Enam bulan yang lalu. Pria itu masih sibuk dengan pekerjaannya, sesekali menatap jam yang berada ditangan kanannya.
Masih jam segini, masih ada waktu buat ngajak dia makan siang bareng.
Senyum terpancar diwajah tampan sang pria, membayangkan sesuatu hal yang mungkin akan terjadi beberapa waktu kedepan.
Keynaru Adiwarna Angkasa, pria berumur 26 tahun ini telah memiliki kekasih. Banyak hal yang telah ia dan gadisnya lewati dan itu membuat dirinya menetapkan hatinya.
Menikahlah denganku.
Kata itu masih terus terbayang, senyum tidak pernah hilang dari wajah tampannya, Keynaru telah menemukan gadis yang ia cintai.
Terus membaca beberapa berkas yang menumpuk diatas meja, sesekali juga membuang napas lelah. Pekerjaannya memang selalu menumpuk seperti sekarang.
Beberapa jam telah berlalu, berkas yang sebelumnya menggunung sedikit demi sedikit telah selesai. Beberapa adalah ajakan kerjasama untuk perusahaannya, dan beberapa adalah berkas penting tentang perusahaan yang ia pimpin saat ini.
Menyandarkan bahunya, Keynaru bisa bernapas lega karena pekerjaannya telah selesai sesuai waktu yang telah ia perkirakan.
Menekan beberapa kata pada ponselnya pria itu sedang mengirim pesan kepada seseorang.
Sela❤️
Mau makan siang bersama?
Nanti ku jemput di lokasi..
sent.
Mengirim satu pesan untuk sang kekasih Keynaru berharap bahwa gadisnya belumlah memiliki janji dengan siapapun.
Nyatanya memiliki kekasih seorang model membuat dirinya harus bersabar, terlebih lagi kekasihnya tidak ingin hubungannya dengan Keynaru sampai terekspos media.
Pria itu lalu bangkit dari kursi kebanggannya, mengambil jas yang terlampir di sandaran kursi bergegas keluar dari kantor menuju tempat dimana kekasih hatinya berada.
"Mau kemana kau?" Ucap pria yang tak lain adalah Shikanara. Sekretaris Keynaru sekaligus sahabatnya.
"Makan siang bersama kekasih hati."
"Pekerjaanmu?"
"Aman."
Mulai kembali melangkahkan kaki jenjangnya.
"Pukul 2 siang kau harus sudah berada di kantor."
Pria itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah sekretaris sekaligus sahabatnya.
"Kenapa?"
"Ada rapat, bodoh."
"Kau saja yang hadir dan wakilkan diriku."
Shikanara menatap tajam pria yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Jangan seenak udelmu.. di sini kau pimpinannya Key, aku tidak mau."
"Kalau aku memberikanmu hadiah bagaimana? Seperti libur 3 hari misalnya?"
"Tetap tidak ingin."
"Aku ingin berkencan astaga.."
"Aku tidak mau apapun yang kau janjikan untuk ku aku tidak mau mewakili dirimu, karena nanti kita akan rapat bersama perusahaan ProNity.. kau tahu sendiri mereka sangat merepotkan."
Pria itu mengangguk lalu melirik pada jam tangan yang masih melingkar di tangan kanannya.
"Baiklah, aku akan kembali saat sudah jam 2."
"Awas saja kalau tidak, ku adukan kepada ayahmu."
Memicingkan kedua matanya, "Dasar pengadu."
Lalu tanpa menunggu lama lagi pria bermata indah dan juga memiliki wajah yang tampan itu segera meninggalkan area kantor, berjalan menuju parkiran mobil lalu menancap gas menuju lokasi pemotretan sang kekasih.
"Sepertinya satu jam sudah cukup untuk menyalurkan rindu." Lalu tersenyum menatap jalan di depan.
"Hanya tinggal sedikit lagi dan kita akan hidup bahagia." Ucap Keynaru bermonolog pada dirinya sendiri.
Pria itu sangat mencintai kekasihnya, Sela Alinka seorang model dengan paras yang cantik serta tubuh ideal membuat dirinya begitu digilai oleh beberapa pria.
Sela begitu mencintai pekerjaannya, dan saat ini karirnya sedang naik, beberapa kali Keynaru menyuruhnya untuk berhenti menjadi model karena jujur saja dirinya sangat kesal saat melihat Sela terus saja dikerumuni oleh beberapa pria.
Bahkan Sela juga sempat terlibat gosip bahwa dirinya telah menjalin hubungan dengan salah satu model pria, dan itu membuat Keynaru sebagai kekasihnya sangat murka.
Karena tidak ingin ditinggalkan, entah karena rasa cinta yang semakin besar atau karena adanya rasa takut akan kehilangan lalu membuat dirinya memutuskan untuk segera melamar Sela.
Sempat mendapatkan penolakan namun dirinya tidak menyerah, Keynaru terus membunjuk agar Sela bisa menerima dirinya dan mau hidup bersama hingga hari tua.
Pada akhirnya Sela memutuskan untuk menerima lamaran sang pria dengan satu alasan.
Jangan larang aku untuk terus berkarir di dunia permodelan ini, ini mimpiku Key.
Meskipun berat namun Keynaru harus menyetujui apa yang Sela inginkan.
Beberapa menit telah berlalu, untungnya lokasi pemotretan Sela tidaklah terlalu jauh.
Keynaru turun dari mobilnya dan dari kejauhan dirinya telah melihat Sela yang sedang bercanda bersama salah satu model pria.
Siapa dia?
Cemburu? Tentu saja, namun Keynaru mencoba untuk memendam perasaan itu. Ia tidak ingin membuat Sela kecewa karena rasa cemburu yang ia punya.
Berjalan menuju sang gadis, lalu ketika Sela telah melihat ke arahnya senyum muncul diwajah tampan Keynaru.
"Udah lama?"
Pria itu menggeleng "baru sampai kok."
"Udah boleh istirahat?"
Gadis itu mengangguk "yuk, makan dimana?"
"Kamu maunya dimana?"
"Hmmm.. disana ada kafe baru buka.." tunjuk Sela ke arah selatan "katanya tempatnya bagus dan cocok untuk anak muda."
"Gak mau yang romantis?"
Gadis itu menggeleng "bukannya kita udah romantis setiap hari?"
Keynaru terkekeh. "Aku ikut gimana tuan putri aja."
"Yuk lets goo.."
Menggegam tangan sang gadis itulah yang selalu ia lakukan, namun kali ini berbeda tepisan kecil dari Sela membuat dirinya tersentak.
"Gak usah ya takut ada paparazi."
Kecewa? Sudah pasti namun Keynaru harus menguatkan hatinya. Hanya tinggal sedikit lagi dirinya dapat memiliki Sela seutuhnya dan tidak perlu lagi bersembunyi dari awak media.
"Yasudah, gak masalah kalau gitu."
"Maaf ya.."
"Gak apa-apa bukan salah kamu kok."
Gadis itu tersenyum. Senyum yang begitu manis.
"Makasih sayang."
"Sama-sama."
**
Keynaru masih terduduk disalah satu kursi, menyandarkan bahu tegapnya.
Ternyata Kafe yang Sela tunjukan benar-benar bagus, tempat ini memang cocok untuk sekedar berkumpul bersama teman dan juga kekasih. Beberapa anak muda juga berada di sini.
"Kamu pesen apa?"
Pria itu melirik pada menu yang tergeletak diatas meja.
"Hmmm.. aku kopi aja."
"Enggak makan?"
Menggelengkan kepalanya lalu menatap gadis yang masih fokus pada menu makanan "enggak laper."
"Nanti sakit gimana?"
"Kan ada kamu obatnya."
Gadis itu terkekeh, menatap Keynaru yang juga menatapnya.
"Ada apa?" Tanya sang pria.
"Tentang pernikahan."
"Kenapa? Kamu enggak usah mikirin yang aneh-aneh semuanya aku yang urus dan kamu tinggal terima beres aja."
"Bukan itu.."
"Lalu? Udah enggak sabar? Tenang aja tinggal dua bulan lagi."
"Key.."
"Iya sayang."
"Aku ingin pernikahan kita batal."
Mata indah sang pria membola. Lalu menatap tajam pada gadis didepannya.
"Jangan bercanda Sel. Ini bukan lelucon.. kau enggak bisa mutusin begitu aja."
"Ta-tapi aku gak bisa."
"Kenapa? Kau bosen denganku?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa?"
"Aku dapat tawaran yang bagus untuk karir ku Key, aku enggak bisa nolak itu.. itu semua impian ku."
"Trus menikah dengan ku bukan salah satu impianmu? Begitu?"
Air mata mengalir di pipi putih milik sang gadis.
"Bukan seperti itu, maksudku.. kalau memang enggak bisa batal seeanggaknya kita tunda yaa.. gak apa-apa kan?"
"Gak bisa Sel, ini tinggal dua bulan lagi.. bukan masalah uangnya" pria itu lalu memejamkan matanya erat.
"Aku gak mau sampai orang tua ku kecewa.."
Gadis itu menunduk tidak berniat membalas ucapan dari sang pria.
"Kenapa kau selalu egois? Aku sudah mengalah untuk ini, bahkan aku enggak melarang kamu untuk terus kerja jadi model.. tapi kenapa? Sekali ini aja please Sel, aku cuma mau kita nikah."
"Kamu enggak akan pernah ngerti tentang mimpi yang selama ini aku bangun Key.."
"Terus? Apa kamu juga ngerti tentang perasaanku? Kamu maunya kita gimana? Aku udah cukup banyak mengalah untuk hubungan kita."
"Kamu ngerasa lelah Key?"
Pria itu menggeleng, lalu melirik ke beberapa sudut Kafe. Ternyata beberapa mata sedang melihat ke arah mereka.
Apakah suara ku sekeras itu? Pikir Keynaru.
"Yaudah nanti kita bicarain lagi."
Meski amarah telah menumpuk di hati, namun ia harus bisa menahannya. Bukan tidak ingin mengungkapkan apa yang seharusnya diungkapkan namun Keynaru masih memikirkan bagaimana jika Sela terkena imbas atas emosi dirinya yang meledak saat ini juga. Ia tidak ingin kalau Sela sampai membenci dirinya.
Gadis itu lalu mengangkat wajahnya, menatap Keynaru begitu dalam.
"Key.."
"Hmm.."
Gadis itu lalu mengecek ponselnya.
"Udah dipanggil?" Tanya sang pria.
Gadis itu menggeleng "maaf ya, harusnya aku enggak ngomong gitu sama kamu.."
Menarik napas lelah, sungguh dirinya sudah terbawa emosi. "Gak apa-apa."
kali ini aja.
"Key.. temen aku ada yang mau makan siang bareng kita."
Pria itu menatap Sela dengan tatapan bertanya. Bukan kah ini waktunya untuk mereka berdua saja? Bahkan selama seminggu ini dirinya tidak bisa bertemu Sela karena padatnya jam kerja yang Sela miliki. Dan di saat mereka telah mendapatkan waktu mereka, kenapa harus ada orang lain yang ikut bergabung?
"Siapa?"
"Dia teman ku, dia juga model Key.."
"Perempuan?"
Sela menggeleng "bukan."
"Yang tadi sama kamu?"
Gadis itu mengangguk.
gak boleh. ucapnya dalam hati.
"Yaudah gak apa-apa."
Kali ini aja enggak apa-apa.
"Beneran?" Senyum terpancar diwajah cantik Sela.
Keynaru mengangguk mengisyaratkan bahwa dirinya setuju.
"Sebentar ya aku balas chat dari dia dulu."
Keynaru merasa aneh dengan sikap yang Sela tunjukan, pasalnya kenapa gadis di depannya terlihat begitu bahagia dan senang ketika Keynaru mengizinkan agar temannya bisa ikut makan bersama mereka.
"Dia lagi jalan kesini.. bener enggak apa-apa kan Key?"
kalau aku bilang gak boleh apa kamu mau ngerti?
"Iya.. enggak apa-apa sayang."
Tanpa menunggu lama, Keynaru akhirnya bisa melihat dengan jelas pria yang Sela sebut dengan temannya sedang berjalan menuju mereka.
Ternyata benar pria yang akan ikut bergabung makan siang bersama dengan dirinya dan juga Sela adalah pria yang sebelumnya Keynaru lihat sedang berbincang dengan kekasihnya, dan sekarang pria itu telah berada di hadapannya.
"Key kenalin.. temanku." Ucap Sela lalu tersenyum ke arah dirinya.
Keynaru lalu berdiri memajukan satu lengannya mengambang di udara.
"Key.."
Pria itu tersenyum, lalu segera menjabat tangan Keynaru.
"Tala.. Tala Ferdinan."