Yang Lalu.

1440 Words
"kau apa nggak apa-apa lambung mu?" Gadis itu lalu melirik ke arah pria yang masih terus menatapanya. "Kenapa?" "Itu sambalnya.. kau lagi nggak kerasukan reog kan Nat?" "Porsi ku memang segini, ini segar.. kau harus mencobanya." "Aaa.. jangan banyak-banyak.." ucap Keynaru kala Renata telah menuangkan lima sendok sambal ke dalam mangkuk yang berisi bakso miliknya. "Lemah, kau kan laki-laki." Menatap Renata. "Tidak ada sangkut pautnya sambal dengan gender Nat." "Yaa.. yaa.." ucap Renata lalu mengangguk anggukan kepalanya. "Nata.." "Hmmm..." "Kau sering makan disini?" Gadis itu menggeleng. "Baru ini. Kenapa?" Ucapnya lalu memasukan satu sendok bakso ke dalam mulutnya yang sebelumnya telah ia belah menjadi dua bagian. "Tempatnya agak.." "Kotor?" Keynaru mengangguk. "Ini cukup bersih kok, jangan samakan penilaian kebersihan di restoran dengan di sini bos." "Daripada kau sibuk melihat sekeliling, lebih baik cepat habiskan makananmu." Keynaru lalu menatap mangkuk yang berisi bakso miliknya. Dengan enggan pria itu mengaduk bakso agar sambal yang sebelumnya Renata tuangkan tercampur rata. "Bagaimana?" "Kok enak." Ucap sang pria kala memasukan satu bulat bakso utuh kedalam mulutnya. "Baguslah." "Heii pelan-pelan.. kau seperti belum makan dari kemarin." Ucap Renata kala melihat bosnya makan dengan lahap. "Aku baru kali ini makan di tempat seperti ini." "Lalu kenapa?" "Awalnya aku berpikir kau akan mengajak ku makan di restoran yang bagus, memesan makanan yang sangat mahal.. bukankah anak seumuran mu menyukai hal seperti itu?" "Bisa iya bisa tidak." Pria itu menaikan satu alisnya, menatap Renata tidak mengerti. "Dulu aku bahkan tidak pernah makan di tempat seperti ini.. aku menyesuaikan diriku dengan dia." Ucap Renata "Dia?" Tanya Keynaru lalu menyesap sedikit minuman yang berada di dekatnya. "Selain harus menjaga asupan makanannya agar tubuhnya selalu bagus terlihat di depan kamera, dia juga tidak ingin terlihat murahan di depan teman-temannya." "Padahal aku sudah berusaha menjadi apapun yang dia inginkan, terus berpura-pura menjadi gadis sempurna dan memakai topeng cukup membuat ku lelah.. terlihat baik-baik saja nyatanya aku tertekan dengan lingkungan yang asing menurutku.." "Sepertinya meskipun menyakitkan aku harus tetap bersyukur bisa lepas dari dia." Lanjut Renata. Mengaduk asal mangkuk yang berisi kuah bakso, isinya telah habis beberapa menit yang lalu. "Tapi kenapa seakan aku tidak bisa menerima ini semua?" Keynaru yang masih mendengarkan Renata hanya mampu diam, sesekali ia memasukkan satu buah bakso ke dalam mulutnya. "Kenapa juga aku harus bercerita kepada dirimu." Ucap Renata sedikit membuang napas kasarnya. "Kenapa seperti menyesal? Cerita masa lalu kepada masa depan mu itu harus Nat." Renata mendengus kasar "Ru aku lama-lama muak kau selalu bicara seolah-olah kita sepasang kekasih." "Kan memang iya." Keynaru lalu menaruh sendok juga garpu yang sebelumnya ia genggam. "Aku sudah mengatakan untuk memulainya dengan dirimu. Aku sudah bilangkan bukan hanya kamu yang terluka, jadi mungkin kita bisa sama-sama menyembuhkan luka yang ada di dalam hati kita masing-masing." "Aku belum bisa.. maaf." Senyum manis terpancar di wajah tampan Keynaru "nggak masalah, kau tahu kan peribahasa bisa karena terbiasa? Cinta juga begitu Nat. Tumbuh karena terus di berikan pupuk cinta." Renata menatap pria yang berada di sampingnya, bagaimanapun juga Keynaru memang terlihat begitu tampan. "Bagaimana bisa?" "Cinta tumbuh?" Gadis itu menggelengkan kepalanya "bagaimana bisa kau dengan mudah mencintai orang lain? Sedangkan jelas-jelas kau baru saja merasakan luka.. meskipun aku tidak tahu apa yang telah menimpa dirimu, tapi bukankah luka tidak sembuh semudah itu?" "Nggak.. kamu salah, aku sedang mengubur luka itu.." Keynaru lalu kembali meminum ice tea nya hingga tandas. "Aku dengar dari seseorang, jika kau terluka sendiri maka rasanya akan begitu menyakitkan. Maka carilah dia yang juga membutuhkan mu.. dan kau tahu Re? Entah ini kehendak alam atau kehendak Tuhan kita di pertemukan." "Hanya kebetulan." Ucap Renata dengan mantap. "Tentunya kebetulan yang bagus." Ucap Keynaru lalu bangkit dari posisinya. "Ayo ku antar pulang." "Selain jadi bos sekarang kau merangkap jadi supir pribadi ku ya?" Keynaru yang baru saja kembali lalu menatap Renata datar, ia telah selesai membayar dua mangkuk bakso juga dua gelas ice tea. "Mulai sekarang kau akan aku antar jemput." Mata sang gadis membola, lalu melangkah mengikuti langkah sang pria menuju mobil yang tidak jauh terparkir dari tempat mereka makan sebelumnya. "Jangan bercanda!" "Aku? Itu serius Re.." membuka pintu mobil "kau tanya saja pada Nathan atau ayah mu." Lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Renata seorang diri, masih dengan perasaan kesal si gadis lalu menatap pria yang juga menatapnya dari dalam mobil. Keynaru sangat yakin bahwa gadis yang masih berdiri di depan mobilnya pasti ingin sekali mengamuk. Senyum kecil muncul di wajah sang pria, lalu membuka kaca jendela mobilnya "kau mau naik apa tidak?" Entah apa yang Keynaru rencanakan tapi mengantar jemput dirinya? Sungguh Renata tidak bisa membayangkan kalau sampai teman-temannya tahu bahwa dirinya di antar jemput oleh seorang om-om yang tak lain adalah bosnya. Memejamkan erat matanya, segala pikiran aneh terus terbayang-bayang di pikiran Renata. Membuat gadis itu terus menatap tajam kepada pria yang masih terus tersenyum kepadanya. "Berisik!" Ucap Renata lalu berjalan menuju pintu mobil. ** "Kau ada acara?" Tanya Keynaru kepada penumpangnya. Karena saat ini Renata telah duduk di bagian kursi belakang. "Kenapa?" Tanyanya dengan nada ketus. "Teman ku ada acara nanti malam, kalau kau senggang.." "Tidak bisa." "Kenapa?" "Aku juga punya acara tahu." "Dengan teman?" Keynaru melihat gadis itu mengangguk dari kaca spion yang berada di dalam mobil. "Asal kau tahu saja, ada laki-laki yang mau berkenalan dengan ku.." "Lalu?" "Lalu.. ya nggak ada lalu." "Apa kau tertarik?" Tanya Keynaru kepada Renata yang masih setia duduk di bangku belakang mobilnya. "Mencoba." Menaikan satu alisnya, Renata bisa menyimpulkan bahwa sang pria menunggu jawaban lebih detail. "Aku rasa kau sudah tahu apa yang terjadi kepadaku. Kalaupun bukan ka Nathan mungkin ayah sudah menceritakannya, bukan?" Masih terus fokus pada jalanan yang ada di depannya, namun sesekali mata indah pria itu melirik gadis yang masih fokus memperhatikan jalanan di luar sana. "Apa aku salah menganggap bahwa semua laki-laki sama saja?" "Tidak." Menoleh ke arah Keynaru, Renata lalu menghembuskan napas kasar dan kembali menatap jalanan di luar mobil. "Karena akupun menganggap bahwa semua perempuan sama saja." Lanjut Keynaru. "Apa maksud mu?" "Semua gadis, wanita atau apapun itu mereka sama saja bukan? Hanya pemberi harapan palsu, kalian hanya mementingkan ego kalian.. lalu ketika kami para laki-laki melakukan kesalahan kecil kalian akan merasa yang paling tersakiti.." melirik Renata dari kaca spion yang berada di atas kepalanya "kalian berpura-pura menjadi korban, dan kamilah penjahatnya." "Harusnya aku yang mengatakan itu." Renata lalu menatap punggung Keynaru. Dirinya merasa apa yang di katakan pria itu tidaklah benar adanya, karena di sini.. saat ini Renata lah yang terluka, dan benar-benar ialah korbannya. Korban dari hubungan yang terus ia anggap baik-baik saja tapi nyatanya hanya rasa sakit yang ia dapatkan. "Kalian para laki-laki hanya melihat kami dari wajah bukan? Kalian tentunya punya standar wanita seperti apa yang cocok bersanding bersama kalian." Pria yang masih terus menatap jalanan lalu mengangguk tanda bahwa ucapan Renata benar adanya. "Kalian.. hanya mengumbar apapun yang terasa manis di awal, nyatanya itu semua hanya kebohongan." Menarik napas panjang. Rasanya rasa ini belum juga pergi dari hati Renata. "Apa kau tahu, aku ditinggalkan hanya karena aku kurang menarik untuknya. Dan lucunya dia mengatakan bahwa aku tidak punya semangat hidup dan tujuan.." "Bukankah itu benar?" Renata lalu menatap mata itu dengan tajam, Keynaru hanya mampu memberikan senyuman kecil. "Hei Nat." Tidak menoleh ke arah sumber suara, Renata tidak ingin membahas lebih jauh tentang masa lalunya. "Apa kau berpikir bahwa mantan mu bukan pria baik?" "Pertanyaan retoris." Tawa renyah terdengar dari bibir sang pria. "Tala Ferdinan seorang model juga sekaligus aktor." Menoleh pada Keynaru, Renata tahu bahwa pria yang masih sibuk menyetir di depannya sudah mengetahui siapa mantannya tapi ia masih belum bisa mengerti kenapa seakan Keynaru sangat mengenal Tala. "Aku tidak kenal dengannya." Renata menunduk ia diam enggan mengatakan apapun, Keynaru seakan mampu membaca pikirannya. "Aku pernah beberapa kali bertemu dengan dirinya, entah di sengaja atapun tidak tapi aku seakan tidak suka melihatnya." "Kenapa?" Tanya Renata. Mengedikkan bahunya, "mungkin aura nya kurang baik." "Mungkin kau benar." Ucap Renata asal. Keynaru yang mendengar itu lalu tertawa, mengecek kembali Renata dari kaca spion. "Kau serius tidak ingin pindah duduk di depan?" Gadis itu menggeleng, "tidak." "Aku terlihat benar-benar seperti supir." Ucap Keynaru dengan nada lesu. "Aku sempat berpikir kenapa kau mau menerima perjodohan ini? Apa kau sungguh sudah putus asa?" "Bisa di bilang seperti itu." "Aku menyedihkan bukan?" Tanya Renata. "Kenapa kau? Bukankah harusnya aku?" Keynaru lalu menghentikan mobilnya, lampu lalu lintas terlihat berwarna merah di depannya. "Putus karena di selingkuhi lalu di jodohkan dengan seseorang yang bahkan sebelumnya tidak pernah ku kenal dan ujung-ujungnya hanya menjadi pelampiasan saja." Menjalankan kembali mobilnya, pria itu lalu menarik napas cukup panjang dan dengan perlahan ia hembuskan. "Re.." "Hmm.." gumam Renata ketika namanya di panggil. "Apa kau kenal dengan gadis yang bernama Sela?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD