7

1026 Words
Tidak selamanya hubungan antar manusia itu buruk. Akan ada masa dimana semuanya tampak baik-baik saja. Seolah kita tidak pernah memiliki konflik apa-apa. Tegur sapa yang tadinya tidak ada menjadi sebuah rutinitas baru. Pada dasarnya, aku dan Bang Yasa memang tidak pernah memiliki masalah sejak awal. Hanya kepribadian kami yang membuatnya demikian. Mungkin juga karena faktor sibuk bekerja, segalanya menjadi lupa. Pada kehidupan yang dewasa ini, aku harus mengesampingkan urusan pribadi dibawah urusan pekerjaan. Profesionalitas yang begitu dijunjung tinggi, membuatku yang berada satu kantor dengan Bang yasa harus bisa bekerja sama dengannya. Aku tidak akan pernah lupa, bagaimana ia membentakku di depan semua orang. Bagaimana dengan entengnya mulut kasar itu begitu lantang di telingaku. Membuatku semakin membencinya. Aku menghindarinya sepanjang hari bahkan meskipun aku secara tiba-tiba diperintahkan oleh Pak Yudhistira untuk menghadiri sebuah acara bersama Bang Yasa. Aku hanya berusaha profesional sebagai seorang karyawan. Hari pertamaku mendapatkan tamu bulanan. Dengan perut yang terasa sakit dan mood yang begitu sensitif, aku berusaha menjaga diriku tetap aman. Aku hanya diam sepanjang perjalanan menuju aula seminar dilaksanakan. Ya, tebak aku berangkat dengan siapa? Tentu saja Mahesa Dirgantara yang terhormat. Bukan aku yang melemparkan diri untuk terjebak dalam situasi ini. Karena Pak Yudhistira yang memaksaku dengan alasan aula seminar begitu jauh di dalam desa. Lalu, teriknya matahari juga menjadi salah dua alasan terbesar aku tidak diperbolehkan menggunakan motor. "Jangan naik motor sendiri, bahaya. Ikut Yasa saja pakai mobil. Kita dikejar waktu." Titah Pak Yudhistira. Dengan wedges 3 sentimeter aku tergopoh-gopoh mengejar langkah kaki Bang Yasa yang terlalu cepat. Sebab mulut lelaki itu sibuk mengoceh karena aku begitu lamban. "Lelet banget sih jadi perempuan? Nggak denger kita dikejar waktu?" Ketusnya. Aku menghela napas pelan, langkahku berhenti untuk meghiru napas dengan dalam. Berusaha menetralkan emosiku yang semakin meningkat. Di hari yang panas dengan perut keram karena haid, aku tidak boleh mengamuk dihadapan Pak Yudhistira. "Malah diem. Mau aku tinggal?" Suara menyebalkan itu terdengar lagi. Ia sudah duduk diatas kemudi. Aku masuk ke mobil dengan pelan sembari meletakkan beberapa berkas yang aku bawa. Ia bahkan tidak membantuku, tapi suaranya begitu lantang seolah hanya ia yang bekerja. Sesampainya kami disana, semua mata tertuju kepada kami. Terutama pada kaum hawa, dari yang muda sampai tua. Aku sudah mendengar desas desus bahwa Mahesa Dirgantara memang terkenal di kalangan banyak wanita. Wajah tampannya yang bak Dewa Yunani itu memang pantas mendapatkan atensi dari banyak orang. Berbangga lah manusia yang memiliki gen paling beruntung itu. Aku ditinggalkan sendiri, sementara ia sibuk menyapa beberapa orang. Senyumannya begitu ramah berbanding terbalik ketika bersamaku, tidak ada sedikitpun bibir itu menyunggingkan senyum. Aku memilih duduk di pojok belakang sembari melihat sekitar. Tidak ada satu orang pun yang aku kenal. Akhirnya aku sibuk dengan ponselku sembari menunggu acara dimulai. Pak Yudhistira sudah duduk di depan bersama pejabat lainnya, sementara Bang Yasa sudah hilang entah kemana. "Itu Mahesa anaknya Malik Dirgantara kan? Gila, cakep banget? Mirip Nicholas Saputra." "Udah ganteng, kaya raya pula, Cuma satu kekurangannya belum punya jodoh." "Dia nungguin aku, makanya belum ada jodoh." Samar-samar aku mendengarkan obrolan para wanita di belakangku yang sibuk mengagumi Mahesa Dirgantara yang sedang berdiri gagah bersama beberapa pejabat tinggi dengan begitu akrab. Entah mengapa kupingku justru menajam padahal seharusnya aku tetap menjadi Anjani yang tidak peduli. "Pasti jodohnya bukan perempuan sembarangan lah. Nggak mungkin anak anggota DPR nyarinya spek beat karbu." Wanita disebelahku berujar kepada teman-temannya yang duduk di belakangku. "Enak ya jadi ceweknya di masa depan." Mereka belum tahu saja sifat asli Bang Yasa yang seperti macan. Kalau tahu mungkin mereka akan lari terbirit-birit. *** Selesai acara, aku segera membereskan beberapa hal yang ditugaskan oleh Pak Yudhistira. Membereskan beberapa berkas yang harus aku berikan kepada perangkat desa. Rasanya sudah begitu lelah sebab hari mulai menggelap. Aku menjadi mudah kesal. Bahkan aku hampir saja menangis saat ada semut yang memakan snack kecilku tadi. Perasaanku sudah bercampur aduk. Aku ingin segera pulang ke rumah dan merebahkan diri. Namun, mengingat motorku masih berada di kantor, perjalananku masih begitu panjang untuk sampai ke rumah. Dengan langkah gontai aku mengikuti Bang Yasa ke mobil. Ia sedang bersandar pada kap mobilnya menatapku dengan malas, "Lelet. Kamu mau nginep disini?" Aku hanya menjawab dengan gelengan dan menunduk. Aku mendengar sebuah dengusan kasar, "Hari udah makin gelap, mana capek harus nungguin anak orang lagi. Bukan cuman kamu yang punya urusan." Aku langsung menaikkan kepalaku. Dengan langkah cepat aku mendekatinya. Emosiku kian membara. Cukup sudah! Kesabaranku yang tebal ini sudah terkikis dan hancur. "Bang Yasa pikir aku nggak capek apa? Dari tadi kesana kemari urusan sama perangkat desa. Bang Yasa emang ngapain sih? Sibuk tebar pesona? Sibuk cari muka sama pejabat-pejabat itu? Terus kamu bilang capek? Aku juga nggak mau lelet kali. Aku juga mau rebahan sambil nonton drakor di rumah. Dari tadi bilang lelet terus tapi nggak ada inisiatif buat bantuin juga. Yaudah kalau mau ninggalin aku juga nggak apa-apa. Ngapain harus marah-marah? Aku bisa jalan kaki. Aku nggak butuh tumpangan Bang Yasa." Napasku tersenggal dengan tatapan yang nanar. Tanpa sadar setitik air mataku menetes. Aku mengusapnya dengan kasar. Ia menatapku dengan pandangan yang tidak bisa terbaca. Aku melirik sekitar, kami sudah menjadi perhatian beberapa orang. Sial, aku malas menjadi buah bibir. Kakiku melangkah pergi dengan cepat. Persetan jika kakiku akan lepas. Lebih baik aku memesan taksi atau ojek online. Apapun asal tidak bersama Bang Yasa lagi. Sebuah tangan besar menarikku cepat. Aku mengikuti langkah kakinya yang begitu panjang hingga hampir tersandung. Tidak sempat menolak, aku langsung dituntun masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan hanya alunan lagu Arctic Monkeys yang menemani kami. Namun, helaan napas kasarnya tentu tetap terdengar beberapa kali. Jam sudah menunjukkan pukul 6.15 dan kami masih terjebak macet akibat laka lantas di depan sana. "Rumahmu dimana?" Ia tiba-tiba bertanya sambil memelankan suara musik yang dari tadi terdengar. Aku hanya diam sambil melengos. Memilih memfokuskan pandangan ke jalanan yang begitu ramai. "Biar abang antar kamu pulang." Ujarnya lagi dengan tidak sabaran. "Motorku nggak mungkin ditinggal di kantor, Bang." "Besok aku jemput," Ia menatapku. Aku melotot sejenak kemudian mendengus. Mungkin omongannya tidak serius. Mana mungkin dia mau berbaik hati menjemputku secara cuma-cuma. Aku harus merogoh kocek untuk naik angkutan umum besok. Ia memutar bola matanya kemudian kembali berujar, "Aku nggak menerima penolakan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD