bingung, respon tubuhnya pada Pretty sungguh aneh sekali, ia merasa sengatan aneh dari tubuh Pretty yang membuat dirinya tidak nyaman. "Sebenarnya si Watis itu punya apa sih? Apa semacam kekuatan super hero yang bisa menyengat? Apa dia salah satu keturunan dari dewa Zeus sang dewa petir makanya bisa nyengat-nyengat tiap bersentuhan?" gumam Datan melantur. "Mungkin dulu Zeus menitipkannya anaknya ke tante Dewi dan om Edwin. Lagian aneh kan, kenapa dia bisa buat jantung gue marathon dan darah gue berdesir bikin merinding. Hati gue sudah kayak di sengat-sengat sama percikan petirnya. Malah lebih menegangkan dari pada saat berhadapan dengan bu Fitri dosen killer itu."
"Ini tidak bisa di biarkan begitu saja, gue harus lakukan sesuatu. Ini bahaya!" gumam Datan. "gue bener-bener harus siaga tingkat menara sekarang!" gumam Datan. "Dia kagak hipnotis gue, eh malah buat gue merinding e****s. Lembut-lembut mematikan gelenyar anehnya."
"Datannnn,, ayo makan!" teriak Chacha.
"Sang nenek lampir sudah memanggil. Ayolah Datan, lupakan Watis itu dan sekarang pikirkan nasib lambung di perutmu yang sudah merintih meminta jatahnya," gumam Datan beranjak keluar kamar.
"Ayo makan, Pretty masak banyak untuk kita," ucap Chacha saat Datan sampai di meja makan. Datan mengambil duduk di hadapan Chacha, Pretty terlihat masih menata makanan di atas meja.
"Mata kamu terlihat baik-baik saja, Son." tanya Okta karena saat ini Datan tak memakai kacamatanya.
"Ya sudah sembuh barusan," jawabnya dengan santai.
"Kamu bohong yah?" tanya Chacha.
"Nggak kok Mom, Datan beneran sakit mata karena di hipnotis seseorang," ucap Datan.
"Di hipnotis? Maksudmu?" tanya Okta tak paham.
"Sudahlah, aku sudah lapar. Yang penting Datan kembali handsome," ucapnya dengan santai membuat Okta dan Chacha akhinya mengalah dan tak bertanya lagi.
"Love,"
"Mom,"
Datan maupun Okta bersamaan menyodorkan piring mereka ke arah Chacha membuat Pretty dan Chacha terdiam.
"Kebiasaan," cibir Chacha.
"Diem kamu bocah, jangan ganggu istri Daddy. Kamu ambil makan sendiri," ujar Okta menjauhkan tangan Datan yang memegang piring.
"Tidak Dad, Daddy yang harusnya mengalah. Daddy sudah tua juga, masih sok manja sama Nenek lampir," ujar Datan tak mau kalah.
"Tidak, kamu yang harusnya ambil sendiri," ujar Okta
"Sudah sudah, ya Tuhan! Bapak sama anak ini kapan akurnya?" keluh Chacha menggelengkan kepalanya. "Prit, tolong ambilkan makanan untuk Datan yah," ujar Chacha seraya mengambil piring Okta.
"Mom!" protes Datan.
"Kasihan deh anaknya Buaya," ejek Okta terkekeh.
"Sudah Datan, makanlah jangan banyak protes," ucap Chacha.
Pretty mengambil piring milik Datan, membuat Datan segera memalingkan wajahnya karena saat ini dia sedang tidak memakai kaca matanya. "Datan kamu mau pakai apa?"
"Apa saja," jawab Datan masih melihat ke arah lain. Pretty yang sebenarnya merasa heran dengan sikap Datan padanya. Datan terang-terangan menjaga sikap dan kontak dengannya. Ia ingin bertanya tetapi tidak ada keberanian, akhirnya ia hanya bisa berusaha cuek dan berpikir positif. Pretty pun mengambilkan makanan untuk Datan.
"Ini." Pretty menyimpan piring di hadapan Datan yang masih memalingkan wajahnya.
"Makasih, balik lagi sana duduk," ucap Datan masih tak menatap ke arah Pretty. Pretty yang tak ingin mengambil pusing, akhirnya menuruti saja. "Kenapa sayuran semua???"
"Mbak pikir aku ini kambing? Di kasih vegetarian kayak gini?" ucap Datan sangat kesal.
"Maaf Datan, aku gak tau kalau kamu gak suka sayuran. Kan kamu sendiri yang tadi bilang apa saja. Ya aku masukin saja semuanya," jawab Pretty dengan polos.
"Ya Tuhan! Aku gak mau makan ini," ucap Datan menjauhkan piringnya.
"Heh Little crocodile jangan banyak protes. Ayo cepet makan, apa susahnya ngambil makanan sendiri," ucap Okta.
Datan hanya manyun saja. 'Sialan,,!! Si watis ini bener-bener buat gue jadi absurd. Dia sengaja kali yah mau balas dendam sama gue?' batin Datan.
Sesekali Datan mencuri pandang ke arah Pretty yang tengah menikmati makanannya dalam diam dan dengan seketika memalingkan wajahnya kembali. Kejadian itu kembali terulang, Datan menatap leher Pretty yang terlihat menggiurkan saat dia menelan makanannya.
"Datan!"
Prank
"Eh." Datan tersentak kaget mendengar teguran itu, sampai gelas di sampingnya tersenggol dan jatuh ke lantai hingga pecah. Semua mata tertuju padanya,
"Ada apa, Son?" tanya Okta yang sejak tadi melihat gerak gerik Datan yang tak baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, Dad." Datan hendak membersihkan pecahan gelas itu.
"Biar aku saja." Pretty segera mengambil alat pembersih dan membantu Datan memunguti pecahan gelas itu. 'Ada apa denganku? Ya Tuhan, virus apa yang di sebarkan mbak Pretty padaku?' Batinnya.
Malam menjelang, Datan berjalan menuju kandang conel dan duduk di sisi conel yang terdiam. Datan mengusap moncong buaya itu membuat conel diam tak berkutik seakan menyukai apa yang di lakukan majikannya. "Conel, gue gak paham apa yang terjadi sama diri gue. Kenapa akhir-akhir ini gue selalu konyol, terutama saat berhadapan sama si Watis. Tubuh gue seakan kaku dan mati kutu, gue bener-bener gak paham apa yang terjadi sama diri gue. Yang lebih parahnya, si ujang bangun terus saat bersentuhan sama Watis. Wanita pertama yang bisa membuat si ujang bereaksi, sampai gue bingung cara tidurin si ujang gimana. Gue pria normal yang punya ketampanan di atas rata-rata, jadi yah wajar kalau si ujang bereaksi. Tetapi selama ini si ujang gak pernah bereaksi sama wanita yang gue kencani, padahal mereka selalu tampil seksi. Tapi sama si watis, si ujang langsung melek dan bangun tegak. Bahkan kalau di jadikan ganttungan baju juga si ujang kuat banget. Aneh kan Conel," jelas Datan panjang lebar. "Loe pernah gak ngerasain itu? Sama buaya mana loe demennya, Conel?" buaya itu seakan paham perkataan Datan, dia menggerakkan moncongnya ke kiri dan kanan.
"Oh loe masih jones, jangan sedih soub. Nanti gue kawinin loe sama buaya bule." Datan menepuk nepuk moncong buaya itu. Datan menengadahkan kepalanya dan terlihat Pretty tengah berdiri di balkon kamarnya tengah memegang secarik foto, dia terlihat menangis menatap foto itu. Ia merubah posisi duduknya dan bersandar ke tiang kandang conel menatap Pretty dari sana. Pikiran Datan berkecambuk melihat Pretty.
