Yes or No?

1232 Words
Pagi itu begitu cerah, langit biru seperti biasanya. Renata sudah menunggu hari ini, hari dimana ia akan pergi membeli novel incarannya. Namun keinginannya harus ia tunda kala mendapatkan satu pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya yaitu Safanah. Dalam pesan Safanah mengatakan bahwa dirinya juga Inka sedang berada disalah satu Kafe, dan Renata harus segera datang kesana karena Kafe itu sekarang sedang menjadi booming karena desainnya yang unik. Berbekal Jmaps Renata akhirnya memutuskan untuk datang ke Kafe yang sahabatnya rekomendasikan. Namun bukan Renata namanya jika tidak tersesat. "Maaf, permisi.." ucap sang gadis "Kalau kau menghampiri ku untuk menawarkan produkmu, maaf saja aku tidak tertarik." Mata indah itu membola "om jangan berburuk sangka yaa, saya hanya ingin menanyakan tempat ini." tunjuk sang gadis pada layar benda persegi panjang yang menampakan beberapa tulisan disana. Pria itu menoleh dengan cepat, melihat secara intens gadis dihadapannya "kau bilang apa tadi?" "Mau menanyakan temp—" "Bukan. Sebelum itu!" Sang gadis menatap bingung "oh, om?" Mata pria itu membola "kau pikir aku setua itu?" Memicingkan mata sebiru lautan miliknya. "Ooh maaf, mister." Ucap Renata karna memang pria didepannya seperti warga asing— ah memang warga asing sepertinya. "Kau!" "Lalu aku harus memanggil dirimu apa? Aaarrgh.. menanyakan alamat saja serumit ini, harusnya aku tadi langsung menuju toko buku saja." ucap sang gadis yang sedang mengacak surainya perlahan lalu dengan cepat merapihkannya kembali dan dengan sedikit mengerucutkan bibirnya. Menyodorkan tangan sewarna tan itu "Key." sang gadis hanya menatap tangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Om mengajak aku kenalan?" "Berhenti memanggil ku dengan sebutan itu bocah!" Melirik ke kenan dan ke kiri "kau bicara pada siapa? Disini gak ada seorang bocah." Pria itu lalu menatap datar pada gadis yang berada dihadapannya. Gadis itu tersentak seraya mengacungkan jari telunjuk miliknya ke depan wajah "maksudmu aku bocah?!" Pria itu mengangguk. "Heii!!! Umur ku sudah 23 tahun tahu!" "Lalu apa peduli ku dengan umurmu?" Membalikan badannya "kau membuatku sakit kepala." lalu pergi meninggalkan gadis yang masih bergeming ditempatnya. "Dasar om-om gila!" Berdecak sebal, melirik benda persegi panjang yang masih ia genggam "aku hubungi Inka saja deh." ** Nathan sangat dibuat bingung sekarang, nyatanya sang adik telah mengenal siapa pria yang akan dikenalkan dengannya. Meskipun nyatanya itu adalah awal yang baik namun sepertinya pertemuan mereka pertama kali tidaklah sebaik yang Nathan pikirkan. Memijit pelan pelipisnya Nathan memandang bergantian pada Sahabat dan adiknya. "Bagaimana?" Mengedikkan bahunya "secara tak sengaja, aku sedang berada disalah satu jalan. Dan adikmu menyapaku." Mata sang gadis membola, apa maksud ucapan pria yang masih berdiri dihadapannya, Renata menyapanya? Tapi sejak kapan? Yang Renata ingat ia hanya menanyakan alamat sebuah Kafe kepada pria bermata biru yang masih setia tersenyum jahil kepada Renata sekarang. "Apa itu!? Dia bohong kak, aku menanyakan alamat kepada om ini." menunjuk pria yang masih terus menatapnya. Nathan semakin dibuat pusing, kepalanya seakan berputar. "jadi, terserah mana yang benar aku tidak peduli." Bangkit dari kursinya "Re berhenti memanggilnya dengan sebutan om.. Naru seumuran denganku." "Dengar itu bocah." Ucap pria yang masih menatap Renata. Namun Jari telunjuk Nathan menunjuk ke arah dirinya. "berhenti menyebut adik ku dengan sebutan itu." menjeda ucapannya, Nathan menghebuskan napas berat "sekarang kalian coba berkenalan dengan benar, aku ingin melihatnya." Mereka berdua menoleh cepat kearah Nathan. "apa? Aku sudah lama tidak menonton cerita romansa." ucapnya datar. "Kak!" "Cepat." Mengulurkan tangan kanannya "Renata" ucap sang gadis memandang lengan sang pria, masih belum berani menatap mata sebiru lautan itu. "Keynaru, kau bisa memanggilku Naru, Nata" tersenyum begitu lembut, apa katanya tadi? Dia memanggil Renata dengan sebutan Nata? Tidak buruk juga pikirnya. "Jadi?" Kali ini suara Nathan. Renata dan Keynaru menoleh bersama. "kalian setuju akan perjodohan ini?" Keynaru menatap Nathan datar "aku sudah bilang setuju pada ayahku, jadi sepertinya mundur bukan gayaku. Apalagi jika dijodohkan dengan gadis secantik ini." Semu merah terlihat dipipi seputih s**u milik Renata, dengan mudahnya seorang pria memuji dirinya didepan kakaknya. Ah apakah dia selalu seperti itu kepada gadis lain juga? Sepertinya Naru tipe penggombal handal dan pastinya untuk setiap gadis yang ia jumpai. "Kau gimana?" Suara Nathan memecahkan lamunan Renata. "Aku mengikuti alur saja." "Eh, kau akan menyesal jika menolak ku." Mengernyitkan keningnya, Renata tak habis pikir pria dihadapannya mampu sepercaya diri ini. "Aku ini idola gadis." Lanjut Keynaru dan medapatkan tawa keras dari Renata. "Hahaha.. bagaimana.." menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya "apakah mereka semua rabun?" Melanjutkan tawa bahagia, Renata seakan mendapatkan hiburan baru setelah beberapa bulan ini hatinya dilanda gundah. "Re." Renata menoleh ke arah sumber suara. "Aku harus kembali ke kantor, kau jangan tertawa terus, jangan membuatnya marah kau akan menyesal nanti." Renata mengangguk tanda mengerti, meskipun masih diselingi gelak tawa ia mencoba mengatur emosi yang ada. "Kak, sampaikan kepada ayah aku baik-baik saja." Keynaru memandang kakak dan adik itu bergantian. "Aku pergi dulu." Ucap Nathan kala menepuk bahu Keynaru perlahan "jaga adik ku, kalau tidak.." ucap Nathan lalu menggerakkan lengannya secara horizontal didepan leher "kau habis." "Akan ku jaga sampai ke pelaminan." "Bagus." Nathan telah keluar dari ruangan itu, dan hanya menyisakan Keynaru dan Renata. Memandang gadis yang tak jauh dari tempatnya berdiri, Keynaru berjalan mendekati Renata yang masih bergeming ditempatnya. "Ayo ku tunjukan meja kerjamu." "Terimakasih." "Tak usah sungkan, kalau kau belum bisa menerima ini anggap saja aku temanmu." Tersenyum begitu lembut. Lalu Keynaru mengajak Renata keluar dari ruangan miliknya untuk melihat meja kerja milik sang gadis. Berjalan perlahan namun begitu beribawa. Renata seakan dibuat takjub dengan pembawaan diri yang dimiliki Keynaru. Tampan. "Hey!" Renata tersentak kala mendengar teriakan dari Keynaru, suasana mendadak berubah, suara bariton itu menggelegar diruangan. Semua orang menunduk takut. Berjalan menuju salah satu meja, Renata masih setia mengikuti Keynaru dibelakangnya. "Sedang apa kau disini?" Wanita itu menunduk. "Kalau aku tanya jawab!!!" Bentaknya yang membuat Renata sedikit mundur beberapa langkah kecil. "Kau sudah ku pecat! Jadi untuk apa lagi kau menginjakkan kaki disini?" Ucap sang pria kepada wanita yang masih terus menunduk dihadapannya. "M-mmaaf pak. Saya hanya ingin mengambil sesuatu." Menatap tajam ke arah wanita yang bahkan tidak berani menatap lawan bicaranya. "Cepat ambil. Dan pergi!" Ucapnya lalu meninggalkan wanita yang masih bergeming tidak bergerak sedikitpun, terlihat punggungnya bergetar mungkin ia sedang menahan tangis pikir Renata. Tampan sih tapi galak. Bagaimana mungkin ayah menjodohkan ku dengan pria seperti dia? Terus menatap punggung tegap didepannya, Renata tak habis pikir pria penggombal yang ia jumpai beberapa menit lalu berubah menjadi pria yang begitu berbeda. Bahkan dengan sadar ia telah membentak seorang wanita cantik juga seksi, apa sebenarnya kesalahan wanita itu sampai harus diperlakukan seperti tadi oleh Keynaru. Membuka pintu ruangan yang beberapa menit lalu ia tinggalkan, Renata begitu bingung pasalnya pria didepannya mengatakan akan mengantarkannya menuju meja kerjanya, namun mengapa ia kembali keruangan ini lagi? "Pak." Mencoba membuka suara, Renata terus berdoa didalam hati agar tak mendapatkan amukan sang pria. Menoleh lalu menatap gadis itu datar "maaf kau harus melihat kejadian tadi." Renata semakin dibuat bingung kenapa pria didepannya harus meminta maaf "t-tidak apa-apa pak." "Berhenti memanggil ku dengan sebutan itu." Ucap Keynaru lalu berjalan menuju meja kerjanya, mengangkat gagang berwarna putih dan menekan beberapa tombol disana ia sedang menghubungi seseorang. "Bawa meja kerja sekretaris ku kedalam ruanganku.. Iya segera." Mata indah sang gadis membola, apa katanya tadi? "Naru.." "Hmm.." "Kau bercanda? Tidak lucu." "Aku serius, bukannya kita sedang PDKT? Ini akan lebih bagus jika setiap hari kita selalu bertemu." "Kau sama menyebalkannya dengan kak Nathan ya." Naru tertawa renyah "jelas lebih tampan aku." Menjeda ucapannya "Nat." Renata menoleh kala namanya dipanggil sang pria. "Ayo pacaran denganku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD