Dou Jin yang baru selesai menyaksikan pertarungan pendekar tingkat tinggi langsung bergegas pulang, merasa ada sesuatu yang aneh dengan pertarungan yang kali ini ia saksikan.
Berbeda dengan pertarungan pendekar yang kerap ia saksikan sebelumnya, entah mengapa Dou Jin merasa pertarungan kali ini memberikan kesan tertentu untuknya.
Begitu Dou Jin sampai di rumah, sang ibu sudah menunggu tepat di depan pintu. Wajah rumit sang ibu tunjukan dan dari rona wajahnya, Dou Jin bisa menebak ibunya mengetahui dirinya melanggar perintah.
Dou Jin menghela nafas pelan dan mempersiapkan mental untuk mendengar ceramah panjang dengan nada tinggi.
“ Jin’er cepat masuk, ada sesuatu hal yang perlu Ibu sampaikan.” ucap sang ibu dengan nada tegas.
Permaisuri duduk berhadapan dengan anaknya, terlihat beberapa kali ia menghela nafas pelan. Matanya terlihat sendu dengan sorot mata yang sedikit berair.
Merasa mendapatkan tatapan seperti itu Dou Jin merasa tersentuh hatinya, ia seperti bisa merasakan kesedihan yang ibunya rasakan.
“ Dou Jin, sepertinya rahasia kita sudah terbongkar..... ” seru sang ibu sembari menyodorkan Sepecial Ring kepada Dou Jin dan menjelaskan perkataanya.
Mendengar perkataan sang ibu Dou Jin mengerutkan keningnya, "Rahasia terbongkar, apa jangan-jangan keberadaanku dan ibu berkaitan dengan pertarungan barusan," batin Dou Jin bertanya-tanya.
“ Sebentar Ibu, apa maksudnya ini. Apa yang Ibu maksud dengan rahasia terbongkar dan Kitab tanpa tanding di cincin ini?” tanya Dou Jin yang masih belum bisa mencerna situasi.
Mulut sang ibu bergetar, nampak sesuatu yang berat mencoba ia ucapkan. Menyaksikan hal itu Dou Jin semakin penasaran dan mungkin sahaja pertarungan pendekar tingkat tinggi yang baru ia saksikan memang benar berkaitan dengannya. Dou Jin mencoba memastikan.
“ Sebenarnya...” sang ibu menjelaskan dengan jujur keberadaan para pendekar yang selalu mengawasinya secara sembunyi-sembunyi, dan Kitab silat tanpa tanding yang ia ajarkan kepadanya.
Sang ibu menjelaskan kemungkinan dari salah satu pendekar yang saling kejar itu berada di bawah komado kaisar untuk menjaganya.
Dan boleh jadi para pembelot sudah mengetahui keberadaan Kitab tanpa tanding yang berada di tangannya, yang membuat pertarungan tersebut terjadi.
Penjelasan sang ibu membuat Dou Jin mengepalkan tanggannya keras, sorot matanya sekarang menjadi lebih tajam, pertarungan pendekar tingkat tinggi itu ternyata memang benar berkaitan dengannya.
Perasaan terkejut pula tidak bisa Dou Jin sembunyikan, ia sempat membuka mulutnya lebar, terperangah.
Dou Jin benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya ternyata telah lama mempelajari sesuatu yang telah mendatangkan kebencian untuknya berserta ibunya.
Dengan ini Dou Jin yakin pertarungan pendekar tingkat tinggi yang baru sahaja ia saksikan juga disaksikan pula oleh ibunya.
“ Tadi aku juga melihat pertempuran pendekar tingkat tinggi dan salah satu kelompok dari mereka mengatakan ‘ rahasia kita akan terbongkar ’, sepertinya benar apa yang dikatakan Ibu.”
Setelah mendapatkan penjelasan dari sang ibu Dou Jin bisa menarik sebuah kesimpulan akan pertarungan antara pendekar yang ia saksikan siang hari tadi.
“ Dou Jin !!!!” teriak sang ibu marah. Tatapan sendu berganti dengan sorot mata kesal dan marah, pesan yang ia sampaikan diabaikan oleh anaknya sendiri, membuat gusar hatinya.
Namun sebelum sang ibu ingin memarahi Dou Jin, beberapa pria berpakaian serba hitam menekukkan sebelah kakinya di depan gubuk sederhana dan memberi hormat.
“ Salam kepada Permaisuri dan Putra Mahkota.”
Ibu dan anak ini saling berpandangan untuk sesaat kemudian bergegas keluar menuju halaman depan.
Pemandangan yang sangat mengejutkan tentunya. Ada puluhan pendekar tingkat tinggi sedang memberi hormat di depan gubuk sederhana.
“ Kalian. Cepat berdiri, cepat jelaskan apa sahaja yang telah terjadi,” ucap Permaisuri tegas.
Salah satu dari mereka bangkit dan berdiri kemudian menjelaskan. “Kami…” sesuai dugaan Permaisuri dan Putra Mahkota ternyata sekelompok pendekar tingkat tinggi ini adalah utusan dari Kaisar untuk menjaga mereka berdua pihak musuh.
Salah satu pendekar menjelaskan, bisa dibilang ketua kelompok dari pasukan ini. Dalam penjelasanya ia juga menyampaikan bahwa keberadaan mereka sudah diketahui pihak musuh.
Pertarungan pada waktu siang hari yang mereka lakukan adalah salah satu bukti sesungguhnya musuh sudah berhasil mengendus keberadaan mereka.
Kenyatan Permaisuri mengenal para pemimpin yang sedang memberi hormat dan berbicara, membuatnya semakin percaya bahwa sepasukan ini memang benar dikirim langsung oleh Kaisar.
Mendengar penjelasan itu, ibu dan anak ini sama sekali tidak terkejut. Keduanya nampak menghela nafas bersamaan. Dengan ini semakin sempit pergerakan mereka dan mungkin sahaja akan ada pertarungan sengit lagi kedepannya.
“ Kami sudah membagi menjadi dua kelompok, salah satu kelompok sudah mengejar pihak musuh yang kabur. Kita masih memilki waktu untuk melarikan diri dan mencari lokasi persembunyian yang lebih aman.” tambah pimpinan pasukan.
“ Kalian bagi kelompok ini menjadi dua lagi. Satu kelompok tinggal disini berjaga, satu lagi menyisir tempat sekitar serta mencari tempat yang aman untuk mengungsi dan memastikan keadaan.” Permaisuri memberikan instruksi.
“ Laksanakan,” ucap sepasukan itu serempak.
Sekelebat bayangan pergi dengan cepat melakukan tugasnya masing-masing. Sekarang tinggal tersisa sang ibu yang menatap tajam anaknya.
“ Dou Jin cepat masuk, Ibu akan meneruskan pembicaraan kita yang tertunda.”
Mendengar perkataan sang ibu, Dou Jin hanya bisa menelan ludahnya, berharap tidak mendapatkan omelan karena telah melanggar larang ibunya.
Tidak seperti yang Dou Jin pikirkan ternyata bukan sebuah omelan yang ia terima dari sang ibu. Dou Jin mendapatkan beberapa nasehat dan pesan untuk kedepannya.
Dalam pesannya sang ibu mengatakan bahwa untuk kedepannya mungkin akan sering terjadi pertarungan dalam sekala yang besar, oleh sebab itu untuk pelatihan selanjutnya ia diminta untuk belajar sendiri memahami dan mempraktikan setiap jurus dalam Kilat Silat Tanpa Tanding.
Untuk penggunaan tenaga dalam akan mendapatkan bimbingan kusus olehnya, dan penyerapan Chi dari alam juga akan mendapatkan bimbingan kusus tidak boleh asal belajar sendiri.
Pembelajaran Dou Jin hanya diizinkan sebatas memperaktikan setiap jurus dan masalah tenaga dalam harus ada guru pembimbing. Bila tidak, maka akan timbul kesalahan pemahaman dalam prosesnya yang akan menyebabkan rusaknya meridian dan akar roh.
Selesai mendengarkan pesan, Permaisuri memberikan sebuah buku kecil yang setiap lembarannya terbuat dari kulit hewan.
Dalam buku tersebut bertuliskan judul ‘ Nasehat untuk Pendekar ’, Dou Jin mengerutkan dahinya setelah mendapatkan buku tersebut, namun sebelum Dou Jin ingin bertanya, sang ibu dengan cepat menjelaskan.
Buku yang Dou Jin pegang adalah salah satu karya sastra yang diciptakan oleh leluhur keluarga Dou. Pencipta karya itu adalah leluhur ketua sekte yang memiliki kemampuan tinggi dan telah lama menjalani asam manis garam dunia pendekar.
Permaisuri meminta Dou Jin mempelajari buku tersebut sebagai pengganti pembelajaran adab dan kesopanan yang tidak pernah ia jelaskan selama beberapa tahun terakhir.
Dalam kitab tersebut juga terdapat banyak cerita dan pengalaman kehidupan yang bisa dijadikan sebuh pedoman untuk pembelajaran kedepan. Sebuah buku yang berisi petuah, nasihat, puisi dan cerita perjalanan penulis buku.
Setelah menyimak dengan saksama penjelasan dari sang ibu. Dou Jin merasa tertarik untuk membaca buku yang diberikan ibunya, terlebih lagi sekarang ia diberikan kebebasan untuk membaca sendiri Kitab tanpa tanding yang menjadi perebutan para pendekar.
Rasa antusias dan semangat menenuhi relung jiwa Dou Jin, rasa hatinya sudah tidak sabar untuk belajar kitab tanpa tanding yang menjadi ambisi sang ibu untuk dihancurkan. Akan seperti apa isi dari kitab silat tanpa tanding itu. Dou Jin hanya beradai-andai sesuatu yang sangat menakjubkan.
Di saat Dou Jin sedang mengandai-andai akan kehebatan kitab tanpa tanding. Sang ibu mengejutkannya dengan nada keras.
“ Dou Jin !!! setelah ini kau harus latih tanding dengan salah satu pengawal, itu hukuman untukmu.”
Setelah menyelesaikan obrolan panjang, ibu dan anak ini bergegas pergi mengungsi ke tempat yang lebih jauh.