"Apa kau yakin ini tempatnya?"
"Aku sangat yakin," Rea berucap tegas sembari menyipitkan matanya pada sebuah ruangan khusus.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita selesaikan malam ini juga."
Rea mengangguk cepat dan segera keluar dari mobilnya, berjalan duluan untuk menemui mangsa diruangannya. Sementara Alex menunggu dibawah sembari menghidupkan sebatang rokok, menunggu intruksi dari Rea.
Rea sengaja ingin melakukannya sendirian, karena tidak ingin terlalu menghebohkan semua orang disana dengan kehadiran Alex dan para anak buahnya. Apalagi Alex pastinya memiliki banyak jalan pintas untuk menyelesaikan misinya. Seperti meledakkan bom salah satunya. Karena baginya hal itu tidak akan membuang waktunya cukup lama.
Tentunya tidak mudah bagi Rea masuk kesana. Dia harus melewati seorang yang memakai pakaian serba hitam yang ia yakini sebagai pengawal pribadinya. Tapi untungnya dengan mudah Rea mengelabui pengawal itu karena Rea sudah beberapa kali menemui bosnya karena urusan bisnis. (Lebih tepatnya bisnis kotor.") batin Rea mendelik.
"Tuan Fernandez ..."
Suara lembut nan mendayu dari mulut Rea membuat Fernandez mengalihkan perhatiannya.
"Rea?"
Rea mendekat dengan sengaja melenggak lenggokkan tubuhnya kearah pria yang sudah berumur cukup tua itu. Kerutan diwajahnya semakin menjadi saat melihat Rea yang merubah sikapnya kali ini. Tidak seperi biasanya.
"Apa yang kau lakukan Rea? Aku belum mendengar berita tentang kematian Alex Dam Vaste. Kenapa kau datang kemari? Jangan bilang kau ingin aku membayar lagi..."
Fernandez menyipitkan matanya curiga.
"Ckck, kau sangat pengertian Fernandez. Kau benar, aku datang kesini untuk meminta bayaran lagi. Tapi sayangnya bukan dengan uang," Rea sengaja menghentikan ucapannya dan mengubah ekspresinya menjadi dingin dan sinis.
"Melainkan dengan nyawamu..," sambungnya membuat Fernandez terkejut.
"Hahahah... Membunuhku? Jangan bercanda Rea. Bagaimana kau bisa membunuhku. Kau tidak lihat kamera cctv dimana-mana, dan aku tinggal memencet tombol maka bodyguardku akan segera masuk untuk menyelamatkanku," ucapnya angkuh dengan menaikan wajahnya.
Namun hal itu justru membuat Rea tidak tahan menarik sudut bibirnya.
"Apa Kau belum mendengar tentang kematian Rowan, Fernandez?" ucap Rea pelan namun dengan aura mencekam.
Fernandez menghentikan tawanya, dan menatap tajam Rea.
"Jangan bilang dalang dibalik kematian Rowan adalah ulahmu Rea?" ucap Fernandez tajam.
"Sayangnya itu adalah benar..." jawab Rea santai. "Dan sekarang giliranmu," sambungnya lagi yang membuat Fernandez meledak marah.
"DASAR KAU JALANG SIALAN! BERANINYA KAU MENGKHIANATI TUANMU SENDIRI," bentaknya kasar. Namun Rea malah terkekeh mendengarnya.
"Dia hanyalah lintah yang tidak pantas hidup. Begitu juga denganmu, kalian sama-sama lintah menjijikan yang melakukan segalanya hanya demi kepentingan kalian sendiri. Tenanglah... Aku tidak akan menyiksamu, aku akan langsung membunumu saja dan langsung mengirimu kealam baka sana.
SAMPAI JUMPA DI NERAKA."
Belum sempat Fernandez memprotes Rea sudah menembak kepalanya.
DORR
Fernandez langsung jatuh tersungkur
dengan bersimbah darah.
BRAKK
Suara seseorang membanting pintu membuat Rea menoleh dan mendapati pengawal Fernandez masuk dengan wajah paniknya. Ekspresinya berubah menggelap saat melihat bosnya telah mati. Pengawal itu menatap Rea dengan aura mematikan.
Rea mencoba untuk menodongkan pistol pada pengawal itu tapi dengan sigap pengawal itu menendang pistol yang dipegang Rea sampai terlempar jauh. Untungnya Rea cukup pandai dalam ilmu bela diri, hingga dia tidak kesulitan melawan pengawal itu dengan tangan kosong.
Rea menerjang pengawal itu sampai tersungkur, dan memelintir tangannya sampai berbunyi
Kretak
Entah patah atau apa? Yang pastinya pengawal itu meringis kesakitan.
Dengan memiliki cela pengawal itu langsung membalikan keadaan dan mencekik leher Rea sampai kesulitan bernafas. Rea berusaha memukul-mukuk tangan pengawal itu dengan sekuat tenaganya namun pengawal itu seolah tidak merasakan sakit sedikitpun.
DORRRRR
Suara tembakan menggema diruangan itu. Mengenai tubuh pengawal yang tadinya mencekik Rea. Kini pengawal itu tersungkur dan mati seketika.
Rea segera menghirup oksigen dengan rakus sampai dadanya naik turun karena hampir kehabisan oksigen.
Untungnya Alex datang tepat pada waktunya. Jika terlambat sedikit saja Rea akan mati dengan kehabisan nafas.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alex khawatir.
Rea mengangguk cepat, seakan memberi isyarat bahwa dia masih hidup, setidaknya.
"Ayo, Kita pergi dari sini," ucap Alex sembari mengulurkan tangannya. Rea segera menyambut uluran itu dan mengikuti langkah Alex yang lebar.
Mereka keluar dari gedung itu dengan begitu santai seolah tidak terjadi apapun. Namun ketenangan itu segera berakhir saat begitu banyaknya sekelompok orang yang mengepung mereka.
Rea tidak memperlihatkan raut cemas ataupun takut dari raut wajahnya. Begitu pula dengan Alex yang justru berdecak kesal.
Sialnya saat itu mereka hanya berdua, para anak buah Alex hanya menunggu dibawah.
"Sepertinya ini akan sedikit melelahkan,"
Rea hanya menyipitkan matanya memperhatikan para sekelompok yang membawa senjata itu. Bukan hanya pistol, tapi juga beberapa senjata tajam lainnya.
"Aku tidak akan mati dengan mudah..." Rea menatap mereka dengan dingin dan bersiap menyerang.
"Aku juga," saut Alex sembari mengangkat bahunya.
Alex segera mengambil sebuah bola yang menyerupai granat namun isinya adalah gas beracun. Rancangan para anak buah terbaiknya untuk menyerang musuh disaat darurat seperti ini.
Dalam hitungan detik Alex langsung membuka tutupnya dan melemparkannya pada sekelompok orang itu. Lalu menarik Rea untuk segera kabur dari sana. Mereka tidak punya jalan lain selain menuju dak atas gedung itu. Sambil terus berlari Alex menghubungi anak buahnya untuk menunggu kedatangan mereka diatas.
Sialnya beberapa kelompok orang yang mengepung mereka tadi berhasil menghindar dari gas beracun itu. Sehingga Alex harus mengalami kesulitan dengan melawan mereka.
Rea menembak sembari mencari tempat berlindung dari sela-sela tembok gedung. Sedangkan Alex menghajar dengan tangan kosong karena pelurunya sudah habis.
Alex menghajar dengan begitu mudah dan santai seakan ingin memperlihatkan pada Rea keahliannya dalam berkelahi.
Entah karena lengah atau terlalu banyak gaya, Alex berhasil dilumpuhkan oleh musuhnya sampai berlutut. Tanganyapun telah dikunci hingga tidak bisa melakukan perlawanan lagi.
"TURUNKAN SENJATAMU!"
bentaknya pada Rea yang masih memegang pistolnya. Rea hanya terdiam dan menatapnya datar.
"Dasar t***l!" maki Rea kesal.
"TURUNKAN SEKARANG!"
Rea tidak punya pilihan selain mengikuti permintaannya. Dengan perlahan Rea menurunkan senjatanya, namun saat itu juga Rea melihat anak buah Alex yang telah memasuki gedung itu. Rea sempat berfikir bagaimana caranya untuk menunda sampai anak buah Alex datang.
"TUNGGU APA LAGI CEPATT!"
"Kenapa aku harus menurunkan senjataku? bukan aku musuh kalian tapi dia..." sinisnya. Dan hal itu membuat Alex kaget.
Apa yang dilakukan wanita ini?
"Bos kalian memintaku untuk menghabisi orang yang saat ini berhasil kau lumpuhkan. Bukan aku, aku tidak punya urusan dengan kalian," sambungnya lagi berlagak polos.
"Kau pikir kami bodoh! Kami tahu bahwa yang telah membunuh Tuan Fernandez adalah kau! Sekarang cepat jatuhkan senjatamu."
Rea tidak bisa menjawab lagi. Entah mengapa dalam situasi seperti ini otaknya seolah berhenti bekerja. Tapi untungnya hal itu segera membuatnya bernafas lega saat anak buah Alex telah mengepungnya.
"Kau benar Sekarang giliranmu yang mati..." Rea menyeringai jahat.
DORRRR