Eps. 3.1 Bakat Yang Luar Biasa dan Kehebatan Kitab Silat Tanpa Tanding

1499 Words
Mengikuti setiap langkah dan panduan yang terdapat pada Kitab Silat Tanpa Tanding yang diberikan oleh Kaisar. Permaisuri berhasil memberikan kualitas tulang dan tubuh pendekar yang kuat untuk anaknya. Sekilas anaknya yang baru berusia enam tahunan ini seperti anak yang berusia belasan tahun, dengan fisik yang seperti itu Putra Mahkota sudah sanggup berburu hewan buruan sendiri untuk memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari. Hampir setiap hari Putra Mahkota melihat begitu banyak kematian di Desa Perbatasan, sejumlah pendekar dari kekaisara asing mencoba masuk ke wilayah kekaisaran Tang. Pertempuran bersekala kecil hingga besar tidak jarang terjadi di Desa ini, Putra Mahkota yang menyaksikan tersebut hanya bisa tersenyum pahit. Darah, organ tubuh yang keluar bak pertunjukan yang wajib ia saksikan. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, Putra Mahkota sekarang lebih dewasa. Sekarang ia sudah tidak lugu dan polos lagi. Hanya dengan setengah tahun sahaja ia sudah tidak takut lagi dengan dunia luar dan sudah sanggup untuk berburu hewan. Kenyataan atas kisah dongeng sebelum tidur yang selalu ibunya ceritakan, memberikan kesan yang dalam dan membuatnya berkembang cepat lebih dewasa. Putra Mahkota menjadi pribadi yang cepat belajar dengan berbagi penjelasan dari sang ibu. Ia menjadi sadar akan hukum rimba. Di mana yang kuat akan berkuasa dan yang lemah akan ditindas, kekuatan diperlukan untuk tetap bertahan di dunia persilatan. Menurut penjelasan dari sang ibu kematian para pendekar yang Putra Mahkota saksikan sebab para pendekar itu bermotif buruk yaitu untuk mencuri semberdaya. Jika sahaja para pendekar itu memiliki plakat pengenal kusus dari Kaisarnya masing-masing tentu tidak akan ada pertempuran, bila pendekar tersebut berniat memasuki wilayah kekaisaran ini. Putra Mahkota yang masih muda sangatlah aktif bertanya tentang lingkungan yang ia tempati. Penjelasan sederhana dan padat yang mampu dicerna anak usia dini selalu sang ibu berikan. Kematian para pendekar yang Putra Mahkota saksikan memberikan semangat berlatihnya semakin membara, dengan beberapa cerita tambahan tentang Era Kekacauan oleh bangsa Siluman, dan kedatangan Kitab Silat Tanpa Tanding serta Pusaka Penguasa dunia yang akan merusak keseimbangan Kekaisaran Tang. Membuat anak kecil ini semakin giat berlatih dan aktif saat sang ibu memintanya menyerap beberapa sumber daya tingkat tinggi yang ia miliki. Setiap penjelasan dan apa pun yang diceritakan oleh sang ibu mendapatkan sikap antusias yang begitu tinggi oleh Putra Mahkota, ia menjadi pribadi yang haus akan ilmu dan penasaran akan hal-hal yang baru. ****** Dengan mengikuti marga sang ibu dari keluarga Dou yang bernama Dou Ran. Putra mahkota mendapatkan nama Dou Jin. Dou Jin saat ini sedang duduk bersila, tepat dibelakang punggung Dou Jin ada sang ibu yang duduk bersila pula. Sebenarnya cukup terlambat bagi sang ibu dalam memberikan nama untuk anaknya, lantaran ia sendiri tidak menemukan nama yang cocok. Akhirnya disuatu waktu ia terinspirasi akan nama yang cocok untuk anaknya. Di depan Dou Jin ada sebuah tanaman bercahaya yang melayang-layang tepat sejajar dengan d**a. Tanaman itu nampak bercahaya dengan warna emas berselimut putih yang transparan. Aura keemasan itu perlahan berjalan menuju tubuh Dou Jin, seperti menyatu dengan tubuh. Aura keemasan itu berangsur-angsur terserap kedalam tubuhnya. Proses tersebut berjalan terus sampai tanaman berbentuk Gingseng itu kehilangan aura, layu atau sampai kering tidak berair. Dengan tanda seperti itulah proses penyerapan dikatakan selesai. Dikarenankan Dou Jin belum memilki akar roh yang berguna bagi pendekar untuk menyerap chi dari alam. Terlebih lagi usianya yang masih muda membuat anak kecil berusia enam tahun itu, belum bisa menyerap sendiri kandungan dari sumber daya yang ia miliki. Oleh sebab itulah ibunya duduk bersila tepat dibelakangnya untuk membantu proses penyerapan sumber daya. Keseharian ibu dan anak ini hanya menyerap sumber daya, dalam sehari hampir lebih dari dua belas jam untuk menyerap kandungan dari setiap tanaman herbal itu. Kadang sesekali Dou Jin kecil berburu rusa, atau hewan yang bisa dimakan. Selama proses berburu sang ibu akan memulihkan tenaga dalamnya dengan menyerap Chi dari alam, lantaran hampir setengah hari penuh ia mengelurakan banyak tenaga dalam untuk membantu anaknya menyerap sumber daya, membuat sang ibu kehabisan simpanan tenaga dalam. Setiap beberapa tahun juga mereka akan pindah tempat ke Desa Perbatasan yang lain. Bukan hanya khawatir akan keberadaanya yang akan terendus oleh pihak musuh, ibu satu anak ini takut orang-orang sekitar akan curiga dengan kondisi anaknya yang tidak biasa seperti anak normal lainnya. Hal tersebut terjadi sampai beberapa tahun kedepan. Sepuluh tahun kemudian. Dou Jin sudah tumbuh besar menjadi anak yang tampan, dengan wajah yang putih bersih, mata setengah bulat namun memiliki sorot yang tajam, serta kombinasi hidung yang mancung dan rambut lurus. Menampakan sosok pria dewasa yang sekilas terlihat berwajah agak cantik, tetapi sangat tampan. Pria yang terlihat berpawakan seperti berusia dua puluhan tahun ini sebenarnya masih berusia tujuh belas tahun. Pria ini nampak sedang melakukan pelatihan fisik. Setelah bosan seharian menaiki dan menuruni gunung, Dou Jin memilih kembali melakukan pelatihan teknik bertarung tangan kosong yang diajarkan Ibunya. Gerakan yang cepat dengan kombinasi pukulan dan tendangan yang sangat halus bak gerakan menari, yang luwes dimainkan para penari. Dou Jin saat ini tengah mempraktikkan beberapa gerakan yang Ibunya ajarkan. Walupun terlihat halus gerakan Dou Jin terlihat sangat sulit dibaca, kombinasi pukulan dan tendangan itu benar-benar tidak menunjukan celah sedikitpun. Wussss Drappp Wusss Diam-diam sang ibu mengawsi anaknya di atas sebuah pohon besar yang tidak jauh dari tempatnya Dou Jin berada. Permaisuri nampak kagum dengan gerakan jurus yang anaknya peragakan, walaupun masih belum menggunakan tenaga dalam, tetapi ia yakin dengan kemampuan fisik anaknya untuk mengimbangi salah satu pendekar tingkat tinggi awal tidak akan mustahil. Sumber daya kusus untuk perkembangan pendekar, sebentar lagi akan habis. Tidak heran jika setruktur tulang, kualitas tulang, darah dan sunsum anak ini akan sangat berbeda dengan anak biasa pada umumnya. Terlebih lagi dengan panduan Kitab tanpa tanding yang menjadi pedoman pelatihan. Perkembangan Dou Jin ini bisa dibilang bakat yang mengerikan, bila sahaja orang itu tidak tahu akan keberadan Kitab tanpa tanding dan jumlah sumber daya yang telah ia konsumsi. Duarrrrr Boommm Batu sedang dan sebuah batu besar yang menjadi samsak langsung hancur berkeping-keping. Kekuatan tulang dan jenis tulang telah mencapai puncak tertinggi dari semua tahapan yang harus ditempuh oleh seorang pendekar. Kerasanya sebuah batu terasa empuk dipukulannya Dou