Malam berganti pagi, seberkas cahaya pagi memasuki celah-celah kecil tembok bersulam kayu pada sebuah gubuk kecil. Membangunkan seorang anak kecil yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Sekilas bila dilihat dengan pandangan mata anak kecil itu seperti pria remaja awal, yang memiliki tubuh tinggi dan agak besar, tetapi sebenarnya anak kecil itu belumlah genap berumur enam tahun.
Sorot mata yang tajam serta wajah putih bersihnya menampakan sosok anak lelaki bangsawan, namun pakaiannya berkata lain.
Dengan pakaian seperti rakyat jelata, anak kecil itu bangun dari tempat tidurnya. Seusai merenggangkan badan, matanya menyapu sekitar, ia dapati tidak seorang pun ada dalam gubuk kecil itu.
Perabotan yang sederhana dengan tikar bersulam bambu sebagai alas tidur dan satu meja kecil ada dalam ruangan tersebut. Anak kecil itu mencoba kembali menyapu pandanganya keseluruh penjuru ruangan.
Jantungnya tiba-tiba berdetak sedikit cepat, sosok wanita paruh baya yang biasanya sedang duduk di depan meja setiap pagi, kini menghilang tanpa sepengetahuannya, membuat sedikit rasa cemas dan takut dalam hatinya.
Berbagai pertarungan yang kerap ia saksikan di Desa Perbatasan memberikan efek cemas dan takut pada anak kecil ini, ketiadaan ibunya di pagi hari membuatnya takut dan khawatir. Terlebih lagi ini adalah kali pertamanya dalam hidupnya, bagun pagi sendirian di rumah.
Anak kecil ini mencoba bangun dan keluar rumah, ia tidak ingin cengeng apalagi menangis, tubuh besarnya sudah cukup menjadi alasan untuk belajar lebih dewasa dalam menyikapi masalah.
Ia pandangi seluruh tempat, memulai dengan berjalan pelan menuju ke utara seraya memfokuskan padangan ke berbagai tempat yang biasanya sang ibu kunjungi.
“ Tidak ada, tidak ada lagi. Kemana perginya sebenarnya ibuku,” batin anak kecil itu cemas.
Air mata mulai menggenangi matanya, ia sudah hampir berjalan lebih dari satu kilometer, namun belum juga bertemu dengan apa yang dicarinya. Perasaannya benar-benar takut, dan sedih.
Takut bila ia ditinggalkan ibunya dan sedih bila ia harus hidup sendiri ditengah lingkungan yang keras dan kejam.
Mengingat usianya yang belum genap enam tahun tidak heran anak kecil itu masihlah sangat manja dan sedih bila ditingal ibunya. Terlebih ia tidak mengenal seorangpun di desa, membuat rasa ketakutanya cukup berlebihan, bila ditinggal sebentar oleh sang ibu.
Merasa telah putus asa dengan pencariannya, anak kecil itu berusaha kembali ke rumah, dan berharap mungkin sahaja ibunya telah pulang ke rumah, ia menahan air matanya untuk tidak menangis dengan sebuah harapan kecil dalam hatinya.
Ia mengambil jalan memutar menuju ke rumahnya, berharap ia dapat bertemu sang ibu di jalan ini, sedikit harapan bertambah lagi dalam hati anak kecil ini, semakin menambah semangat dalam proses pencariannya.
Selang beberapa waktu berganti dan kurang lebih seratus meter lagi setelah sungai besar itu, ia akan sampai di tempat gubuknya berada, harapan tersisa satu sahaja dalam hatinya.
“ Semoga ibu sudah pulang kerumah,” batinnya memberi harapan.
Lepas beberapa langkah sahaja anak kecil itu langkahkan dalam jembatan besi pengubung sungai, matanya melebar begitu melihat sosok wanita tengah menangis di hilir sungai tidak jauh dari jembatan penyebrangan.
Anak kecil itu mencoba memastikan pengelihatannya dengan menyipitkan mata, dan begitu ia mendapatkan visi dengan jelas, ia dapati ternyata ibunya sedang menangis di tepi sungai dengan beberapa hewan buruan didekatnya.
Jantung anak kecil itu sedikit tersentak melihat sosok wanita yang menangis itu adalah ibunya, ia merasa cemas dan khawatir, meskipun anak kecil ini masihlah belum memiliki pemahaman akan dunia luar, tetapi ia cukup tahu bila seseorang itu menangis pasti ada sesuatu yang menyakitkan yang baru sahaja terjadi.
Dengan langkah yang cepat anak kecil itu berlari menghampiri ibunya, perasaanya saat ini campur aduk, ia senang dapat menemukan ibunya dan merasa sedih ketika melihat ibunya menangis.
“ Ibu!!! Ibu !!!” teriak anak kecil itu sambil berlari menghampiri ibunya.
Mendengar teriakan anak kecil, sang ibu menyeka dengan cepat air matanya dan membalikkan badan, bersiap menyambut kedatangan anaknya.
Anak kecil itu dengan cepat memeluk ibunya, “ Mengapa ibu menangis?” tanya sang anak dengan polos.
“ Anak ibu sudah bagun ternyata, nyariin ibu yah,” ucap sang ibu dengan nada manja sambil mencubit kedua pipi tembam anak kecil itu .
“ Iiihh ibu, jawab dong,” dengusnya kesal.
“ Heheheh, sini duduk anakku. Ibu akan ceritakan sebuah rahasia,” Tawa kecil sang ibu mengalihkan topik.
Mereka duduk bersama melihat air sungai yang sangat jernih, terlihat batu-batu serta ikan-ikan kecil di dalam sungai, pohon besar yang rindang dan angin yang sejuk menambah syahdu suasana pagi hari itu.
“ Anakku, menurutmu dongeng yang selalu ibu ceritakan itu kisah nyata atau rekayasa, bohongan?” tanya sang ibu sambil menatap anaknya.
Anak kecil itu menatap ibunya, terlihat bekas kerutan yang jelas disana sini pada wajah ibunya, terlebih lagi sebuah kerutan memanjang berada di bawah mata yang begitu jalas.
Sekarang ia tahu, mengapa kerutan itu bisa muncul, karena begitu sering ibunya menangis, air mata membuat sebuah kerutan panjang dibawah mata.
Meskipun anak kecil, tapi ia memiliki logika dan nalar yang cukup tinggi. Penyerapan sumber daya tingkat tinggi yang sesuai dengan aturan Kitab Tanpa Tanding, membuat anak kecil ini memiliki kecerdasan dan daya tangkap yang melebihi anak seusianya.
“ Itu adalah kisah nyata, apa kita adalah salah satu dari tokoh yang selalu ibu ceritakan?”
“Iya.” anguk singkat sang ibu.
Setiap hari sebelum tidur sang ibu selalu menceritakan kisah tentang Kaisar Tang, Era Kekacauan dan kemuculan Kitab Tanpa Tanding serta Pusaka Pengausa Dunia.
Dalam ceritanya sang ibu menjelaskan, kekacauan atas munculnya Kitab Tanpa Tanding dan Pusaka penguasa Dunia, keseimbangan Kekaisaran Tang goyah dan seluruh pendekar terpecah belah, tidak lagi dalam satu komado pemerintahan.
Kesibukan dalam memperebutkan Kitab Tanpa Tanding dan Pusaka penguas Dunia membuat pertahanan Kekaisaran Tang jebol dan bangsa Siluman menyerang seluruh wilayah kekasiaran Tang yang berujung pada kematian seluruh orang.
Era Kekacauan sang ibu menyebutnya, kematian penduduk yang tidak berdosa, seluruh Benua Dataran Tengah yang di kuasai bangsa Siluman dan hancurnya kekaisaran.
Hanya dengan mengumpulkan seluruh Kitab tanpa tanding dan Pusaka Penguasa Dunia serta memonopolinya maka Era Kekacuan akan bisa dicegah, pembatas wilayah kekaisaran Tang akan tetap terjaga dengan pemerintahan yang setabil tanpa perpecahan pasukan.
“ Karena itu, jadilah anak yang kuat. Hancurkan seluruh Kitab tanpa tanding dan Pusaka penguasa dunia. Selamatkan dunia dan bantulah ibumu ini untuk bertemu ayahmu,” ucap sang ibu dengan sorot mata sendu memandang anaknya dengan penuh harapan.
Memonopoli sahaja tidak cukup, Permaisuri yang terlampau benci dengan keberadaan Kitab Tanpa Tanding dan Pusaka Penguasa Dunia yang menyebabkan keluarga impiannya hancur telah bertekad, bukan hanya mengumpulkan tetapi juga akan menghancurkannya.
“ Mengapa ayah tidak mengunjungi kita, bukankah dengan kekuatanya bukan hal yang sulit baginya untuk menyelinap keluar dari istana?” tanya anak kecil itu polos.
“ Tidak semudah itu anakku, banyak hal yang harus dipertimbangkan dan kesibukan ayahmu dalam menjaga perbatasan wilayah siluman tidak boleh ditinggalkan.”
“ Berjanjilah pada Ibu, jadilah pendekar yang kuat dan hebat, lampaui ayahmu dan wujudkan impian Ibu untuk mencegah Era Kekacauan yang akan terjadi, agar dapat mengurangi beban berat pada pundak ayahmu,” seru sang ibu mengancungkan jarinya membuat janji dengan anaknya.
“ Hmm, aku berjanji.”
Dengan ini anak kecil ini tahu alasan mengapa ibunya selalu menangis, dan alasan kebencian yang mendalam sang ibu terhadap Kitab Tanpa Tanding dan Pusaka Penguasa Dunia.
Dalam hati anak kecil ini bertekad untuk mewujudkan harapan ibunya, dan mulai sekarang anak kecil ini memiliki sebuah alasan, impian serta ambisi dalam hidupnya.
Cerita dongeng yang selalu ibunya ceritakan memberikan kesadaran akan Era Kekacauan, terlebih keterkaitan cerita dongeng dan kehidupannya itu sebanrnya adalah kisah keluarganya sendiri yang begitu menyedihkan, semakin menambah daftar alasan kuat baginya untuk memenuhi harapan sang ibu.
Sosok figur ayah yang tidak ia dapatkan karena kesibukan sang ayah dalam menjaga wilayah kekaisaran, dan kesedihan seorang ibu akan impian sebuah keluarga harmonis yang hanya menjadi hayalan.
Menyadarkan anak kecil ini untuk mengukir sebuah impian dalam hati, dan membakar relung jiwanya untuk lebih bersemangat berlatih demi mewujudkan impian sang ibu.