Dari jaraknya sekarang Penasehat kerajaan melihat dengan jelas sebuah ledakan bunga api, ledakan tersebut menandakan permintaan bantuan, dalam pikirannya ia sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Tingkatan pendekar yang jauh berbeda membuatnya yakin bahwa seluruh pasukannya telah habis terbantai oleh Permaisuri.
Suar yang menyala itu sudah cukup menjadi bukti, ledakan kembang api yang khas yang hanya bisa dimiliki para ketua pasukan, semakin meyakinkan pria sepuh ini akan kegagalan ketua pasukan dalam menjalankan misi.
“ Sialll, jika seperti ini terus maka sudah tidak ada lagi harapan.” umpat sang Penasehat sambil melesat terbang dengan kecepatan penuhnya.
Mengingat jarak yang begitu jauh dan medan yang penuh dengan pepohonan yang lebat membuat pria sepuh ini selalu mengumpat dalam batinya sepanjang jalan.
*******
Dou Jin terus berlari secepat yang ia bisa, dalam pikirannya hanya berisi hidup dan bertahan hidup demi pesan dan pengorbanan sang ibu.
Sebenarnya Dou Jin sudah tidak sanggup lagi berlari, alas kaki yang sudah jebol dan celananya yang sudah robek karena terus-menerus menerjang semak belukar, menampakkan keadaan paha sampai betis yang penuh luka.
Jika sahaja dalam pikiannya tidak berisi pesan ibunya tentu setengah jam yang lalu Dou Jin sudah ambruk karena setaminanya sudah terkuras habis.
Bersama dengan keyakinannya untuk bertahan hidup demi sang ibu, Dou Jin memaksakan seluruh tubuhnya untuk terus berlari menjauh dari lokasi pertarungan.
Dou Jin tidak bodoh, ia tahu bahwa suar yang baru sahaja menyala sebentar lagi akan mendatangkan puluhan bahkan ratusan pendekar tingkat tinggi untuk mengambil Kitab tanpa tanding yang saat ini ia pegang.
Mengingat pesan sang ibu untuk menjaga Kitab silat tanpa tanding agar tidak jatuh ketangan musuh, semakin menambah keyakinan Dou Jin untuk terus berlari dan menjauh sejauh mungkin agar keberadaanya tidak terlacak oleh musuh.
********
Tiga jam berlalu dan Penasehat kerajaan berserta pasukannya telah sampai di tempat kelima ketua pasukan, tanpa basi-basi Penasehat kerjaaan langsung menanyakan situasi dan kondisi terkini.
Tubuh kelima ketua pasukan itu terlihat penuh luka, hampir seluruh baju yang mereka kenakan telah hangus terbakar, sebagian kulit mereka gosong dan darah segar nampak membasai mulut serta baju setiap ketua pasukan.
Permaisuri yang meledakkan tubuh, memberikan luka dalam mau pun luar yang serius kepada para pendekar ini.
Walaupun terlihat sekarat dengan luka dalam yang parah, tetapi kelima ketua pasukan ini masih sanggup bertahan hidup karena tidak menerima serangan fatal pada titik vital di tubuhnya.
Karena kondisi mereka yang masih sanggup untuk bercerita, Penasehat kerajaan sekaligus pemimpin mereka mendengarkan cerita salah satu ketua kelompok pengawal itu.
“ Pemimpin. Rencana kita ………….”
Salah satu pemimpin menjelaskan dengan detail dari awal sampai akhir apa sahaja yang ia ketahui.
Sebenarnya Penasehat kerajaan ini sudah tahu dari awal lewat batu peramal yang memberikan tampilan pertarungan Pendekar Giok melawan puluhan pengawalanya sendiri.
Namun untuk memastikan kondisi terkini dan kejadian nyata yang sebenarnya, pria sepuh ini memilih untuk bertanya ulang.
“ Bagi kelompok menjadi lima orang, sisir seluruh tempat menuju Desa perbatasan. Berhati-hati dengan pasukan kekaisaran. Mengerti!!!”
" Laksanakan perintah Pimpinan!!"
Seluruh pasukan yang berjumlah dua ratusan orang itu sekarang terbagi menjadi puluhan kelompok kecil dengan beranggotakan lima pendekar di setiap kelompok, mereka berpencar dengan kecepatan penuhnya untuk mencari Pangeran Mahkota.
Dengan kecepatan Pendekar Suci tidak sulit bagi kelompok ini untuk mengejar putra Mahkota, setengah jam kemudian salah satu kelompok berhasil menemukannya. Para anggota ini langsung melancarkan serangan menyelinap dari belakang.
Duaaarrrr
Aaarrrgghh
Dou Jin terpental jauh menabrak pohon yang tidak jauh berada didekatnya, meskipun serangan itu tidak memberikan luka fatal yang berat, akan tetapi serangan itu cukup untuk memperlemah Dou jin.
Mendapatkan serangn tersebut Dou Jin terus sahaja berlari sambil memutar otaknya mencari celah untuk kabur dan menyelamatkan diri.
Dou Jin meraptkan giginya, ia terus menahan sakit yang mulai terasa di sekujur tubuh, tidak peduli terhadap serangan musuhnya, ia terus sahaja berlari gontai tidak mempedulikan apa pun yang berada dibelakangnya.
Duarrrr
Arrrrghhhh
Kembali lagi serangan jarak jauh melesat menabrak tubuh Dou Jin, luka tebasan yang memanjang di pungungnya mengalirkan darah segar yang terus sahaja menetes.
Dou Jin yang mendapatkan serang tersebut tetap berlari dengan langkah yang semakin pelan. Air mata membasahi wajahnya, luka yang ia terima sangat menyakitkan.
Seluruh meridiannya berdenyut kencang, membawa rasa sakit dan perih ke seluruh tubuh. Nafasnya pula semakin menipis, sebab darahnya begitu banyak hilang.
Kakinya sebenarnya sudah terasa sangat berat untuk ia gerakan, namun karena ia tidak ingin membuat pengorbanan ibunya sia-sia, ia terus memaksa tubuhnya yang penuh luka untuk terus bergerak.
Nafasnya pun sangat terengah-engah, d**a yang terasa sesak karena terus-menerus berlari tanpa berhenti. Dan berbagai luka di sekujur tubuh tidak berhenti detik pun membawa rasa sakit.
" Sialan.. Aku tidak boleh mati. Aku tidak boleh mati. Aku tidak boleh mati. " ucap Dou Jin dalam hati.
Dari kejauan kelima pasukan itu semakin dekat dan tinggal beberapa meter sahaja dari jarak Dou Jin, merasa target sudah tertangkap kelima pasukan ini berniat bermain-main sebentar dengan Dou Jin.
Dengan memberikan siksaan menyakitkan, kelima pasukan ini berniat membunuh Putra Mahkota mereka secara perlahan.
Kebencian mereka terhadap Kisar Tang sudah menggelapkan hati mereka, walaupun Dou Jin tidak berbuat kesalahan apa pun kepada mereka, tetapi kebencian mereka terhadap orang tua Dou Jin membuat sepasukan ini ingin menyiksanya.
Di sisi yang lain, Dou Jin sama sekali tidak bergeming mendapatkan serangan jarak jauh yang terus menghujamnya, ia memilih terus berlari dan berlari meskipun beberapa kali ia akan terkena serangan jarak jauh yang menghujamnya.
Duaaarrr
Aarrghh
Lukanya semakin parah dan keadaanya semakin kritis, ia sudah hampir kehilangan seluruh darahnya, jika sahaja Dou Jin tidak dibekali sumber daya tingkat tinggi sebagai pondasinya, tentu pada serangan pertama para pendekar itu Dou Jin sudah jatuh tidak sadarkan diri.
Dari kejauh mata Dou Jin seperti tercerahkan, ia melihat sebuah tebing yang sangat curam dan dasar tebing yang tidak terlihat, menampakkan gelapnya dasar tebing seperti gelapnya malam.
Tebing itu sangat curam dan dalam perjalanan sebelumnya ia juga pernah sekilas menyaksikannya, betapa curamnya tebing itu sampai pendekar tingkat tinggi sekali pun tidak sanggup untuk melihat dasarnya.
Duarrr
Aarrrhhh
Dari arah belakang, serangan kembali menghujam tubuhnya dan kali ini Dou Jin membiarkan tubuhnya terhempas jatuh ke dalama jurang
Memilih opsi bunuh diri lebih baik dibandingkan kitab yang dipejuangkan oleh ibunya jatuh ketangan musuh.
Atas dasar pengorbanan ibunya tidak ingin Dou Jin sia-siakan, ia menjatuhkan dirinya ke dalam jurang.
Wussssss
“ Tidaakkk!!!”
“ Dasar bodoh mengapa kau menyerang dia lagi, lihatlah sekarang dia terjatuh ke dalam jurang tanpa dasar.”
“ Maaf aku kelewatan, aku pikir dia akan membalikkan tubuhnya sehingga tidak jatuh ke dalam jurang tersebut.”
“ Arrrhhh, sekarang bagaimana, apa kau mau bertanggungjawab untuk turun ke tebing dan mencari Putra Mahkota.”
“ Iya, kau harus bertanggungjawab untuk mencarinya, serangan terakhir yang kau lakukan membuat Putra Mahkota jatuh ke tebing.”
Kelima pasukan menyalahkan teman mereka yang melakukan serangan terakhir, jika tadi dia tidak melakukan serangan dan langsung menangkap Putra Mahkota tentu kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
Gluuuk
Pasukan yang melakukan serangan terakhir menelan ludahnya sendiri, ia tahu jurang tanpa dasar itu adalah jurang yang mengerikan.
Menurut rumor sipa pun yang jatuh ke dalam jurang tersebut baik itu pendekar tingkat tinggi sekali pun tidak akan ada yang akan kembali ke atas lagi.
“ Cepat!! Kau harus menemukannya, jika tidak kami yang akan membunuhmu di tempat ini juga.” hardik salah satu pasukan.
“ Haaaahhh. Baiklah, tunggu aku disini, jika setengah jam lagi aku tidak naik keatas itu tandanya aku sudah tidak ada” pasukan ini menghela nafas dan terjun ke bawah jurang.
Wusssss
Setengah jam kemudian, Penasehat kerajaan datang dan menanyakan keberadaan Putra Mahkota.