2

1575 Words
Arbani Ibrahim. Aku terpesona dengan suaranya yang lemah lembut. Khas orang jawa sekali. Memang ku akui, Bang Yasa jauh lebih tampan. Ia punya badan yang proporsional, kulitnya cenderung putih bersih untuk ukuran pria Indonesia, wajahnya pun tampan, kalian tahu kan bukan tampan relatif. Tetapi pria tampan yang memang semua orang akan mengakui jika dia tampan. Tapi menurut kacamataku, Mas Baim punya karisma yang lebih menonjol. Ia punya pembawaan yang kalem namun ramah. Ia berkulit hitam manis, tubuhnya yang tegap dan tinggi membuat pesonanya sebagai mas-mas jawa semakin terpancar. Wajahnya yang unik justru membuatnya tidak bosan dipandang jika ditatap lama-lama. Mbak Salma mengajakku duduk bersama mereka untuk mengobrol. Aku hanya sesekali menimpali pertanyaan basa basi mereka. Seperti, aku orang asli mana, berapa bersaudara, lulusan mana, jurusan apa dan hal lainnya. Aku semakin bersemangat karena tampaknya Mas Baim juga sangat excited untuk mendengarkanku. Selalu menatapku dengan seksama ketika aku berbicara. Membuatku sedikit grogi dibuatnya. Sementara Bang Yasa memilih menyimak, aku bisa melihat ada kilat tidak nyaman saat aku duduk disini. Ia memilih diam sambil sesekali menimpali Mbak Salma. Namun enggan menoleh atau merespon padaku. "Kak, Bu Rumi ada?" Seorang gadis cantik yang ku taksir umurnya sekitar 20an tiba-tiba memasuki ruangan kami. Ia tersenyum manis hingga matanya menyipit. Bisa kugambarkan gadis itu selayaknya bunga yang bermekaran. Memancarkan aura positif yang indah. Suaranya lembut dan menenangkan bagai ombak yang menyisir pantai. "Nah ini yang mau aku kasih tau juga ke Anjani. Bu Rumi--atasan kamu," Mbak Salma menengok ke arahku, kemudian melanjutkan ucapannya, "Lagi pergi dinas ke luar kota selama beberapa hari. Sementara kamu belajar mandiri dulu ya, Ni. Kata ibu, dilaptop itu udah ada folder yang tersusun rapih berisi jobdesk kamu. Jadi kamu tinggal pelajari aja," Ujar Mbak Salma. "Yah, jadi ibu ngga ada ya, Kak," Ujar gadis itu lagi dengan lemah lembut. "Gita ngga mau minta tanda tanganku aja? Tapi bayar lima ribu," Kata Bang Yasa jenaka, berbeda dengan tadi yang agak dingin denganku, ia tampak ceria saat gadis itu melangkah masuk. "Ih, abang. Ini berkasnya ada lima, kalau aku bayar lima ribu boncos dong," Gadis yang baru saja kuketahui bernama Gita itu mendengus kesal dengan lucu. Ia lalu duduk di sebelah Bang Yasa yang disambut Bang Yasa dengan baik. Sebagai seorang perempuan, aku bisa menyadari bahwa interaksi keduanya berbeda. Terutama kilat wajah Bang Yasa yang langsung sumringah saat Kak Gita datang. Binar matanya terlihat berbeda, membuatku cukup paham. Asik mengobrol berdua dan mengacuhkan kami bertiga, akhirnya Kak Gita menyadari kehadiranku, "Eh, ini pegawai baru ya?" "Ya ampun, Git dari tadi kamu baru nyadar? Keasikan ngobrol sama Bang Yasa sih.Cie,cie," Goda Mbak Salma. "Apasih, Sal," Bang Yasa tampak salah tingkah. Mas Baim tertawa renyah, membuatku terpesona sejenak, "Aku aja sampai ngga disapa lho sama Gita." Perempuan yang dipanggil Gita itu menggeleng, "Selamat Pagi, Mas Baim..." Ujarnya sambil tersenyum manis kemudian mengalihkan pandangannya kepadaku, "Salam kenal ya aku Gita. Kamu..." "Anjani...Anjani Danastri," Aku menyambut uluran tangannya dan ia mengangguk. "Git, daripada kamu LDR sama pacarmu disana mending cari yang deket aja kayak Bang Yasa atau Mas Baim. Kamu tinggal terima beres aja, Git. Tinggal sikat-sikat manjahh," Ujar Mbak Salma. "Astagfirullah, udah ah Gita pergi aja dari sini. Sesat semua ini sesat!" **** Aku merebahkan diri diatas kasur sembari menjalani rutinitas yang selalu ku lakukan hampir setiap hari. Jari jemariku mengusap ponsel dengan perlahan, kembali membaca pesan-pesan manis yang pernah ku kirim kepadanya sebelum kami putus. Mantan yang berhasil membuatku gagal move on hampir setahun lamanya. Kaka tingkat dua tahun diatasku dan kami menjalani long distance relationship selama 6 bulan lamanya. Cukup singkat namun berhasil membuat life after break up yang ku alami sangat menyakitkan. Kak Ilham adalah pacar pertamaku. Sosok yang sangat ku kagumi sejak awal masuk kuliah. Aku ingat pertama kali kami dekat adalah karena ia mengikuti instagramku. Ketika itu jiwa centilku meronta-ronta. Akun i********: yang awalnya sepi bagaikan hutan belantara menjadi penuh dengan postingan-postingan wajahku. Demi mencari perhatiannya. Awalnya ia hanya melihat-lihat story instagramku, lalu kemudian mulai sering menyukainya dan berakhir memberikan komentar setiap kali aku mengunggah sesuatu. Dari situ lah awal mulanya kami menjadi semakin dekat. Kak Ilham adalah sosok yang asik diajak mengobrol. Walaupun memang sejak awal ada beberapa hal yang berbeda dari kami. Tapi karena aku sudah kepalang suka, aku mengabaikan semua itu dan tetap memaksakan diri bersamanya. Aku tidak tahu apa itu pacaran? Apa maknanya? Bagaimana caranya? Aku hanya mengikuti kata hatiku. Begitu bertumpu dan bersandar pada Kak Ilham sampai hari-hariku dipenuhi olehnya. Jika ia menghilang sehari saja, maka aku langsung uring-uringan. Membiarkan berbagai pikiran negatif berkelana jauh. Hingga akhirnya aku mulai merasa rugi dengan diriku sendiri. Kak Ilham yang mulai bosan itu perlahan menghilang. Sehari, dua hari, tiga hari. Aku hanya bisa mengetahui kesehariannya lewat postingan dari akun i********: pribadinya atau teman-temannya. Ketika pulang, ia tak lagi menemuiku, tapi teman-temannya, menyalurkan hobi futsalnya, bermain dengan game kesayangannya dan melupakanku. Feeling lonely adalah istilah konyol yang aku pikir hanyalah bualan orang-orang semata. Namun ternyata aku mengalaminya sendiri. Hari-hariku yang biasa diisi oleh kehadirannya seketika menjadi hening dan kelabu. Orang yang ku anggap sebagai tempatku bersandar kini tak lagi sama. Hingga pada akhirnya kesabaran yang telah ku tahan selama ini hancur berantakan. Ku dapati ia bermain dibelakangku, bersama seorang wanita yang ku ketahui adalah mantannya. Berawal dari sebuah chat yang ku temukan saat ia meninggalkan hpnya diatas mea saat kami bertemu setelah sekian lama. Itu pun karena aku yang memaksa bertemu. Nama kontak dengan "sayang" itu bagaikan mimpi buruk bagiku. Dengan gemetaran aku membuka ruang obrolan mereka yang ternyata sudah berjalan selama 2 bulan. Saat dimana ia mulai menghilang dariku. Bahkan keduanya membicarakanku dibelakang, menjelek-jelekkanku, dan ia menebar janji akau memutuskanku. Kami bertengkar hebat, bahkan ia masih sempat menyalahkanku, mengancam, dan mengata-ngataiku. Lalu ia memilih pergi. Sementara aku masih disini, terjebak dengan masa lalu sambil diam-diam mengawasi Kak Ilham dan kekasih barunya. Tanpa sadar air mataku menetes kembali. Ah, Anjani resolusi tahun baru yang kami sematkan dalam kepala ternyata belum juga berhasil. 'Kriekk!' pintu terbuka lebar membuatku panik dan segera menghapus air mataku. "Makan, Ni," Ujar ibu. Aku segera bangkit dan keluar dari kamar. Aroma masakan ibu memang selalu berhasil membuat liurku menetes. Sambal terasi, tahu tempe, rebusan dan nasi hangat. Sederhana tapi sangat nikmat rasanya. Jika kalian bertanya-tanya, ibuku adalah seorang pegawai dengan jabatan yang lumayan tinggi. Bisa dibilang sudah cukup punya pengaruh di pemerintahan. Tapi bisa dibilang, hidup kami tidaklah kaya seperti penjabat yang viral di media sosial. Menjadi anak seorang pegawai itu serba salah, dibilang kaya, gajihnya hanya cukup. Dibilang miskin, gajihnya masih bisa memenuhi kebutuhan hidup. Menjadi manusia tanggung memang tidak nyaman. **** Saat aku menyalakan laptop kerja yang telah terbuka di atas mejaku yang ternyata sudah menyala, aku mendapati sebuah game online yang persis dimainkan oleh sang mantan sampai ia tidak memiliki waktu denganku. Mendadak aku mendengus kesal. Apasih serunya permainan bodoh ini? Membuat orang jadi lupa waktu dan punya hidup yang tidak berkualitas. Langsung tanganku menutup game tersebut dengan cepat dan perlahan mempelajari folder yang dimaksud Bu Rumi. Tak peduli jika karakter game itu mati atau hidup. Ini fasilitas kantor bukan pribadi. Aku bisa saja melawan jika ada yang menyalahkan tindakanku hanya karena sebuah game bodoh itu. Bang Yasa tiba-tiba masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu dan berhenti, menatapku lama, membuatku menoleh, "Jangan bilang gamenya kamu close." "Iya, udah saya tutup, Bang," Kataku cepat. Ia menghela napas kasar, "Lain kali izin dulu sama yang bersangkutan. Jangan lancang." Ia membentak, membuatku berjengit sekilas. Namun, aku bertekad untuk tak gentar. Jadi aku memutuskan untuk membalas tatapannya tak kalah tajam. Cukup sudah! Jika ia tidak ingin menghargaiku maka akan ku hapus segala norma kesopananku padanya. Tidak peduli bahkan jika statusnya lebih tinggi dariku. "Laptop ini fasilitas kantor. Fungsinya buat kerja. Bukan buat main." Balasku dengan ketus. Ia mendekatiku lalu sebelah tangannya menarik laptop itu dari hadapanku. "Lucunya, Laptop ini punya saya pribadi. Punya kamu masih ada di dalam laci," Dagunya menunjuk ke arah laci mejaku. Aku melirik pelan kemudian dengan cepat tanganku menariknya. Ada sebuah laptop abu-abu yang masih tertutup rapat. Bibirku terlipat ke dalam berusaha menahan kekesalan sekaligus rasa malu. "Siapa suruh taroh laptopnya disini. Ini kan meja kerja saya," Aku masih tak mau mengalah. Lagi-lagi matanya melihatku remeh, "Ini meja kantor. Bukan punya kamu. Semua orang bebas kesini." Aku memejamkan mataku sambil menahan kesal. Tanganku diam-diam mengepal disamping badan, "Tapi saya ditugaskan kerja disini. Ini meja saya, jadi saya harap Bang Yasa dengan penuh kesadaran pakai meja kerja yang sudah disediakan untuk Bang Yasa." Tatapannya semakin dingin. Baiklah, ia sudah mengibarkan bendera perang kepadaku. Jadi, mengapa tidak sekalian saja kita bermusuhan? "Untuk ukuran anak kecil. Kamu belagu juga," Katanya pelan dengan penuh penekanan. Tampak kehabisan kata-kata untuk berdebat. Aku tersenyum remeh, membalas perbuatannya tempo lalu, "Kalau Bang Yasa mencari musuh, saya bukan orang yang tepat." "Ada apa ini ribut-ribut?" Mbak Salma masuk ke dalam ruanganku dan melihat kami berdua yang masih bersitegang. Tidak satupun dari kami yang mau menjawab pertanyaan Mbak Salma. Namun, melihat suhu ruangan yang memanas tampaknya ia sudah paham ada sedikit keributan kecil yang kami timbulkan. "Kalian dari kemarin berantem terus. Hati-hati malah saling jatuh cinta, lho." "OGAH!" Jawab kami bersamaan. Lalu kami saling bersitatap dengan pandangan tak suka. "Nggak sudi aku punya cewek kaya dia." Aku sontak melotot, "Dipikir saya juga mau punya cowok mulutnya lemes kaya Bang Yasa?" Bang Yasa memilih pergi sambil menenteng laptopnya. Mbak Salma menghela napas, "Kamu apain dia sih, Ni?" "Nggak ada apa-apa kok, Mbak. Hanya perkenalan kecil." Aku tersenyum padanya. Cih, perkenalan apanya? Aku sudah menandainya sebagai musuh terbesarku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD