Salah Bicara

1220 Words
Gadis itu masih terus memandang datar kepada pria yang masih terduduk di hadapannya. "kepala kamu gak habis terbentur kan?" Pria itu lalu memegang kepalanya, memeriksa apakah ada yang salah. "Enggak." "Terus kenapa bilang begitu?!" Renata sungguh tidak mengerti apakah pria di hadapannya benar-benar seorang direktur. "Bilang apa?" "Kau tadi bilang 'ayo pacaran denganku' begitu" "Ayo." Ucap Keynaru mantap. Mata indah sang gadis membola ia sangat gemas dengan pria yang masih terduduk santai di depannya. "Bukan begitu maksudku.." "Lalu bagaimana Nat? Kau tadi mengajak aku pacaran dan aku juga menginginkannya ja—" "Masa bodoh. Aku gak peduli." Keynaru terkekeh kecil ternyata gadis yang sekarang ada di hadapannya begitu lucu dan menggemaskan. "Kau kenapa? Kau tadi mengajak ku untuk pacaran, tapi kau kesal sendiri" "A-apa! Aku tidak pernah mengajak kau untuk pacaran yaa.." "Loh tadi kau bilang begitu." Gemas, Renata semakin gemas dengan kelakuan Keynaru, "terserah saja, aku tidak peduli ba-pak di-rek-tur" "Kalau begitu sudah resmi?" "Apanya?" "Status kita." "Aaarrrgghh.. ya Tuhan kenapa ayah menjodohkan diriku dengan pria seperti dia." Lalu melirik tajam ke arah Keynaru. "Tentu saja karena aku tampan." "Percuma tampan tapi menyebalkan!" "Tapi sayangkan?" "Gak!" Ucap Renata tegas. Pria itu lalu berdiri dari posisinya, berjalan mendekat ke arah Renata. Pria yang memiliki tinggi sekitar 182 centimeter itu terus mendekag hingga posisinya dengan posisi sang gadis hanya berjarak 20 centimeter. "Nga-ngapain kau?" "Ingin memberitahu kepada gadis pemarah ini," menjeda ucapannya lalu tubuh tegap itu sedikit membungkuk mensejajarkan dirinya dengan Renata "bahwa.. kau semakin cantik jika terus marah seperti tadi." Mendorong tubuh tegap itu dengan paksa namun tidak terlalu kencang, "menjauh dariku Naru." "Kenapa?" "Wajahmu membuat ku takut." Mata sang pria membola, mendengar apa yang Renata katakan membuat Keynaru lalu memundurkan sedikit langkahnya. "Bilang aja kalau kau salting" "Sungguh, lama-lama aku bisa muak jika seperti ini terus." "Maaf." Ekspresi wajah sang pria berubah, entah karena merasa bersalah atau merasa sakit hati dengan ucapan Renata. "Bu-bukan begitu maksudku.. maksudku itu.." "Permisi." Suara seorang pria membuyarkan suasana yang ada. Renata menoleh ke arah sumber suara ternyata disana telah berdiri dua orang pria paruh baya yang telah membawa satu set meja kerja. Mejaku, akhirnya kau sampai juga. "Simpan disana.." ucap Keynaru memberi perintah kepada dua orang yang masih mengangkat meja kerja itu. Dua orang itu lalu menunduk kecil, mengisyaratkan bahwa pekerjaan mereka telah selesai. "Kalau begitu terimakasih, kalian bisa kembali bekerja.. ah," Melirik sekilas kepada Renata, "tidak jadi.. silahkan kembali bekerja." "Baik pak, terimakasih." lalu membungkuk kecil ke arah Keynaru dan Renata. Tidak lama setelah itu kedua orang yang telah membawakan meja kerja sang gadis telah meninggalkan ruangan dan berakhir meninggalkan Renata juga Keynaru didalamnya. "Bagaimana?" Tanya Keynaru "Aku suka." Melirik kearah sang pria "kenapa kita harus satu ruangan?" "Aku harus menjaga milik ku." "A-apa? Milik siapa?" "Kau. Aku harus menjaga dirimu." "Kenapa kau sama saja posesifnya dengan kak Nathan dan ayah?" "Karena gadis seperti dirimu harus dijaga Nat." Lalu melangkah menuju kursi kebanggaannya. Mendudukan tubuh tegap itu, menatap gadis di hadapannya yang masih setia berdiri. Gadis itu terkekeh, "bahkan dia juga mengatakan itu dulu." "Dia?" Tanya Keynaru tidak mengerti. "Lupakan saja." "Apakah Tala Ferdinan, seorang model papan atas adalah laki-laki yang kau maksud?" Menatap dalam mata indah didepannya, Renata sungguh tidak percaya bahwa pria yang bahkan baru ia kenal beberapa jam saja sudah mengetahui banyak tentang dirinya. Apakah sang kakak yang telah memberitahukan tentang hal ini? "Lupakan dia, dan mulai fokus dengan diriku." Ucap Keynaru lalu menatap mata indah milik Renata. *** Senja telah hadir, bahkan hadirnya begitu indah. Membuat beberapa insan tidak pernah lepas untuk memandangnya. Renata, gadis itu masih terus berkutik dengan pekerjaannya. Meskipun jam pulangnya telah lewat namun dirinya enggan untuk bangkit dari mejanya membuat pria yang terus menatapnya ikut merasa lelah. "Sampai kapan?" Melirik sekilas pria yang masih menunggunya. "Kalau kau ingin pulang, pulang saja." "Tidak bisa." "Kenapa?" Tanya Renata kepada Keynaru. "Karena aku harus mengantarkan pacarku sampai rumah dengan selamat." Berdecak sebal, sedari tadi pria yang berada satu ruangan dengan dirinya sungguh menguji kesabaran yang Renata punya. "Kita bukan sepasang kekasih." "Kenapa kau menyangkal itu?" "Karena memang itu faktanya Naru." Menopang dagu tegas itu dengan kedua tangannya. "Kau kenapa?" Tidak menjawab pertanyaan sang pria, Renata tetap fokus pada pekerjaannya. "Seperti memiliki trauma, kau hanya mengalami putus cinta Nat.. bukan di ceraikan." Menaruh pulpen itu dengan kasar, lalu menatap Keynaru begitu tajam. "Kalian memang sama saja ya. Selain suka ikut campur masalah orang lain, ternyata laki-laki juga merasa paling tahu tentang perasaan seorang perempuan." Keynaru terus menatap gadis yang bahkan terus menatapnya. "Kau tahu apa tentang diriku? Kau tahu apa tentang hati dan perasaanku? Bahkan kau baru mengenalku beberapa jam tapi seakan kau paling tahu tentang semua hal yang aku rasakan." Bangkit dari posisinya, Renata sungguh tidak mengerti kenapa harinya sungguh sial. Bahkan ia sudah susah payah membangun mood dan juga menguatkan hatinya untuk menghadapi hari. Meskipun terlihat sepele nyatanya menyembuhkan hati yang terluka tidak bisa semudah yang diucapkan banyak orang. "Pekerjaan saya sudah selesai, saya izin pamit." Terus melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, bahkan Renata tidak memperdulikan panggilan dari pria yang masih terus terduduk dikursi kebanggaannya. "Sepertinya aku salah ngomong." Bangkit dari kursinya, lalu bergegas mengejar gadis yang bahkan belum terlalu lama meninggalkan ruangannya. "Nat." Tidak menggubris panggilan sang direktur membuat beberapa mata karyawan yang bahkan masih berada di area kantor terus menatapnya penuh tanya. "Naat.." Menghentikan langkahnya, Renata sungguh muak dengan apa yang Keynaru lakukan. Bahkan perkenalan mereka belum ada 24 jam tapi kenapa rasanya Renata tidak ingin terlalu lama dekat dengan pria menyebalkan seperti Keynaru. "Kecil-kecil jalanmu cepat sekali," memegang lututnya, Keynaru merasa lelah mengejar Renata. "Ada apa pak?" "Ayo aku antar pulang." Melihat sekeliling, Renata merasa dirinya menjadi bahan tontonan beberapa pasang mata. "Saya bisa pulang sendiri, terimakasih atas tawarannya" lalu sedikit membungkuk di hadapan Keynaru "saya permisi." Kembali melangkahkan kakinya menjauh dari sang pria, Renata sungguh tidak ingin ada gosip yang beredar di kantor tempatnya bekerja apalagi ia adalah karyawan baru. Duduk disalah satu halte bus, gadis itu lalu mengecek ponselnya. Sebelumnya ia telah memesan satu driver online untuk mengantarkan dirinya menuju rumah. Pria yang sebelumnya terus mengejar dirinya tidak kelihatan keberadaannya. Apa dia sudah menyerah? "Apa peduli ku. Bahkan mood ku jelek karena dia." Tidak perlu menunggu waktu yang lama, driver online yang ia pesan telah tiba. Renata seketika berdiri dari duduknya, melambai ke arah mobil berwarna silver menandakan bahwa dirinya lah yang telah memesan jasa. Seorang pria keluar dari dalam mobil, Renata menebak mungkin umurnya sekitar 40 tahun. Pria itu lalu melirik ke arah dirinya, lalu kembali mengecek ponsel yang ia genggem. "Mbak Renata?" "Iya betul pak." Ucap Renata kepada driver yang masih terus mengecek ponselnya. "Mari mbak." Ucapnya seraya berjalan kearah mobil. Renata mengikuti langkah driver itu menuju mobil, ia lalu membuka pintu mobil perlahan. "Alamatnya sudah ada di aplikasi ya pak." "Nggih mbak." Ucap driver lalu mengangguk kecil. Sebelum mobil itu siap beranngkat menuju tempat tujuan, Renata lebih dulu ingin menutup pintu mobil. Namun gerakannya terhenti kala pintu mobil terasa ada yang menahannya. "Naru!" Renata tersentak kala melihat bosnya sudah berada di dalam mobil bersama dengan dirinya. "Ayo pak jalan." "Ta-tapi mas." "Saya pacarnya pak." setelah melihat kesunggugan dari mata sang pria, dan tidak ada sanggahan dari sang gadis membuat driver itu mau tidak mau menjadi percaya akan ucapan Keynaru. "Baik kalau begitu mas." Lalu mobil itu melaju dengan Keynaru yang ikut bersama Renata menuju rumah milik sang gadis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD