Tidak ada yang bisa Rea lakukan, selain memejamkan matanya untuk menghilangkan sedikit ketakutannya. Meski rasanya tidak begitu menyakitkan, tapi tetap saja siapapun akan merasa ngeri, jika pertama kali melakukan itu.
Alex memperhatikan wajah Rea yang berada tidak jauh darinya. Kerutan dikening Rea, itu menandakan betapa dia merasa sangat ngeri dengan apa yang baru saja dia alami.
"Apa sudah selesai?" pertanyaan Rea dengan masih memejamkan matanya, membuyarkan lamunan Alex yang sibuk memperhatikan wajah Rea sejak tadi.
"Su-sudah," jawabnya.
Perlahan Rea membuka matanya, dan menghela nafas lega, saat pemasangan chip di bahunya telah selesai.
"Sekarang apa?" tanya Rea dengan wajah datarnya, begitu tidak sabar untuk melakukan penyerangan.
"Kenapa kau begitu tidak sabar Rea?" ucap Alex pelan, namun menatap dalam mata Rea, seolah mencari tahu sendiri jawaban atas pertanyaannya itu disana.
"Kita tidak punya banyak waktu Alex. Rowan akan mencurigaiku. Dan yang lebih penting, ayahku harus segera ditangani dengan baik, jika tidak maka nyawanya tidak akan tertolong. Rowan memperlakukannya begitu buruk sampai saat ini," ucap Rea pahit.
"Aku tidak pernah melihat pembunuh seperti dirimu Rea, setahuku dimana-mana pembunuh itu cukup kejam, tapi kenapa aku merasa kau berbeda, kau terlalu perhatian untuk ukuran pembunuh. Aku melihat kau begitu perduli pada ayahmu Rea, kenapa?" tanya Alex secara terang-terangan mengutarakan semua rasa penasaran yang ada dibenaknya.
"Sebenarnya dia bukan ayahku," ucapnya datar. "Aku melakukan ini hanya karena alasan balas budi padanya, itu saja!" sambung Rea seadanya.
"Memangnya apa yang dilakukannya hingga kau merasa berhutang banyak padanya?" tanyanya lagi.
"Dia telah menyelamatkan aku dari maut yang hampir menimpaku. Dia merawatku sampai lukaku pulih, dan dia juga yang selalu memberi motivasi padaku hingga aku masih bisa hidup sampai saat ini," Rea mencoba mengingat kembali kenangan buruk yang menimpanya.
"Bagaimana kau bisa sampai ketangan Rowan saat ini?" Alex sedikit bingung.
Rea tertawa getir.
"Ceritanya panjang, dan tidak begitu menyenangkan. Kisahku tidak seindah cerita dinovel yang biasa dibaca orang. Malah sangat menyedihkan, dan
Aku rasa itu tidak terlalu penting bagimu," jawabnya.
"Mungkin memang tidak penting bagiku, tapi kau harus tahu bahwa aku juga tidak menyukai cerita romance seperti cinderella dan semacamnya, aku benar-benar muak mendengar cerita seperti itu. Jadi, kau bisa ceritakan padaku tentang masalalumu."
Rea tertawa mendengarnya. Kali ini benar-benar tawa lepas. Rea terlihat jauh lebih hidup dari sebelumnya.
"Baiklah-baik..."
Rea menarik nafas sebelum memulai ceritanya.
"Aku adalah anak yang tidak memiliki seorang ayah, aku bahkan tidak tahu siapa ayahku. Bisa dikatakan bahwa aku adalah anak haram. Ibuku orang yang depresi berat sampai mengosumsi obat-obatan terlarang sampai bertahun-tahun lamanya dan akhirnya dia meninggal. Saat itu aku masih sangat kecil. Lalu bibiku mengadopsiku. Saudara dari ibuku.
Dia adalah perwujudan monster yang begitu mengerikan. Selama bertahun-tahun aku tinggal bersamanya, aku tidak pernah sekalipun merasa bahagia. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia begitu membenciku. Dia hanya bisa menyiksaku, membebaniku dengan banyaknya pekerjaan. Dan menyakitiku dari segi mental. Namun aku masih bertahan. Bukan karena aku anak yang baik hati dan berbakti, namun karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi. Sampai akhirnya aku menemukan pangeranku."
"Cih, pangeran?" Alex sengaja mengejeknya. Ada rasa mual saat dia mendengar kata pangeran.
"Grissham Spencer," Rea mengingat nama itu dan tersenyum tulus. Apalagi mengingat bagaimana baiknya pria itu.
"Aku merasa dia memang seperti Seorang pangeran dalam artian yang hampir mendekati sebenarnya. Dia memang bukan terlahir dari kerajaan, tapi dia putra dari orang terkaya di kota. Berbeda dengan gadis seperti diriku, dia memiliki banyak pelayan yang siap memenuhi kebutuhannya 1x24 jam... Dan hartanya berlimpah ruah. Entah mengapa dia bisa jatuh cinta padaku.
"Kami jatuh cinta. Hanya butuh waktu beberapa minggu pengenalan sampai menginjak hubungan yang lebih serius. Tapi meski begitu, hubungan kami tidak semulus yang aku bayangkan. Keluarganya tidak menyukaiku, tentu saja. Masalahnya berupa latar belakang keluarga. Mereka sangat memperhitungkan sebuah status. Keluarganya selalu berusaha untuk menjauhkanku dari Grissham. Dan para wanita yang terobsesi padanya juga ikut menyerangku. Tapi Grissham selalu melindungiku dan menjagaku sampai tidak tersentuh oleh mereka.
Sampai pada akhirnya aku mengandung anaknya Grissham di usiaku yang baru 18 tahun, begitu mudah dan ceroboh. Aku melakukannya tanpa banyak berfikir dan akhirnya aku hamil," Rea menyeringai getir.
"Diluar dugaanku ternyata kehamilanku membawa berkat, bukannya bencana seperti yang aku prediksikan sebelumnya. Keluarga Grissham tiba-tiba menerimaku. Aku menjadi bagian dari keluarga mereka karena aku mengandung pewaris harta mereka. Mereka berencana menikahkan kami, begitu anakku lahir. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku diterima, aku diinginkan dan dicintai. Meski aku sadar alasan mereka adalah karena janin yang kukandung. Tapi meski begitu, apapun alasan mereka, akhirnya aku memperoleh tempat ku. Keluarga yang menerimaku dan pasangan yang mencintaiku.
Rea menghentikan ucapannya dan menatap Alex. Sorot matanya tampak pilu. Kesakitan dan luka terpapar jelas dimatanya, tidak bisa dipungkiri. Namun kemudian sorot matanya berubah kembali menjadi hampa.
"Aku mendapatkan keajaiban. Anakku lahir sembilan bulan kemudian, begitu sehat dan sangat sempurna. Dia sangat tampan seperti ayahnya. Hanya matanya saja yang merupakan duplikat dariku. Kami memberinya nama Aldric. Namun kebahagiaan itu begitu singkat bagiku, Hanya butuh waktu sejam untuk menghancurkannya. Padahal aku membutuhkan waktu sampai belasan tahun untuk menunggunya.
"Keajaiban untukku... Kebahagiaanku yang begitu singkat, semuanya tidak ada yang abadi seperti dalam novel dan berakhir saat aku mengira semuanya akan dimulai. Saat itu umur Aldric bahkan belum pas satu tahun. Kami pergi kesebuah pulau untuk berbulan madu. Semuanya nampak sempurna pada awalnya. Aku sangat ingat kejadian itu, sejernih kristal. Tidak ada yang hilang dalam ingatanku. Berawal dari mobil kami yang diikuti oleh sekelompok preman, yang aku yakini itu adalah orang suruhan yang sengaja untuk membunuh kami. Mereka menyerempet mobil kami dan menyuruh Grissham keluar. Aku sangat ketakutan saat itu, tapi Grissham memberi isyarat padaku, bahwa kami akan baik-baik saja. Dia berkata jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, maka aku harus lari dan membawa Aldric sejauh mungkin. Belum sempat menunggu persetujuanku Grissham keluar dari mobil dan langsung diseret oleh mereka. Aku melihat dengan jelas bagaimana mereka menyiksa suamiku, aku hanya bisa berteriak Meski tidak akan ada yang mendengarku di tempat itu. Grissham memberi isyarat padaku agar aku pergi dan lari tapi saat itu aku tidak bisa berfikir jernih. Cara mereka memandang Grissham membuatku takut. Aldric mulai menangis dalam gendonganku, dan aku ingat dengan jelas bagaimana aku bimbang memilih antara tetap disana bersama Grissham atau kabur membawa Aldric, aku bingung.
BERSAMBUNG ....