BAB 11

1255 Words
Di ruangan berbeda, Devan sedang menunggu kedatangan Clara kedalam ruangannya, namun kenapa perempuan itu belum juga masuk ke ruangannya, padahal tadi ketemu dibawah dan itu sudah tiga puluh menit yang lalu, seharusnya sekarang dia sudah berada di ruangannya. "Lo cari tau dimana posisi Clara sekarang, kenapa dia belum sampai di dalam ruangan gw! ". Devan menelpon Niko untuk menanyakan posisi Clara saat ini. Karena beberapa menit lagi dia dan niko harus segera pergi lagi ke bandara untuk menuju kota B mengecek lokasi yang akan dia dirikan gudang kantor. " Jadi perempuan itu belom ke ruangan lo?!, astaga,,,,, yaudah gw telpon Bimo dulu". Niko pun kaget, dia pikir sedari tadi perempuan itu sudah berada di dalam ruangan Devan, dan dia juga sudah berpikir Devan juga sudah menodainya. Ya niko memang punya pikiran yang sangan nakal, dia selalu berusaha memasukan perempuan kedalam ruangan Devan, hanya untuk menggoda Devan, karena niko geram, Devan sama sekali tak pernah mau menyentuh wanita manapun, dan karena itu, gosip yang mengatakan Devan dan Niko ada skandal pun bertebaran. "Halo Bimo, dimana Clara?! Apa dia sudah selesai interview sama lo?!, Bos lu tuh nanyain ke gw". Bimo yang di tanya Niko pun menjawab, bahwa Clara yang akan melakukan interview belum juga sampai di ruangannya. Entah kenapa Clara belum juga masuk ke ruangan Bimo. "Maaf Pak Niko, nona Clara belum masuk ke dalam ruangan saya, tapi kalau nona Clara sudah selesai dari ruangan saya saya akan segera arahkan ke ruangan Pak Devan". " Yaudah, buruan nnti lo suruh dia ke ruangan Pak Devan, karena tiga puluh menit lagi kami akan berangkat". "Baik Pak Niko, saya mengerti". Tak lama kemudian Clara masuk ke dalam ruangan Bimo, dan langsung saja, tanpa lama-lama, Bimo langsung meng interview Clara, seperti para pelamar kerja lainnya, tentunya itu hanya sebuah alibi supaya Clara tidak curiga. Setelah dari ruangan pak Bimo, Clara diarahkan untuk langsung menuju ruangan yang ada di lantai dua puluh. Yaa itu adalah ruangan CEO berada. Ketika Clara sampai di lantai dua puluh, dia kembali terpaku dengan interior di lantai itu. Bagaimana tidak, di lantai khusus itu designe interior ruangannya semua berwarna putih berpadu dengan warna gold. Dan tentunya hanya ada beberapa meja kerja untuk para karyawan dan hanya ada tiga pintu disana, tentunya pintu sang CEO yang paling besar. Sebelum masuk, Clara bertemu sindy sekretaris yang berada di depan ruangan CEO. "E-e,,, permisi mba, saya Clara dan saya tadi dari ruangan pak Bimo diarahkan untuk keruangan pak CEO mba". Sindy melihat ke arah Clara, dan dia mengantarkan Clara untuk masuk keruangan Bos besarnya itu. " Ohhhh,, iya , tunggu sebentar ya, mari silahkan saya antar kedalam". "Emmmm,,, baik mba Terima kasih". Sindy mengetuk pintu berukuran besar itu, dan pintu itu terbuka, memperlihatkan ruangan yang besar, Clara dan Sindy masuk kedalam. Berapa kagumnya Clara ketika melihat ruangan itu, ruangannya sangat besar dan luas, ada sofa, ada meja kerja tentunya yang dimana ada tuannya sedang duduk di meja itu, dan ada tiga pintu lagi yang Clara tak tau pintu apa itu. "Permisi Bos Devan, saya mengantarkan Clara". Devan masih belum menoleh ke arah Clara dan Sindy karena masih fokus dengan . " Hmmm, silahkan kamu keluar dan tutup kembali pintunya". "Baik Bos, saya permisi". Sindy berjalan keluar ruangan Devan sambil melihat clara. Ya Sindy sedikit kesal karena Clara menggunakan pakaian yang menurutnya ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya. " Kbeh,,, pasti dia mencoba merayu Pak Devan, lihat aja tu pakaiannya, dasar perempuan pengg*d*". Clara bingung, apa yang harus dia lakukan, karena Devan masih sibuk dengan laptopnya, apakah Clara harus duduk?, tapi kalau dia langsung duduk, pasti nanti dinilai tidak sopan. "Duhh apa gw duduk, apa tetep berdiri aja ya?, tapi kalau nanti gw duduk tanpa disuruh, nanti gw dinilai gak sopan lagi. Mana ni Bos cuma fokus sama laptopnya lagi!, gimana ya?, yaudah deh, gw diam aja". Setelah Devan selesai mengecek pekerjaannya di laptop, akhirnya Devan mengalihkan pandangannya pada Clara. Saat Clara melihat Devan, Clara masih sempat berpikir, apakah pria di depannya ini yang akan menjadi BOsnya masih mengingat pertemuan mereka di Restoran?, ahh tapi gak mungkin kalau Clara menanyakan itu padanya, nanti pasti pria itu berpikir kalau Clara hanya ingin mendapat perhatian dari Devan untuk bisa lolos dan bekerja di perusahaannya. Clara pun memilih untuk diam dan menundukkan kembali mukanya. Devan hanya diam melihat Clara, Devan memperhatikan Clara dan berpikir bahwa, ternyata Clara secantik dan semanis ini ketika dilihat dari dekat seperti itu. Namun demi wibawanya sebagai seorang Bos, Devan pura pura menjadi pria dingin lagi didepan Clara. Supaya Clara tidak merasa ilfil padanya, dan semua rencananya untuk mendekati Clara pupus sudah. "Hmmmm,,, silahkan duduk". Awalnya Clara sedikit kaget, karena tiba-tiba mendengar perintah dari Devan, namun akhirnya Clara duduk, walaupun dengan muka kagetnya. " E-eehhh,,, i,,, i, iya Pak". Clara merasa jantungnya berdeb*r dengan kencang, karena antara teepesona dengan ketampanan Devan, dan juga ternyata Devan memiliki suara yang sangat candu baginya. "Saya hanya memiliki waktu dua puluh menit, jadi saya mau, kamu harus cepat menjawab semua pertanyaan yang akan saya tanyakan kepada kamu!, mengerti!?.,,,,,,, " Ba-baik Pak, saya mengerti ". " Ok. Yang pertama, kenapa saya harus memilih kamu untuk bergabung di dalam Perusahaan saya ini?! ". Clara mencoba mengatur naf*snya agar dia tidak teg*ng. " Baik, izinkan saya menjawab, karena saya adalah seseorang yang ceria, mudah beradaptasi, dan juga, saya selalu menyelesaikan pekerjaan saya tanpa harus menundanya". Devan menaikan satu alisnya ke atas, dia akan mencoba menanyakan pertanyaan lagi pada clara, meskipun sebenarnya pertanyaan-perranyaan itu hanya sebuah omong kosong, untuk membuat clara tidak curiga. "Kedua, saya adalah orang yang sangat di aiplin, saya tidak suka bila ada karyawan yang membangk*ng saya, jadi jika kamu saya Terima, apakah kamu akan menuruti semua apa yang saya katakan? ". Awalnya clara sedikit bingung, kenapa Bosnya ini menanyakan hal seperti itu?, memangnya posisi apa yang akan clara tempati? Kenapa pertanyaan interview nya seperti ini? " Emmmm,,,, jika memang sudah menjadi peraturan Perusahaan, maka saya akan melaksanakan semua sesuai ketentuan yangerlaku di Perusaahaan ini". Devan merasa bawa clara benar-benar ingin bekerja di perusahaan milik keluarganya itu, tapi kan, devan menginginkan clara menjadi sekretaris pribadinya, jadi dia harus menjalankan semua sesuai perintahnya, devan tersenyum dalam hati. Devan menanyakan pertanyaan terakhir, dan bila clara bisa menjawab dan menerima pertanyaan terakhir ini, maka Devan akan langsung menerimanya, dan besok bisa langsung aktif bekerja di perusahaannya, lebih tepatnya bekerja mengurus semua kebutuhan devan. "Baik, pertanyaan ketiga, karena waktu saya hanya Sepuluh menit saja, maka kamu harus menjawab dengan baik, jika kamu bisa menjawab dan menerima pertanyaan yang akan saya ajukan kepada kamu, maka saat ini juga, saya akan langsung menerima kamu bekerja di Perusahaan saya. Pertanyaannya, saat ini di perusahaan saya, hanya membuka lowongan sebagai sekretaris pribadi saya, dan tugasnya adalah, menyiapkan semua keperluan saya, baik keperluan pribadi, maupun keperluan kantor seperti data untuk rapat, pertemuan dengan para klalen, dan bersedia tinggal di apartemen saya. Apakah kamu bersedia? ". Clara sedikit kaget dengan pertanyaan terakhir ini, dia bingung apa yang harus dia katakan, apakah menolak, atau menerima, kalau menolak berarti kesempatan dia untuk bekerja di Perusahaan impiannya akan sirna sudah, tapi jika dia menerima, apa tadi? Dia harus tinggal di apartemen milik bosnya ini?, bagaimana bisa?, dalam waktu lima menit clara harus menjawab bersedia atau tidak bersedia, tapi bagaimana, clara masih bingung. Namun clara kembali berpikir. Jika dia tidak menerima pekerjaan ini, maka dia akan kehilangan kesempatan bekerja di perusahaan ini, namun jika dia menerima, dia harus menyiapkan semua keperluan bosnya, dan tinggal di apartemen bersama dengan bosnya? Clara takut bila bosnya itu akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya, Clara menggelengkan kepalanya pelan, seraya membuang pikiran buruknya itu.,,,,,,,,,,,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD