Aku merapihkan kemeja putihku yang baru saja ku beli seharga lima puluh ribuan di pasar rebo. Kemeja ini bukan kemeja satu-satunya yang ku punya. Sayangnya kemeja-kemeja itu kurang formal untuk dipakai pergi tes wawancara. Aku sedikit menyesal karena terlalu sering membeli barang-barang tak berguna saat kuliah. Maklum, aku lebih suka pergi nongkrong daripada menyendiri di kamar kos.
Bukan berarti aku ekstrovert, saat Tes MBTI justru kadar introvertku malah 95%. Hanya saja sesekali aku merasa takut akan menjadi bisu jika lama tidak berinteraksi dengan manusia. Setidaknya teman-temanku harus tahu bahwa aku masih hidup.
Tentunya pergi ke café tidak cocok jika hanya menggunakan daster rumahan bukan? Dengan circle pertemanan yang cukup dikalangan berada, aku harus menyesuaikan diri dengan mencocokan outfit-outfit terkini dan termakan promosi affiliate dengan teknik marketing yang bisa mempengaruhi otak manusia sepertiku yang terlahir boros. Gaya mamba, gaya kue, gaya bumi semua sudah ku coba. Mungkin sesekali aku harus mencoba gaya emo tahun 2000an.
Aku memakai flat shoes hitam yang solnya sudah mulai menipis. Flat shoes yang menemani hari-hariku selama berkuliah. Melihat arloji yang menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit dengan waktu perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Sedangkan aku harus sampai di tempat pada pukul 7 Waktu Indonesia Barat. Kebiasaan ngaretku memang harus diubah mulai sekarang, karena seringkali merugikanku. Tapi, berawal dari sinilah aku menemukan bakat terpendamku. Menjadi sekelas Valentino Rossi, atau mungkin Marq Marquez. Kepiawaianku dalam mengendarai motor secepat kilat tidak perlu diragukan lagi. Aku bahkan bisa menyelip dua truk sekaligus.
"Ah, ini 30 menit sampai lah," Batinku berseru.
Ibuku yang sudah siap dengan seragam kerjanya, keluar sambil menenteng sebuah kotak bekal. Ibu memaksa karena jarak kantorku yang jauh dari rumah dan aku bisa menghemat uangku untuk bensin. Alasan kenapa waktu tempuh perjalanan menuju kantorku memakan sekitar 1 jam adalah karena aku mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai kontrak yang bisa dibilang jaraknya tanggung, dekat tidak, jauh juga tidak, tapi karena padatnya penduduk di Pulau Jawa, mau tak mau aku harus menghadapi musuh terbesar yaitu macet.
Aku tersenyum hangat kemudian berpamitan dengan ibu lalu menyalakan mesin motorku. Aku berdoa dalam hati, agar wawancara hari ini berjalan dengan lancar.
*****
Setiap kali aku memasuki daerah perkantoran yang dipenuhi oleh gedung gedung tinggi ini, aku selalu menghela napas. Meratapi
kenyataan bahwa mungkin takdirku berada disini disaat teman-temanku bekerja di perusahaan multinasional atau bahkan BUMN. Namun sepertinya hidupku tidak seberuntung itu. Mencari pekerjaan dizaman sekarang sangatlah sulit. Pilihannya hanya dua, kamu benar-benar pintar atau jalur orang dalam. Daerah yang bisa dibilang masih baru ini masih perlu banyak pembangunan sarana dan prasarana. Bangunan kantor pun kurasa tidak semuanya layak disebut kantor. Contohnya adalah gedung kantor yang sekarang kupijaki ini.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, "Ayo Anjani! Kamu pasti bisa!" Batinku berseru.
Kakiku mulai melangkah masuk ke lobby. Sialnya, aku disambut oleh aroma asap rokok yang pekat. Seorang lelaki berhoodie hijau lumut itu dengan santainya meghisap rokok sambil sibuk dengan ponselnya. Tampaknya ia bahkan tidak menyadari bahwa ada seonggok manusia yang telah berdiri dengan kebingungan dihadapannya. Meja resepsionis itu dibatasi oleh sebuah kaca pembatas bening. Aku mengetuk pelan kaca itu dan bercicit, "Permisi, Pak..."
Pria itu masih sibuk dengan ponselnya, melirik sekilas kemudian kembali fokus pada ponsel. Bersikap acuh tak acuh sambil sesekali tersenyum karena sebuah video lucu yang sering lewat di fyp tiktokku. Maaf sekali jika mataku melirik tak sopan, masalahnya cahaya ponselnya terlampau terang bagai cahaya ilahi.
"Permisi, Pak..." Aku bertanya lagi, kali ini kunaikkan nada bicaraku agar ia dengar. Namun, masih saja ia bersikap cuek.
Tak lama kemudian, muncul seorang pria lainnya yang menggunakan kemeja putih sama denganku, dengan usia lebih tua, "Eh, cari siapa ya, Mbak?" Tanyanya ramah.
Pria perokok tadi langsung mengangkat kepalanya, menoleh ke arahku, mengamati sekilas, lalu bergegas berdiri dan pergi meninggalkan kami berdua begitu saja. Tak ketinggalan secangkir kopi hitam ditangannya dan menghilang dari balik tembok. Aku mendengus kesal. Sepertinya dia bukanlah pegawai, tidak ada seragam yang membalut tubuhnya, mungkin OB? Atau satpam? Tidak ada sopan santunnya.
"Maaf ya, Mbak. Mahesa emang begitu orangnya," Ujar bapak didepanku dengan sungkan.
"Saya cari Pak Yudhistira, Pak. Saya ada jadwal wawancara hari ini," Ujarku memilih kembali fokus pada tujuan utama datang kemari.
"Ah, kamu Anjani Danastri ya? Tadi bapak berpesan untuk tunggu di ruangannya dulu. Karena sedang ada tamu. Mari saya antarkan," Ujar Pak Rahman, yang Namanya kuketahui dari bordir di kemejanya.
Aku mengikuti Pak Rahman dan masuk ke dalam ruangan. Satu-satunya ruangan yang menurutku mirip seperti kantor. Ruangannya beraroma citrus yang menenangkan, ada sofa mewah yang ku taksir harganya sangat mahal, bahkan meja kerjanya pun terbuat dari kayu jati dengan desain elegan.
Jadi bos memang enak ya.
Setelah menunggu sekitar 1 jam lamanya, Pak Yudhistira datang dengan setelan yang menurutku sangat mencerminkan bahwa beliau adalah sosok pemimpin. Pembawaannya sangat berwibawa dan bersahaja.
"Maaf ya, Anjani menunggu lama. Saya barusan dapat tamu dari provinsi untuk koordinasi terkait dengan aplikasi data," Ujarnya dengan ramah namun berhasil membuatku segan. Rasa kesal yang tadinya ada hilang seketika ketika Pak Yudhistira berbicara.
Mungkin saja aku ikut terhipnotis oleh suara lembutnya. Bisa ku taksir umurnya masih 40 tahunan. Terlihat dari setelannya yang rapih dan gagah. Idaman para wanita-wanita muda yang mungkin sedang mencari pria kaya raya sukses diusia muda.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya baru saja kok disini," Kataku sambil tersenyum sungkan.
Wawancara yang kukira akan menjadi sebuah ajang interogasi justru salah. Pak Yusdhistira hanya bertanya mengenai keseharianku sebelum bekerja. Tak lupa ia juga bertanya mengenai kabar ibuku yang merupakan kaka tingkatnya saat kuliah dulu. Tidak ada pertanyaan visi misi, tekad, maupun motivasi. Bahkan menurutku, rasanya bukan seperti wawancara.
Lalu setelahnya, Pak Yudhistira izin pamit undur diri karena menghadiri acara di Balai Kota. Ia mentitahkan seorang pegawai untuk menemaniku berkeliling kantor.
Tak lama, pintu diketuk menampilkan seorang perempuan mungil dengan perawakan agak gempal. Wajahnya tampak imut dan menggemaskan. Mbak Salma kemudian menyapa dan menunggu titah Pak Yudhistira.
"Salma, tolong antarkan Anjani berkeliling kantor ya, sekalian kamu jelaskan apa saja tugas administrasi disini. Anjani, meskipun berbeda bidang, diharapkan tetap saling bahu membahu satu sama lain ya."
Aku mengangguk pelan kemudian berpamitan kepada Pak Yudhistira, mengikuti Mbak Salma yang tampaknya bersemangat sekali mengajakku tour sekitar kantor.
****
"Salam kenal ya, Mbak! Aku Salma," Ujarnya ramah. Aku pun ikut memperkenalkan diri secara singkat. Kemudian dibawanya aku mengelilingi kantor yang bisa dibilang tidak besar ini. Bentuk bangunannya cenderung datar dan memanjang. Bahkan di setiap lorong sudah terdapat papan nama dari berbagai bidang.
Mbak Salma adalah orang yang begitu supel. Ia banyak bicara mengenai silsilah kantor dan lainnya yang tidak ku pahami. Cara bicaranya begitu cepat sehingga otakki harus belerja lebih cepat. Sembari mengenalkan ia juga banyak mengajakku bersenda gurau.
Lalu kemudian ia membawaku memasuki beberapa ruangan dan memperkenalkan orang-orang di dalamnya. Aku bukan orang yang pandai menghapal nama dan wajah orang asing dalam sekali lihat, lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum sopan.
"Aduh! Asap rokok dimana-mana. Berhenti rokok kek Bang! Ntar paru-paru hitam baru tau rasa," Gerutu Mbak Salma saat
memasuki ruangan yang nantinya akan menjadi tempatku bekerja.
Pria yang ditegur itu hanya menoleh sekilas dan memutar bola matanya tak peduli. Pria berhoodie hijau lumut yang ku temui tadi, hoodienya telah tersampir di kursi sebelahnya.
Ternyata ia memakai seragam pegawai bukan OB seperti dugaanku, hanya saja tertutup oleh hoodie hijau kebesaran yang dipakainya.
"Kenalin ini Anjani, pegawai baru disini. Nah, disitu cowok yang paling ganteng sekantor, digandrungi para kaum hawa, namanya Mahesa Dirgantara, rajin sholat, baik hati dan tidak sombong. Minat? Chat tante."
Pria itu hanya merespon dengan jengah lalu melirikku sekilas. Memindai penampilanku dari atas sampai ke bawah, "Anaknya siapa?" Tanyanya dengan dingin.
Mbak Salma menoleh ke arahku dengan tidak nyaman, "Minimal ajak kenalan yang baik gitu lho, Bang."
Ia menyeringai, "Pasti kenal kalau masuk kesini pakai orang dalam."
Tanganku diam-diam mengepal hebat. Perkataannya berhasil menyinggungku.
"Saya bukan anak manja yang nggak bisa bekerja," Balasku tak kalah pedas. Membuat fokus yang tadinya pada ponsel sialan itu menjadi ke arahku. Alisnya terangkat sebelah, melihatku dengan pandangan remeh, "Kita liat aja nanti. Paling minggu depan kamu merengek minta pulang sama orang tuamu."
Mbak Salma menyenggol lengan pria itu dengan keras, lalu tersenyum tak enak kepadaku, "Nah, kalau mas manis yang satu ini namanya Mas Baim. Jawa tulen, umurnya masih 28 tahun, spek gapura kabupaten, suaranya selembut sutra, lagi rajin menabung buat masa depan walaupun sesekali kalap buat beli dino kuning." Kata Mbak Salma mengalihkan topik sambil menjadi biro jodoh.
"Saya Arbani Ibrahim, salam kenal ya. Semoga betah disini." Kata Mas Baim dengan ramah berbanding terbalik dengan pria yang disebut-sebut idaman kaum hawa itu.