♣♣♣
Pagi itu Datan sudah sampai di kampus dengan Leon dan Leonna. Kecuali Chella yang sedang berlibur. "hai pengantin bau," goda Datan kepada Leonna yang dengan manjanya menggandeng tangan Leon dan menyandarkan kepalanya di bahu Leon. Rasa kangen begitu menyeruak di diri Leonna, apalagi beberapa hari ini mereka sibuk masing-masing dan pisah rumah.
"Berisik loe kunyuk," cibir Leonna.
"Loe alay banget," celetuk Datan.
"Gue kangen sama Leon, di sana gak ada yang gangguin gue dan ngajak gue perang bantal, gak kayak di rumah," ujar Leonna manja membuat Leon terkekeh.
"Udah jadi IRT juga masih saja manja," kekeh Leon.
"Es balok, Mama sama Papa gimana kabarnya?" tanya Leonna menengadahkan kepalanya.
"Alhamdulillah mereka baik, mau ikut mampir ke rumah? Soalnya lusa mereka akan pergi ke Bandung untuk beberapa hari, soalnya abang Dino akan menikah," ujar Leon. Dan mengalirlah pembicaraan mereka berdua.
"Kacang kacang kacang kacang,, sekarang kacang gratisan lho," celetuk Datan mengganggu obrolan Leon dan Leonna.
"Berisik loe," celetuk Leon.
"Makanya jangan kacangin gue, kacang garuda sih enak. Nah ini di kacangin, kecut rasanya," cibir Datan mendengus sebal membuat Leonna terkekeh melihatnya.
"Pergi sono Kunyuk,, jangan ganggu acara kangen kangenan gue sama si es balok," usir Leonna.
"Lebay loe berdua, baru juga gak ketemu tiga hari," celetuk Datan dan beranjak pergi meninggalkan twins yang sedang menyalukan rasa kangen mereka.
Saat ini Leonna dan Datan tengah berbincang bersama di dalam kelas, hingga akhirnya seorang dosen masuk dan semua siswa dan siswi terdiam. Beberapa siswa terpana dengan kecantikan sang dosen baru.
"Good Afternoon," sapa dosen muda itu.
"Sialan, kenapa si Watis ngedosenin di kelas ini sih?" gumam Datan sebal.
"Ada apa?" Tanya Leonna bingung.
"Nggak!"jawab Datan.
"Itu mbak Pretty kan?" tanya Leonna.
"Iye, udah jangan banyak nanya," jawab Datan begitu sinis membuat Leonna bingung dengan nada suara Datan. 'Ya Tuhan kenapa hidupku selalu di recoki dosen watis itu. Gak di rumah, gak di kampus.' batin Datan semakin kesal.
Pretty masih melakukan ajang perkenalan setiap siswa dan siswi. Ia terlihat begitu ramah dan murah senyum saat berbicara dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi. Bahkan ada beberapa siswa yang terang-terangan meminta akun sosial medianya.
"Ngapain loe nanya-nanya pin BB dan WAnya?" jawab Datan membuat semuanya menengok ke arah Datan yang menyela ucapan salah satu mahasiswa.
"Ya buat pegangan saja, siapa tau nanti gue ada yang gak paham mengenai materi bahasa Inggris," celetuk mahasiswa itu dengan santai.
"Modus loe Asep Wahidin, kalau kagak ngerti bahasa Inggris. Translate mbah google aja apa susahnya sih," jawab Datan.
"Ya suka-suka gue dong, Datan!" ujar Asep tidak mau kalah, tetapi itu membuat Datan kesal.
"Sudah-sudah, jangan ribut. Saya akan kasih nomor Wa saya, dan ini khusus para mahasiswa dan siswi yang ingin konsultasi," ujar Pretty seraya menulis no hpnya di papan depan kelas.
'Ck, dasar si watis ini. Ngapain sih dia pasang nomornya segala, bikin si Asep bin Udin itu kesenengan,' batin Datan sangat sebal. "Ibu ini mau jadi dosen apa jadi operator sih. Bukannya bahas materi malah pamer nomor hp!" ucapan Datan yang sinis mampu membuat Pretty tertegun di tempatnya.
"Shitt!" umpat Datan saat Leonna dengan sengaja menendang kakinya. "Apa sih Ona?" tanya Datan sebal. Leonna melotot ke arah Datan saat melihat ekspresi Pretty yang mematung kaku di depan sana terlihat tersinggung. "Ngapain tuh mata di belek belekin, pengen copot?" ucapnya tanpa peka dengan kode yang di berikan Leonna.
Pletak
"Adawww!" Leonna memukul kepala Datan dengan buku sastra Inggris yang tebalnya mengalahkan tebal novel Stay With Me. "Sakit oncom!" pekik Datan mengusap kepalanya sendiri yang terasa berdenyut nyeri.
"Rasain," cibir Leonna kesal. "aduh Bu Pretty maafkan sahabat somplak saya ini. dia sedang PMS jadi suka ngomong ngelantur," celetuk Leonna membuat yang lain terkekeh dan Datan hanya mencibir kesal seraya mengusap kepalanya yang sakit.
"Dasar Ona s***p!" dengus Datan.
"Loe Buaya s***p, oon, b**o dan lengkap segalanya!" Pretty mencoba tak menggubris perkataan Datan dan mulai masuk ke materi yang akan mereka bahas hari ini.
"Oke, Let's go to material. And please use English as course me," ujar Pretty dengan tegas.
"Yes, Miss" jawab mahasiswa/i serempak.
Mata perkuliahanpun di mulai dan Pretty berbicara di depan kelas dengan lantang menerangkan materi awal yang dia bahas dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Heh Ona, mbak Pretty ini waktu kecil makanannya mozzarella sama roti yah. Kok lancar bener ngomong bahasa Inggrisnya, bikin gue pengen nangis," bisik Datan dengan ekspresi sedih.
“Lah kenapa? Terharu karena kepintarannya?” tanya Leonna dengan polos.
“Bukan, tapi gue gak paham apa yang dia omongin, jadinya gue pengen nangis.” Jawaban Datan membuat Leonna terkekeh.
"Kalau pusing tanya saja mbahmu itu," kekeh Leonna meledek Datan.
"Kalau cepat dan panjang gini, si mbah google juga yang ada error. Bisa-bisa dia pensiun dari pekerjaannya. Dan berubah jadi translate bahasa Indonesia ke bahasa Sunda," kekeh Datan membuat Leonna ikut terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Sssttt jangan berisik," ucap Leonna fokus menatap ke depan dan mencatat apa yang Pretty tulis, dimana Pretty tengah menjelaskan salah satu kasus.
"Datan, can you ahead, and finishing this case? Please," ujar Pretty.
"Mampus!" umpat Datan.
"Rasain loe Buaya, kali ini mbahmu tak akan membantu," ledek Leonna membuat Datan mencibir dan berjalan ke depan dengan santainya.
"Hai Miss, apa yang harus saya lakukan?" tanya Datan dengan santainya di depan kelas saat sudah berhadapan dengan Pretty.
"Use English, please" ujar Pretty dengan datarnya karena masih kesal dengan kata-kata Datan tadi.
"Maaf Miss, tapi saya ini orang Indonesia asli dan saya cinta Negara saya sendiri. Jadi saya hanya akan menggunakan bahasa Indonesia saja dengan baik dan benar. Membudayakan bahasa Negara sendiri," ucapan Datan langsung membuat semua siswa dan siswi tertawa ngakak.
"Dasar Datan s***p!" kekeh Leonna.
Pretty memutar bola matanya jengah, menghadapi Datan harus menggunakan kesabarannya. "kalau begitu pecahkan kasus itu," ujar Pretty.
"Itu bukan kaca yang harus di pecahkan, Miss. Saya malah lebih tertarik memecahkan gembok hati Miss Pretty," ujar Datan membuat yang lain semakin tertawa ngakak, dan Pretty hanya bisa memutar matanya jengah.
"Saya serius Datan," ucap Pretty tajam.
"Lah, Miss pikir saya bercanda. Ya Tuhan Miss, saya serius lho ingin memecahkan gembok hati Miss, supaya saya bisa masuk ke dalam hati Miss yang sepi itu." ucapan Datan kali ini terdengar tulus oleh Pretty.
"Dasar perayu ulung!" sahut salah seorang dari siswi dan siswa seraya tertawa dan itu mampu menyadarkan lamunan Pretty. Hingga bel waktu perkuliahan terdengar.
"Well, see you next time!" ucap Pretty segera mengambil buku dan tasnya tanpa menatap lagi ke arah Datan yang masih berdiri tegak di depan sana.
"Hahaha dasar buaya loe," tawa Leonna dan yang lain pecah sedangkan Datan hanya tersenyum bangga dan kembali duduk di mejanya.
"Ayoo ke kantin," ucap Datan menarik pergelangan tangan Leonna. Keduanya berjalan berdampingan sambil bercanda, dan Datan terus meledek Leonna yang kepergok sedang saling menindih di dalam kamarnya saat itu. Dan itu membuat Leonna kesal karena di ledek Datan. Datan berlari menghindari amukan Leonna, Leonna terus berlari mengejar Datan dengan teriak teriak memanggil nama buaya kunyuk dan somplak. Datan terus berlari sambil tertawa puas, menggoda Leonna adalah hobby nya.
"Awas loe Kunyukkkk!" teriak Leonna.
"Hahaha Ona sama bang Verrel enaena!" teriak Datan membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi melihat ke arah mereka berdua. Datan terus berlari dengan sesekali menoleh kebelakang mereka hingga saat di persimpangan ia menabrak seseorang. Dan naasnya tubuh keduanya ambruk ke lantai dengan tubuh Datan yang berada di bawahnya dan seseorang itu berada di atas tubuhnya.
Deg
Terdengar suara jantung yang berdegup kencang saat mata mereka beradu. Leonna menghentikan langkahnya dengan nafas yang tersenggal senggal. Dan ia memperhatikan mereka berdua yang tak sadar sudah menjadi tontonan gratis dimana seorang dosen cantik dan muda bernama Pretty tengah berpelukan di atas lantai dengan seorang buaya kelas kakap di kampus.
Datan merasa tubuhnya menegang dan meremang. Ada aliran dan gelenyar aneh di dalam tuuhnya hingga membuatnya merasa tak nyaman. Di tambah lagi ia merasakan si ujang memberontak meminta lepas dari kurungan yang menyesakkannya. Pretty yang sadar terlebih dulu, segera beranjak. tetapi tertahan karena Datan masih betah memeluk pinggangnya dengan erat. "Datan, lepaskan!" bisik Pretty, tetapi Datan tak merespon. "Datan!!!" pekik Pretty dan mampu menyadarkan Datan. Dengan segera Datan melepaskan pelukannya dan keduanya sama-sama berdiri tegak sambil menepuk ringan pakaian bagian belakangnya dan merapihkan pakaiannya.
Pretty sangat malu sekali karena di tonton banyak mahasiswa dan mahasiswi. Ia bahkan tak sanggup melihat sekelilingnya karena tau akan tatapan itu yang menakutkan, akhirnya tanpa mengatakan apapun, Pretty berlalu pergi meninggalkan semuanya begitu juga Datan yang masih terpaku. Setelah lama Datanpun berlalu pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah merah dan kondisi salting. 'Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini? ada apa denganku? Mana si ujang bangun di saat yang tidak tepat. Gue harus menidurkannya segera. Tapi dimana?' batin Datan terus berjalan cepat.
"Woyy Kunyuk, tunggu!" Leonna menepuk pundak Datan dan Datan hanya menoleh sekilas pada Leonna dengan tatapan datar. "Kenapa tuh muka, datar bener kayak papan setrikaan," celetuk Leonna membuat Datan mendengus kesal dan ingin segera pergi ke kamar mandi.
"Diamlah Ona, kunci dulu mulut beo loe. Gue lagi pusing!" ujar Datan berlalu pergi meninggalkan Leonna sendirian.
♣♣♣