Honeymoon???

1501 Words
Sofia terbangun saat cahaya matahri menggangu tidurnya. Matanya mulai mengintip di kesilauan pagi itu. Astaga gw terlambat!!!!!! Sontak Sofia terbangun, namun dia merasa asing dengan tempat yang dia tiduri. Dia baru ingat bahwa dia sudah menjadi istri Samudera Abimanyu. Kemana dia? Eh baju gw, siapa yang gantiin? Jangan bilang si es batu itu!! Sofia merasa kakinya pegal dan badan sakit semua akibat acara pernikahannya kemarin. Saat dia baru bangun dari ranjangnya, seorang pelayan masuk ke kamar. "Maaf non Sofia, saya asisten non dari den Samu, non bisa panggil saya Maya. Den, membawa saya kesini untuk menjaga non dan menyiapkan keperluan non selama den Samu pergi." "Kemana mas Sam, mbak Maya?" "Panggil saya Maya saja non. Den ada rapat penting pagi ini, jadi beliau sudah pergi dari tadi pagi." "Saya panggil mbak ya. Mbak tampaknya lebih tua dari saya.", Sofia memang sudah dididik untuk menjadi anak yang sopan. "Non mau sarapan? Non mau makan di restoran hotel apa mau dibawa kesini non?" "Ke restoran boleh? Tapi aku ga bawa baju sama sekali. Ini saja aku ga tahu darimana dan siapa yang mengganti." "Den Samu sudah siapkan satu koper baju non dan den. Setelah rapat, den Samu akan mengajak non pergi honeymoon.", Sofia menatap koper besar yang ada di dekat kamar mandi. Apa?? Honeymoon???! Katanya kan menikah tanpa cinta? kok pake honeymoon segala? Eh gw kan kerja kuliah gimana coba? "Aku mau pergi kerja dulu ya mbak.", Sofia langsung membuka koper baju. "Den Samu sudah urus semua non. Ini ada surat dari den Samu." Sofia membuka notes dari Samudera. Kamu siap- siap. Sarapan yang banyak. Jangan pergi kemana- mana. Kalau kamu perlu sesuatu, suruh Maya yang carikan. Kamu bisa minta apa saja ke dia. Saya sudah ijin cuti ke tempat kamu kerja dan kuliah kamu sudah saya urus juga. Nanti siang saya balik dari kantor dan kita pergi. Sofia tercenung membaca notes kecil tersebut. Sofia mencari ponselnya, namun tidak menemukan. "Non cari apa?" "Ponsel aku. Dimana ya?" "Ponsel non sudah diganti oleh den Samu, ada di atas nakas. Itu ponsel baru non.", Sofia menatap ponsel di atas nakas yang merupakan ponsel mahal. Memang selama ini Sofia menggunakan ponsel biasa, selain faktor harga yang mahal, dia juga merasa gaptek untuk ponsel yang canggih itu. "Lalu ponsel aku kemana?" "Saya kurang tau non, itu den Samu yang tahu ." Sofia mengambil ponsel itu. dan ada notes kecil dibawah ponsel. Kamu istri saya, istri pengusaha sukses, saya tidak akan biarkan kamu memakai ponsel murahan itu lagi. Pakai ponsel ini. Nomor saya sudah ada di dalam. Saya juga sudah sortir nomor yang kamu perlukan dan saya sudah masukkan ke dalam kontak di ponsel kamu. Sofia terdiam, mengapa suaminya itu berubah? Seingetnya pertemuan mereka jelas- jelas menunjukkan bahwa mereka akan menjadi dua orang asing dalam satu rumah. Tapi kenapa jadi seperti ini? *** Sofia sudah bosan menunggu Samudera yang belum pulang juga. Dari menonton telivisi sampai ketiduran, bahkan dia sempat menelepon Yuni untuk tahu kabar di florist. Kontak yang ada di ponsel Sofia hanya Enam. Samudera, Maya, Ayah Bram, Mama Celine, Yuni dan Siska. Semua kontak yang lain tidak ada di ponsel Sofia. Yuni sempat cerita bahwa bos mereka sempat datang, dan mengatakan Floridt telah dia jual. Tapi pemilik baru tetap akan membuka florist. Jadi mereka akan tetap bekerja di florist. Tapi siapa bos baru mereka, mereka belum tahu akan itu. Bos mereka juga mengatakan Sofia akan cuti dua minggu, jadi Yuni akan dibantu dengan satu orang baru yang akan bekerja besok. Sofia merasa banyak kejutan di hari ini. Maya datang mengantarkan makan siang. "Mas Sam belum datang juga?" "Den Samu masih meeting di kantor non. Non makan dulu ya. Mungkin sebentar lagi mereka akan selesai dan kemari.", Maya sudah menyiapkan nasi dengan soto ayam yang tadi Sofia minta. "Mbak udah lama kerja dengan Mas Sam? Mbak duduk aja, biar bisa ngobrol santai." "Sudah non." "Berapa lama?" "Saya meneruskan tugas dari ibu saya non, dari umur 17tahun saya sudah ikut papa den Samu." "Sekarang Mbak umur berapa?", Sofia memang bukan anak yang kepo, tapi untuk tahu medan perang kehidupannya, dia harus mencari tahu apa yang akan dia hadapi. "Saya 27 tahun saat ini non." "Wow. Mbak sudah 10 tahun kenal Mas Sam? Kok bisa mbak?" "Kok bisa kenapa non?" "Si Es batu itu kan sok cool, terus sok tegas gitu kan? Waktu aku ketemu dia aja nih, dia tuh ngomong uda kaga pake ekspresi.", tanpa Sofia sadari kalau Samudera sudah berdiri dekat mereka. Tapi dia menyuruh Maya untuk tetap duduk dan menemani Sofia makan. "Es batu tidak selalu jadi es loh non. Kalau ga di kulkas dia bisa mencair kan non." "Yah bener sih. Cuma kayanya dia mencair kalau bersama Cintia aja kali ya ", Ada senyum kecut di bibir Sofia. "Non harus bisa dong melelehkan hati den Samu." "Ah aku itu cuma debu di jalanan mbak. Yang terbang kalau kena angin.", Sofia tertawa sendiri. "Debu juga bisa masuk ke mata orang membuat orang sadar kalau ada debu disana.", ucap Samudera membuat Sofia membeku. Dia udah disana dari kapan? "Saya permisi dulu ya non ", Maya berjalan keluar dan menyisakan dua orang yang masih diam. "Habiskan makananmu, kita berangkat satu jam lagi ", akhirnya Samudera bersuara dan dia masuk ke dalam kamar mandi. Sofia akhirnya bisa bernafas, setelah dia menahan nafasnya takut akan amukan Samudera. Dia denger darimana ya? Haduh kenapa ini mulut ga bisa rem ya. Padahal selama ini, kamu bisa mengontrol sikap kamu, Sof. Kamu harus bisa jadi wanita tegar, wanita mandiri, bukan anak bocah yang cerewet dan banyak tingkah. Ayo Sof, jaga mulut kamu dan tingkah kamu. Yang kamu hadapi itu gunung es. Yang ada kamu disodori muka es setiap hari. Sofia memukul bibirnya. "Daripada kamu pukul, mending dipakai buat makan cepat. Atau memang bibir kamu mau saya cium?", Entah kenapa Samudera senang membuat Sofia jantungan. Ini kenapa dia seneng bikin gua jantungan???! Sofia menoleh ke Samudera. Dan yang terlihat disana, Samudera baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggang. "Astaghfirullah!!!" Samudera menoleh ke Sofia yang sudah menutup matanya dengan tangannya. Senyum tipis di bibir Samudera melihat tingkah istrinya. Sepertinya ini akan menyenangkan. "Kamu kenapa?" "Mas kalau mau pakai baju di kamar mandi dong. Malu tahu!" "Lah kita kan sudah menikah. Kamu halal buat saya.", Sofia masih menutup matanya. "Buka mata kamu", Tapi Sofia masih menutup matanya. "Saya hitung sampai tiga. Kalau kamu masih menutup mata kamu, saya rasa honeymoon kita akan batal dan berakhir di ranjang ini.", ancaman Samudera langsung membuat Sofia membuka matanya dan yang dia lihat pertama ada wajah Samudera yang begitu dekat dengannya. "Mas, jangan dekat- dekat.", Sofia mencoba mendorong Samudera untuk menjauh. Tapi malah Samudera mendekatkan bibirnya ke bibir Sofia. Hanya kecupan. Tapi membuat mata Sofia membola. Ya, ini pertama kali ada laki- laki menciumnya. Meski hanya kecupan, tapi bibirnya sudah tidak peraawan lagi. Baru kepala Sofia ingin mundur, namun tangan Samudera telah menahan tengkuk Sofia. Lalu Samudera melumat bibir Sofia. Kenapa bibir ini menggoda sekali??! Sofia yang belum pernah, dia bingung. Tangannya memukul bahu Samudera. Namun bibir mereka tidak terlepas. Samudera makin menyecap bibir Sofia. Entah apa yang menghipnotis Sofia, sehingga Sofia mulai menikmati ciuman dari Samudera. "Bibir kamu manis.", Samudera tersenyum. Ini pertama kali Sofia melihat senyum Samudera. "Aaaaaah. Mas apa- apaan sih?", Sofia memukul bahu dan d**a Samudera "Lah, apa-apaan kenapa?" "Mas, kenapa cium aku?" "Karena bibir kamu menggoda saya." "Menggoda darimana. Orang aku ga berbuat apa- apa. Gimana bisa mas bilang aku goda mas?" "Tuh bibir kamu manggil- manggil saya buat cium kamu." "Iiiih mas aku uda jaga bibir aku selama ini. Masa mas main nyosor-nyosor aja!!", Sofia sudah bertolak pinggang di hadapan Samudera. "Lah sekarang kamu mau jaga buat siapa? Saya sudah jadi suami kamu. Jadi bibir dan tubuh kamu itu buat saya. Apa kamu ada niat mau selingkuh dari saya?", goda Samudera. "Kan mas yang bilang cinta mas cuma buat Cintia.", cicit Sofia tanpa berani melihat Samudera. "Saya hanya bilang kalau saya mencintai Cintia. Tapi saya ga bilang kalau kamu menikah dengan saya, lalu kamu boleh bersama pria lain setelah menikah dengan saya." "Iyah mas, aku ga mungkin juga selingkuh. Cuma kan aku mau melakukan itu karena emang cinta mas." "Oh jadi kamu berharap saya mencintai kamu?" "Yah ga begitu juga mas.", cicit Sofia. "Kenapa sih, kamu ngomong ga bisa lantang? Kami itu istri saya, Samudera Abimanyu. Kamu harus berani, angkat kepala kamu. Percaya diri, Sof. Jangan takut, karena saya akan ada buat kamu. Sekarang angkat wajah kamu. Coba bicara yang lantang " "Iyah mas." "Angkat wajah kamu, tatap mata saya, Sof." "Iyah Mas.", Sofia menatap mata Samudera. "Tapi kenapa tatapan kamu seperti meminta saya untuk mencium kamu lagi?" "Mas, serius ah." Tok.. tok.. tok.. "Pak, sudah waktunya ke bandara.", terdengar suara dari depan pintu. "Kamu selamat saat ini. Saya ganti baju dulu, kita berangkat setelah itu. Atau kamu mau bantu saya ganti baju?", goda Samudera. "Mas, kok jadi m***m gini sih?" Tawa Samudera terdengar seantero kamar. Jujur Sofia baru melihat sisi Samudera yang ini. Dan itu malah membuat Sofia takut. Takut akan jatuh hati pada suaminya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD