"HAPPY READING"
***
Rea berjalan santai menuju helikopter yang telah disiapkan, sementara Alex mengikutinya dari belakang seperti seorang bodyguard.
Entah sejak kapan Alex sudah berada didepannya dengan menjulurkan tangannya membantu Rea menaiki helikopter. Rea menerima uluran itu, helikopter itu langsung berjalan sebelum Alex dan Rea sempat masuk sehingga membuat Alex merangkul pinggang Rea begitu erat sampai jarak mereka begitu dekat.
Tatapan mereka pun seketika beradu. Alex memperhatikan wajah Rea dengan tatapan sendu. Wajahnya yang sepucat s**u, namun memantulkan sinar tersendiri. Matanya seperti danau yang tak berdasar. Membuat siapa saja yang menatapnya akan tenggelam didalamnya. Lalu tatapan itu teralihakan saat melihat benda bening yang berkilau melingkar dileher Rea. Sebuah liontin yang sangat indah. Liontin itu seketika putus dan terjatuh ke dalam lautan. Rea sempat keget saat menyadarinya. Lalu Rea menggerakan tubuhnya untuk melepaskan tangan Alex dari pinggangnya untuk terjun mengejar kalungnya. Namun Alex menahannya semakin erat.
"Apa yang ingin kau lakukan Rea, apa kau sudah gila! Itu hanya sebuah kalung...." Alex begitu kesal saat Rea memberontak dan berusaha melepaskan rangkulanya.
"Lepaskan aku Alex. Aku ingin mengambilnya..." ucap Rea dengan terus memberontak. Kekuatan wanita biasanya kalah jauh jika dibandingkan seorang pria. Tapi kali ini kekuatan Rea benar-benar membuat Alex kewalahan.
"Jangan bertindak bodoh hanya untuk sebuah kalung Rea, aku akan mengganti dengan yang jauh lebih mahal dari itu!" sarkasnya lagi.
Rea menggeleng lemah. "Bagimu itu hanya sebuah kalung. Tapi bagiku, itu sangat berati melebihi apapun," Rea segera melepaskan tangan Alex yang mulai mengendur.
Alex diam saja, tidak habis pikir dengan wanita satu ini. Bisa-bisanya dia menganggap sepele sebuah kematian.
"Tenanglah... Aku tidak akan mati dengan mudah," Rea menatap dalam mata Alex seakan meyakinkan pada pria itu bahwa dia akan baik-baik saja. Lalu segera terjun untuk mencari kalungnya.
REA....
Alex berteriak frustasi. Namun sudah terlambat. Rea telah lebih dulu terjun dan menghempaskan diri kedalam air.
"Bodoh!"
Alex memerintahakan anak buahnya untuk mendaratkannya dibawah sana saat itu juga. Alex juga menyuruh banyak anak buahnya untuk berpencar mencari keberadaan Rea. Alex begitu kesal sampai beberapa kali melampiaskan pada anak buahnya.
Kenapa kau melakukan ini Rea? Kau terlalu bermain-main dengan nyawamu sendiri...
Mereka telah mendarat dan melakukan pencarian dimana-mana, tapi tidak juga menemukan keberadaan Rea. Rea menghilang begitu saja bagai ditelan air dan tidak muncul lagi. Alex mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan nafasnya keras-keras, merasa sangat frustasi.
"Kau mencariku?"
Suara lembut dan mendayu itu membuat Alex mengangkat wajahnya. Memperhatikan lekat-lekat wajah yang ada didepannya saat ini. Wanita yang baru saja melakukan hal gila tiba-tiba muncul dihadapannya seolah tidak pernah melakukan apapun. Tubuhnya yang basah kuyup serta air yang masih berjatuhan dari rambutnya. Wajahnya pun pucat seperti mayat hidup.
"Rea?" gumam Alex pelan, namun masih bisa terdengar olehnya.
"Tentu saja aku Rea. Apa kau pikir aku ini hantu!" jawabnya santai sembari mengangkat bahunya.
Tanpa aba-aba Alex segera memeluknya erat. Menghirup aroma tubuh Rea yang basah kuyup. Tidak memperdulikan pakaian nya yang juga ikut basah karena memeluk Rea.
"Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi Rea kumohon..." Ada kesungguhan saat Alex mengucapkan itu. Rea sendiri merasa sedikit hangat karena setelah sekian lama, tidak ada yang peduli padanya.
"Sudah kukatakan aku tidak akan mati dengan mudah Lex! Kenapa kau masih tidak percaya juga?" ucap Rea sedikit kesal. Namun hal itu membuat Alex semakin kesal.
"Jangan konyol Rea. Kau hanya memiliki satu nyawa. Kau tidak punya nyawa cadangan, jadi berhentilah membahayakan dirimu..." ucap Alex kali ini menekankan ucapannya.
Rea tersenyum lembut mendengarnya. Akhirnya setelah sekian lama dia tidak merasa diperdulikan. Kali ini ada seseorang yang tanpa diminta dia begitu sangat mengkhawatirkannya. Seakan kehidupannya begitu diharapkan.
"Kenapa kau berbeda Alex? Kenapa kau begitu mencemaskanku? Kau tidak seperti Mafia yang kejam. Kau begitu perduli padaku. Kenapa?" tanya Rea Menatapnya nanar.
"Karena aku mencintaimu..." Alex mengucapkannya dengan mantap. Sebuah ungkapan yang keluar begitu saja dari mulutnya. Entah sejak kapan perasaan itu timbul. Tapi yang jelas saat ini, Alex tidak akan membiarkan Rea membahayakan dirinya lagi.
"Kenapa?" jawab Rea menatapnya datar.
"Apa cinta harus punya alasan?" ucap Alex menyipitkan matanya. "Jika kau memang ingin alasan, maka jawabanyaaku sendiri tidak tahu. Dan aku rasa hatiku juga tidak bisa ditentukan olehku sendiri. Hatikulah yang memilih untuk mencintaimu, itu saja!" tambahnya lagi dengan begitu santai. Namun Rea masih menatapnya dengan penuh pertanyaan didalam benaknya.
Alex mengalihkan pandanganya pada sebuah liontin yang telah kembali melingkar dilehernya.
"Kau menemukan kalung itu?" tanya Alex terkagum. Bagaimana bisa Rea dengan begitu mudahnya menemukan kalung yang telah terjatuh kedalam air yang pastinya dalam.
"Seperti yang kau lihat..." jawabnya tersenyum bangga.
"Kenapa kalung itu begitu berharga bagimu? Kenapa kau mengorbankan nyawamu hanya karena kalung itu," Alex bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari liontin yang di pakai Rea.
"Lihatlah..." Rea membuka liontin yang berbentuk hati itu. Nampak sebuah foto seorang anak kecil yang begitu lucu dan imut, dan disebelahnya seorang pria yang begitu tampan. Wajar saja jika Rea sendiri mengatakannya seperti seorang pangeran. Pria itu memang memiliki raut wajah yang begitu tampan dan menawan seperti pangeran. Dan dibalik liontin itu bertuliskan (Hatiku, dan darahku.)
"Aku tidak bisa kehilangan kalung ini. Hanya kalung inilah salah satu hal yang membuatku merasa dekat dengan mereka," ucap Rea pelan dengan begitu pahit.
Alex seakan tertusuk mendengar ucapan Rea.
"Kenapa Rea... Kenapa kau tidak bisa melupakan masa lalumu? Mereka telah pergi meninggalkanmu. Tidak ada gunanya terus terpuruk dengan kesedihan dimasa lalumu."
Rea diam saja, karena memang tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Alex
"Rea... Aku tidak akan memaksamu untuk melupakan Grissham dan putramu. Itu adalah hak mu. Tapi aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk melindungimu. Kau adalah wanitaku, tidak akan aku biarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu..." Alex memegang kedua bahu Rea dan menatapnya dalam. Seakan membuat Rea melihat sendiri kejujuran yang terpancar dimatanya.
Rea sendiri bingung dengan perasaannya. Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini. Kenapa Alex harus mencintainya. Dan yang terpenting lagi. Perasaan apa yang telah melandanya saat ini saat setiap kali bersama Alex. Sebuah ungkapan yang keluar dari mulut Alex seakan menjadi beban baginya. Meski dia sendiri tahu bahwa perasaannya sendiri tidak jauh berbeda dari Alex.
Tapi apakah itu artinya dia telah mengkhianati Grissham? Rea kini berdebat dengan pemikirannya sendiri.
Namun sebelum Rea mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Alex telah membawa Rea kedalam pelukannya. Pelukan yang telah lama tidak pernah Rea rasakan.
Pelukan hangat yang begitu menenangkan. Tanpa memperdulikan keadaan dan kondisi sekitar.
Para anak buah Alex sendiri hanya memalingkan wajah dan berekspresi datar. Berpura-pura tidak melihat apa yang telah dilakukan oleh pemimpin klan mereka itu.
Ck, jangan sampai Tuan Alex jadi b***k cinta hanya karena seorang pembunuh bayaran. Ini tidak lucu!