Eps. 14 Jangan Melihat ke Belakang

2355 Words
Saat mengira semua sudah berakhir, Dou Jin dan ibunya tidak mengetahui ada puluhan Pendekar Suci, Penasehat kerajaan dan para ketua pasukan tengah mengawasi mereka dari jarak yang aman. “ Lihatlah, apa itu wajar anak berumur tujuh belas tahun memiliki tubuh seperti anak berusia dua puluhan tahun, bagaimana juga kalian menjelaskan kemampuan fisik serta jurus-jurus yang dikeluarkannya hampir persis seperti kemampuan Kaisar saat ini. ” ucap pria sepuh yang masih mengamati perkembangan pertempuran di dalam mutiara. Dalam tampilan bola mutiara sebesar buah kelapa itu terlihat dengan jelas setiap pertarungan yang dilakukan Dou Jin dan Permaisuri. Melihat jalannya pertarungan yang semakin jelas siapa pemenangnya, pria sepuh ini memerintahkan seluruh pasukannya untuk segera memajukan rencana mereka. “ Ubah rencana, kali ini kita semua akan langsung menjemput mereka. Pastikan sebelum Yang Mulia sampai di tempat Permaisuri, kita sudah mengamankan Kitab tanpa tanding itu.” Mendengar perintah tersebut seluruh pasukan yang berada dalam basecame langsung bergegas menuju tempat Permaisuri dan Putra Mahkota berada. ****** Kelima ketua masih bergerak dengan cepat menuju basecame yang menjadi tujuan perjalanan mereka. Dengan kecepatan yang sangat cepat itu kelima orang ini ingin segera menyampaikan pengunduran rencana, sebab Permaisuri berniat mendirikan kemah hari ini juga. Duarrrr Krrataaakkk Di saat kelima Ketua ini sedang dalam perjalanan menuju basecame, sebuah suar yang berada tidak jauh di belakang mereka tiba-tiba menyala. Suar tersebut adalah tanda permintaan pertolongan, tanda suar itu terdengar meledak dengan suara yang khas. Suara ledakan bunga api yang menyebar di atas langit memiliki motif yang unik. Ledakan bunga api berbentuk persegi dengan corak bunga berkelopak tiga yang berada tengah itu mampu terlihat dari jarak yang jauh. Melihat tanda suar tersebut, kelima ketua pasukan merasakan cemas dan khawatir. Para ketua ini langsung melesat menuju sumber suar yang berbunyi di belakang mereka. Disebabkan tanda tersebut akhirnya mereka berbalik arah dan mengurungkan niat mereka untuk menuju basecame. Setelah berbalik arah untuk melihat tanda pertolongan, kelima ketua ini akhirnya sampai di tempat lokasi. Di mana seorang Pendekar Suci gerbang ketujuh mengalami luka yang sangat serius, terbaring pingsan dan hampir kehilangan kesadaran. Dari luka yang diterima pendekar itu bisa disimpulkan ia mendapatkan serangan dari pendekar yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi darinya. Para ketua ini tidak bertanya lebih kepada pendekar tersebut. Kondis yang benar-benar mengenaskan membuat mereka bisa menebak siapa dalang dibalik itu semua. Hanya dengan beberapa kata sahaja pendekar yang terluka sudah akan kehilangan kesadarannya. Kelima ketua saling berpandangan untuk sesaat, merasa memiliki pemikiran yang sama. Uhhhhukk “A..daa..s.ee.raa.ngann, Pe..rr..maa..i..ssuu...rrii.’” ucap terbata-bata pendekar yang terluka sambil mengelurakan seteguk darah segar dan menghembuskan nafas terakhirnya. Menyaksikan hal tersebut para ketua itu langsung melesat dengan kecepatan tinggi menuju tempat Permaisuri dan Putra Mahkota berada. Keberadaan Pendekar Suci yang berhasil lolos dari pertempuran memberikan informasi kepada lima ketua pasukan. Meskipun informasi tersebut sangat singkat, tetapi kelima ketua ini semakin yakin bahwasanya, Permaisuri telah mengetahui rencana besar mereka. Kata terakhir yang diucapkan pendekar itu sudah cukup untuk menyadarkan dan memantapkan keyakinan mereka. Dengan itu semua ketua pasukan bisa menarik kesimpulan atas kebenaran Permaisuri yang sudah tahu rencana besar kelompok mereka. ****** Dou Jin masih terduduk lemas dengan bersandar di sebuah pohon besar, sedangkan sang ibu tengah duduk bersila mencoba memulihkan tenaga dalamnya untuk persiapan kabur. Wajah Dou Jin sekarang terlihat lebih membaik, tidak seperti sebelumnya yang nampak seperti kurang darah dan hampir pingsan, kali ini wajahnya sudah tidak pucat lagi. Walaupun nafasnya masih sedikit berat. Setelah satu jam berlalu, akhirnya Permaisuri telah mengembalikan seluruh tenaga fisiknya, walaupun tidak dengan tenaga dalamnya. Tidak ingin berlama-lama di lokasi yang penuh dengan mayat dan bau amis yang sangat menyengat. Mereka segera pergi dari tempat tersebut. Ibu dan anak ini berniat kembali ke Desa Perbatasan melalui jalan memutar agar keberadaanya tidak terendus oleh musuh. Mengingat di Desa Perbatasan akan ada banyak bantuan pasukan yang pro dengan Kaisar. Membuat Permaisuri menjadikan tempat tersebut sebagai tujuannya. Mereka berlari dengan kecepatan yang sedang, mengingat setamina Dou Jin yang belum sepenuhnya pulih. Permisuri berlari sesuai kecepatan Dou Jin. Tanpa mereka sadari tidak jauh di belakang mereka ada lima orang pendekar tingkat tinggi sedang mengejar mereka. ***** Kelima ketua ini dikejutkan dengan lautan manusia tidak bernyawa tergeletak seperti ikan asin yang dijemur. Bau amis yang menyengat dan bagian kepala yang terpisah dari tempatnya semakin menambah ngeri penampakan lingkungan tempat peristirahatan yang sebelumnya mereka bangun. Kelima ketua ini berpencar mencari salah satu pasukan yang masih bernyawa untuk dimintai keterangan. Setelah lama mencari akhirnya mereka mendapati salah satu dari mereka yang masih bernyawa, namun sudah sangat kritis. Leher yang hampir terputus serta luka yang begitu parah disekujur tubuhnya memberikan tanda bahwa sudah tidak lama lagi pendekar ini akan bertahan. Jika sahaja pendekar ini tidak mengalirkan tenaga dalam untuk menghentikan darah yang mengalir di lehernya tentu sudah bisa dipastikan detik ini juga pendekar ini akan menghembuskan nafas terakhirnya. “ Ree..n.ca..naa kiiii..taaa.. terrrr…boong…kar..” Uhuukkkk Setelah menyampaikan pesan terakhirnya pendekar itu menghembusakan nafas terakhirnya. Penjelasan yang diberikan pendekar itu. Semakin menambah keyakinkan para ketua, bahwa Permaisurilah penyebab kematian seluruh pendekar di lokasi. Rencana mereka yang sudah terbongkar membuat kelima ketua ini langsung bergegas mencari keberadaan Permaisuri dan Putra Mahkota. Rencana besar yang mereka susun beberapa tahun yang lalu akhirnya hancur berantakan, bila kelima ketua ini tidak mampu menangkap Permaisuri dan Putra Mahkota, mereka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dari Penasehat kerajaan. Wussss Mengikuti aura pembunuh yang tercipta setelah pertarungan, kelima ketua ini tidak kesulitan untuk menemukan Dou Jin berserta Ibunya. Mengingat Permaisuri miliki aura pembunuh yang sangat pekat, membuat kelima ketua pasukan dengan mudahnya menemukan arah kabur mereka. Setiap pertarungan antar pendekar jelas akan memberikan aura pembunuh, bila pendekar itu telah membunuh banyak pendekar, maka aura pembunuh yang tinggal pada tubuh semakin pekat. Keberadaan aura pembunuh itu bisa dirasakan setiap pendekar. Dengan tingkatan Pendekar Suci yang mati dibunuh oleh Permaisuri sudah pasti, ia memiliki aura pembunuh yang besar. Mengingat semakin tinggi tingkatan pendekar yang mati terbunuh, semakin besar pula aura pembunuh yang akan tinggal dalam tubuh. Dikarenakan Dou Jin bergerak dengan kecepatan yang sedang, akhirnya kelima ketua ini dapat mengejarnya. Setelah mengetahui posisi Permaisuri dan Dou Jin. Kelima ketua ini langsung melepaskan serangan jarak jauh bertenaga dalam tingkat tinggi kearah Dou Jin dan ibunya. Wussssss Duarrr Duaarrrr Duarrrr Melihat ada puluhan serangan jarak jauh bertenaga dalam tingkat tinggi dari belakang mereka, Permaisuri langsung menarik Dou Jin menghindar ke samping dan melemparkannya kebelakang punggunya. Tanpa basa-basi kelima ketua ini langsung melesat menyerang Permaisuri yang masih memakai topeng Gioknya. Adu tenaga dalam tingkat tinggi terjadi, aura pendekar yang menyelimuti seluruh pendekar ini menampakan tingkatan kekutan yang berbeda dengan pendekar Suci yang baru membuka beberapa pintu gerbang. Dibelakang Permaisuri , Dou Jin berkeringat dingin. Lawan kali ini benar-benar sudah di atas kemampuannya. Pedang kecil Dou Jin tidak akan mampu menebas tubuh pendekar Suci yang sudah membuka seluruh gerbang dan sudah mulai naik tingkat ke tahap Pendekar Suci tahap Bumi. “ Jin’er cepat lari dan jangan pernah melihat kebelakang!!!” ucap sang ibu keras seraya menyambut serangan keroyokan kelima ketua ini. Perintah sang ibu, diacuhkan Dou Jin. Bagaimana pun juga ia tidak akan tega melihat ibunya mati mengenaskan karena dirinya, ia ingin sedikit membantu pertarungan, walaupun hanya sedikit sekali yang akan ia lakukan. Trtangggg Tang Duarrrr Aaarrhh Uuhhhhukk Serangan bertubi-tubi kelima ketua ini lancarkan, tingkatan pendekar yang sama membuat mereka tidak kesulitan untuk menerima dan menangkis serangan balasan yang diberikan pendekar bertopeng Giok itu. Terlebih lagi ketua pasukan ini menang dalam jumlah. Tentu semakin menambah kepercayaan diri mereka ketika melancarkan serangan. Dengan kekuatan dan lingkaran tenaga dalam yang sama, kelima ketua ini berhasil mendaratkan beberapa serangan pada tubuh pendekar bertopeng Giok. Seteguk darah keluar dari balik topengnya. “ Jin’er cepat pergi, selamatkan diri mu dan bertahan hiduplah demi impian Ibumu ini.” ucap Permaisuri lirih yang berdiri dengan pedang sebagai penyanggah. Kelima ketua pasukan yang sudah tahu pendekar bertopeng Giok ini adalah Permaisuri, tersenyum sinis mendengar kata-kata itu. Mereka langsung melakukan serangan jarak dekat secara serempak. Permaisuri mencoba terus menahan serangan kelima orang tersebut dengan susah payah. Meskipun mempelajari Kitab silat tanpa tanding, tetapi Permaisuri berbeda keahlian. Ia yang ahli dalam penggunaan pedang sangat tidak cocok beladiri tangan kosong. Tidak ada belas kasihan yang terlihat, kelima pasukan semula sangat menghormati Permaisuri sekarang menyerang dengan penuh nafsu membunuh. Mereka bahkan seperti sedang mempermainkan Permaisuri, serangan mereka perlahan-lahan mengoyak baju yang Permaisuri kenakan. Tubuh Permaisuri sekarang penuh akan luka sayatan pedang, baju yang ia pakai telah habis terkoyak setengahnya. Menampakan pa*ha putih yang mulus serta belahan da*da yang menggoda. Kelima ketua pasukan ini jelas berniat langsung membunuh Permaisuri, di samping hal itu, mereka juga berniat mempermalukannya. Permaisuri sejak dari dulu mereka hormati itu sebab jasa-jasanya terhadap kekaisaran yang berhasil menghalau bangsa Siluman. Begitu ia bergabung dengan fraksi Kaisar, para ketua ini memandang benci kepadanya. Keegoisan Tang San sebagai Kaisar telah menyulut benci kepada seluruh pasukan Penasehat kerajaan. Permaisuri berwajah pucat, sekarang ia sudah kehabisan simpanan tenaga dalam. Nafasnya terengah-engah. " Jika sahaja dulu Yang Mulia tidak mendukung Kaisar, tentu hal seperti ini tidak akan terjadi. " ucap salah satu ketua pasukan yang sebenarnya sangat kecewa dengan keputusan Permaisuri. " Jalan yang diambil Kaisar itu salah.. " " Diammm!! Kalian tidak tahu apa-apa. Kalian itu sebenarnya sedang dimanfaatkan demi posisi Kaisar yang pimpinan kalian inginkan." tukas Permaisuri cepat. Kelima ketua pasukan saling berpandangan untuk sesaat, mereka seperti tidak ingin berdebat lebih jauh. Misi yang mereka terima tidak boleh gagal, mereka harus segera mengambil Kitab tanpa tanding dan segera menghabisi Permaisuri dan Putra Mahkota. Sebelumnya, di saat kelima ketua pasukan sedang berbicara, di balik punggung Permaisuri, ia memberikan sebuah kode rahasia untuk Dou Jin. Kode pesan yang Dou Jin terima adalah untuk segera pergi dan berlari meninggalkan Permaisuri sendiri. Melihat pesan ibunya, Dou Jin merasakan rasa kesal dan benci yang begitu dalam, ia merasa kecewaa kepada ayahnya sendiri dan benci pada dirinya sendiri karena tidak memilki kekuatan untuk melindungi orang paling penting dalam hidupnya. Matanya memadang tajam penuh permusuhan kepada kelima ketua itu, mata yang melotot dengan tangan yang mengepal keras membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan tahu orang itu benar-benar marah. Traangg Tangg Dukkk Dukk “ Dou Jin cepat lari…” ucap lirih lagi sang ibu yang kembali beradu serangan jarak dekat dengan kelima ketua pasukan. Dou Jin masih terdiam memaku, kakinya bergetar kencang, hatinya tidak ingin pergi bergitu sahaja, sedangkan tubuhnya entah mengapa seperti mencoba mengikuti perkataan ibunya untuk kabur, tetapi tidak bergerak selangkah pun. Tranggg Tang Duarrr arrghhh Tidak berhenti sampai disitu sahaja, sekarang kelima ketua pasukan melakukan serangan kombinasi jarak jauh dan jarak dekat yang mematikan. Puluhan serangan jarak jauh dan jarak dekat melesat dengan cepat menghujam Permaisuri. Dou Jin merasa sakit hatinya melihat kondisi ibunya yang terluka parah. Tubuh yang penuh luka sayatan pedang, baju yang hampir habis terkoyak, dan darah segar yang mengalir begitu deras pada salah satu lengan sang Ibu. Membuat Dou Jin hanya bisa mengigit bibirnya, geram. Darah segar juga mengalir dari mulut Permaisuri, ia menderita luka dalam sangat parah. “ Dou Jin!!!!!! LARIIIII!!!!!!!” Uhuuuukkk Sekarang kelima ketua pasukan menatap iba kepada Pemisuri, sebenarnya mereka masih memiliki hati. Namun misi yang mereka terima dan rasa benci atas pilihan Permaisuri membuat kelima ketua pasukan ini mencoba melupakan belas kasih. Bentakkan sang ibu menyadarkan Dou Jin yang terhanyut dalam perasaan kesal dan penyesaln. Melihat dengan jelas luka parah yang ibunya alami serta ucapan keras itu menyadarkan Dou Jin dari lamunannya. Perlahan ia menitikan air mata di kedua matanya. Merasa tidak ada peluang untuk kabur lagi, Permaisuri berniat melakukan jurus rahasia dengan meledakkan Dentian pada tubuhnya. Meledaknya dentian tubuh maka kekuatan besar melonjak keluar dan akan menghancurkan apa pun disekitarnya, mirip seperti meledaknya bom. Sebelum mengeksekusi jurusnya Permaisuri memberikan sebuah kode tangan lagi sebagai alat bicara isyarat dengan Dou Jin. “ Ibu akan meledakan tubuh untuk menghentikan langkah mereka, kau cepat kabur, bertahan hidup dan jangan sampai kitab itu jatuh ketangan musuh. Hiduplah dengan tujuan Ibu yang belum sempat terpenuhi.” Isyarat yang Permaisuri berikan membuat Dou Jin menggelengkan kepalanya tidak setuju, namun karena itu adalah jalan satu-satunya untuk berhasil kabur maka Dou jin tidak memiliki pilihan lain. Drapp Drapp Dengan sangat terpaksa ia paksakan hatinya dan raganya untuk berlari meninggalkan ibunya. Bersamaan dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya, Dou Jin berlari secepat yang ia bisa, tanpa menengok kebelakang ia mencoba membulatkan tekadnya untuk tidak kembali ke tempat ibunya berada. BOOOOOMMMM Tingkatan pendekar Suci tahap Langit tentu memiliki lingkaran tenaga dalam yang tinggi, jumlah lingkaran tenaga dalam itu, Permaisuri pusatkan di satu tempat Dentian dan langsung ia hancurkan bersama akar roh yang berada tepat di uluh hatinya. Ledakan besar yang menghancurkan segalanya membuat wilayah sekitar menjadi kawah yang cukup dalam. Meledaknya tubuh Permaisuri tidak memberikan kesempatan bagi kelima ketua pasukan untuk kabur dan menjauh seperti Dou Jin. Sebab posisi mereka dekat dengan Permaisuri membuat kelima ketua pasukan itu mengalami luka dalam serius yang hampir sahaja kritis. Lantaran tidak sempat untuk menghindar. Jika sahaja kelima ketua itu mengetahui gerak-gerik Permaisurinya yang berniat untuk meledakan tubuhnya, tentu mereka akan melidungi seluruh tubuhnya dengan kekuatan penuhnya. Uhukkk Uhuuukk Uhuuukk Duaarr Kelima ketua itu mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya masing-masing, segera mereka meledakan suar untuk meminta pertolongan kepada pasukan yang masih berada di basecame. Suar itu meledak begitu keras dan menciptakan kembang api yang begitu besar, dengan ledakan tersebut dari jarak puluhan mil pun dapat terlihat bunga api di atas langit. Dou Jin terus menangis dengan berlari, ia sudah bisa menebak tubuh ibunya yang hancur berantakan karena meledakan tubuhnya. Meskipun hatinya masih ingin berbalik untuk memastika keadaan ibunya, tetapi pesan terakhir yang ia terima membuat perasaannya serba salah, akhirnya ia memilih menjadikan pengorbanan ibunya tidak sia-sia dengan terus berlari ke depan. Ledakan suar kembang api itu juga Dou Jin sadari, ia tahu ledakan suar itu tanda untuk meminta pertolongan, dengan kekutan penuhnya ia memilih terus berlari tanpa menegok kebelakang. ****** Tidak jauh dari tempat Dou Jin berlari, hampir dua ratus pasukan menuju sumber suar pertolongan yang baru menyala beberapa saat yang lalu. Kelompok yang dipimpin langsung oleh Penasehat kerajaan itu bergegas menuju arah suar untuk mendaptkan informasi mengenai keberandaan Permaisuri dan Putra Mahkota . “ Sialan, jangan biarkan putra mahkota dan Permaisuri lolos. Tambah kecepatan!!!” seru pria sepuh itu terbang melesat dengan kekuatan penuhnya agar tidak terpisah jarak yang semakin jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD