BERHASIL MENYELAMATKAN DIRI

1177 Words
Rea berjalan dengan tersaruk-saruk karena telah mengalami efek dari gas beracun itu. Alex berusaha melindunginya dari serangan anak buah Rowan yang juga ingin menyelamatkan diri dengan berlari keatap gedung. Tapi hal itu sia-sia karena jumlah mereka kalah banyak. Untungnya helikopter darurat itu sudah muncul sebelum Alex dan Rea sampai, sehingga mereka tidak perlu menunggu lama. Rea sudah kehilangan keseimbangannya dan hampir saja tersungkur jika saja Alex tidak memegangnya erat. "Bertahanlah Rea! Sedikit lagi," ucap Alex sembari membopong Rea. "Kau pergilah Alex, Aku akan menyusul. Tenanglah aku tidak akan mati dengan mudah," Rea berucap dengan wajah yang telah dibanjiri keringat dingin serta deru nafas yang tidak beraturan. "Tidak akan!" Alex menggendong Rea ala bridle style, karena tidak ingin lebih lama berada disana. Alex bukanlah Seorang pengecut yang meninggalkan seorang wanita terjebak sendirian dalam bahaya tanpa menolongnya. Alex melangkah lebar menuju helikopter yang telah setia menunggu mereka. Beberapa uluran tangan membantunya agar Rea masuk kedalam sana. Mereka telah berada didalam helikopter, sedangkan anak buahnya yang lain telah memilih cara mereka masing-masing untuk menyelamatkan diri. Lagi pula meski mereka berada lama disana tidak akan membahayakan karena pil penawar yang telah Mereka telan. Rea memejamkan matanya rapat, deru nafasnya semakin tak beraturan. Entah mengapa perasaan khawatir muncul begitu saja, padahal Alex selama ini tidak pernah mencemaskan orang lain, apalagi dirinya sendiri. "Suruh Dokter Chan datang ke Mansion sekarang!" Perintah Alex pada anak buahnya. Dokter Chan merupakan dokter pribadi Alex yang sangat dipercayainya dan telah berpuluh tahun mengabdi padanya. *** "Bagaimana keadaanya?" Ada rasa khawatir saat Alex bertanya dan hal itu membuat Doker Chan yang mengenal Alex dengan baik pun sedikit heran. "Kondisinya sudah stabil. Untuk saat ini biarkan dia beristirahat terlebih dahulu," jawab Dokter Chan yang langsung diangguki oleh Alex. Dokter Chan menyipitkan matanya memperhatikan gelagat Alex yang nampak gusar. "Ada apa Alex? Kenapa kau begitu mengkhawatirkannya? Memangnya siapa wanita ini?" Bagaimana bisa manusia yang dikenal begitu kejam, memiliki rasa simpati pada seorang wanita. Sungguh sebuah keajaiban... "Entahlah, aku hanya kasihan," Sautnya pelan namun masih bisa terdengar. Bahkan raut wajahnyapun menunjukan lebih dari kata kasihan. "Kasihan?" Dokter Chan membeo. Tatapannya jelas terlihat tidak percaya. "Sudahlah Dokter Chan. Jika urusanmu sudah selesai lebih baik kau pulang sana!" usirnya. Dokter Chan berdecak kesal lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Rea membuka matanya secara perlahan dan sesekali mengerjapkannya. Saat matanya telah terbuka lebar, pandangan yang pertama kali dilihatnya adalah Alex yang duduk tidak jauh dari tempatnya dengan menatapnya. "Dimana aku?" Rea bingung karena merasa asing ditempat itu. "Mansionku," Alex mendekat tanpa melepaskan tatapannya. Rea mencoba bangkit untuk sedikit duduk, namun karena tubuhnya masih lemah dia kehilangan keseimbangan, untungnya Alex dengan sigap menahan pinggangnya dan membantunya duduk. Seketika mata Rea terpaku dengan jarak diantara mereka yang sangat dekat. "Apa kita berhasil membunuh Rowan?" tanya Rea mencoba menghilangkan kegugupannya. Untungnya Alex segera menanggapi hal itu. "Tentu saja kita berhasil." Rea tersenyum tipis mendengarnya. Akhirnya dia terlepas dan bebas dari Rowan. Manusia licik yang selama ini menjadikannya seperti robot yang bernyawa. Melakukan tindakan kotor dengan tangan orang lain. Rowan telah mendapatkan balasan atas perbuatannya dengan setimpal. Tapi... Bagaimana dengan ayah angkatnya? Pikir Rea. "Ayahmu telah berhasil diselamatkan," ucap Alex seolah mendengar apa yang ada dipikiran Rea. Rea tersenyum sumringah mendengar penuturan itu. "Tapi... Kenapa wajahmu menunjukan hal lain?" tanya Rea menyipitkan matanya memperhatikan Alex. "Kondisinya buruk. Sangat buruk, aku rasa dia tidak akan bertahan lama," Alex berucap pelan seolah ikut bersedih akan hal itu. Rea kembali menipiskan bibirnya. "Aku sudah menduga akan hal itu. Karena selama ayah angkatku ditahan, Rowan selalu menyuntikan racun pada tubuhnya. Meski dosisnya kecil tapi yang namanya racun tetaplah racun, dia akan menyebar dan membuat kondisi ayah angkatku semakin memburuk," ucapnya pahit. "Tapi bagaimanapun juga aku masih tetap berterimakasih padamu. Setidaknya ayahku akan mati dengan tenang tanpa merasa tersiksa lagi dengan racun itu," tambahnya lagi. Alex hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Sesuai janjiku, aku akan membunuh orang yang membayar Rowan yang ingin membunuhmu, secepatnya..." ucap Rea lagi. "Tidak perlu Rea aku bisa melakukannya sendiri. Lagi pula kondisimu sedang lemah saat ini," Alex menyela. Ada sesuatu didalam dirinya yang tidak ingin agar Rea kembali dalam bahaya. "Tidak Alex! Aku baik-baik saja. Tidak perlu mencemaskanku. Aku tidak ingin berhutang budi terlalu banyak denganmu." "Baiklah kalau begitu aku akan ikut," Alex tidak kalah keras kepala. Rea tidak menjawab, namun bukan berarti dia juga setuju. Rea menatapnya datar. Ada rasa aneh didalam dirinya pada pria ini. "Kenapa kau begitu baik padaku?" tanya Rea datar. Alex sendiri bingung bagaimana cara menjawabnya. Dia sendiri bingung kenapa dia jadi sepeduli ini pada Rea? Ini sesuatu yang membuatnya rumit. Alex tahu apa yang dia rasakan, namun dia tidak punya kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. "Jangan bersikap terlalu baik padaku... " ucap Rea dengan raut kesedihan yang terpancar diwajahnya. Permintaan itu diucapkan sungguh-sungguh. Tak ada sikap defensif pada diri Rea saat mengucapkannya. Dia hanya meminta, tanpa kesan membenci pada Alex. Dan hal itu justru membuat Alex semakin bingung. "Ini salah Alex, Aku menjadi terlalu nyaman saat bersamamu. Seharusnya tidak boleh begini..." Rea nampaknya masih ingin mengatakan sesuatu, namun hal itu tidak sempat ia lakukan saat bibir Alex telah membungkam mulutnya. Seakan itulah jawaban dari semua pertanyaan Rea padanya. Rea tidak menolaknya, bahkan ia ikut terhanyut dalam sentuhan Alex dengan memejamkan matanya. Bibir mereka saling bersentuhan, namun tidak melibatkan lidah didalam ciuman itu. Seakan ciuman itu adalah sebuah ungkapan perasaan yang begitu dalam. Alex melepaskan ciumannya dan saling menempelkan kening mereka. Tatapan Alex begitu sendu sembari memegang kedua pipi Rea. "Maafkan aku Rea. Aku tidak bisa menuruti keinginanmu. Naluri ingin menjagamu sudah ada dalam diriku sejak aku bertemu denganmu," sebuah ucapan yang membuat Rea sedikit terhenyak. Ada juga rasa takut didalam dirinya. Takut akan merasakan hal itu lagi, dan malah menghianati almarhum anak dan suaminya. Rea tidak lagi mengatakan apa-apa, begitu juga Alex. Rea tetap pada keputusannya, dan Alex juga tetap pada keputusan nya. Namun Alex merasa tahu apa yang sedang Rea pikirkan begitu pula sebaliknya. Saat itu, angin membawa pesan bisu diantara mereka berdua. *** "Sleeping bag?" tanya Rea tidak percaya, memandang buntalan yang dilemparkan Alex padanya. "Tentu saja, Memangnya siapa bilang itu bantal," jawab Alex dengan wajah menyebalkan. Alex mendapatkan informasi tentang cuaca yang akan segera turun salju. Maka dari itu dia ingin membuat Rea tetap hangat dengan itu. Setelah berdebat panjang pada Rea untuk mengurungkan niatnya menghabisi musuhku malam ini juga akhirnya Rea menyetujuinya. Alex menghela nafas dan menoleh kearah Rea memastikan apa yang terjadi padanya, hingga tidak mengeluarkan suara lagi, entah pingsan atau apa? Alex mendapati bahwa Rea sudah tertidur. Alex mengakui satu hal bahwa kehadiran Rea sedikit banyak cukup membuatnya tenang. Selain berperan sebagai serum kejujuran, dia juga nyaris menjadi valium pribadi bagi Alex. "Cukup gila mengakuinya, bagaimana bisa aku merasa nyaman pada wanita pembunuh ini. Seharusnya aku merasa waspada! Bisa saja sikapnya ini adalah akting belaka. Dan saat aku lengah, dia akan membunuhku sebagaimana dia melakukannya pada mangsanya. Namun ada sesuatu didalam diri Rea yang membuatku cukup mempercayainya. Percaya bahwa sikapnya ini memang tulus. Percaya bahwa dia melakukan semua itu karena memiliki alasan yang membuatnya terdesak." gumam Alex sembari menatap oknum yang cukup membuatnya sedikit gila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD