Pernikahan

1003 Words
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Samudera Abimanyu dengan anak saya bernama Sofia Putri Nugroho dengan mas kawin seperangkat alat Sholat dan uang mahar dibayar tunai ", Bram yang duduk di kursi roda memaksa datang untuk menikahkan anaknya dengan Samudera. "Saya terima nikah dan kawinnya Sofia Putri Nugroho binti Bram Nugroho dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.", Samudera menyebut ijab kabul dalam satu tarikan nafas. "Bagaimana saksi? Sah?" "SAH!!!" Sofia menarik nafasnya saat kata sah itu disebut. Permulaan yang dia tidak tahu akan kemana arahnya. Yang dia tahu Allah maha adil, bila kepahitan yang akan dia alami ke depannya, pasti ada manis yang terselip disana. Karena itu, Sofia masih bisa berharap dan berdoa bahwa Allah akan tetap menyertai setiap jalannya hidupnya. "Kamu harus bahagia ya sayang.", Sofia tersenyum kepada Celine, ibu tirinya itu. "Kamu boleh panggil saya, mama. Kalau kamu mau tentunya, saya tidak bisa memaksa. Namun saya telah kehilangan anak saya, dan saya berharap kamu bisa menggantikan sosok dia.", terlihat senyum tulus. "Saya memang iri dengan ibumu, Mas Bram sangat mencintai ibumu, bahkan tidak ada ruang untuk saya masuk disana. Karena itu, sebenarnya ayahmu ingin menolak ini semua. Tapi nenekmu selalu bisa mengendalikan ayahmu. Memaksa ayahmu untuk menuruti semua keinginan dia." "Iyah Sofia tahu. Mungkin memang ini takdir Sofia, ... ma.", setelah jeda sebentar Sofia pun tersenyum. "Tersenyumlah Sofia, kamu cantik saat senyum. Belajar mencintai nak Samudera, dia pria yang baik kok. Buat dia mencintai kamu. Meski dulu dia mencintai Cintia, anak mama. Tapi mama yakin bila Allah menyatukan kalian, pasti Allah ada maksud untuk kalian bisa bersama." "Iyah, ma. Makasih ma. Sofia pasti belajar menjadi istri yang baik." "Mama berharap bahwa kamu bisa bahagia, mama juga ingin menebus kesalahan mama di masa lalu. Mama ingin kamu bisa menerima cinta yang banyak, karena terlalu banyak cinta yang terlewatkan dari kamu kecil.", Sofia meneteskan airmatanya. "Jangan menangis sayang, jangan rusak kebahagian kamu hari ini. Kamu berhak bahagia.", Celine tersenyum menatap Sofia. "Ayo kita ke depan, mereka pasti menunggu pengantin wanita yang cantik ini." Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan ijab kabul. Samudera menatap wajah pengantinnya, ada senyum tipis yang tercetak disana. "Cantik.", gumam Samudera. "Kenapa Sam?", tanya Reyhan Abimanyu. "Kenapa apanya pa?" "Cantik kan?", goda Reyhan, papa Samudera. Reyhan tahu betul siapa wanita yang dinikahi anaknya itu. Anak yang memang pekerja keras, berjuang untuk bisa kuliah di tengah situasi dia menjadi anak yang bisa dikatakan yatim piatu. Karena ayahnya tidak pernah ada untuk dirinya. "Hmmm...", dan pandangan Sofia dengan Samudera bertemu. Wajah Samudera langsung berubah dingin kembali. Emang dasar es batu!!!! "Ayah titip Sofia ya nak Samudera. Jaga dia, bila kamu sudah tidak bisa bersama dengannya, tolong hubungi ayah. Biar ayah yang akan jemput dia dari kamu. Dia anak ayah satu- satunya saat ini, tolong jaga lindungi dia ya nak.", Bram duduk di kursi roda dan menatap Samudera dalam. "Baik yah. Saya pasti akan jaga anak ayah." Sofia melihat wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu. Terlihat paras sopan bila di hadapan ayah, mama dan neneknya. Entah wajah dingin itu hilang entah kemana. *** Setelah akad nikah, resepsi pun di gelar. Sudah tiga jam mereka melayani para undangan yang datang, namun rasanya tidak ada habis- habisnya para undangan yang datang. Sofia sudah merasa pegal di kaki yang memakai heels yang tinggi. Seumur hidup Sofia tidak pernah pakai heels setinggi ini. Samudera sudah melihat gerak- gerik istrinya itu, Samudera menelepon orang kepercayaannya. "Kamu cari flatshoes istri saya sekarang." "Baik bos." Tak sampai sepuluh menit, Hendy datang dengan tas tentengan yang diantar ke atas panggung. Sofia bingung apa yang dilakukan si wajah es itu. "Mas ngapain?", tanya Sofia saat melihat Samudera menunduk dan meletakan flatshoes di depan kaki Sofia. "Kamu ga biasa kan pake heels itu, ganti sepatu kamu, sebelum kamu pingsan gara- gara sepatu itu.", bisik Samudera. "Aku bisa tahan kok mas.", Samudera sudah tahu kalau istrinya ini orang yang kekeuh, keras kepala. Samudera menunduk memaksa Sofia mengganti sepatunya. Dan itu semua tidak luput dari penglihatan undangan yang datang. Semua tingkah Samudera dilihat romantis di mata semua undangan. Dan bisa dilihat tatapan memuja dari ribuan pasang mata wanita yang hadir disana. "Aku bisa sendiri, mas.", akhirnya Sofia mengalah. Kenapa si es batu ini berubah perhatian?? Please Sofia jangan jatuh cinta. Dia ga cinta sama lo, Sof. *** Setelah resepsi, Sofia diantar ke kamar hotel. Dia melihat sekeliling kamar, tidak ada orang. Akhirnya dia bisa bernafas lega. Setelah seharian lelah dengan acara yang panjang. "Tapi gimana lepas gaun ini, belum rambutnya juga gimana ini?", Sofia mencoba membuka sanggul rambutnya, dan berujung dia kelelahan dan tertidur di sofa. Gaun yang mewah itupun masih melekat di tubuh ramping Sofia. Samudera yang baru masuk kamar dan melihat Sofia tertidur di sofa. Samudera mendekati istrinya itu, dia duduk menatap wanita halalnya. Saya tidak tahu, mengapa keluarga Nugroho bisa sekejam itu kepada kamu. Bahkan saat kamu lagir, kamu dibuang begitu saja. Tapi saya berjanji akan membuat kamu bahagia. Meski tanpa cinta dari saya, saya tetap bisa membuat kamu bahagia. Samudera mendapatkan semua info Sofia dua hari sebelum mereka menikah. Dia tahu bahwa Sofia adalah anak dari pernikahan pertama Bram Nugroho. Sofia dan ibunya Lala Putri diusir dari kediaman Nugroho, Bram dipaksa menceraikan Lala saat Sofia lahir, dan Sofia tidak diakui oleh keluarga Nugroho. Bahkan saat ini, Sofia dipaksa menikah dengan dirinya hanya untuk menyelamatkan keluarga Nugroho. Satu hal yang Samudera harapkan, bisa membuat Sofia bahagia. Karena itu, dia sudah setuju untuk menikah dengan Sofia. Cintia memang sudah pergi, dia harus bisa merelakan Cintia. Meski rasa itu tidak akan dia buang, tapi dia harus menatap ke depan. Dan mungkin Allah sudah menggariskan kalau takdir dan masa depannya bersama Sofia. Samudera ingin belajar untuk menerima dan bila Allah berkehendak cinta itu bisa hadir nantinya. "Hen, kirimkan Maya ke kamar saya dan bawa juga koper yang sudah saya siapkan." Samudera dengan hati- hati memindahkan Sofia ke ranjang. Dia menatap wajah cantik itu, senyum Samudera terlukis di bibirnya. Kamu memang cantik, mungkin saya akan jatuh cinta dengan kamu. Satu hal yang saya bisa janjikan, kamu akan mendapat banyak kejutan manis dari saya, bersiaplah Sofia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD