Kesehatan ayah Bram pun mulai membaik. Sofia hampir setiap hari datang ke rumah sakit untuk menemani ayah Bram. Dia membagi waktu untuk kuliah, kerja dan menyempatkan datang ke rumah sakit. Semenjak pengakuan ayahnya, Sofia berfikir tidak ada salahnya memaafkan ayahnya. Toh Allah maha pengampun. Kita umatnya masa tidak bisa memaafkan orang lain.
"Nak, ayah ingin menanyakan kesediaanmu kembali. Apa kamu yakin ingin menikah dengan Samudera? Ayah tidak mau memaksa kamu, nak. Ayah susah sangat merasa bersalah dengan kamu dan ibu kamu. Ayah tak mau membuatmy lebih membenci ayah."
"Aku sudah berjanji kepada ayah kan? Kalau Sofia akan menerima perjodohan ini. Sofia rasa tidak ada salahnya mencoba belajar mencintai orang itu. Sofia yakin kalau Allah menjodohkan kami, Allah punya rencana yang baik pastinya."
"Kalau kamu memang tidak mau, ayah akan coba cara lain nak. Ayah tidak mau membuat kamu masuk dalam pernikahan tanpa cinta. Ayah ingin kamu bahagia nak, ayah sudah terlalu banyak menoreh luka di hati kamu. Membuat kamu dan ibumu menderita. Dan sekarang ayah malah membuatmu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai. Ayah merasa menjadi ayah yang jahat nak. Harusnya dulu ayah mendampingi kalian, harusnya ayah melihatmu bertumbuh nak, harusnya ayah yang membimbing kamu, mendidik kamu. Namun ayah bersyukur, ibumu sudah mendidik dengan baik. Kamu jadi anak yang kuat, anak yang baik nak."
"Sofia belajar ikhlas dari ibu, yah. Ibu selalu mengatakan kalau apa yang terjadi pasti seijin Allah. Jadi kita umatnya harus bisa ikhlas dan kuat menjalaninnya." Sofia memang sudah mengetahui siapa calon suaminya itu. Pria sukses yang masih muda berumur dua puluh lima tahun tapi sudah bisa membesarkan perusahaan dengan sukses. Tapi sifatnya yang dingin dan tidak suka basa basi inilah yang membuat banyak orang segan padanya. Belum lagi dia bukan laki- laki yang suka main wanita, yang diketahui publik hanya Cintia Arabelle yang menjadi kekasih pria itu.
"Terimakasih ya nak. Kamu mau menikah dengan Samudera."
"Iyah yah."
"Bila kamu tidak bahagia, katakan pada ayah, nak. Ayah hanya ingin menebus kesalahan ayah selama ayah masih punya waktu, nak."
"Ayah pasti punya banyak waktu, karena ayah pasti akan melihat cucu ayah lahir."
"Amin.", Sofia tersenyum meski dalam hatinya meragukan bahwa pernikahannya akan berujung bahagia. Namun dia harus bisa bertahan demi ayahnya. Dia sudah tahu bagaimana ayahnya bertahan jauh dari cintanya, bertahan demi ibu dan dirinya selamat, dan bertahan menikah tanpa cinta. Dan sekarang Sofia juga akan menjalaninya, namun dia berharap bila dia mampu bertahan demi ayahnya. Dia tak mau ayahnya kembali sakit lagi.
***
Sofia berjalan masuk ke sebuah cafe. Dia melihat ke sekeliling dan matanya telah menemukan sosok pria yang dia cari. Dengan menarik nafas panjang dia melangkah ke meja tersebut. Sofia mencoba meredakan rasa gugupnya.
"Bapak Samudera Abimanyu?"
"Kamu kira saya setua itu untuk dipanggil bapak sama kamu?", Samudera menatap Sofia dengan dingin.
"Saya hanya sopan kepada yang lebih tua "
"Saya hanya lebih tua setahun dari kamu.", ya bukan hanya Sofia yang mencari tahu siapa calon suaminya itu. Tapi Samudera mencari tahu semua tentang calon istrinya. Namun dia masih melihat profil calon istrinya yang ada kejanggalnan itu.
"Tetap lebih tua dari saya kan?", entah keberanian darimana yang Sofia dapatkan. Tapi dia merasa harus bisa terlihat kuat untuk bisa melawan pria dihadapannya. Dia tak mau terlihat wanita lemah yang hanya bisa iya-iya saja. Meskipun detak jantungnya tidak karuan saat ini.
"Terserah kamu sajalah. Tapi saya bukan ayah kamu untuk dipanggil bapak. "
"Jadi anda mau bicara perihal apa?"
"Saya to the point saja. Saya dan kamu sama- sama tahu pernikahan ini hanya karena Cintia meninggal.", terdengar serak saat nama Cintia keluar dari bibirnya.
"Saya juga tidak tahu bagaimana bisa, kamu menjadi sosok kakak bagi Cintia. Karena yang saya tahu, Cintia anak tunggal. Tapi karena papa saya yang meminta untuk melanjutkan pernikahan ini, saya tidak bisa menolak semua permintaannya. Jadi saya hanya ingin tegaskan, kalau cinta saya, hati saya hanya untuk Cintia. Jadi kamu jangan berharap pernikahan ini akan ada bahagia dan cinta. Saya tadinya berharap, kamu menolak pernikahan ini, tapi kalaupun kamu dan saya akan menikah, saya ingin kamu tahu soal ini lebih dahulu.", Samudera menatap wanita di depannya, namun tak terlihat rasa takut pada wajah cantik itu.
"Sudah? Pertama anda ingin saya panggil apa? Bapak? Mas? Abang?"
"Samudera saja "
"Anda lebih tua dari saya."
"Mas saja."
"Oke. Kedua, saya juga tidak berharap kalau Mas akan memberi cinta dalam pernikahan ini. Saya menyetujui semata- mata karena ayah saya. Jadi Mas tidak perlu khawatir soal hati saya. Saya juga sudah banyak menelan kepahitan selama ini. Menambah sedikit lagi kepahitan tidak berarti buat saya.", Samudera mengamati wajah datar Sofia, tidak ada senyum ataupun paras bahagia disana. "Jadi Mas tidak perlu repot- repot untuk memberitahu hal seperti ini. Dan ketiga, saya hanya meminta kepada mas, setelah menikah, saya tetap ingin melanjutkan kuliah saya, Mas tidak perlu khawatir, saya akan tetap bekerja, jadi semua biaya hidup saya, Mas tidak perlu pusingkan. Saya bisa mencari sendiri.", Samudera melonggo mendengar perkataan Sofia barusan. Apa wanita dihadapannya tidak tahu seberapa sukses dan kaya calon suaminya ini.
"Saya tahu Mas dari orang kaya, pengusaha yang sukses, tapi saya sudah bertekad untuk membiayai kuliah saya sendiri. Saya hanya meminta ijin untuk tetap bekerja dan kuliah setelah menikah nanti.", Sofia tersenyum samar, Samudera yang terus mengamati wajah dan tingkah laku wanita di hadapannya itu.
"Itu terserah kamu!", Samudera mendegus kesal. Baru kali ini ada wanita yang datar datar saja menghadapinya. Bahkan wanita dihadapannya terkesan tidak membutuhkan pernikahan ini dibanding dirinya.
"Kalau tidak ada lagi, saya pamit Mas. Karena saya mau pergi bekerja. Terimakasih ", Samudera menatap punggung wanita yang akan menjadi calon istrinya. Dia yakin ada yang disembunyikan keluarga calon istrinya. Bagaimana mungkin kakak Cintia muncul tiba- tiba disaat Cintia pergi.
"Coba kamu selidiki siapa Sofia, dimana dia selama ini, dan kenapa dia mau menikah dengan saya. ", ucap Samudera kepada Hendy, orang kepercayaannya.
"Baik bos."
Entah rahasia apa yang ada di keluarga Cintia, pertama tetap malangsungkan pernikahan, padahal jelas- jelas Cintia baru saja pergi. Kedua, entah darimana wanita bernama Sofia ini bisa menjadi kakak dari Cintia yang jelas- jelas adalah anak tunggal.
***