Sejak aku mengobrol dengan Bang Yasa, aku menjadi sedikit lunak padanya. Aku tidak lagi berusaha memusuhinya atau mencari perkara. Aku menjelma menjadi rekan kerja yang ramah dan menyapa seperti yang lainnya. Anggap saja hubungan buruk kami kemarin adalah sebuah intermezzo. Hal yang tak seharusnya dibiarkan berlarut-larut hingga beranak cucu. Lagipula, tidak ada pengaruhnya bagi kehidupanku. Aku tetap Anjani yang harus menjadi budak korporat.
Aku berangkat pagi-pagi sekali agar bisa mengendarai motor dengan santai sambil menikmati udara pagi yang segar yang belum tercampur polusi. Kendaraan belum terlalu banyak berlalu lalang. Beberapa mungkin masih menyiapkan seragam hari ini, beberapa mungkin masih menyiapkan sarapan untuk keluarga, dan beberapa lainnya mungkin masih sibuk mengarungi alam mimpi.
"Emang ada orang pacaran nggak pernah ciuman?" Ku dengar samar-samar suara tanya Mbak Salma dengan skeptis. Aku baru saja datang ketika mereka sudah nongkrong di ruanganku. Ada Mbak Salma, Bu Rumi, Bang Yasa, dan Pak Rahman sedang menikmati kudapan yang tersedia di meja kayu yang telah ditinggalkan sang pemilik selama hampir setengah tahun lamanya.
"Emang kamu pikir semua orang yang pacaran itu karena nafsu?" Sewot Bang Yasa.
"Loh, emang karena nafsu kan? Emang Bang Yasa pas pacaran sama mantan dulu nggak pernah kepikiran aneh-aneh?" Tanya Mbak Salma sambil berkacak pinggang.
"Yah, tapi kan nggak pernah aku aneh-aneh sama mantan. Pacaran ya cuman jalan, nonton, habis itu makan."
"Tapi pasti pernah berfantasi tentang dia kan? Iya kan?" Desak Mbak Salma. Dahiku berkerut kala menyimak percakapan yang terlalu vulgar di pagiku yang baik ini. Tidak bisakah mereka lebih sedikit menahan untuk tidak menyebarkan ujaran kotor di ruangan anak suci ini?
"Namanya laki-laki itu wajar punya nafsu sama wanita. Kita mah nggak denial ya, Bang. Tapi tergantung masing-masing manusia menyikapinya bagaimana," Pak Rahman berusaha menjawab pertanyaan Mbak Salma dengan bijak. Tidak menyangkal tidak pula membenarkan. Tampaknya juga hal semacam ini sudah biasa bagi mereka yang bekerja kantoran. Aku juga sering mendengar kisah teman-temanku yang merasa risih bahkan sampai merasa dilecehkan akibat candaan yang terlalu dewasa.
Bang Yasa mengangguk cepat kemudian melanjutkan, "Kan tadi yang kita bahas soal ciuman. Ya, aku nggak pernah lah!"
"Cupu!"
"Jaman sekarang memang susah percaya kalau anak-anak pacaran nggak macam-macam. Beda sama jaman saya dulu. Berkabar pun masih sekadar lewat surat. Kalau bertemu, cowoknya gentle datang ke rumah menghadap orang tua. Sekarang mah boro-boro, jemput aja depan gang," Kata Bu Rumi, "Eh, Ni. Ayo sini makan sama-sama saya bawa kue lapis oleh-oleh dari keluarga." Ajak Bu Rumi kala melihatku tergugu diam di depan pintu. Ragu ingin masuk ke ruangan atau memutuskan membolos daripada menyimak obrolan yang tidak berguna ini.
Aku duduk di sebelah Mbak Salma dan mengambil satu kue lapis. Setidaknya kue lapis ini bisa mengalihkanku dari percakapan dewasa ini.
"Coba tanya Anjani. Ni, kamu kalau pacaran pernah aneh-aneh nggak?" Tembak Mbak Salma kepadaku.
"Aneh-aneh gimana maksudnya, Mbak?"
"Kayak pegang-pegangan, terus kokop-kokopan, terus saling..." Belum sempat Mbak Salma menyelesaikan omongannya, Bang Yasa terlebih dulu menjajal mulutnya dengan sepotong kue lapis membuat Mbak Salma mengoceh tidak jelas sambil memukul bahu Bang Yasa.
"Sinting," Ujarnya.
Aku tersenyum maklum lalu berkata, "Nggak pernah sih, Kak. Saya baru pernah pacaran sekali dan selama pacaran cuma pernah jalan sekali aja itu pun cuma nonton."
"Hah? Itu beneran pacaran atau HTSan?" Tanya Mbak Salma.
"Soalnya aku LDR, Mbak."
"HTS teh naon?" Tanya Pak Rahman.
"Istilah anak zaman sekarang, Pak. Hubungan Tanpa Status ada juga friendzone, kaka adek zone, situasionship. Singkatnya mereka sama-sama suka tapi nggak pacaran, tapi sayang-sayangan, terus kokop-kokopan--" Lagi-lagi mulut Kak Salma dijejalkan kue lapis oleh Bang Yasa, "Heh!"
Bu Rumi menggeleng pelan melihat kelakuan Mbak Salma, lalu berujar, "Sama kayak anakku juga. Lagi galau berat, katanya gara-gara cowo yang hampir tiap hari datang ke rumah itu tiba-tiba hilang tanpa kabar," Ujar Bu Rumi.
"Terus gimana, Bu?"
"Awalnya mau ku minta tanggung jawab itu orang udah buat anakku nangis. Eh ternyata masih HTSan. Aku cuma bisa puk puk pelan pundaknya sambil ngomong ikhlas."
Kami semua sontak tertawa terbahak-bahak. Bagiku mendengar kisah orang lain yang tolol akan cinta itu lucu sekali. Namun, tak bisa ku pungkiri saat merasakannya sendiri memang coklat pun rasa tahi. Hampir setiap malam aku menangisi kepergiannya. Namun, sekarang menangis bukan lagi karena aku masih merindukannya. Tapi, aku merasa prihatin dengan diriku sendiri yang mau saja diperlakukan dengan sangat menyedihkan.
"Makanya mending ngga usah pacaran. Buang-buang waktu dan tenaga. Habisin air mata buat orang nggak penting," Ucapan Bang Yasa terdengar penuh penekanan. Aku menatapnya dengan perlahan. Saat mengatakan itu ia menunduk. Nada bicaranya tampak menekan. Namun siapalah aku berhak menilai.
Entah apakah ia terlalu peka aku memperhatikannya, ia mengangkat kepalanya dan langsung melihat ke arahku. Lagi-lagi tatapan kami bertemu. Hiruk pikuk keramaian yang masih dibuat oleh mereka mendadak senyap karena telingaku menuli. Mahesa Dirgantara adalah orang yang tidak bisa ku tebak seenaknya. Sementara Bang Yasa, tatapannya melembut, seperti sedang menyelami netraku hingga ke dasar. Aku yang sadar pun memutuskan kontak mata lebih dulu. Pipiku mendadak terasa panas. Aku memutuskan untuk pergi ke meja kerjaku dan menyalakan komputer dengan pikiran tak karuan.
Tatapan itu berhasil membuatku hilang akal untuk sesaat.
***
"Anjani? Sudah makan?" Tanya Mas Baim. Setelah beberapa hari tidak bertemu karena ia pergi dinas keluar pulau, Ia segera mendatangiku sambil menenteng beberapa paper bag berisikan oleh-oleh. Mas Baim itu punya kepribadian yang dewasa dan lembut. Tatapannya begitu teduh bagaikan oase di gurun gersang. Ketika menatapnya akan menciptakan rasa senang dan tenang meskipun huru hara menyapa.
"Belum, Mas. Kenapa?" Balasku tak kalah ramah. Seolah bersikap ketus padanya adalah hal yang tak benar.
Ia tersenyum kemudian masuk dan meletakkan beberapa bungkusan plastik hitam diatas meja yang kini penuh dengan buah tangan yang ia berikan tadi pagi.
"Kebetulan Mas beli banyak makanan. Sepertinya nggak habis kalau makan sendiri. Kamu mau bantu Mas habisin ini semua kan?" Suara lembut itu mengalun bagaikan melodi indah di telingaku.
Aku tertawa lalu ikut menyusulnya, duduk dihadapannya, "Boleh. Kebetulan perut Anjani sudah keroncongan dari tadi."
Aku jarang berinteraksi dengan Mas Baim. Meskipun ia baik namun ia bukan tipe orang yang bisa membangun pembicaraan, bukan tipe humoris yang bisa melontarkan berbagai candaan agar terlihat asik. Ia hanyalah manusia yang sehari-harinya fokus bekerja daripada nongkrong menghabiskan waktu menunggu jam pulang. Manusia kaku tapi baik hati.
Mirip seperti seseorang yang kukenal.
Kami mengobrol tentang banyak hal. Lebih tepatnya aku berusaha membangun obrolan lebih dengannya. Mendengarkan ceritanya yang habis pulang dari Bali dan bertemu bule-bule cantik. Meskipun beberapa kali ia hanya menanggapi dengan senyuman lalu kami sama –sama diam karena merasa canggung. Namun, lama kelamaan kami jadi terbiasa. Ia menceritakan tentang bagaimana tentang impiannya untuk menjadi fotografer yang harus pupus karena terhalang restu orang tua. Lalu orang tuanya menyarankan agar ia fokus belajar untuk masuk CPNS.
Lalu obrolan kami terjeda karena Bang Yasa datang. Tanpa izin ia mencomot satu camilan di depan kami, "Wah, parah nggak bagi-bagi."
Mas Baim tertawa, "Memang mau dibagi-bagi kok. Tapi Anjani jadi tester dulu."
Aku memberengut, "Oh, jadi kalau ada racun atau apa Anjani yang jadi tumbal gitu ya, Mas? Aku pikir diriku spesial," Kataku pura-pura sendu sambil bercanda.
"Gimana, Ni? Udah ada tanda-tanda sesak napas nggak?" Tanya Bang Yasa kepadaku. Seperti biasa ia berbicara sarkas.
Refleks aku mencubit lengannya sampai ia mengaduh kesakitan, "Aw! Aw! Sakit! Bercanda abang!"
Mas Baim memperhatikan kami berdua dengan tawa hambar, "Kalian udah akur ya sekarang?"
Gerakan tanganku yang tadinya sibuk mencubit Bang Yasa pun terhenti. Setelah sadar apa yang aku lakukan aku langsung kembali ke tempatku semula. Begitu pula dengan Bang Yasa yang menggaruk belakang kepalanya sambil berdehem pelan.
"Yasudah, aku balik ke ruangan dulu ya," Pamitnya kepadaku. Lalu kalimat selanjutnya membuatku kembali memberengut, "Jangan berdua-duaan, nanti yang ketiganya jin iprit."