Jin, kepalan tangan itu juga tidak tergores barang sedikit pun. Hal Itu menunjukan betapa keras dan tingginya kualitas tulang yang Dou Jin miliki. Dalam waktu yang sebentar itu sebenarnya Dou Jin talah mempraktikkan lebih dari seratus jurus, tetapi karena gerakan yang sangat cepat itu membuat seratus jurus terselesaikan kurang dari sepuluh menit. Beberapa gerakan yang meleset mengenai batu dengan mudahnya meremukkan batu besar yang berada di dekat Dou Jin. Sang ibu yang mengawasi dari kejauhan tidak bisa berhenti untuk berdecak kagum. Baru lima persen sahaja dari kitab tanpa tanding yang ia ajarkan kepada anaknya, namun kemampuan Dou Jin sudah hampir menyamai pendekar tingkat tinggi awal atau bahkan lebih. Sungguh suatu ekspektasi yang di luar dugaan, saat bisa melihat perkembangan anaknya sendiri dengan dekat, hanya satu rasa kesal yang masih ada dalam hati Permaisuri. Suami tercintanya tidak bisa melihat tumbuh kembang buah hatinya, dan bila mengingat hal itu entah mengapa sudut hati Permaisuri terasa sakit. Kebiasaan berpindah tempat setiap tahun nyatanya semakin membuka mata Dou Jin akan hakikat hukum rimba dalam dunia pendekar, penjelasan sang ibu atas pertempuran hidup dan mati yang kerap terjadi di Desa Perbatasan membuat lelaki ini semakin giat berlatih. Disamping janjinya dengan sang ibu yang mengharapkannya menduduki puncak dunia persilatan, mengumpulkan Kitab tanpa tanding dan Pusaka penguasa dunia untuk dihancurkan, semakin menambah alasan yang kuat baginya untuk berjuang melatih diri agar bisa menjadi pendekar terkuat. Sang ibu masih menatap berbagai jurus yang anaknya peragakan, matanya berkaca-kaca. Kagum, senang dan sedih ia rasakan bersamaan, dalam hati ia menyesali dan di depan matanya ia merasa bersyukur serta bangga. Ia menyesal karena dulu membiarkan suaminya menjadi seorang Kaisar dan ia bersyukur karena melihat anaknya memilki bakat yang luar biasa. Perasaannya sangat bangga ketika melihat anaknya giat berlatih setiap hari. Setelah selesai berlatih Dou Jin kembali ke rumah, dengan membawa hewan buruan yang telah ia dapatkan. Melihat hal itu sang ibu melesat terbang dengan cepat pulang ke rumah. Rusa bakar dan ikan bakar menjadi makan malam ibu dan anak ini. Baru selesai makan Dou Jin meminta ibunya untuk menyerap lagi beberapa sumber daya. Sikap Dou Jin disambut baik oleh ibunya, ia merasa berhasil menanamkan ambisinya kepada anaknya. Walaupun alasan terbesar Dou Jin giat berlatih adalah untuk menyenangkan hati ibunya. Meskipun semangat giat berlatih selalu membuat sang ibu senang, namun Dou Jin selalu mendapati sang ibu menangis. Dou Jin sudah bertanya alasannya, namun sang ibu hanya menjawab kebohongan atas jawaban yang ia berikan. Permaisuri hanya meminta Dou Jin untuk menjadi pendekar yang kuat melebihi Kaisar saat ini untuk bisa memenuhi keinginannya dan menghilangkan kesedihan yang ia rasakan. Atas alasan itulah, Dou Jin paham kesedihan ibunya ini sebab keberadaan Kitab silat tanpa tanding dan Pusaka penguasa Dunia. Entah mengapa saat melihat ibunya menangis, kebencian ibunya mulai melekat padanya. Ia bertekad dalam hatinya untuk mewujudkan impian ibunya, lebih dari sekedar mewujudkan harapan sang ibu. Tepatnya demi dirinya sendiri, ia akan berjuang berlatih dan menjadi pendekar terkuat melebihi Kaisar Tang saat ini. Tidak akan ada waktu bersantai-santai disetiap harinya. Beberapa hari berlalu dan apa yang seharusnya Dou Jin lihat, ia melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD