Eps. 13 Serangan Kombinasi

1323 Words
“ Jin’er cepat lari dan selamatkan dirimu, jangan membantu ibu!!!!” pekik Permaisuri kepada anaknya. Dou Jin tidak mengindahkan perkataan sang ibu, ia melancarkan serangan tiba-tiba kepada salah satu Pendekar Suci yang terpental karena menerima serangan kuat dari Pendekar Bertopeng Giok. Slassshh Arrrrghhhh Dua bilah pisau kecil tajam menggorok leher pendekar tersebut, goresan yang cukup dalam itu memberikan pendarahan serius pada lehernya. Jika sahaja Pendekar Suci itu memfokuskan seluruh tenaga dalamnya untuk melindungi lehernya tentu sahaja serangan Dou Jin tidak akan memberikan luka tebasan yang serius. Meskipun tidak sampai memutuskan leher pendekar tersebut, tetapi darah segar tetap mengalir dengan deras. Semua pengawal sekarang berbalik memandang Dou Jin. Dugaan mereka ternyata benar, Permaisuri telah mengetahui rencana mereka. Sekarang para pengawal itu berbalik memfokuskan serang kepada Dou Jin. Mengingat Dou Jin yang lebih mudah untuk dikalahkan dan bisa dijadikan sandra, bila dalam keadaan terdesak. Wussssshhhh Trangggg Duarrr “ Tidakkkk! Jin’er!!” Belasan Pendekar Suci yang tersisa membantuk ulang formasi dan menyerang Dou Jin, pukulan pedang bertenaga dalam tinggi menghantam kedua bilah pisau kecil yang Dou Jin siapkan untuk pertahanan. Dou Jin sendiri yang tidak memiliki tenaga dalam tidak mampu menahan serangan. Tubuhnya langsung terpental puluhan meter, menabrak pohon besar yang berada tidak jauh dari tempatnya. Dari sudut mulut Dou Jin mengalir sedikit darah, ia meringis kesakitan atas serangan bertenaga dalam tinggi yang baru ia terima. Permaisuri yang melihat Dou Jin terkena serangan fatal, berteriak histeris dan melesat menerjang belasan Pendekar Suci. Taranggg Trang Duarrr Permaisuri yang marah dengan cepatnya melakukan serangan balasan, serangan bertenaga dalam tinggi itu menghujam ke salah satu Pendekar Suci yang menyerang Dou Jin, tubuh pendekar itu langsung terpental jauh menabrak sebuah batu besar. Dou Jin yang memiliki kekuatan fisik yang tidak biasa langsung bangkit dari posisinya setelah menabrak pohon. Ia menahan rasa sakitnya untuk sesaat, menyaksikan ada peluang tersaji di depan mata. Dou Jin tidak ingin menyia-nyiakannya. Dengan bergerak cepat, Dou Jin langsung melesat ke arah Pendekar Suci yang menghantam batu. Segera ia melesatkan serangan pamungkas dengan kedua belah pisaunya untuk segera mengakhiri riwayat pendekar itu. Salaashhhh Bukkk Pendekar Suci yang menghantam batu sebenarnya sudah terluka cukup parah, ia sudah kehilangan banyak tenaga dalam. Sebagian tubuhnya memiliki luka dalam yang cukup serius akibat menerima serang bertenaga dalam besar dari Permaisuri. Mencoba untuk bangkit dan sedikit lagi memberikan kontribusi dalam pertaruangan, pendekar tersebut mencoba berdiri. Namun dengan cepatnya Dou Jin mendaratkan serangan kuat dengan kedua pisau kecil pada leher pendekar itu. Akhirnya tebasan kuat itu memisahkan kepala dari tempatnya, jika sahaja pendekar itu masih sedikit sahaja memiliki tenaga dalam dan mengalirkan sebagian besar tenaga dalamnya untuk melindungi leher, tentu serangan Dou Jin yang tidak memiliki tenaga dalam tentu tidak dapat mampu memotong batang leher tersebut. Para pasukan yang tersisa semakin geram, mereka akhirnya melesat kembali menerjang Dou Jin yang telah selesai menghabisi kawanan mereka. Dengan kecepatan yang sangat cepat belasan Pendekar Suci itu menyerang dengan serangan jarak jauh dan sebagian lagi menyerang dengan serangan jarak dekat. Duaarrrr Booommmm Trangggg Dou Jin melihat ada puluhan serangan bertenaga dalam tingkat tinggi menerjangnya dengan cepat. Dengan insting pendekarnya yang telah puluhan kali melakukan latihan tanding, ia bergerak cepat menghindari serangan itu dengan berlari dan melompat, sesekali ia akan berguling lantaran tidak memiliki pijakan yang kuat untuk melakukan lompatan jauh. Serangan jarak dekat kembali menerjang tubuh Dou Jin dengan sangat cepat, sesaat setelah ia berhenti berguling untuk menghindari serangan. Serangan jarak dekat kembali lagi menghujamnya, serangan tersebut bertujuan untuk menebas kepala Dou Jin dari tubuhnya. Wussss Melihat anaknya teredesak Permaisuri berhasil menangkis serangan musuh dengan jurus pedang jarak jauh bertenaga dalam tinggi. Jurus tersebut berhasil menyelamatkan Dou Jin. Dou Jin yang selamat dari serangan mematikan, segera berdiri dibalik punggung ibunya, ia mencoba melindungi pungung ibunya dari serangan menyelinap. Pasukan pengawal yang tersisa lima belas itu memandang benci kepada Permaisuri dan Putra Mahkota. Kematian teman mereka membuat semua pasukan ini geram, mengingat setiap misi yang selalu mereka kerjakan bersama. Susah dan senang mereka lalui bersama, memberikan kebencian yang besar begitu teman yang telah dianggap sebagai saudara, mati mengenaskan di depan mata. Melihat Dou Jin adalah sisi terlemah yang akan mempermudah mengalahkan pendekar Bertopeng Giok, para pasukan itu memfokuskan kembali serang kepada Dou Jin. Wussshhh Trangggg Duarrr Booommmm Salashhh Dukkkk Belasan serangan terfokus pada Dou Jin, serangan jarak jauh yang berupa cahaya tenaga dalam melesat ke arah tubuh Dou Jin. Melihat hal itu Dou Jin menghindar dan berbalik ke belakang, membiarkan ibunya memberikan belasan serang jarak jauh sebagai pertahanan. Serangan jarak jauh Permaisuri yang memiliki tingkatan pendekar yang lebih tinggi, membuat serangan para pendekar Suci yang baru membuka beberapa Gerbang tidak bisa mengenai Dou Jin. Justru sebaliknya serang Permaisuri yang lebih kuat itu mementalkan sebagian dari mereka, membuat sebagian Pendekar menabrak pohon dan batu di sekitar. Melihat peluang yang tersaji di depan matanya, Dou Jin kembali melakukan aksinya untuk mengurangi jumlah dari mereka. Ia melancarkan serangan cepat untuk menebas leher Pendekar Suci yang menabrak pohon. Kepala yang terpisah dari tubuh lagi-lagi terjatuh dari tempatnya, jika sahaja serangan itu dari seorang pendekar biasa tentu tebasan cepat tanpa tenaga dalam itu tidak akan sanggup untuk membunuh Pendekar Suci. Namun serangan itu berasal dari Dou Jin, seorang anak yang telah belasan tahun menyerap sumber daya kelas tinggi dan mempelajari Kitab tanpa tanding. Walaupun Pendekar Suci itu baru membuka beberapa pintu gerbang, tetapi fisik dan ketahan tubuh mereka sudah sangat berbeda dari pendekar yang berada dibawahnya. Tubuh pendekar yang sudah mencapai tahap pendekar Suci sebenarnya sangat keras, penempaan ulang dan proses pembukaan gerbang sebenarnya bertujuan untuk semakin memperkuat tubuh dan ranah jiwa mereka. Namun karena Dou Jin dibekali pondasi yang sangat kuat lewat panduan yang terdapat pada Kitab sailat tanpa tanding, membuatnya memilki kekuatan fisik yang tidak biasa dan setamina yang tidak biasa seperti manusia normal yang tidak memiliki akar roh. Kekuatan tebasan yang sangat kuat itu dengan mudahnya memisahkan setiap kepala Pendekar Suci dari tempatnya. Walaupun Dou Jin sesekali akan kesulitan memotong kepala dengan cepat, bila Pendekar tingkat Suci itu menyalurkan seluruh tenaga dalamnya ke seluruh lehernya, tetapi untuk sedikit sahaja mengorok sebagian leher yang beralapis tenaga dalam itu cukup mampu Dou Jin lakukan. Leher yang tergores sedikit sahaja sudah cukup untuk melumpuhkan seorang pendekar, sebab darah yang keluar dari leher lebih sukar dihentikan, meskipun menggunakan tenaga dalam. Serangan demi serang berlanjut, Dou Jin dan ibunya melakukan kombinasi serangan yang serasi. Ibu Dou jin akan membuat salah satu pendekar Suci terpental dan Dou Jin akan melakukan serang menyelinap dari belakang untuk mengakhiri riwayat pendekar Suci. Kejadian tersebut berulang sampai jumlah mereka dapat dihitung dengan jari, jika sahaja para pendekar ini tidak tersulut emosi dan masih memiliki kepala yang dingin tentu pola serang Permaisuri dan Dou Jin sendiri dapat dibaca dengan mudah. Dengan membagi kelompok yang tersisa menjadi dua, satu untuk menyerang Dou Jin dan satu lagi menghalau ibunya tentu keadaan akan berbalik. Namun mereka tidak sempat berpikir demikian. Rasa benci yang begitu dalam telah membutakan mereka untuk mencari peluang dan membalikan keadaan. Setangah jam berlalu dan pemenang dari pertarungan sudah dapat disimpulkan, pasukan pengawal itu akhirnya terbantai habis oleh Dou Jin dan Permaisauri. Setalah pertarungan selesai Permaisuri dan Dou Jin jatuh berlutut dengan nafas yang terengah-engah. Terlihat banyak sekali keringat yang membasahi baju kedua orang tersebut. Pertarunagn melawan Pendekar Suci benar-benar menguras seluruh tenagai ibu dan anak ini. Walaupun Permaisuri memiliki tahap di tingkatan yang lebih tinggi, tetapi untuk dapat membunuh satu sahaja pendekar Suci membutuhkan ratusan lingkaran tenaga dalam disetiap serangannya. Tidak jauh dari posisi Permaisuri, Dou Jin justru menampilkam wajah yang buruk. Matanya pucat lantaran setaminanya yang habis ia paksakan sampai titik terakhir. Mata Dou Jin yang setengah terbuka terlihat seperti akan pingsan, namun ia tetap mencoba membuka matanya dan mempertahankan kesadaran. Nafas Dou Jin yang putus-putus, seperti telah berlari ribuan mil tanpa beristirahat. Melihat hal itu, Permaisuri membuka topengnya dan tersenyum bangga seraya menacungakan kedua jempolnya kearah Dou Jin. Saat mengira semua sudah berakhir, Dou Jin dan Ibunya tidak mengetahui ada puluhan Pendekar Suci, Penasehat kerajaan dan para ketua pengawal yang sedang mengawasi mereka dari jarak yang aman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD