Hari ini aku harus memperkenalkan diri kepada Bu Rumi sebagai atasanku langsung sekaligus bertanya mengenai hal-hal yang kiranya dapat ku kerjakan.
"Permisi, Bu," Sapaku kepada Bu Rumi yang sedang menyalakan komputernya.
"Anjani kan? Silahkan duduk." Bu Rumi mempersilahkanku duduk di sofa ruangannya, "Pak Yudisthira sudah mengenalkan kamu ke saya kemarin sebelum saya berangkat dinas. Kamu sudah lihat folder di komputer kamu?"
"Sudah, Bu. Tapi, saya masih harus banyak belajar memahami isi filenya." Jelasku. Tidak bisa dipungkiri bahwa bekerja dengan hanya melihat tidaklah cukup. Aku perlu praktek langsung agar cepat mengerti.
"Jadi tugas kamu sebenarnya nggak banyak sih, Ni. Sebagian besar adalah mengurus soal pemberkasan dan surat menyurat. Lalu...." Bu Rumi menjelaskan segalanya dengan detail mengenai pekerjaanku. Untuk sementara beliau menyuruhku untuk lebih fokus pada pemberkasan yang sederhana lebih dulu sebelum menyelami bagian pekerjaan lainnya.
Aku kembali ke meja kerjaku sambil bolak balik membuka file dan contoh berkas tahun lalu yang sudah lengkap. Tidak begitu rumit tetapi harus memiliki ketelitian dan kerapihan yang tinggi.
Tak lama Mas Baim memasuki ruangan sambil membawa laptop. Ia tersenyum padaku dengan senyuman manisnya, "Lagi apa, Ni? Bu Rumi ada?"
"Ada, Mas di dalam. Aku lagi coba mempelajari kerjaanku nih." Ujarku. Mas Baim menilik sekilas lalu mengangguk, "Sebentar ya, Ni."
Ia kemudian masuk ke dalam ruangan Bu Rumi. Aku memilih untuk melanjutkan kegiatanku. Sesekali kepalaku berdenyut ria.
Astaga, Anjani tampaknya menganggur selama 3 bulan membuatmu jadi tidak terbiasa disodori pekerjaan. Maklum, selama 3 bulan menganggur aku benar-benar banyak menghabiskan waktu hanya untuk menonton drakor kesayangan.
Mas Baim keluar dari ruangan Bu Rumi kemudian menarik kursi ke sebelahku dan duduk, meletakkan laptopnya kemudian mengambil alih pelan berkas ditanganku, "Mas bantu ya, Ni. Sebelum kamu masuk, aku sempat ditugaskan oleh Bu Rumi urus pengadministrasian kantor. Siapa tahu kamu jadi semakin mudah ngerti."
Ia menjelaskan dengan pelan. Perlu beberapa waktu bagiku untuk memahami. Namun, Mas Baim masih dengan sabar menjelaskan berulang kali sampai aku benar-benar memahami apa yang harus aku kerjakan.
"Satu bundle laporan itu isinya ada rincian, surat, undangan, foto, laporan...." Mas Baim menjelaskan dengan pelan. Sebenarnya aku tidak bisa fokus karena mendengar suara Mas Baim yang sangat lembut. Aku bersyukur ia menjelaskan dengan penuh kesabaran kepada orang lemot sepertiku.
"Gimana, Ni? Sudah paham?" Tanyanya.
Aku mengerjap sekilas karena sibuk menghayati diri mengagumi ciptaan Tuhan di depanku ini. Astaga, kenapa aku jadi centil seperti ini ya? Apakah karena aku kesepian?
"Eh? Paham." Kataku bohong.
Mas Baim justru tertawa pelan, "Bohong ya? Keliatan matanya masih bingung tuh."
Astaga, jangan kebanyakam ketawa deh Mas. Bisa-bisa aku berubah jadi agar-agar.
"Hehe, namanya juga belajar, Mas. Apalagi ini aku langsung dikasih tugas seabrek-abrek."
"Iya nggak apa-apa, Ni. Asal jangan ditunda aja pekerjaannya. Takut keteteran." Pesan Mas Baim.
"Pasti dong, Mas. Serahkan semuanya sama Anjani." Kataku dengan percaya diri. Mas Baim mengangguk seperti seorang guru yang bangga dengan prestasi muridnya. Lalu berpamitan pergi.
****
"Tolong antar ini ke ruangan Fitri ya." Pesan Bu Rumi kepadaku sambil menyerahkan setumpuk berkas.
Sejauh ini aku masih belum begitu dekat dengan Kak Fitri. Padahal bisa dibilang kami berada pada satu bidang yang sama. Hanya berbeda ruangan karena kapasitasnya yang kecil. Dibatasi oleh sebuah tembok dengan connecting door yang membawaku langsung ke ruangannya.
Setelah sebulan berada disini, aku memperhatikan banyak hal. Termasuk tentang Kak Fitri yang cenderung lebih dekat dengan Bang Yasa. Aku kerap kali mendapati Bang Yasa dan Kak Fitri pergi berdua entah kemana. Atau saat Bang Yasa sedang tidak ada kerjaan atau sekadar mengobrol lama di kantin berduaan. Bahkan pernah saat aku masuk untuk memberikan berkas dari Bu Rumi, Bang Yasa sedang tidur dengan pulas disana. Namun, bagi orang-orang disini pemandangan tersebut adalah hal yang biasa. Bisa dibilang, keduanya bagaikan prangko dan amplop yang tidak terpisahkan.
Setiap aku pergi ke ruangannya, selalu ada Bang Yasa disana. Aku jadi merasa canggung karena hubunganku dengan Bang Yasa sejak awal tidak terlalu baik. Sementara Bang Yasa sendiri tidak pernah peduli dengan kehadiranku. Sekadar melirik pun enggan. Entah mengapa sangat sulit untuk akrab dengannya. Sikapnya denganku sangat dingin dan ketus. Padahal aku tidak merasa pernah melakukan kesalahan kepadanya.
Ruangan Kak Fitri hari ini tampaknya sedang ramai pengunjung. Ada Mbak Salma, Kak Gayatri, dan Kak Nur sedang bersenda gurau.
"Eh, Anjani," Sapa Kak Gayatri. Kak Gayatri merupakan orang yang sangat asik. Ia suka sekali mengeluarkan candaan receh yang membuat siapapun akan terbahak-bahak. Apalagi jika sudah berkolaborasi dengan Mbak Salma. Hancurlah dunia persilatan.
"Iya, Kak. Mau ke Kak Fitri kasih berkas." Kataku pelan sambil menuju meja Kak Fitri.
"Anjani kalau dilihat-lihat tipe Yasa banget ya?" Celetuk Kak Gayatri dengan asal, "Cantik, tinggi, kurus....suaranya lemah lembut pula."
"Ngga cocok, Kak. Dia kayak macan, suka marah-marah," Sahutku cepat. Enggan sekali disandingkan dengan pria menyebalkan itu.
Mbak Salma tertawa, "Yasa emang kayak gitu kalau baru kenal. Dulu si Fitri aja sampai mogok kerja gara-gara dikatain Bang Yasa. Tapi nanti kalau kamu udah dekat. Baik banget kok!"
Aku memilih hanya membalas dengan senyuman. Lalu membiarkan mereka berceloteh tentang kebaikan-kebaikan Bang Yasa yang mengganggu telingaku. Lalu tentang kabar kedekatan Bang Yasa dan Kak Gita yang kian meluas. Terlihat dari interaksi keduanya yang semakin mesra.
"Eh? Aku pikir kamu yang bakal meluluhkan hati dia," Kata Kak Nur menunjuk ke arah Kak Fitri, sementara yang ditunjuk berdecih ringan.
"Loh, serius, Fit. Kalian itu dekatnya bukan main. Kayak pasutri." Lanjutnya lagi.
"Kak...kami itu dekat sebagai kakak adik. Nggak akan pernah ada ikatan lebih yang terjalin. Lagipula, aku sadar diri kok Bang Yasa nggak mungkin mau sama aku. Sementara dia anaknya Malik Dirgantara, lulusan IPDN, dan sekarang mau disandingkan sama anak tukang kebun yang statusnya cuman pegawai kontrak?" Jelas Kak Fitri panjang lebar.
Pintu ruangan terbuka, kepala Bang Yasa melongok sedikit. Pandangannya mengedar hingga bertemu denganku.
"Ngapain cecunguk ini disini?"
Aku menghela napas lelah, memutar bola mataku dengan kesal. Baru saja menampakkan dirinya, ia sudah memulai perkara denganku.
"Jangan mulai ribut, Bang..." Tegur Mbak Salma yang dibalas decihan. Lalu ia masuk dan duduk tepat dihadapanku, "Ke kantin perpusda ya? Apa menunya hari ini?"
"Chicken karage katanya." Jawab Kak Fitri.
"Yaudah, nunggu apalagi? Ayo kesana? Pakai mobilku aja." Ajaknya.
"Anjani ikut kan?"
"Nggak." Potong Bang Yasa langsung, "Mobilnya nggak cukup nampung kebanyakan orang."
Aku mengabaikannya, malas berdebat untuk hal yang tidak penting. Lalu yang lain berusaha membujuknya agar aku bisa ikut dan
menurunkan bendera perang kepadaku. Kemudian cercaannya semakin menjadi-jadi.
"Saya pakai motor sendiri aja, Kak." Kataku menengahi keributan yang semakin melanda, "Saya juga nggak mau nebeng sama cowok jadi-jadian."
"Maksud kamu apa?" Katanya tak terima.
"Cowok yang mulutnya lemes kaya perempuan itu cowok jadi-jadian." Jawabku asal, menatapnya dengan malas.
Baru saja ia akan menyahut, Mbak Salma kembali menengahi. Ia menatapku, memberikan tanda bahwa aku harus menyudahi peperangan singkat ini sebelum ruangan terbakar.
"Udah deh nggak usah aja kita ke kantin Perpusda. Makan angin aja makan angin!