******
Rea menatap sebuah objek yang belakangan ini cukup menarik perhatiannya.
Wajah lelah dari Alex yang terlelap dalam tidurnya, membuat Rea berpikir keras. Kenapa pria kejam ini bersikap baik padanya? Apa yang dia inginkan sebenarnya?
Sebuah perasaan aneh kini menyeruak didalam dirinya. Rasa yang dulu pernah dia alamai saat bertemu dengan Grisham. Hanya saja perasaan ini sedikit lebih kental dan terasa. Rea sendiri bingung bagaimana cara mendeskripsikannya.
"Bodoh!"
Satu kata yang keluar dari mulut wanita dingin itu. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya. Menghalau semua perasaan aneh didalam dirinya. Perasaan hangat yang ingin kembali memiliki seseorang yang berarti dalam hidupnya.
"Tidak.
Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Para musuh akan kembali mendapatkan kelemahanku jika seperti ini."
Saat Rea kembali menoleh kearah Alex. Tiba-tiba pria itu sudah tidak ada di tempatnya.
Dimana dia?
"Aku disini, Rea..." suara bariton dari Alex, membuat Rea seketika menoleh.
Pria itu menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Begitu lurus namun penuh penghayatan.
Sialnya, Rea bahkan tidak bisa menghindari tatapan itu. "Jangan menatapku seperti itu," Rea berucap dingin. Namun Alex tahu ada penekanan disana.
"Kenapa?"
"Aku tidak suka!"
"Apa yang membuatmu tidak suka? Tatapanku? Atau perasaanmu?"
Tanpa diduga, Alex sudah begitu dekat dengannya.
"Keduanya...
Tatapan itu biasa Grisham tujukan padaku. Dan hanya dia yang boleh melakukan itu."
"Kau terjebak dimasa lalumu, Rea... Kau tidak akan bisa bahagia jika terus mengingat mantan suamimu itu.
Dia sudah tiada. Sementara kehidupanmu masih berlanjut," Ada rasa tidak suka saat Rea mendengar penuturan Alex. Seolah dia harus membuang ingatan tentang Grisham sepenuhnya.
"Bahagia? Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku bahagia. Aku bahkan tidak yakin bisa merasakan hal itu lagi. Semuanya terasa sangat mustahil bagiku. Yang aku tunggu hanyalah waktu.
Waktu saat aku akan menyusul almarhum Grisham dan Aldrick putraku. Aku ingin bergabung bersama mereka kembali."
Rea tersentak ketika tiba-tiba saja sebuah tangan menariknya dan memaksanya menghadap kearah Alex.
"Dan aku tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Kau akan tetap hidup bersamaku! Kita akan bahagia dan menderita bersama. Tidak perduli meski dihatimu masih ada mantan suamimu itu.
Bagiku kau hanyalah milikku saat ini. Kau telah menjeratku, Rea... Kau membuatku bergantung padamu. Dan kau harus bertanggung jawab untuk itu," Alex berucap lembut. Namun penuh dengan penekanan. Seolah kata itu adalah sebuah janji yang baru saja dia katakan.
*******
"Louis? Apa yang kau lakukan disini?" Alex langsung bertanya, saat melihat kehadiran sepupunya secara tiba-tiba.
BUGH
Tanpa diduga, Louis mendaratkan pukulan diwajah Alex hingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Alex yang tidak siap, begitu terkejut sampai tidak bisa mengelak.
"Kau benar-benar mau tahu? Aku datang kemari untuk mencari k*****t yang telah membunuh ayahku!" Louis mendesis, wajahnya terlihat merah menahan marah. Dan menatap Alex dengan sinis.
"A-pa maksudmu?"
"Oh, hentikan tatapan kepura-puraan bodohmu itu Alex. Katakan padaku dimana kau menyembunyikannya?" ucap Louis dengan nada sehalus beludru namun tatapannya setajam pisau.
"Louis... Aku tidak mengerti," Kini Alex mulai tersadar dari sensasi pening yang dihasilkan dari pukulan Louis barusan.
"JANGAN BERPURA-PURA t***l!" Louis nyaris histeris. "Kau kan yang telah menyembunyikan pembunuh b******k itu!" tambahnya lagi sembari menunjuk wajah Alex dengan kurang ajar.
"Pembunuh b******k apa? Aku tidak mengerti dengan yang kau..."
Belum sempat Alex menyelesaikan ucapannya Louis kembali memotong membicaraannya.
"Rea Spencer."
Louis seakan meludahkan nama itu dari mulutnya. "Si pembunuh bayaran. Apa kau sudah mengerti sekarang apa yang sedang aku bicarakan?"
Tubuh Alex mengejang kaku seketika. "Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan," jawab Alex datar. Seakan tidak terima dengan ucapan sepupunya itu.
Diluar dugaannya Louis justru tertawa terbahak-bahak. Namun tidak ada sedikit pun humor dimatanya. Yang ada hanyalah kebencian dan dendam. "Masih saja berpura-pura t***l. Aku sudah tahu semuanya sepupuku. Kau yang telah menyembunyikan sipembunuh bayaran itu. Kau bahkan membantunya membunuh Rowan beberapa hari yang lalu. Cih, bisa-bisanya kau membunuh rekan sesama kita hanya deminya! Bisa-bisanya kau percaya dengan wanita itu dengan begitu mudah Alex kau sangat bodoh!" maki Louis seakan sengaja menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
Alex sedikit terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin Louis mengetahuinya? pikirnya.
Seakan menjawab pertanyaan yang ada di benak Alex, Louis bergumam rendah. "Apa kau lupa bahwa aku memiliki mata-mata yang sangat ahli."
"Memangnya kenapa jika aku melindunginya. Itu sama sekali bukan urusanmu, dan untuk masalah Rowan, aku juga tidak menyukainya sejak dulu. Lintah parasit tidak berguna itu memang tidak pantas hidup," Alex tidak tahan lagi untuk menyangkal kebenaran itu.
"Lalu bagaimana dengan ayahku yang telah dia bunuh. Meski dia bukan paman kandungmu, tapi dia telah merawatmu Alex, jangan lupa akan hal itu."
"Aku mengerti Louis, tapi kau tidak bisa langsung menghakiminya. Dia hanyalah robot suruhan Rowan untuk mengikuti semua perintahnya, Rowan lah yang telah memaksa Rea untuk membunuh," Alex masih berusaha dengan pembelaannya.
"Dan kau percaya?" Louis mencibir sinis.
Alex mengangkat dagunya, tidak ingin menghindari tatapan Louis yang penuh dengan kemarahannya. Seakan pembelaannya terhadap Rea adalah sebuah kebutuhan tersendiri baginya.
"Ya, jika saja kau membicarakan hal ini baik-baik sejak tadi, mungkin aku sudah menjelaskan semuanya terlebih dulu padamu. Asal kau tahu Louis, aku sangat benci pada seseorang yang suka menuduh orang lainnya tanpa bukti yang kuat."
Louis kembali terbahak, bahkan kesinisan yang terlihat diwajahnya semakin berlipat ganda.
"Aku juga tidak berniat mendengar kebohongan dan alibi sipembunuh bayaran itu yang telah dia bicarakan padamu. Yang jelas sekarang kau sudah masuk kedalam perangkapnya."
"Rea tidak..."
"DIAM DAN DENGARKAN AKU BICARA!" Louis membentaknya keras. Sorot pedih dan dendam dimatanya kembali menyala.
"Rea adalah psikopat betina yang telah banyak melakukan pembunuhan. Dia melakukan segala cara untuk memanipulasi siapa saja. Dia membunuh ayahku karena mengira bahwa ayahku penyebab dari kematian suami dan anaknya. Dia menyalahkan semua orang atas nasib buruk yang menimpanya.
Lalu perbuatan busuknya diketahui oleh Rowan. Karena kesulitan untuk membunuh Rowan seorang diri, dengan jumlah anak buah Rowan yang banyak. Rea mengajakmu bersekongkol untuk menghabisi Rowan serta anak buahnya. Aku sampai kaget saat mendengar bahwa kau ikut serta membantunya saat itu. Dengan mudahnya kau percaya pada pembunuh sialan itu, sampai dia berhasil membunuh Rowan akibat dari bantuanmu. Sekarang Rowan telah mati ayahku mati dan pembunuh itu aman berkeliaran. Aku sangat yakin bahwa sebentar lagi korbanya adalah dirimu!" Louis menatapnya sinis.
"Aku ingin lihat bagaimana caramu membelanya lagi, setelah melihat ini..." Louis menunjukan sebuah suntikan kecil yang bertuliskan nama Alex Dam Vaste.
"Ini adalah suntikan racun darah yang telah disiapkan oleh Rea untuk membunuhmu. Aku menemukan benda ini didalam tasnya."
Alex seketika melebarkan matanya melihat benda itu. Dia terdiam menatap datar kearah Louis, bahkan untuk berkomentar saja lidahnya terasa keluh. Meski kenyataannya begitu pahit, namun
Sangat sulit bagi hati Alex untuk mempercayainya.