Dokter Baru Di Ruang Psikiatri
Pukul 07.15 pagi.
Rumah Sakit Arunika sudah dipenuhi aktivitas. Suara roda ranjang terdengar dari koridor, para perawat berjalan cepat sambil membawa berkas pasien, sementara beberapa dokter baru saja keluar dari ruang konferensi.
Naira Anindya berdiri di depan meja perawat sambil melihat daftar pasien.
"Pasien kamar 207 sudah minum obat?" tanyanya.
Rani Maharani yang sedang mengetik sesuatu di komputer mengangguk.
"Sudah. Tapi pasien kamar 214 tadi menolak diperiksa."
Naira menghela napas.
"Baik. Nanti aku coba bicara lagi."
Rani menatapnya sebentar lalu tersenyum.
"Kamu kalau ngomong sama pasien selalu lembut."
"Memangnya harus marah?"
"Bukan begitu. Artinya, kalau aku jadi pasien, mungkin aku juga akan mengikuti saranmu.
Naira tertawa kecil.
"Jangan bercanda pagi-pagi."
Rani belum sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang dari arah lorong.
Beberapa perawat yang sedang berbicara tiba-tiba terdiam.
Naira ikut menoleh.
Seorang pria berpakaian jas putih masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tinggi, rambut hitam teratur, wajah tenang dengan ekspresi tidak terlalu berubah. Sebuah stetoskop tergantung di lehernya.
Di tangannya terdapat beberapa berkas.
Rani langsung berbisik.
"Itu dia."
Naira mengernyit.
"Siapa?"
"Dokter psikiater baru."
Naira kembali melihat pria itu.
"Dokter Arsen?"
Rani mengangguk cepat.
"Dr. Arsen Mahendra. Katanya baru pindah dari rumah sakit pusat."
Naira tidak terlalu memperhatikannya.
Baginya, dokter baru hanyalah rekan kerja baru.
Namun ketika Arsen melewati meja perawat, langkahnya terhenti.
Matanya tertuju kepada Naira.
"Perawat Naira?"
Naira sedikit terkejut.
"Iya, Dok."
Arsen menyerahkan sebuah berkas.
"Saya ingin laporan pasien kamar 219."
Naira menerima berkas itu.
"Baik, Dok. Saya siapkan."
Arsen masih berdiri di sana.
Naira menatapnya bingung.
"Ada lagi, Dok?"
"Besok pagi ikut saya saat evaluasi pasien."
Naira mengangguk.
"Baik."
Arsen kemudian pergi.
Rani langsung mendekat.
"Kamu kenal dia sebelumnya?"
Naira menggeleng.
"Enggak."
"Tapi dia langsung tahu namamu."
Naira mengangkat bahu.
"Kan ada namaku di kartu identitas."
Rani memandangi punggung Arsen yang semakin jauh.
"Entahlah."
"Apa?"
"Perasaanku dia memperhatikanmu."
Naira tertawa.
"Baru juga lima menit masuk rumah sakit."
"Justru itu."
Pukul 10.30.
Naira sedang mengangkut beberapa dokumen ke ruang psikiatri saat seseorang memanggilnya.
"Naira."
Ia menoleh.
Dr. Dimas Pratama berjalan mendekatinya.
Dimas adalah salah satu dokter yang telah bekerja di rumah sakit itu selama waktu yang cukup lama. Ia dikenal sebagai orang yang ramah dan selalu siap membantu para perawat ketika situasi sedang membludak.
"Sudah makan?" tanya Dimas.
"Belum."
Dimas menggeleng.
"Kamu jangan lupa makan. Nanti sakit."
Naira tersenyum.
"Iya, Dok."
Dimas mengambil beberapa berkas dari tangan Naira.
"Biar saya bawakan."
"Tidak perlu."
"Sudah."
Dimas berjalan bersamanya menuju ruang psikiatri.
Tanpa mereka tahu, dari ujung gang ada seseorang yang memperhatikan mereka.
Arsen.
Ia baru keluar dari ruang konsultasi.
Matanya tertuju pada Naira yang sedang berjalan bersama Dimas.
Wajahnya tetap tenang.
Namun Dr. Bima Santoso yang berdiri di sampingnya menyadari perubahan kecil itu.
"Kenapa?"
Arsen mengalihkan pandangan.
"Tidak apa-apa."
Bima tersenyum tipis.
"Baru hari pertama sudah punya perhatian khusus?"
Arsen menatapnya.
"Saya hanya melihat."
"Melihat apa?"
Arsen tidak menjawab.
Bima tertawa kecil.
"Baiklah. Saya tidak akan bertanya."
Siang hari.
Naira masuk ke ruang dokter psikiatri untuk memberikan laporan mengenai pasien.
Arsen sedang duduk di belakang meja.
"Taruh di sini."
Naira meletakkan berkas.
Kondisi pasien di kamar 219 kini sudah lebih stabil.
Arsen membuka laporan tersebut.
"Terima kasih."
Naira hendak pergi.
"Naira."
Ia berhenti.
"Iya, Dok?"
"Besok datang lebih awal."
"Jam berapa?"
"Enam tiga puluh."
Naira terkejut.
"Enam tiga puluh?"
"Ya."
"Evaluasinya jam tujuh, kan?"
"Saya tahu."
Maka mengapa saya harus datang setengah jam lebih awal?
Arsen menatapnya.
"Saya ingin membicarakan beberapa hal sebelum evaluasi."
Naira mengangguk pelan.
"Baik."
Saat ia akan membuka pintu, Arsen kembali memanggil.
"Naira."
"Iya?"
"Kamu biasanya sarapan sebelum bekerja?"
Pertanyaan itu membuat Naira terdiam.
"Kadang."
"Jangan kadang."
Naira mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Karena kamu terlihat seperti seseorang yang sering lupa makan.
Naira tidak tahu harus menjawab apa.
Arsen kembali menyandarkan kepala ke meja sambil memandang berkasnya seolah-olah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
"Besok jangan lupa sarapan."
Naira keluar dari ruangan dengan wajah bingung.
Di lorong, Rani sudah menunggu.
"Kenapa wajahmu begitu?"
Naira menggeleng.
"Dokter Arsen aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Kemudian tiba-tiba dia bertanya apakah aku sudah makan pagi atau belum."
Rani langsung tersenyum lebar.
"Nah!"
"Nah apanya?"
"Aku bilang juga apa."
Naira mendengus.
"Jangan mulai."
Rani tertawa.
Namun Naira tidak tahu bahwa di balik pintu ruangan tersebut, Arsen masih melihat kepergiannya.
Bukan hanya karena Naira bekerja sebagai perawat di sampingnya.
Ada sesuatu yang membuat Arsen tertarik pada perempuan itu.
Sesuatu yang belum bisa ia jelaskan.
Dan setelah sekian lama, akhirnya Arsen merasa ingin mengenal seseorang secara lebih dalam.
Bukan sebagai pasien.
Bukan sebagai rekan kerja semata.
Tapi sebagai seseorang yang perlahan mulai mengisi pikirannya.
Sementara Naira sama sekali belum menyadari satu hal.
Dokter psikiater yang baru saja datang itu sebenarnya sudah mulai mengejarnya.