Teman.

1471 Words
Sekarang.. matahari telah berada di posisinya, menyinari beberapa insan yang bahkan tidak terlihat bersemangat. Gadis yang masih berjalan di koridor salah satu Universitas itu terlihat tidak memiliki semangat hidup, bahkan langkahnya terlihat seperti di seret. Melirik beberapa orang yang sesekali memandang ke arahnya, ia sungguh tidak suka menjadi pusat perhatian. Apa karena mata panda ini? Renata lalu memegang pipi putih miliknya, menamparnya dengan sedikit kencang membuat beberapa mata yang masih melihat ke arahnya merasa heran. "Aarrrgghhh... Sial banget sih." Mengecek ponsel yang seketika saja berbunyi. Renata lalu memicingkan kedua matanya, ia tidak percaya dengan isi pesan yang seseorang kirim kepada dirinya. +62083XXXX : Siang nanti aku jemput, Aku tahu kelas mu hanya sampai jam 11 siang ini.. Jadi jangan coba-coba untuk kabur. Merasa bingung dengan nomor yang tak ia kenal, Renata tidak berniat membalasnya. Orang iseng, tumben isinya nggak mamah minta pulsa. Melanjutkan langkahnya, sungguh jauh di dalam lubuk hatinya Renata hanya ingin kembali tidur. Tapi Nathan sangat berisik apakah dirinya tidak tahu bahwa Renata tidak dapat tidur dengan tenang karena ucapan pria yang sekarang telah menjadi bosnya. "Ngelamun?" Melirik ke arah sumber suara, Renata dapat melihat dengan jelas bahwa Safanah telah berdiri di sampingnya. "Capek." lalu duduk di salah satu kursi kosong. "Tumben kau ke perpus?" Ucap Renata kepada Safanah, karena pasalnya gadis itu sangat jarang mendatangi perpustakaan kalau memang bukan masa ujian. "Ngadem.." "Loh bukannya kamu udah kerja di perusahaan ayahmu Re? Kok malah masuk kuliah?" lanjut Safanah Gadis itu menggeleng, "sudah di pecat." "Hah!" "Sudah di pecat." "Iya aku dengar hanya kaget bodoh." Menaruh dua buku yang sebelumnya ia genggam lalu gadis itu duduk di sebelah Renata. "Bagaimana bisa kau dipecat? Memang kau bikin salah." Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu menelusupkan wajahnya ke kedua tangannya yang berada di atas meja. "Aku diangkat menjadi sekretaris seseorang." "Naik jabatan?" Gadis itu mengangguk tanda mengiyakan. "Bagus dong gajinya lebih besar.. lalu apa yang salah dari menjadi sekretaris?" Safanah melirik ke arah sahabatnya. "Berarti kau bukan sekretarisnya ka Nathan?" Kembali mengangguk lalu menatap gadis yang berada disampingnya "kau tahu, bos ku itu sangat menyebalkan! Aku bahkan sudah dibuat muak dengan tingkahnya kemarin." "Setiap detik dia selalu menggombal, membuat kuping ku sakit." "Tampan?" Menatap Safanah dengan tajam "masih tampan ayahku!" "Nggak salah sih, ayahmu juga tampan." Safanah lalu melirik sekilas pada sahabat yang masih setia duduk di sampingnya. "Tentang yang di Kafe, jadi kamu mau aku kenalkan nggak dengan temannya Saka?" Tanya Safanah kepada Renata. "Saka bilang mereka akan mengadakan barbeque di rumah Syie.. kalau kamu mau, kita akan ke sana dan kamu bisa lihat dulu bagaimana orangnya.. ya walaupun menurutku dia akan cocok denganmu." Gadis itu mengangguk "tidak masalah sepertinya, mungkin aku juga butuh hiburan." "Fa.." "Yaa?" "Setelah meninggalkan Kafe, aku langsung menuju toko buku.." "Lalu?" Safanah tidak mengerti apa yang spesial dari toko buku. "Aku ketemu dia." "Dia?" Gadis itu mengangguk. "Ku pikir aku sudah melupakannya, aku pikir rasa ini telah hilang bersama dengan dirinya yang bahkan telah pergi dari hidupku.. nyatanya.." Safanah mengerti dia yang di maksud oleh Renata adalah mantan kekasih sang sahabat. "Re.. move on gak secepat itu, aku tahu pasti sulit menjadi dirimu.. apalagi jika itu cinta pertama, tapi percayalah pada dirimu sendiri bahwa kamu mampu kembali seperti dulu," Menatap langit cerah yang berada di luar ruangan. "Bukan perasaanmu, tapi sifatmu.. aku dan Inka merindukan kamu yang dulu, Renata yang selalu ceria." Renata tersenyum "nyatanya tidak pernah ada Renata yang seperti itu Fa. Kau tahu? Menjadi bukan dirimu sendiri sangatlah sulit." "Awalnya aku berpikir dia adalah segalanya, tapi ternyata dia bukan siapa-siapa. Hanya orang lain yang sempat singgah lalu pergi begitu saja.." Menatap ke arah Safanah, Renata lalu menepuk punggung tangan sahabatnya. "Aku tidak ingin semua yang aku rasakan juga kalian rasakan. Aku tidak ingin membagi rasa sakit ini kepada kalian bahkan kepada keluargaku, tapi rasanya memendamnya seorang diri ternyata begitu sulit dan sakit." Safanah tersenyum, lalu menepuk lembut punggung tangan Renata yang masih terus menggenggam tangannya. "Kita sahabat bukan? Rasanya tidak adil jika kau membagikan kebahagianmu kepada kami tapi tidak dengan rasa sakitmu." "Renata yang ku kenal adalah gadis yang cuek namun pemberani. Kehilangan orang yang tidak menginginkanmu tidak akan membuat Renataku hancur, dia hanya batu kecil yang bahkan cepat atau lambat akan tergantikan." "Re, mulai buka hati. Ini bahkan sudah mau tiga bulan semenjak kejadian itu." "Aku ingin tapi rasanya sulit Fa." "Bukan sulit tapi kau belum terbiasa.. karena dulu dia adalah segalanya," Gadis itu mengangguk lalu tersenyum begitu tulus "makasih ya.." "Apapun demi sahabatku.." "Jadi gimana? Ikut barbequean?" Renata mengangguk tanda setuju "mungkin benar katamu, aku harus membuka hati." Sakit.. tapi rasanya masih terlalu sakit. "Masuk kelas?" Tanya Safanah "Memang hari ini kau ada kelas bareng aku?" "Ada, kelasnya pak Igun." Gadis itu mengangguk, Renata baru menyadari ternyata selain mempunyai keluarga yang begitu peduli dan menyayanginya, ia juga dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang begitu baik dan juga menyayangi dirinya. "Safa.." Gadis yang sebelumnya sedang memasukan buku ke dalam tasnya seketika menengok kala namanya dipanggil. "Apa?" "Kau nggak takut Saka ada main belakang?" Gadis itu mengangguk "takut." Lalu memberikan senyuman ke arah Renata "tapi aku percaya dia tidak akan melakukannya.. meskipun terdengar memuakan nyatanya nggak semua orang suka ingkar Re, komitmen. Iya itu penting." "Tapi itu juga yang dia katakan dulu, asalkan ada komitmen semua akan baik saja. Nyatanya.. aku bukan segalanya." Safanah yang mendengar itu lalu kembali merapihkan bukunya. "Yuk kelas, nggak bagus di sini, bisa bikin sahabat ku overthinking terus." Ucap Safanah lalu menarik lengan Renata agar ikut bangkit dari duduknya. Aku berharap, kalian selalu bahagia. ** Pria itu masih terus bergeming pada tempatnya, sesekali melirik ponsel yang terus ia genggam. Hembusan napas lelah beberapa kali terdengar, menandakan bahwa dirinya sudah lelah menunggu. Kembali masuk ke dalam mobil, lalu memutar musik yang sangat keras berharap bisa menghilangkan bosan kala menunggu gadis yang sedari tadi tidak kunjung datang. Beberapa tatapan tajam bahkan melirik ke arah mobilnya, namun Keynaru tidak ingin peduli. "Oh astaga ini sudah hampir jam 12.. tapi kenapa dia belum juga keluar kelas?" Pria itu lalu kembali mengecek ponselnya, namun nihil tidak ada balasan sama sekali dari gadis yang ia tunggu-tunggu. Mengetik beberapa kata guna mengirim pesan kepada gadis yang tak lain adalah Renata. Keynaru sengaja menjemputnya karena ingin mengajaknya makan siang. Keynaru : Kau dimana? Bocah Natkal : Siapa kau? Keynaru : Bosmu. Bocah Natkal : Mimpi. Pria itu sedikit terkekeh karena membaca chat dari Renata. Lalu kembali mengetik beberapa kata untuk ia kirim kepada sang gadis. Keynaru : Aku sudah menunggu mu hampir 2 jam Nat.. Jika kau sudah selesai, cepat keparkiran dan temui aku. atau aku akan datang ke kelasmu dan menggendongmu dengan paksa! Bocah Natkal : Dasar gila. Gadis itu berdecak sebal, ia sungguh tidak menyangka bahwa Keynaru akan dengan nekat menjemputnya kesini. Bergegas membereskan semua buku yang ada di atas meja. Renata lalu dengan cepat segera keluar dari kelas dan segera menuju ke halaman parkir. Kelasnya bersama pak Igun telah selesai, dan kelas terakhir Renata adalah kelas bu Iren, namun kelas bu Iren juga sudah selesai beberapa menit lalu. Sebelum Safanah dan Inka menyusulnya Renata berpikir lebih baik dirinya segera meninggalkan kelas dan menuju ke tempat Keynaru berada. Menatap sebuah mobil berwarna orange ber list hitam, Renata yakin mobil yang ia lihat bukanlah mobil yang murah. Ya.. karena Nathan sangat tergila-gila akan mobil itu. Mengetuk kaca itu cukup keras namun tidak juga ada jawaban dari dalam membuat Renata merasa jengkel, belum lagi suara musik yang Keynaru putar sangat berisik bahkan Renata sangat yakin bahwa pria gila yang masih berada didalam mobil sengaja mengeraskan volumenya sampai full dan membuat beberapa mahasiswa terus menatap ke arah mobil miliknya. Renata yang semakin jengkel akhirnya berhenti mengetuk kaca mobil dan mengecek ponselnya ia berniat menghubungi Keynaru. Om Gesrek Calling.. Namun ketika suara di sebrang sana terdengar Renata langsung memutuskan sambungannya. "Dari kapan?" "Dari kau masih waras." Pria itu terkekeh, "cepet masuk." "Siapa kau memerintah diriku?" "Bosmu." Menepuk kening itu tidak terlalu keras "aku salah mengajukan pertanyaan." Ucap Renata lalu membuka pintu mobil. "Kau tahu? Aku seperti gadis nakal yang sedang di jemput om-om." Keynaru terkekeh, lalu melajukan mobilnya masih dalam kecepatan sedang. "Kau memang gadis nakal ku." "Jangan melantur." Melirik sekilas pada jalanan, "kita mau kemana Ru?" "Makan siang." "Dimana?" "Hmmm..." Pria itu seperti sedang berpikir, lalu kembali fokus pada jalanan. "KUA mungkin." "Gak waras." Lalu sang pria tertawa sangat puas. Sepertinya Keynaru memiliki hobi baru yaitu menggoda Renata. "Kau mau makan dimana Nat?" "Aku ingin baso." "Hah!" "Aku ingin baso." "Aku tidak tuli." "Lalu kenapa 'hah' tadi?" "Terkejut." Gadis itu memincingkan matanya "karena apa?" Melirik sekilas pada Renata lalu kembali fokus pada jalanan. "Aku pikir gadis sepertimu akan minta makan di restoran yang mewah." "Dont judge book by its cover." "Yaa.. karena memang covernya terlihat mewah." "Jadi kamu mau makan baso dimana, Nat?" Kembali Keynaru menanyakan hal yang sama kepada Renata yang terlihat masih sibuk dengan ponselnya. "Abang-abang pinggir jalan." "Hah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD