Alex POV
Aku mendengar kabar dari anak buahku yang mengatakan ada yang menguntitku sejak kemarin, lalu segera menyuruh anak buahku untuk menyelidikinya. Tidak disangka orang suruhan yang kupikir lagi-lagi ingin membunuhku, ternyata seorang wanita. Dengan latar belakang yang masih begitu misterius. Namun itu tidak terlalu penting bagiku.
Aku sengaja membiarkannya langsung menemuiku dengan dalih ingin melamar pekerjaan. Klasik sekali, namun aku akan mengikuti permainannya.
Saat dia sudah tiba didepan mataku, aku memperhatikan penampilannya, yang menurutku sangat mencolok. Penyamaran nya yang begitu mudah untuk kutebak. Tapi aku berpura-pura tidak tahu dan masih mengikuti permainannya sampai sejauh ini.
Aku tidak mempersulitnya untuk melamar sebagai assistenku, dengan sengaja aku semakin mempermudah rencananya, tapi keterdiamannya Membuat ku seolah berfikir bahwa dia mencurigai gerak-gerikku.
Aku melihat di beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar, tapi beberapa menit kemudia aku melihatnya lagi menghampiriku. Kali ini ekspresi nya berbeda.
Secara perlahan Wanita yang berada dihadapanku ini melepaskan wig yang dia kenakan. Membiarkan rambutnya yang panjang setengah tiang dengan sedikit bergelombang terurai, dan memperlihatkan wujud aslinya.
Aku tidak begitu terkejut. Karena aku juga sudah tahu bagaimana rupa aslinya. Hanya saja sedikit lebih cantik mungkin karena aku melihatnya secara langsung.
"Namaku Rea Specer," ucapnya mulai membuka suara, tapi wajahnya masih begitu datar. Aku tidak menjawab, seolah membiarkan dia menjelaskan apa yang ingin diutarakannya.
"Aku adalah pembunuh bayaran yang ditugaskan Rowan untuk membunuhmu," sambungnya lagi. Aku sedikit tersentuh karena baru kali ini aku melihat seorang yang berencana ingin membunuh mengucapkan dengan gemblang tujuannya.
"Lalu," aku merespon seadanya, namun tetap dengan gayaku yang santai.
"Aku mengurungkan niatku. Dan ingin mengajakmu bersekongkol untuk menyerang balik orang yang menyuruhku. Yaitu, Rowan," ucapnya yang membuat keningku semakin berkerut. Rowan? Apa yang dimaksudnya b*****h licik itu.
"Maksudmu, kau ingin berkhianat pada tuanmu sendiri?" Aku menatapnya penuh selidik. Mempelajari setiap ekspresi wajahnya yang masih sulit untuk ditebak.
"Ya."
"Kenapa?" tanyaku sedikit penasaran, wanita ini memang sangat misterius.
"Karena aku sudah muak selalu dikendalikan olehnya. Aku benci menuruti keinginannya yang membuatku membunuh banyak orang yang tidak bersalah." Aku mengangguk-anggukan kepala. Tatapannya datar dan entah mengapa, ada luka yang tidak bisa dijelaskan didalam dirinya.
"Jika kau tidak suka, kenapa kau tidak kabur?"
"Aku tidak bisa. Karena dia menahan ayahku, dia selalu mengancamku untuk melenyapkan ayahku dengan cara menyiksanya terlebih dulu. Dan lagi ada banyak mata-mata di sekelilingku," ucapnya sendu, aku melihat raut kehampaan dari wajahnya.
Aku mengangguk pelan, dan mengerti akan situasi dan tujuannya. Sepertinya dia ingin bebas dari tuannya itu.
"Memangnya keuntungan apa yang kudapatkan jika aku membantumu?" tanyaku lagi. Karena bagiku tidak begitu sulit untuk membunuh Rowan, jika saja sejak dulu Rowan mencari masalah denganku maka sudah lama aku menghancurkan nya sampai tak tersisa. Sepertinya aku mempunyai alasan kali ini untuk membunuhnya.
"Aku akan membunuh musuhmu yang bekerja sama dengan Rowan," jawabnya tegas. Aku sangat yakin bahwa membunuh musuhku jauh lebih mudah dibanding membunuh Rowan.
"Bagaimana jika nanti kau juga berkhianat padaku, aku tidak bisa langsung percaya padamu begitu saja bukan?" ucapku dengan nada curiga.
Kali ini dia menatapku lekat-lekat. Aku sempat sedikit kikuk dengan tatapannya yang seolah memiliki sihir tersendiri untuk menjeratku, sehingga aku terjebak disana. Untungnya dia segera melepaskan tatapan itu dan beralih mengambil sesuatu didalam tasnya. Aku memperhatikan nya dengan seksama.
"Ini adalah racun yang pernah kucuri dari korbanku dulu. Dia seorang profesor yang sangat ahli dalam meracik racun dan juga obat-obatan," ucapnya memberikan benda berbentuk sebuah jarum suntik yang berisi racun didalamnya. Lalu dia memberikan botol kecil berwarna biru padaku.
"Dan itu penawarnya. Jika kau takut aku berkhianat padamu kau bisa langsung suntikan racun itu padaku sekarang juga. Racun itu tidak akan membunuhku secara langsung, namun akan membuatku mati secara perlahan. Dan untuk memperpanjang hidupku aku akan bergantung padamu untuk memberikan penawarnya secara berkala. Tadinya aku ingin membunuhmu dengan cara ini sebelum aku mengubah keputusan ku untuk bersekongkol padamu."
Aku tertegun mendengarnya, sangat diluar dugaanku. Ternyata wanita ini cukup ahli dalam hal membunuh.
Aku menatapnya dalam seolah menimbang-nimbang alasannya, sebelum memberikan keputusanku. Entah mengapa ada keingintahuan yang terpancar dalam diriku pada wanita ini. Bercampur kebingungan dan juga kecurigaan.
Aku tidak melihat keraguan dalam tatapannya. Tapi aku melihat kehampaan. Luka, kesedihan. Apa sebenarnya yang terjadi pada wanita ini?. Batinku.
"Baiklah... Aku setuju," ucapku mengangguk pelan. Tapi ekspresinya masih juga belum berubah. Bukankah seharusnya dia senang dengan keputusanku.
"Apa rencanamu?" ucapnya seperti tidak sabar.
"Pertama aku akan membantumu untuk mencapai tujuanmu, yaitu bebas dari Rowan. Aku akan mengirim anak buahku dan juga beberapa penembak jitu yang akan kutempatkan di beberapa sudut."
aku mendengarnya mendesah pelan. "Tidak semudah itu Alex! Rowan juga memiliki semua bukti kejahatanku. jika kita langsung menyerbunya maka sebelum kematiannya dia akan mempersulitku dengan membeberkan banyak kasusku. Rowan sangatlah licik," ucap Rea yang membuatku tertegun. Bukan karena ucapannya mengenai Rowan. melainkan saat dia memanggilku dengan sebutan namaku, entah mengapa aku sedikit nyaman dengan panggilan itu yang keluar langsung dari mulutnya.
"Kau tidak perlu risau soal itu. Kau akan lihat bagaimana kita akan membunuh Rowan dengan cara yang cukup menarik," ucapku meyakinkan nya.
"Kalau begitu aku akan mengikutimu kemanapun kau akan pergi. Dengan cara itu mata-mata Rowan akan menganggap bahwa aku berhasil memulai rencanaku untuk membunuhmu. Sehingga mereka tidak akan curiga."
Aku hanya mengangguk pelan menanggapi nya. "Terserah kau saja Rea," ucapku kemudian.
Rea kembali memasang wig nya dan tersenyum tipis padaku sebelum dia melangkah pergi. Aku memperhatikan punggungnya yang perlahan menghilang dari balik pintu.
Aku mendesah letih. "Membunuh Rowan bukanlah hal yang mudah. Tapi juga tidak terlalu sulit bagiku. Hanya saja kali ini aku harus turun tangan langsung untuk menghabisinya.
Rea Spencer...
Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa dia begitu misterius.
Mungkin aku harus mencari tahu sendiri. Atau aku bertanya langsung saja padanya. Aku segera beranjak meninggalkan ruanganku dan mencari keberadaan Rea. Rupanya dia menungguku di meja khusus yang telah disiapkan yang biasanya digunakan oleh Maxim. Asistenku yang cedera dalam misi penyelamatan diri dari penyelundupan barang. Saat itu dia melakukannya saat aku berada diluar negeri. Jika saja tidak ada orang yang ikut campur, mungkin Max tidak akan seperti ini. Aku sedikit menyesal karena membiarkannya memimpin penyelundupan itu tanpa aku. Meski begitu aku juga sudah membunuh dalang dibalik penyerangan itu, membalaskan dendam Max yang telah membuatnya cedera yang cukup parah.
BERSAMBUNG ....
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIk.