Terhitung mulai hari ini, sumber daya yang Permaisuri miliki telah habis terserap oleh Dou Jin.
Mengingat porsi penyerapan sumber daya yang hampir memakan waktu lebih dari setengah hari, sudah pasti puluhan ribu sumber daya akan habis dalam beberapa tahun.
Dou Jin merasa tubuhnya lebih bertenaga, setiap jurus yang ia peragakan akan memberikan hembusan angin keluar di setiap gerakan.
Hembusan angin itu menandakan kecepatan dan tenaga yang besar disetiap jurusnya, walaupun Dou Jin belum memilki lingkaran tenaga dalam, tetapi setiap jurus yang ia keluarkan seperti dialiri tenaga dalam.
Proses penyerapan sumber daya yang telah selesai tentu membuat Dou Jin memiliki waktu longgar yang lebih dari sebelumnya, waktu kosong tersebut ia isi dengan meminta ibunya untuk mengajari berbagai jurus bertarung.
Sang ibu tidak keberatan, justru ia merasa senang. Anaknya dengan antusiasnya sendiri mau meminta porsi latihan tambahan.
Setiap hari Dou Jin akan belajar lebih dari sepuluh jurus. Dengan mendapatkan contoh gerakan dari sang ibu, tidak sulit baginya untuk mengingat dan mengulangi setiap jurus yang ibunya peragakan.
Berbagai sumber daya tingkat tinggi yang Dou Jin serap ternyata memberikan efek kecerdasan yang melebihi manusia normal pada umumnya, Dou Jin dengan mudahnya menghafal setiap gerakan dalam sekali lihat.
Permaisuri merasa sangat bangga, anaknya dengan mudahnya memahami berbagai jurus yang ia ajarkan. Hal itu tentu membuat dirinya berdecak kagum. Mengingat kecerdasan anaknya yang luar biasa.
Sehari, dua hari, tiga hari dan sampai beberapa hari berlalu. Dou Jin terus menerus belajar jurus yang ibunya ajarkan, Dou Jin sendiri tidak tahu bila semua jurus yang ia pelajari adalah berbagai jurus yang terdapat dalam Kitab Silat Tanpa Tanding.
Terus-menerus berlatih jurus membuat Dou Jin merasa jenuh, walaupun hatinya merasa masih ingin terus berlatih, tetapi pikiran Dou Jin berkata lain. Beberapa jurus terlihat kaku dan salah.
Menyaksikan hal itu sang ibu meminta Dou Jin untuk mengambil istirahat. Rata-rata manusia normal sahaja membutuhkan waktu satu minggu penuh atau lebih untuk memahami dan memperagakan dengan benar sepuluh jurus dalam satu kitab silat.
Dan Dou Jin sendiri sudah melebihi manusia normal pada umumnya, ia dengan mudahnya menghafal, memahami dan memperaktikkan dua puluh jurus dalam waktu satu hari.
Sekarang dalam waktu sepuluh hari Dou Jin telah bisa memperagakan 200 jurus, dan total ia sudah mempelajari 300an jurus dari total 5000 jurus dalam Kitab Silat Tanpa Tanding.
Merasakan fokus anaknya telah berkurang, sang ibu meminta Dou Jin untuk beristirahat sebentar. Menyaksikan pegunungan atau berjalan-jalan yang bisa menyegarkan otak.
Dou Jin membantah permintaan ibunya, sempat terjadi adu mulut sebentar dan akhirnya ia memilih untuk mengalah.
Dou Jin sebenarnya masih bisa melakukan latihan lagi, namun perintah sang ibu yang benar-benar kekeh memaksa Dou Jin untuk menyerah.
Sebelum pergi, Dou Jin mendapat instruksi dari sang ibu untuk menghindari pertarungan pendekar tingkat tinggi, jangan menyaksikan pertarungan tersebut dan cepat menjauh dari lokasi pertarungan.
Pesan sang ibu mendapatkan anggukan singkat dari Dou Jin, ia kemudian melesat pergi menuju puncak gunung berharap mendapatkan kesejukan ataupun pemandangan asri yang bisa menyegarkan pikiran.
Dengan kecepatan lari yang diatas rata-rata, terlebih lagi Dou Jin sudah hafal dengan medan yang menjadi objek latihan fisiknya, membuatnya sampai di puncak gunung dengan cepat.
Di atas puncak gunung tersebut Dou Jin menyaksikan dua wilayah kekaisaran yang bebeda, di wilayah timur adalah kekaisaran Han dan di wilayah barat adalah kekaisaran Tang.
Dou Jin sendiri berada di wilayah perbatasan kekaisaran Tang, dengan pembatas gunung yang membatasi dua wilayah kekaisaran tersebut. Pandangan Dou Jin menyapu kedua wilayah yang berbeda.
Wilayah kekaisaran Tang terlihat lebih ramai dibandingkan kekaisaran Han di dekat perbatasan. Itu bisa dibedakan dari beberapa bangunan yang terlihat, bangunan padat penduduk nampak lebih mendominasi kekaisaran Tang dibandingkan kekaisaran Han.
Hembusan angin pengunungan yang menerpa wajah Dou Jin begitu menyegarkan, sesekali ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Perlahan-lahan pikirannya terasa segar dan tidak panas.
Pikiran yang telah kosong memberikan kesejukan tersendiri bagi jiwanya, pikirannya terasa lebih segar dengan tidak adanya berbagai ingatan tentang berbagai jurus yang ia pelajari dan peragakan.
Dalam keheningan Dou Jin memejamkan mata, suara sayup-sayup pertarungan ia dengar, rasa penasaran menyelimuti hatinya. Berniat memenuhi rasa penasarannya, Dou Jin menuju sumber suara.
Pesan ibunya untuk menghindari pertarungan pendekar tingkat tinggi, bukan untuk melihat pertarungan pendekar. Bermodalkan alasan itu Dou Jin berniat menyaksikan jalannya pertempuran.
********
Sekelompok pendekar berpakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajah masih bertarung dengan beberapa orang berpakaian mewah dengan symbol kusus di baju, sama seperti sekelompok pendekar berpakaian hitam. Pendekar bepakaian mewah itu juga memakai masker untuk menutupi wajahnya.
Dengan bersembuyi di balik semak belukar, Dou Jin menyaksikan jalannya pertempuran. Karena belum memiliki tenaga dalam dan aura petarung. Dou Jin percaya diri, tidak kawatir akan keberadaannya yang bisa diketahui oleh para pendekar.
Bommmm
Duarrrrrr
Tringggg
Tringg
Pertempuran sengit terjadi, adu pedang dengan pedang dan tangan kosong dengan tangan kosong tampak menghancurkan beberapa pohon disekelilingnya.
Pendekar berbaju serba hitam nampak mendominasi jalannya pertempuran, mereka menang dalam jumlah. Di sisi sebaliknya, pendekar berbaju mewah terlihat kewalahan menyambut serangan kroyokan dua lawan satu dari pihak lawan.
Permainan pedang yang terlihat mengalir seperti air beradu dengan pemainan pedang yang cepat lagi tegas, permainan pedang itu berbenturan dengan imbang. Andai sahaja pendekar itu tidak kalah jumlah sudah pasti permainan pedang yang mengalir seperti air akan memimpin jalannya pertempuran.
Di sisi yang lain, adu pukulan tangan kosong terlihat jauh lebih menarik perhatian Dou Jin. Mengingat Dou Jin mendalami ilmu silat tangan kosong.
Tenaga dalam yang beradu menyebabkan beberapa pohon bergetar terkena imbas angin tenaga dalam, terlebih lagi pukulan yang menyasar bisa meruntuhkan sebuah pohon besar. Semakin menarik perhatian Dou Jin untuk menyaksikan jalannya pertarungan tangan kosong.
Meskipun memandang jalannya pertempuran dengan penuh antusias, Dou Jin tetap merasakan dingin punggungnya dan negri secara bersamaan.
Kepala yang terlepas dari tubuh yang memunculkan begitu banyak darah yang mecuat keluar menambah ngeri pengalaman melihat pertarungan antar pendekar.
Belum lagi pertempuran adu tangan kosong yang banyak menggunakan tenaga dalam, sekali sahaja pukulan telak mendarat padah tubuh lawan. Beberapa bagian tubuh akan hancur seketika.
Pemandangan yang begitu mengerikan tentunya, kepala yang hancur dan organ tubuh yang keluar dari tempatnya, ditambah lagi dengan darah merah yang memenuhi lokasi pertempuran. Dou Jin bisa menyimpulkan ini adalah pertarungan pendekar tingkat tinggi.
Beberapa tahun yang lalu memang Dou Jin belum seantusias ini dalam menyaksikan pertarungan antar pendekar. Setelah mendalami berbagai jurus beladiri, ia semakin haus dan penasaran akan cara bertarung setiap pendekar yang berbeda-beda.
Merasa pertempuran didepannya begitu menarik perhatian, Dou Jin memilih mengindahkan pesan ibunya untuk menjauhi pertarungan pendekar tingkat tinggi.
Pertarungan terus berlangsung, beberapa kali Dou Jin melebarkan matanya terkejut dan terkesan secara bersamaan.
Beberapa waktu berlalu sampai pertarungan sudah menunjukan siapa pemenangnya, dengan kematian pendekar berbaju mewah yang medominasi, pendekar yang tersisa memilih melarikan diri dari pertarungan.
“ Cepat kejar dia. Jangan biarkan dia lolos!!”
Setelah berteriak demikian, seluruh pendekar berbaju hitam yang sedang bertarung bergegas menyelesaikan pertarungannya masing-masing untuk bisa mengejar lawan yang mencoba untuk melarikan diri.
Pendekar berbaju mewah sebenarnya cukup cerdik, dengan alur pertarungan yang sudah semakin jelas. Mereka melakukan siasat dimana membuat celah untuk kabur salah satu kawanan dari mereka.
Melihat kejadian tersebut para pendekar berbaju hitam semakin gusar, dengan cepat mereka mengakhiri pertempuran masing-masing untuk dapat segera mengejar musuh mereka.
Pendekar berbaju hitam seperti tidak rela bila ada sesorang pun yang selamat dari tempat ini. Sepertinya ada suatu sebab dari tempat ini yang tidak boleh bocor ke pihak lawan.
Pertarungan akhirnya diselesaikan dengan cepat, tetapi kecil kemungkinan bagi pendekar berbaju hitam untuk dapat mengejar pendekar berbaju mewah yang sudah berlari jauh dari lokasi.
“ Cepat cari orang itu, jangan biarkan dia hidup. Atau rahasia kita akan terbongkar!”
Dengan seruan tersebut, seluruh pendekar berlari dengan kemampuan terbaiknya masing-masing untuk mengejar pendekar berbaju mewah yang berhasil meloloskan diri.
Bersamaan dengan kepergian semua pendekar, Dou Jin menghembuskan nafas pelan. Merasa lega dengan selesainya pertarungan dua kubu yang berbeda.
Dalam benak Dou Jin, ia bertanya-tanya, “ Rahasia terbongkar? Memang itu rahasia apa.”
Sementara Dou Jin masih penasaran akan rahasia apa yang terbongkar, sang ibu sibuk mencarinya dan sempat melihat sekelompok pendekar berbaju hitam sedang mengejar pendekar berbaju mewah.
“ Sial, sepertinya rahasiaku sudah terbongkar. Kemana pula Jin’er, semoga ia tidak kenapa-kenapa,” seru sang ibu kesal bercampur khawatir.
“ Pertempuran sebentar lagi terjadi, keberadaanku sepertinya sudah terendus oleh mereka,” batin sang ibu yang bisa menebak, salah satu kelompok dari pendekar itu berada dipihaknya.
Mengingat beberapa tahun yang lalu ia hidup dengan aman, Permaisuri curiga masih ada para pengawal dari Kaisar yang mengawasinya. Dan dengan para pendekar yang saling kejar ini, ia bisa menebak kemungkinan salah satu diantara kelompok itu berada dipihaknya.