Aku menguap lebar sambari menunggu Pak Cakra menjemputku ke rumah. Setelah dikabari bahwa kami akan berangkat dinas pukul 4 subuh aku bergegas tidur jam 12 tadi malam merelakan drama koreaku yang belum usai ku tonton.
Grup kantor masih sepi tak bernyawa. Aku beberapa kali mengecek barangkali ada yang bersuara namun nihil. Tampaknya memang mereka masih belum bersiap atau bahkan ada yang masih sibuk mengarungi alam mimpi.
Tak lama sebuah mobil HRV hitam datang sambil membunyikan klakson membuatku yang tadinya setengah mengantuk terkesiap.
Aku bergegas masuk ke dalam mobil Pak Cakra. Aku belum begitu mengenalnya tapi hanya dia satu-satunya pegawai yang berasal dari kota yang sama denganku, sehingga mau tidak mau aku menebeng daripada harus menaiki angkutan umum sendirian. Tidak ada banyak kata yang terucap selama perjalanan. Aku yang tadinya berusaha menahan kantuk pun akhirnya terlelap juga. Meninggalkan Pak Cakra dalam keheningan sembari menyetir mobil dalam kondisi gelap sendirian.
Setelahnya kami menjemput Kak Fitri dan juga Kak Gayatri. Total ada kami berempat di dalam mobil Pak Cakra. Suasana mobil yang tadinya hening langsung ramai oleh mereka berdua. Pak Cakra yang kupikir tidak bisa diajak bergurau nyatanya malah ahli sebagai pelawak.
"Ada lagi aja berita perselingkuhan." Seperti biasa Kak Fitri senang membawa topik acak.
"Siapa? Kok aku ngga tau. Aku kan netizen berbudiman paling update sejagat raya." Tanya Kak Gayatri.
"Selebgram ganteng itu kan katanya bukan diselingkuhin tapi ditinggal nikah." Pak Cakra menimpali.
"Kalau aku jadi cewenya juga. Aku pasti bakal lebih memilih berlian daripada emas KW. Realistis aja lah zaman sekarang. Nggak bisa makan cuman pake cinta, harga beras udah naik bokk!" Kata Kak Gayatri dengan menggebu-gebu.
"Bener tuh, Kak. Penting banget buat mencari pasangan yang setara secara materi. Siapa sih yang nggak mau jadi ibu sosialita, yang kerjaannya cuman antar jemput anak sambil nongki cantik, pulangnya mampir ke Louis Vuitton, sabtu minggunya main golf atau jalan ke mall. Kayak Sandra Dewi." Kali ini Kak Fitri tak kalah bersemangat.
"Semua cewek sama aja. Matre! Nggak bisa bersyukur diajak apa adanya. Duit mulu dipikirin," Sahut Pak Cakra.
"Hey, kalian cowok juga nyarinya yang spek bidadari. Terus kalau kami minta kalian jadi spek kaya pangeran arab kami salah? Iya nggak, Ni? Menurutmu setara dalam materi itu penting kan?" Kak Gayatri mendesakku.
Aku bergumam sekilas lalu berkata, "Kalau saya pribadi...materi itu masih bisa diusahakan dengan kerja lebih keras, yang lebih penting itu setara dalam pemikiran dan perasaan," Jawabku dengan sok diplomatis membuat Kak Gayatri dan Kak Fitri mendengus.
Kening Kak Gayatri berkerut-kerut seolah tak percaya. Sementara Pak Cakra menepuk-nepuk bahuku sambil mengucapkan kata
"bagus" dengan bangga.
"Berarti kamu mau aja kawin ama kang becak dong?"
"Maksud saya, materi itu masih bisa dicari asalkan dia mau berusaha buat cari uangnya atau bisa dicari bersama-sama, tapi...kalau perasaannya beda, pemikirannya selalu bentrok. Emangnya bisa bikin bahagia?" Tanyaku kepada Kak Gayatri yang dijawab dengan gelengan heran.
"Ya bahagia lah. Kalau kita punya harta banyak, mau laki selingkuh sama seribu cewek, mau dia nyewa ani-ani setiap malem, mau berantem lempar-lemparan piring, asal duit masih lancar kita bisa ke salon, liburan ke luar negeri, belanja barang branded sepuasnya. Lah, kalau miskin? Diselingkuhin cuma bisa makan hati terus bunuh diri."
"Aduh, Ni. Kamu mending banyak belajar lagi deh ama kita-kita. Takut banget Anjani yang polos ini jadi mainan lelaki. Aduhh amit-amit!" Ujar Kak Fitri.
"Belajar sama kalian itu sesat. Lebih sesat daripada pergi ke dukun," Ejek Pak Cakra yang hanya disahuti oleh cibiran sinis dan sebuah toyoran kecil dibahunya.
***
Perjalanan terhenti di sebuah rest area. Terpantau ada tiga mobil sudah berjejer disana yang kukenali dua berplat merah dan satu plat hitam.
Warung nasi kuning ini begitu ramai oleh beberapa pelanggan. Mataku berpendar mencari rombongan kantor kami yang sudah duduk di dua meja terpisah.
Aku memutuskan untuk duduk di kursi kosong sebelah Mbak Salma, "Mbak Salma ikut mobil siapa?" Tanyaku usai duduk di sebelahnya.
"Aku ikut Bang Yasa. Dimobil kami ada Pak Putra, Nur, Baim sama Gita," Jawab Mbak Salma.
Kemudian Kami pun segera memesan ke kasir. Aku yang masih tidak terlalu berselera memilih soto untuk menghangatkan tubuhku. Karena AC mobil Pak Cakra yang full aku merasa mulai masuk angin. Namun, saat kembali ke tempat duduk, kursiku telah diisi oleh Kak Fitri yang tadinya ada di sebelah Bang Yasa. Aku berjalan dengan ragu dan kebingungan. Namun akhirnya aku tetap duduk didekat Bang Yasa dengan berat hati karena aku ada ditengah-tengah dia dan Kak Gita.
Sudah beberapa hari aku bekerja, orang-orang tahu bagaimana buruknya hubungan kami yang tak kunjung ada perubahan. Banyak yang bertanya-tanya mengapa kami tidak saling menyukai. Kalau jawabanku tentu saja jelas, ia yang memulai peperangan denganku, aku hanya mengimbanginya. Sedangkan Bang Yasa? Entahlah aku tidak mengerti.
Aku memilih sibuk dengan ponselku karena rasa canggung yang tak terbendung, sampai akhirnya suara Kak Gita saat menyebut namaku mengalihkan perhatianku.
"Kayak Anjani ini ya anaknya kalem dan anggun. Pasti banyak yang suka," Celetuknya tiba-tiba. Entah apa yang tengah mereka bicarakan sebelumnya.
Disebelahnya mengangguk Kak Halda yang merupakan rekan satu bidangnya, "Kalian ini masih enak, Git. Masih bujangan, badan masih bagus belum pernah melahirkan. Coba lihat aku nih. Dulu waktu bujang juga aku langsing kayak kalian. Sekarang udah gembrot kayak gini."
"Lihat Anjani sama Gita duduk sebelahan ini, aku jadi berasa kayak remahan rengginang," Ujar Ka Halda. Lagi-lagi memuji sambil merendahkan dirinya sendiri.
"Memang manis bidadari-bidadariku ini. Cantik keduanya itu khas. Idaman semua pria," Lagi-lagi Pak Egi dengan godaan mautnya.
"Gita sekarang ada saingannya di kantor. Hati-hati, Git. Nanti gelar wanita tercantik kamu direbut sama Anjani," Ucap Kak Halda yang entah mengapa membuatku agak tidak nyaman.
"Wanita cantik apanya," Gumam Bang Yasa namun masih bisa ku dengar dengan jelas. Aku memilih mengabaikannya sementara yang lain masih sibuk berceloteh. Sepertinya mereka tidak mendengar apa yang dikatakan Bang Yasa.
Ia sengaja mengatakannya kepadaku.
Aku pun menoleh, menatapnya dengan menuntut. Sang empu yang merasa ditatap pun akhirnya menoleh sambil menangkat sebelah alisnya.
"Sebenarnya saya salah apa sama Bang Yasa?" Tanyaku pelan. Semua sibuk dengan topiknya masing-masing. Jadi aku tidak perlu khawatir kalau kami akan menjadi pusat perhatian.
"Kenapa Bang Yasa sebenci ini sama saya?" Aku kembali bertanya sebab ia tak kunjung memberikan jawabannya.
"Saya nggak benci."
"Lalu kenapa selalu ketus sama saya? Bang, saya cuman mau bekerja dengan tenang. Nggak mau cari musuh, jadi tolong kerja samanya." Tuturku dengan tegas.
"Kalau nggak mau?"
Aku hanya menatapnya dengan sinis. Saat aku hendak mengambil sambal yang ada di dekatnya, tanpa sengaja mata kami bertemu selama beberapa detik. Aku lebih dulu melepaskan kontak mata kami sebab seringainya begitu menyebalkan.
****
Festival tahunan ini begitu meriah. Ada banyak perlombaan di lapangan yang diikuti oleh seluruh kalangan dari berbagai kabupaten. Tak lupa ada bazaar diseberangnya yang memamerkan kebudayaan atau khas dari daerah masing-masing serta stand makanan. Ada sebuah panggung yang digunakan untuk menampilkan perlombaan tari daerah dan atraksi, jika malam hari, panggung tersebut digunakan untuk konser band-band terkenal seperti Nidji, Ungu, dan Maliq & D'Essentials.
Kami berpencar sesuai kelompok masing-masing. Bapak-bapak memilih merokok atau nongkrong di warung kopi. Para atasan berkeliling untuk melihat sekaligus bertemu dengan banyak petinggi lainnya di ruang VIP. Sementara kami para perempuan menuju bazaar untuk cuci mata.
Ternyata berkeliling cukup menguras kantongku. Total aku sudah membeli telur gulung, cilor, kentang tornado, dan segelas minuman dingin. Tak lupa beberapa aksesoris lucu dan novel bekas yang dijual di bazaar tadi.
Setelahnya kami memilih untuk nongkrong di belakang mobil Bang Yasa sembari melihat pertunjukan bersama yang lainnya. Kap
mobil belakang dibuka agar kami bisa duduk dan meletakkan berbagai makanan disitu. Sementara Bang Yasa sendiri di kursi kemudi sambil mendengarkan lagu.
"Masih lama kah?" Tanya Bang Yasa yang akhirnya bergabung dengan kami sambil mengambil satu telur gulung yang ku beli membuatku terpaksa bergeser ke kiri. Telur gulung itu kini tak lagi ku sentuh, seolah anti dengannya.
"Pak Yudhistira masih ngobrol sama Gubernur kayaknya. Rombongan bos juga masih pada disitu ikut foto-foto," Jawab Kak Nur sambil mengendikkan dagunya kearah ruang VIP didekat panggung.
"Santai dulu lah, Bang. Nikmati acaranya. Ngga mau keliling apa?" Tanya Kak Fitri.
Bang Yasa menggeleng, "Aku males. Kamu kan tau aku paling ngga suka acara-acara kayak gini. Panas pula."
"Nggak asik banget, nggak kayak Mas Baim diajak kemana aja asik. Iya kan, Mas? Mau keliling lagi nggak?" Kata Kak Fitri.
Mas Baim tersenyum sedikit, "Aduh, maaf ya. Kaki Mas udah pegal banget rasanya, Fit," Tolaknya dengan halus.
Kak Fitri pun memasang ekspresi cemberut, sementara Bang Yasa menjulurkan lidah untuk mengejeknya.
Kepalaku bersandar pada mobil sambil mengipasi diri menggunakan kardus. Diam-diam memperhatikan interaksi manis keduanya. Ternyata Mas Baim memang orang yang senang bersikap manis kepada siapapun. Sungguh aku tidak boleh mudah terlena oleh sikapnya itu.
Hari yang sangat terik membuatku kehausan. Minuman manis yang tadi ku beli rupanya tidak cukup untuk menghilangkan dahagaku. Terlebih lagi, aku banyak memakan makanan berminyak. Aku merutuki diri sendiri. Karena kakiku sudah tidak sanggup lagi berjalan untuk membeli air minum.
"Bang, ada stok minuman nggak?" Ujar Kak Fitri yang kebetulan bernasib sama denganku. Bang Yasa mengangguk dan menunjuk ke arah bagian tengah mobil.
"Ambil aja ada sisa dua disitu," Ujarnya.
Aku diam-diam menatap air mineral itu seperti berlian. Air liurku terteguk kasar saat melihat Kak Fitri meneguk air tersebut hingga tersisa setengah.
"Udah habis, Bang? Kita haus juga nih," Keluh Mbak Salma sambil mengibas-ngibas bajunya.
"Nggak ada lagi. Beli aja sendiri sana."
Botol minum satu lagi yang belum terbuka diletakkan di dekatku. Sementara ia menghabiskan botol minum ditangannya yang masih tersisa setengah. Membuatku semakin tersiksa melihat teguk demi seteguk air yang masuk ke tenggorokannya.
Aku turun dari mobil dan berjalan sedikit ke arah Mas Baim, "Mas, boleh anterin aku beli minum?"
"Eh bisa sekalian aku haus juga nih. Ada yang mau nitip nggak?" Tanya Mas Baim.
"Yeu! Giliran Anjani minta temenin aja gercep kamu, Mas. Aku merasa tersakiti nih! Aw!" Kak Fitri berujar dengan nada dramatis, tangan kanannya menekan dadanya seakan kesakitan.
Mas Baim pun terkekeh kecil, "Kebetulan kakiku udah ngga sakit lagi. Yowes ayuk lah kita bertiga pergi."
"Nggak ah aku mager, nitip aja," Tolak Kak Fitri.
Aku dan Mas Baim mengangguk sementara itu kami segera berjalan ke abang-abang penjual minuman dingin di dekat panggung.
"Gimana, Ni? Seru nggak hari ini?" Tanya Mas Baim
"Seru banget, Mas. Walaupun dompet jadi menipis," Ujarku terkekeh ringan.
"Haha, yaudah minuman kali ini Mas aja yang bayar. Jangan sampai duit kamu bokek. Gajihan masih 5 hari lagi," Sahutnya jenaka.
"Ih, aku nggak sebokek itu kali. Masih ada duit kok," Aku merogoh dompetku dan mengambil selembar uang disana, "Nih!"
Mas Baim sontak tertawa keras, "Aduh, Ni. Goceng mah buat bayar parkir juga habis. Yang bener aja."
"Rugi dong!" Aku menyahuti gurauannya, lalu kami tertawa bersama, "Tapi kan lumayan beli telur gulung masih dapat lima buah," Kataku tak mau kalah.
"Tapi nggak kenyang, pantat pun bisulan," Ucapan Mas Baim sontak membuatku tertawa terbahak-bahak. Sampai abang penjual pun heran melihat kami berdua.
Kami kembali masih sambil tertawa lebar, tanpa ada obrolan apapun. Sikunya beberapa kali menyenggolku pelan membuatku terus tertawa. Masih terngiang ucapan konyol Mas Baim yang diluar nalar. Aku yang kelewat receh pun sampai tak bisa lagi membendung tawaku yang tak ada habisnya.
"Aduh! Ngetawain apasih kok asik banget," Kata Kak Nur.
"Ngetawain masa depan, Mbak," Sahut Mas Chandra asal.
"Wah, baru kenal udah siap menata masa depan. Besok-besok udah foto latar biru aja nih," Goda Kak Gayatri.
"Maksudnya ngetawain masa depan yang suram, Mbak," Sanggah Mas Baim.
"Oh, jadi maksudnya masa depan bersama Anjani itu suram toh, Mas?"
"Loh, salah lagi. Emang paling benar diam itu emas," Mas Baim menggelengkan kepalanya ringan sembari membagikan minuman-minuman yang kami beli.
"Diam itu emas tapi katanya kalau bicara jadi platinum," Mbak Salma berceletuk random yang berhasil membuat kami semua tertawa.
"Udah-udah bercandanya. Bos-bos pada kesini tuh," Tunjuk Kak Fitri. Benar saja, para atasan sedang berjalan ke arah kami. Sesegera mungkin kami membereskan berbagai kekacauan yang kami buat di mobil Bang Yasa.
Aku bergegas membuang sampah plastik yang telah habis ke tempat sampah. Namun, saat berbalik, Kak Fitri tiba-tiba menyerahkan botol minuman ke arahku, "Aku...udah ada, Kak," Kataku dengan nada kebingungan. Ia mengambil tanganku dan memaksaku menerima botol minuman pemberiannya, "Ini tadi buat kamu dari Bang Yasa."