PEMASANGAN CIP

1003 Words
Sejak mendengar keputusan Alex, Rea semakin membulatkan tekatnya untuk membunuh Rowan dan menghancurkan segala usaha gelapnya sampai habis tak tersisa. Sudah sejak lama dia menantikan hal ini. Dimana dia akan membuat keadaan berbanding balik. Dimana Rowan akan merasakan penderitaannya selama ini. Kedekatan Rea dan juga Alex membuat Rowan percaya bahwa kali ini Rea akan kembali berhasil dalam misinya. Dan Rowan akan mendapat keuntungan yang besar dari kliennya. Saat ini Rea berada dihadapan Rowan. Menatapnya datar, namun tersirat kebencian yang teramat dalam padanya. "Rowan. Aku telah berhasil masuk kedalam perusahaan itu dan bekerja sebagai orang yang penting dan cukup dekat dengan Alex. Tapi meski begitu aku tidak bisa langsung membunuhnya dengan cepat. Kau tahu sendiri bahwa Alex adalah mafia yang cukup pintar. Dia bahkan bisa memprediksi gerak-gerik lawannya. Aku hanya tidak ingin melakukan kecerobohan, dengan bergerak tergesa-gesa. Aku harap kau memberiku waktu, dan mengerti akan hal itu," ucapnya dengan tegas. Rowan mengangguk setuju, dengan menyipitkan matanya menatap Rea yang menurutnya sedikit berbeda kali ini. "Aku percayakan padamu Rea. Aku tahu kau akan melakukan tugasmu dengan baik bukan?" jawabnya dengan menyeringai jahat lalu tertawa seperti orang gila. Rea menarik sedikit ujung bibirnya. "Tentu saja aku akan melakukannya dengan baik," Saut Rea dengan nada lancang. Aku akan melakukan tugasku dengan menghancurkanmu sampai tak tersisa Rowan. Aku akan mengirimmu langsung keneraka. Rea ikut tertawa jahat. Bukan karena dia mengikuti Rowan, tapi justru Rea menertawakan kematian Rowan yang akan segera tiba. "Kalau begitu aku pergi dulu. Saat ini sebagai asisten pribadi aku harus selalu berada didekat targetku. Agar dia tidak mencurigaiku," ucap Rea segera melangkah pergi dengan gaya arogannya, sembari memasang kaca mata hitam miliknya. Jack mengikuti langkah kaki Rea dari belakang. Dan segera membuka pintu untuk Rea. Rea masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. Sementara Jack memutari mobil untuk mengambil posisi duduk disebelah Rea untuk menjalankan mobilnya. "Apa kau yakin dengan rencanamu Rea?" tanya Jack memastikan. Meski Rea sudah menjelaskan semuanya pada Jack, tapi Jack tidak ingin Rea menyesali keputusannya. "Aku sangat yakin Jack. Tidak ada setitik keraguan dalam diriku. Aku benar-benar muak dengan Rowan dan segala ancamannya. Kau harus bersiap pada posisimu nanti saat kita mulai menyerangnya. Ingat! Prioritas pertamamu adalah ayahku. Jangan biarkan dia terluka sedikitpun," ucap Rea tegas, dan tetap teguh dalam pendiriannya. "Baiklah Rea, aku akan sangat mendukungmu." Mobil mereka melaju kencang menembus jalan raya. Hanya butuh waktu sekian menit, mereka telah sampai di perusahaan Alex. Sebuah bangunan yang menjulang tinggi mencakar langit. Rea melangkah masuk tanpa Ragu yang di iringi Jack dibelakangnya. "Kau membawa Siapa Rea?" tanya Alex menatap ke arah Jack. "Namanya Jack, dia asistenku," jawab Rea tegas. "Baru kali ini aku melihat Seorang asisten yang memiliki asisten pula..." Alex seolah mengejek. "Sebelum aku melamar sebagai asistenmu, dia sudah menjadi asistenku sejak lama. Dan dia bukan hanya seorang asisten bagiku, tapi dia juga temanku. Ya, meskipun dia sedikit membosankan karena tidak terlalu banyak bicara. Tapi sudalah. Ini bukan pembahasan yang penting. Aku datang menemuimu untuk memulai misi kita. Dan Jack akan membantu kita untuk memantau pergerakan Rowan dan anak buahnya disana." "Baiklah, ayo ikut aku kemarkas. Kita akan menyusun rencana disana," Alex mengajaknya beranjak dari sana. "Jack. Kau pergilah, dan kabarkan padaku tentang situasi disana," ucap Rea pada Jack, sebelum dia melangkah mengikuti Alex dari belakang. *** Rea mengikuti langkah Alex dengan cepat, seakan tidak ingin kehilangan jejaknya. Lalu masuk kedalam mobil yang sama dengan Alex dan duduk disebelahnya. "Jalan..." ucap Alex kepada supirnya. Supir itu mengangguk dan langsung menjalankan mobil dengan cepat. Rea yang merasa asing dengan situasi itu, merasa tidak nyaman. Jarak mereka cukup dekat. Bahkan bahu mereka hampir bersentuhan. Alex sendiri merasa nyaman dengan situasi itu. Apalagi saat dia bisa menghirup aroma parfum Rea yang sewangi Musk (kasturi). Aroma ini identik dengan kesan misterius. Jika dilihat dari sisi penampilan, para penggunanya cenderung menyukai penampilan elegan. Penyuka wewangian ini umumnya punya kegemaran terhadap seni dan bisa berpikir tangkas. Mereka punya rasa percaya diri yang tinggi, selalu ingin tahu, dan tak suka basa-basi. Begitulah menurut pemikiran Alex. Berbeda dengan wanita lain pada umumnya yang lebih menyukai parfum beraroma vanila. Alex sangat muak dengan baunya yang membuatnya merasa mual, ingin muntah. Karena terlalu sibuk dengan pemikirannya, Alex sampai tidak menyadari bahwa mereka telah tiba dimarkas. Penjagaan disana begitu ketat, sampai ada laser untuk mendeteksi para penyusup yang terpasang dimana-mana. Dan para penyusup tidak akan menyadarinya. Laser itu akan menimbulkan bunyi yang nyaring jika ada orang asing yang tiba-tiba masuk kesana. Lalu bunyi itu akan langsung tersalurkan pada tombol penyetruman jika yang terlihat dimonitor adalah penyusup yang mencoba masuk kesana. Dapat dipastikan siapapun yang terkena laser setruman itu akan mati seketika karena tegangannya yang cukup tinggi. Alex memberi perintah pada anak buahnya untuk mematikan sumber laser itu sementara dia membawa Rea masuk kesana. Alex menekan tombol rahasia untuk membuka pintu, dalam waktu sepersekian detik pintu itupun terbuka. Mereka telah tiba di markas dimana anak buah kepercayaan Alex sudah berdiri menantinya disana. Rea mengedarkan pandangannya menatap takjub pada banyaknya senjata yang sangat canggih disana. Sementara Alex berjalan kearah sebuah laci besar untuk mengambil sesuatu disana. "Apa ini?" tanya Rea pada sebuah benda kecil berwarna merah yang diberikan Alex padanya. "Itu adalah chip. Lebih tepatnya sebuah akses yang mengantarmu masuk dan akan membuatmu tidak terkena setruman saat memasuki markas ini. Cips itu akan ditanamkan ditubuhmu, seperti para anak buahku." "Ayo, biar aku pasangkan," ucapnya lagi. Meski sedikit ragu, tapi Rea tidak bisa berbuat apapun selain menuruti keinginan Alex. Rea mendekat perlahan, lalu duduk dikursi yang telah disiapkan. "Apa kau juga yang memasang ini pada semua anak buahmu?" tanya Rea melihat Alex yang mulai memasang sarung tangannya. "Tidak. Ini baru pertama kalinya kulakukan padamu," jawabnya santai, namun membuat Rea terkejut dan sedikit cemas. "Biasanya roger yang melakukan ini, tapi sepertinya dia terlalu sibuk dengan para wanitanya jadi biar aku saja yang memasangkannya untukmu," ucapnya lagi. "Jadi kau menjadikan aku kelinci percobaanmu," ucap Rea kesal. Dan sedikit rasa khawatir pada benda Asing yang akan dimasukkan kedalam tubuhnya. "Tidak perlu cemas, aku akan melakukannya dengan hati-hati," jawabnya santai, tapi justru membuat Rea semakin khawatir. SIAL ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD