Setengah jam yang lalu.
Kepergian Dou Jin bersama tiga tingkat pengawal paling rendah membuat Permaisuri mempertimbangkan kembali rencananya.
Ia yang mengetahui jumlah pasti para pengawal dan juga memahami semua kemampuan pasukan.
Membuat Permaisuri bisa memperkirakan seberapa banyak kesempatan baginya untuk bisa melarikan diri.
Permaisuri tahu, kemungkinan untuk keluar dari sarang musuh sangat kecil. Terlebih lagi Dou Jin yang tidak bisa membunuh pendekar Suci gerbang kelima keatas, tentu semakin mempersempit pelung kedua orang ini untuk keluar dari jebakan musuh.
Mengingat rata-rata tingkat kultivasi para pengawal ini berada tingkat pendekar Suci gerbang kelima keatas.
Namun hal itu bukan menjadi masalah yang besar sebenarnya untuk Permaisuri. Dengan tingkat kultivasinya yang telah mencapai Pendekar Suci tahap langit membuatnya percaya diri mampu untuk mengalahkan puluhan pendekar Suci yang baru membuka beberapa gerbang.
Hanya sahaja yang ia khawatirkan adalah keberadaan lima ketua yang masing-masing telah berada ditingkat yang sama dengannya.
Untuk mampu mengalahkan pendekar di tingkat yang sama adalah perkara yang sangat sulit.
Lingkaran tenaga dalam serta daya tahan tubuh yang setara membuat semua pendekar yang memiliki tingkatan yang sama kesulitan untuk menang dalam pertarungan.
Terkecuali pendekar yang berada ditingkat yang sama menyerang secara kelompok. Jika para ketua pasukan menyerang Permaisuri maka tidak ada lagi harapan untuk melarikan diri.
Tiba-tiba ide baru terlintas dalam pikirannya, ia meminta kelima ketua itu untuk menuju basecame yang mereka tuju dan mengatakan keterlambatan rombongan ini untuk sampai tepat waktu, lantaran mereka akan mendirikan kemah saat ini juga.
Mendenagar perintah tersebut kelima ketua ini saling pandang dan mengerutkan dahinya masing-masing.
"Laksanakan perintah Yang Mulia.... "
" Tenanglah bukankah kita memiliki banyak waktu. Apa salahnya beristirahat dan tidak terburu-buru..... "
Mereka merasa telah mencium sesuatu yang janggal, namun sebelum kelima ketua ini melanjutkan pikiran negativenya. Permaisuri langsung menjelaskan alasan yang logis atas permintaannya.
Dengan alasan yang masuk akal kelima ketua pasukan tidak lagi meragukan instruksi Permaisuri, mereka melesat dengan kecepatan tinggi menuju basecame dan mengerjakan apa yang diperintahakan.
Slassshh
Buugg
Kurang lebih sepuluh menit setelah para ketua pasukan itu pergi, Permaisuri langsung mengenakan topeng giok putih dan menebas beberapa orang pendekar yang berada disekitarnya.
Gerakan yang bergitu cepat dan halus membuat semua orang disekitarnya kesulitan menghindar, terlebih lagi mereka akan langsung kehilangan kesadaran setelah satu kali tebasan pedang.
Setelah membunuh para pendekar di satu titik, Permaisuri bergerak dengan lincah mencari gerobolan pengawal yang sedang berkumpul di tempat yang lain.
Gerakan jurus pedang yang begitu anggun dan cepat membuat semua mata terpesona dan ngeri secara bersamaan.
“ Itu bukankah pedekar Giok putih yang tersohor.”
“ Iya benar, apa yang sedang dilakukan pendekar itu disini?”
“ Cepat cari ketua, kita diserang!!!”
Semua orang tampak heboh dan kagum secara bersamaan, bagaimana pun juga pendekar Topeng Giok putih adalah salah satu pendekar yang terkenal.
Keberhasilannya dalam membunuh ribuan bangsa Siluman yang menyerang kekaisaran Tang puluhan tahun yang lalu. Membuatnya memiliki nama tersendiri di kekaisaran.
Namun hanya sedikit sekali orang yang tau siapa sosok dibalik topeng giok putih yang menjadi perbuncangan banyak orang.
Di saat para pasukan itu heboh, telah tergeletak belasan pendekar yang mati mengenaskan dengan kepala hilang dari tempatnya.
Para pasukan pengawal yang melihat kematian mengenaskan teman mereka, langsung berteriak menyiagakan para anggota yang lain untuk bersiap menghadapi serangan.
" Bentuk Formasi!!!"
Teriakan sebagian dari mereka membuat para pasukan pengawal itu langsung berkumpul menjadi satu dan membentuk formasi menyerang.
Pertarungan satu Pendekar Suci tahap Langit melawan tiga puluh sembilan pasukan pengawal terjadi, Permaisuri terseyum melihat mereka membentuk sebuah formasi.
Dengan berkumpulnya mereka menjadi satu membuat Permaisuri tidak lagi kesulitan untuk membantai mereka satu persatu.
Tranngg
Tangggg
Wuuussss
Duaaarr
Slasssshhhhh
Slasssshh
Serangan pedang yang beradu memberikan efek bunyi yang nyaring ditelinga, kekuatan pendekar Suci yang baru membuka beberapa Gerbang tidak sebanding dengan pendekar Suci tahap Langit. Mereka tampak kewalahan dengan berbagai jurus yang pendekar Giok itu berikan.
Gerakan cepat dan tebasan kuat yang diiringi dengan cahaya aura pedang biru, mampu menebas tubuh para pendekar seperti memotong tahu.
Meskipun sepasukan pengawal itu telah mengeluarkan aura pertarungnya masing-masing, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mampu mengimbangi satu jurusnya.
Perbedaan kekuatan antara pendekar Suci yang baru membuka beberpa gerbang melawan pendekar Suci tahap Langit terpisah jarak yang bergitu besar.
Kedudukan Pedekar Suci yang telah mencapai Tahap Langit tentu memiliki lingkaran tenaga dalam yang lebih banyak.
Dan sudah pasti ketahanan fisik serta setamina pendekar Suci tahap langit jauh lebih kuat.
Dengan perbedaan jarak itulah pendekar Giok ini dengan mudah membantai musuh-musuhnya.
Formasi serangan menyerang pada satu titik nyatanya tidak memberikan peluang pada para pengawal itu untuk mendaratkan satu serangan pun.
Kurang dari sepuluh menit lebih dari belasan orang terkapar jatuh dengan kepala yang terpisah dari tubuh.
Kemenangan seperti mengintai dibalik langkah yang Permaisuri ambil.
Jika lima atau sepuluh menit lagi ia dengan cepat menyelesaikan pertarungan ini maka kemungkinan besar baginya untuk kabur dari sarang musuh akan berhasil.
Tiga puluh lebih pengawal yang bertarung sebelumnya kini tinggal tersisa kurang dari sepuluh orang.
Semua orang menatap ngeri p*********n yang berlangsung. Aura keemasan Pendekar Suci yang semua pengawal itu miliki seperti tidak memberikan perlindungan tanaga dalam pada tubuh mereka saat menerima tebasan kuat dari pendekar bertopeng Giok.
Ada sebagian yang berniat untuk kabur, namun dengan gerakan gesitnya pendekar bertopeng Giok ini dengan cepat mengibaskan jurus serangan tenaga dalam tingkat tinggi yang langsung memotong rapih menjadi dua tubuh pengawal tersebut.
Semua pendekar yang tersisa melihat hal tersebut semakin ngeri, alih-alih untuk kabur justru kematian yang mengenaskan yang di dapat.
Dengan melihat kematian teman mereka yang begitu mudah para pendekar ini lebih memilih mati terhormat dibandingkan mati dalam melarikan diri.
Mereka langsung menerjang kembali pendekar bertopeng Giok itu, menghilangkan imajenasi yang mengerikan akan kematian.
Para pendekar ini memilih berjuang sampai titik darah penghabisan demi kebanggan yang selama ini mereka jaga di dalam satuan pasukan kusus dalam kekaisaran.
Permaisuri di balik topengnya sudah mencium kemenangan, tinggal tersisa tiga lagi pendekar yang sudah tidak lagi ada harapan. Tubuh ketiga pendekar itu sudah penuh dengan luka dan sekujur tubuhnya sudah bersimbah darah.
Dengan semangat ingin mengakhiri pertarungannya, Ibu Dou Jin dibalik topeng merapatkan gigi dan bergerak dengan cepat untuk segera menyelesaikan pertarungan.
Slassshhh
Slasssshh
Bukkkk
Bukkkk
Tebasan ringan dengan tenaga dalam kecil dengan mudahnya memisahkan ketiga kepala pengawal itu dengan mudah, mereka sudah kehilangan kesadaran mereka dengan sorot mata yang sedikit terbuka.
Permaisuri dibalik topengnya menghembuskan nafas lega, pertarungan melawan pendekar Suci nyatanya sangat menguras tenaga dibandingan pertarungan melawan bangsa Siluman.
Walaupun bangsa Siluman memiliki tingkatan yang sama dengan pendekar Suci akan tetapi para siluman tidak memiliki pikiran dan insting bertarung kuat.
Hal tersebut tentu membuat petarungan dengan pendekar lebih melelahkan dibandingkan dengan bangsa Siluman.
" Siapkan formasi menyerang, bersiap menghadapi p*********n. "
Mengira semuanya sudah selesai, Permaisuri berusaha pergi mencari Dou Jin. Sebelum melangkah lebih jauh puluhan pendekar Suci lagi mengepungnya, mereka adalah para pasukan penjaga yang sebelumnya pergi memeriksa basecame.
Sekelompok pasukan ini bertemu dengan kelima ketua pasukan di tengah jalan, begitu mendengar alasan kepergian kelima ketua. Pasukan ini bergegas menuju lokasi Permaisuri.
Takut dan khawatir bila Permaisuri mengetahui rencana besar mereka, ketua pasukan akhirnya meminta sekelompok pasukan ini untuk segara berbalik arah.
Begitu sampai di lokasi, ternyata benar seperti yang disangka ketua pasukan. Mereka sempat tidak percaya, namun begitu sampai di lokasi akhirnya mereka menyadarinya.
Tanpa banyak bicara mereka langsung menyerang pendekar topeng Giok, melihat para kawanan mereka tewas mengenaskan semakin membuat mereka yakin pendekar bertopeng Giok itu adalah Permaisuri.
Trang
Trangg
Duuuaarr
Duarrr
Pertarungan terjadi lagi, masih dengan formasi yang sama, namun memiiki serangan yang berbeda.
Variasi serangan kelompok pasukan yang berjumlah dua puluhan orang itu terlihat lebih tegas dan kuat.
Mengingat mereka telah lebih siap untuk bertarung, berbeda dengan kelompok sebelumnya yang tiba-tiba diserang yang membuat formasi mereka lebih kacau dan mempermudah Permaisuri dalam melakukan p*********n.
Tidak jauh dari tempat Permaisuri, Dou Jin melihat dengan jalas ibunya di kepung puluhan orang.
Dou Jin langsung bergerak menghampiri ibunya, ia yang tahu siapa pendekar di balik topeng GIok itu bergegas dengan kecepatan penuhnya menerjang para Pendekar suci.
“ Sialan, mengapa tidak ada habis-habisnya” dengus kesal Permaisuri dalam hati.
“ Jin’er cepat lari dan selamatkan dirimu, jangan membantu ibu!!!! ” pekik sang Ibu kepada anaknya.
Permaisuri sadar dengan kembali para pasukan ini, kemungkinan besar rencananya gagal total. Ia yang memahami situasi segera meminta Dou Jin untuk melarikan diri.