Aku berdiri kaku di depan pintu rumahku dengan tangan yang menggantung di udara saat sedang menerima kotak bekal yang disiapkan oleh ibu. Sebuah mobil Range Over Putih telah terparkir di depan pagar rumahku. Lalu, seorang pria dengan pakaian kantornya yang rapih turun dan menampilkan senyuman yang begitu menawan kepada ibuku.
Aku berusaha menghiraukan tatapan ibu kepadaku yang penuh tanda tanya. Beberapa kali ia mencubit pinggangku. Rasanya perih sih, tapi lebih menyebalkan lagi melihat senyum palsu Bang Yasa di pagi yang mendung ini.
Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Tapi pria itu sudah rapi dengan seragamnya. Aku yang masih belum menata rambutku pun tergopoh-gopoh berlari mengambil barang-barangku.
"Pelan-pelan, Ni. Kayak orang dikejar setan aja. Kenapa sih?" Ibu lalu menyingkap gorden sedikit dan mengintip ke arah luar. Pria itu berjalan memasuki pekarangan rumah dengan langkah pelan melalui pagar yang terbuka sedikit, "Itu siapa? Pacar kamu?"
"Bukan, temen kantor." Aku menjawab sambil memasang kedua kaos kakiku, lalu mengecek beberapa barang agar tidak tertinggal.
Ibu membuka pintu sebelum Bang Yasa mengetuknya, menyambut pria itu dengan hangat.
"Selamat pagi, Bu. Saya Mahesa, mau jemput Anjani." Bang Yasa menjabat tangan ibu dan menciumnya tangannya dengan sopan. Senyumnya merekah dipagi yang cerah ini diiringi oleh kicauan burung yang bertengger diatas pohon mangga. Harum parfumnya kontan menyeruak keseluruh isi ruang tamu yang luasnya tidak seberapa ini.
"Selamat pagi, Tante..." Ia menyalami ibuku dengan sopan yang disambut baik oleh ibu.
"Pagi, Nak...siapa?"
"Mahesa." Bang Yasa menjawab pertanyaan ibu. Walau sepertinya pertanyaan ibu lebih banyak berkecamuk dikepalanya.
"Saya teman kerja Anjani. Kebetulan motor dia masih ada di kantor jadi saya inisiatif menawarkan untuk berangkat bersama," Jelasnya panjang lebar.
"Nggak usah, aku pesan Grab aja," Tolakku dengan agak dingin.
"Anjani, nggak boleh begitu sama rekan kerja. Eh, kalau begitu silahkan masuk dulu Mahesa. Kebetulan Anjani masih siap-siap,"
Kata ibu sambil beberapa kali mendorong tubuhku.
"Saya buatkan teh hangat ya." Tawar ibu.
"Nggak usah, Bu. Kami udah terlambat," Seruku sebelum Bang Yasa menjawab. Karena sepertinya ia tergiur dengan tawaran teh
hangat ibu.
Bang Yasa mengecek arlojinya, "Sepertinya masih sempat untuk menyesap teh hangat sedikit. Kebetulan saya juga belum sarapan."
Apa hubungannya? Aku mencibir pelan. Dasar tidak tahu malu, malah meminta makan ditempat orang.
"Oh? Kalau begitu sarapan disini saja Mahesa. Kebetulan saya masak banyak tadi. Ayo masuk! Masuk!"
Bang Yasa menyeringai ke arahku tanda mengejek. Ia masuk dengan langkah santai mengekori ibu di belakang menuju meja makan. Piring dan sebuah teh hangat disuguhkan kepadanya. Ia memakan makanan sederhana yang tersuguh dimeja dengan lahap bagaikan orang yang telah berpuasa selama 30 hari. Padahal yang ia makan hanyalah ayam goreng, sambal, dan oseng kangkung.
"Masakan ibu enak sekali," Pujinya.
"Jayus banget," Ucapku dengan pelan. Kakiku langsung ditendang pelan oleh ibu dari bawah meja menyuruhku untuk diam.
"Ah, sebenarnya ini masakan Anjani. Sambalnya enak kan Mas Mahesa? Anjani emang paling jago membuat sambal terasi."
Mahesa hanya melirik sekilas dan tersenyum ramah kepada ibu sambil mengangguk tanpa berkomentar apapun. Kurang ajar, dia menghinaku.
Setelah Bang Yasa menyelesaikan sesi makan kilatnya yang terjadi karena aku kerap mendesaknya agar makan dengan cepat, sebab aku tidak ingin ia berlama-lama dirumahku. Kami pun berpamitan kepada ibu untuk berangkat ke kantor.
"Terima kasih banyak makananya, Bu. Maaf tadi malam saya nggak sempat berpamitan saat mengantar Anjani."
Ibu mengibaskan tangannya ringan, "Nggak apa-apa. Kebetulan saya udah tidur juga tadi malam, yang penting Anjani selamat."
***
Kami pun masuk ke dalam mobilnya yang langsung harum semerbak citrus. Bahkan sampai di dalam mobil pun ia masih bersikap ramah dengan melambaikan tangan kepada ibuku dari balik kaca mobil.
Sesudahnya, wajahnya kembali mendingin bahkan tidak menatapku sama sekali. Hah! itu lah wujudmu yang sebenarnya. Licik seperti tupai.
"Jangan geer. Aku cuman memenuhi janjiku tadi malam aja," Katanya. Cih! Siapa juga yang geer?
"Nanti di depan gang saya turun aja, Bang," Kataku sambil memesan Grab. Tangannya langsung menarik ponselku kemudian menyembunyikannya disaku celana.
"Apa sih? Kembaliin hp saya!" Aku berusaha meraih ponselku. Namun, sebelah tangannya berhasil menahan kedua pergelangan tanganku, menguncinya dalam satu genggaman tangan besarnya.
"Bisa nggak duduk dengan tenang? Kamu mau kita kecelakaan?" Ia bicara dengan nada datar yang justru sangat menyebalkan.
Aku pun akhirnya menyerah dan kembali duduk. Melepaskan paksa tanganku dan kembali melengos, memilih melihat jalanan yang mulai ramai oleh para budak korporat. Tidak ada pembicaraan apa-apa diantara kami selain alunan lagu-lagu jadul dari Iwan Fals.
"Ngapain sih ngide makan dirumah segala. Ngerepotin aja," Aku membuka suara. Lebih tepatnya...membuka pergelutan.
"Pelit banget, Ni." Sahutnya ringan. Tumben, tidak membalas ucapanku tak kalah pedas.
"Nggak cukup apa pagi ini sarapan pakai makanan mewah kayak orang-orang barat. Sandwich? Toast? Salad? Steak atau apalah itu sebutannya."
"Abang nggak pernah makan dirumah dan....udah lama nggak makan masakan rumahan," Ujarnya pelan.
Entah mengapa ucapannya membuatku merasa bersalah. Tapi, hey rasa bersalahku tidak akan menguburkan fakta bahwa gajihku setahun tidak akan bisa mengalahkan aset dan harta yang ia miliki. Adalah suatu kebodohan kaum mendang-mending sepertiku kasihan dengan anak orang kaya.
"Oh iya, abang minta maaf soal kemarin," Ia berujar tanpa menatap mataku sambil fokus ke arah jalanan, "Abang sadar sudah keterlaluan sama kamu."
Aku menghela napas, "Udah lewat juga," Kali ini aku mengikutinya fokus ke jalanan sembari berpikir dengan dalam mengenai hubungan kami yang seperti Tom and Jerry tanpa konflik yang berarti, "Aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Bang Yasa kenapa sih benci sama aku?"
Keningnya mengerut dalam, "Abang nggak..." Ia seperti menyadari sesuatu, "Kamu selama ini berpikir begitu?"
Aku mengangguk cepat, "Abang selalu ketus dan dingin sama aku. Saat pertemuan pertama kita juga abang nggak begitu merespon dan tampak terganggu sama aku. Maksudku, kalau ada masalah kita selesaikan aja. Nggak enak sekantor tapi nggak akur."
Bang Yasa tampak menimbang lama. Jari telunjuknya mengetuk dengan tempo beraturan diatas kemudi, "Abang memang butuh waktu lama untuk akrab sama orang. Apalagi kalau dia nggak punya kepentingan apa-apa. Kamu bisa tanya sama yang lain, memang first impression ku selalu kurang bagus. Mungkin karena, aku nggak bisa gampang percaya dengan orang asing."
Aku menangguk paham, "Yah, tapi seenggaknya jangan memusuhi aku dengan sengaja juga. Nggak enak diperlakukan kayak sampah, Bang."
Bibirnya menyungging senyum kecil, "Maaf ya, soalnya kamu tampak seperti anak manja yang akan menyusahkan orang."
"Karena aku masuk kerja pakai orang dalam? Lalu apa bedanya dengan Bang Yasa yang anak anggota DPR?"
Kali ini senyumnya berubah mengejek, "Aku masuk IPDN dengan hasil jerih payahku sendiri dan bukan karena orang tuaku, bahkan sampai aku kerja pun aku juga memulai dari nol sama seperti yang lain. Hanya saja, orang-orang mengetahui aku anak Malik Dirgantara lebih cepat dari yang diduga."
"Ada dua jenis manusia yang kukenal seumur hidupku, Ni. Pertama, orang yang akan langsung menjilat sepatuku seperti anjing bodoh untuk mendapatkan kekuasaan dan yang kedua seperti kamu, menatapku dengan remeh seperti anak ingusan karena aku mengemban nama Dirgantara dibelakang." Ia menghela napas panjang. Menjawab segala pertanyaan yang terpatri dalam benakku selama ini, "Seperti itulah kamu melihatku, Ni dan aku benci orang-orang seperti itu."
***
"Mahesa itu, ternyata anak Malik Dirgantara ya?" Ibu berkata sembari membelakangiku. Tangannya dengan telaten mengupas wortel dan kol yang akan dibuat bakwan. Ruang tengah dan dapur yang hanya diberikan sekat berupa lemari kaca kayu jati menunjukkan TV yang menyala sedang menampilkan Malik Dirgantara sang anggota DPR yang kondang. Beliau begitu vokal dan kerap kali tak gentar menyuarakan pendapatnya.
"Hmm iya," Aku hanya menjawab sekadarnya sebab tidak begitu penting bagiku hidup seorang Mahesa.
"Dia begitu berbeda dari kita," Kata ibu singkat namun aku tahu apa maksudnya.
"Aku nggak ada apa-apa sama dia, Bu."
Aku mengelap percikan air bekas cuci piring pada pinggiran wastafel. Sebelum ibu mengomel karena aku acap kali tidak apik ketika selesai mengerjakan sesuatu. Setelahnya, aku mengambil tepung dan wadah untuk adonan bakwan.
"Lagipula hubunganku sama dia sebenarnya nggak begitu baik. Kami terkenal jadi musuh bebuyutan di kantor. Aku nggak suka sama dia, orang kaya tengil yang arogan," Mendadak nadaku berubah kesal tiap kali mengingatnya.
"Bukannya tadi kalian berangkat bareng?"
"Kan gara-gara dia motorku ketinggalan di kantor, Bu," Kataku dengan malas.
"Hati-hati kemakan omongan sendiri. Cinta dan benci terkadang sekatnya tipis, Ni." Kata Ibu.
"Nggak akan, Bu. Aku jamin, dia bukan tipeku sama sekali. Nggak ada kelebihan yang bisa bikin aku kagum dari dia."
Ibu tersenyum simpul, menghentikan kegiatannya lalu menoleh padaku, "Siapa yang bisa mengatur masa depan, Nak? Hari ini dengan lantang kamu berkata demikian. Entah besok, seminggu, atau sebulan lagi. Selalu ada kejutan dari setiap hari yang kita jalani dan ketika itu datang, kamu pasti akan kaget kalau semuanya nggak berjalan sesuai rencana. Termasuk perasaan kamu."
"Ibu berharap aku suka sama dia? Dan mengulang kembali sejarah pernikahan ibu?" Sindirku dengan senyum penuh ejekan.
Lalu ibu membalas senyumku tak kalah lebar, "Justru ibu bilang begini agar kamu menjaga perasaan. Ibu nggak mau kamu sakit hati, apalagi sama orang seperti 'mereka'."