Menatap beberapa orang yang sedang berbaris didepannya, Renata sangat gugup sekarang, sesekali melirik pria yang masih berdiri tanpa kata disebelahnya mencoba mengatur napas agar tak terlihat bahwa ia sedang demam panggung.
Renata bukanlah gadis yang mudah bergaul, ia sedikit pemalu meskipun mempunyai wajah yang cantik ia selalu tak percaya diri. Mempunyai beberapa teman sudah cukup pikirnya tak perlu banyak yang penting bisa membuatnya nyaman.
Renata masih terus melirik sekilas beberapa orang yang masih menatapnya dengan intens, situasi ini sungguh tidak bagus untuk dirinya.
"Perhatian." Ucap seseorang yang bernama pak Aly.
Sebelumnya Nathan sudah menitipkan dirinya kepada HRD kantor yang akan menjadi tempatnya bekerja.
"Kita kedatangan karyawan baru, dia akan ditempatkan di bagian pemasaran," melirik sekilas kepada pria yang berada tak jauh didepannya "Setno tolong dibimbing ya.."
Pria itu mengangguk setuju "siap pak."
Setelahnya pria yang bernama Setno menunjukan meja kerja sang gadis, ia menjelaskan beberapa pekerjaan yang harus Renata kerjakan dan menitipkan beberapa pesan jika ia tidak bisa atau bingung jangan sungkan untuk bertanya dengannya.
Renata hanya mengangguk tanda mengerti dan tidak lupa mengucapkan terimakasih sebelum pria bernama Setno itu meninggalkannya seorang diri.
HY Corporation adalah perusahan yang berjalan dibidang Properti, kalau boleh jujur ini bukan bidang yang Renata kuasai namun daripada harus terus berdiam diri dikamar membuatnya terus saja merasa sakit tak ada salahnya kan mencoba hal yang baru.
HY Corporation dipimpin oleh Nathan Wiliam, Ya.. kakak dari Renata, namun sebelum dirinya memutuskan untuk bekerja di perusahaan milik keluarganya sendiri Renata meminta untuk tidak memberitahu kepada siapapun bahwa ia adalah putri dari pemilik perusahaan, ia hanya ingin menjadi orang biasa. Mempunyai teman yang tidak mengetahui siapa dirinya.
Beberapa puluh menit berlalu, Renata masih fokus mempelajari apa yang harus ia kerjakan tanpa menyadari seseorang sedang memperhatikan dirinya. Ia tersentak kala bahunya ditepuk pelan oleh seorang wanita.
"Mbak Ren, maaf bikin kaget katanya mbak Ren dipanggil oleh pak Aly."
mengernyitkan keningnya "pak Aly?"
Wanita itu terkekeh geli, "ituloh yang tadi nganterin mbak kesini, HRD itu namanya pak Aly."
Menepuk keningnya pelan "astaga aku lupa namanya," Renata juga terkekeh kecil "makasih ya mbak.."
"Sherly." ucapnya seraya menyodorkan tangan kanannya, dan disambut dengan bahagia "Renata." lalu tersenyum.
Ah.. apakah aku baru aja dapat teman baru.
"Kalau begitu aku nemuin pak Aly dulu sebentar ya mbak."
Gadis yang masih berdiri disampingnya menggeleng perlahan, dan membuat Renata bingung.
"Jangan panggil mbak, sepertinya kita seumuran.." ucap Sherly lalu menepuk bahu Renata "semangat ya."
Renata lalu tersenyum menatap gadis yang bernama Sherly.
"Makasih."
Tak buruk pikir Renata, dihari pertamanya bekerja ia sudah mendapatkan teman. Berdiri dari kursinya bergegas menemui pak Aly.
Selama berjalan menuju ruangan HRD Renata bertemu beberapa orang yang tak saling mengenal namun mencoba untuk tetap bersikap ramah.
Mengetuk pelan pintu yang sudah berada dihadapannya lalu membukanya perlahan kala suara dari dalam sudah mempersilahkan untuk Renata memasuki ruangan itu.
Ketika pintu mulai terbuka hal yang pertama Renata lihat adalah dua orang pria sedang berdiri menunggu dirinya, yang membuat Renata bingung adalah sedang apa sang kakak berada di ruangan HRD? Perasaannya mulai tidak enak, pasti kakaknya sedang merencakan sesuatu.
"Maaf pak, ada apa memanggil saya?"
"Kau mau menjadi aktris ya?" Ucap pria yang masih bergeming dan menatap Renata datar.
Mendapat tatapan tajam dari sang adik membuat Nathan terkekeh geli.
"Pak Aly mengetahui siapa dirimu bodoh, kau pikir dia gak pernah berkunjung kerumah kita?"
Melirik pria paruh baya yang masih setia bediri disamping sang kakak.
"Itu benar mbak." Ucap pak Aly lalu menundukan kepalanya dan tersenyum.
Renata adalah gadis yang lebih suka menyendiri, beberapa kali ayahnya mengundang karyawannya untuk sekedar makan malam bersama dirumah, nyatanya Renata tidak pernah ikut serta. Ia berpikir bahwa tidak akan ada yang mengenalinya, namun Renata lupa satu hal bahwa foto yang berukuran 60x90cm terpampang jelas di ruang tamu rumahnya, menampilkan semua anggota keluarga.
Memutar bola matanya bosan "ada apasih kak?"
Melipat kedua tangannya dan menempatkan didepan d**a "aku akan memecatmu dan menjadikan dirimu sekretaris temanku."
"Apa?!" Menggeleng cepat "tidak! Tidak.. aku tidak mau!"
Renata paham sekarang kenapa ia harus dipanggil kesini. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan permintaan sang ayah semalam untuk menjodohkannya dengan seorang pria?
Renata berpikir bahwa ayahnya sungguh kolot bahkan di era sekarang ayahnya masih melakukan perjodohan, mana mungkin ada seseorang yang ingin dijodohkan dengan laki-laki yang bahkan tak ia kenal. Menatap dalam mata sang kakak, Renata berharap bahwa Nathan mampu berubah pikiran.
Namun jauh dari kata yang Renata harapkan. Seakan tahu apa yang Renata inginkan Nathan bahkan sudah tahu bahwa adiknya akan menolak tawarin ini.
"kalau kau tidak mau, Aku akan menjadikanmu kepala Meneger."
Mata indah gadis itu membola, dan lalu kepalanya menggeleng dengan cepat "aku tidak mau!"
"Yasudah turuti apa mau ayah."
Menatap kakaknya dengan tatapan memelas, berharap dapat belas kasihan sang kakak namun nyatanya nihil Nathan si pria dingin itu tak menggubris sang adik.
"Yasudah! Terserah kalian saja.. padahal aku baru saja bekerja satu hari, tapi sudah dipecat.. aah bahkan ini belum ada satu hari" Menghentakan keras salah satu kakinya "perusahaan macam apa ini."
Berdecak sebal, Renata sangat kesal sekarang ia baru saja menyesuaikan diri dan memiliki teman baru namun belum 24 jam bekerja dirinya sudah dipecat oleh kakaknya sendiri. Sungguh menyebalkan.
"Yasudah, tunggu apalagi? Bereskan semua barangmu. Lalu ikut denganku."
"Kemana?"
"Tentu saja ke kantor baru mu, bodoh." Menyentil pelan kening sang adik, Nathan berjalan meninggalkan ruangan itu, dan hanya tersisa Renata dan juga pak Aly yang saling memandang tanpa mengucapkan satu katapun.
Renata membungkuk kecil guna memberi hormat kepada pak Aly, pak Aly pun melakukan hal yang sama ia masih ingat walaupun gadis didepannya adalah karyawannya namun itu hanyalah status kantor.
"Terimakasih pak Aly."
"Sama-sama mbak, tidak perlu khawatir kantor baru mbak adalah perusahaan yang bekerjasama baik dengan HY Corporation. Mbak akan menyukai bos baru mbak." tersenyum lembut ke arah putri sang pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Semoga saja ya pak." Membalas senyuman sang pria paruh baya dihadapannya "saya permisi, terimakasih telah menerima saya bekerja disini pak Aly."
Pak Aly mengangguk dan senyuman itu tidak pernah luntur dari wajah sang HRD.
**
Berjalan tergesa menuju mobil yang sudah terparkir didepan kantor milik ayahnya, Renata sangat kesal karna kakaknya menunggu dirinya persis didepan pintu utama kantor.
Ia berpikir bagaimana jika ada karyawan yang melihat dirinya memasuki mobil sang direktur utama. Aah tentunya pasti akan menjadi gosip yang hangat.
"Kenapa harus disitu sih? Emang gak bisa nunggu di parkiran aja?" Protes Renata kala sudah memasuki mobil sang kakak.
"Cerewet. Kuping ku sakit."
"Ish." Berdecak sebal, ia lalu melihat jalanan yang terpantul dikaca mobil.
"Apakah ayah punya maksud tertentu?"
Nathan melirik sekilas pada sang adik, lalu tersenyum simpul ia menyadari bahwa adiknya memang tidak sebodoh yang ia kira.
"Kau pintar juga" kembali konsentrasi pada jalan.
Menoleh pada sang kakak "jadi benar ya?" Menatap datar pada mobil yang berlalu lalang "ayah belum percaya aku bisa melakukannya sendiri?"
Menarik napas lelah "apakah aku seburuk itu kak? Aku terkesan gak laku yaa." Tertawa pedih, nyatanya Renata belum bisa melupakan pria yang sudah mengkhianatinya, dan sekarang ia harus mengikuti apa yang ayahnya inginkan. Yaitu perjodohan.
"Ayah melakukan ini demi kebaikanmu.." melirik sekilas kepada gadis yang begitu berarti dalam hidupnya "bukan berarti ayah tidak percaya kepadamu, ia hanya tak ingin kau mendapatkan rasa sakit yang sama Re."
Nathan menepikan mobilnya, lalu tubuh tegap sang pria menghadap kepada sang adik, menatap Renata yang juga menatapnya.
"Aku percaya padamu, tapi tolong biarkan kami membantu walau hanya sekali. Kau adik ku, meskipun terlihat tidak peduli namun aku, ayah, ibu, dan Hana merasakan sakit yang kau rasakan Re, kami hanya tak ingin kau terluka untuk kedua kalinya." melepaskan seatbelt nya, Nathan lalu membuka pintu mobil "kita sudah sampai, ayo."
Tersadar, Renata menatap kesekeliling ternyata ia sudah sampai di basement sebuah kantor. Juga melepaskan seatbelt nya Renata menarik jas sang kaka perlahan.
"Kak" Nathan menoleh ke arah sumber suara, "terimakasih." Mendapatkan senyuman dari Nathan nyatanya menjadi semangat baru untuk Renata. Ia sadar bahwa dia tidaklah sendiri.
Berjalan mengikuti langkah sang pria yang tak lain adalah kakaknya, Renata masih terus berpikir seperti apa wajah dan sifat dari bos serta calon yang ayahnya ingin kenalkan kepada dirinya.
Nathan berhenti di meja resepsionis bertanya sedikit pada wanita yang begitu cantik dihadapannya. Lalu setelah beberapa pertanyaan sudah terjawab mereka diantar menuju ruangan sang Direktur utama. Renata begitu takjub nyatanya perusahaan ini dua kali lipat lebih besar dari perusahaan milik ayahnya, apakah ia mampu menjadi sekretaris yang bisa diandalkan disini?
"Kak."
Nathan tersenyum ke arah Renata, ia tahu bahwa sang adik sedang merasa pesimis terhadap kemampuannya sendiri.
"Tak apa, kau pasti bisa." mengacak pelan surai milik sang adik.
Berkat Nathan keberanian Renata bertambah sekarang. Nathan selalu menjadi yang paling bisa diandalkan.
Resepsionis yang sebelumnya telah mengantarkan kami sudah pergi dan sebelum itu ia hanya menunjukan satu pintu dan mengatakan bahwa disanalah ruangan sang Direktur utama.
Tanpa mengetuk Nathan membuka pintu itu, memperlihatkan seorang pria yang sepertinya adalah warga negara asing. Renata tak berani menatap pria yang masih terduduk dikursi kebanggaannya, hanya mampu melihat sekilas lalu dengan cepat menundukan kepalanya membuat Renata tak dapat melihat dengan jelas wajah sang pria.
"Selalu tak memiliki sopan santun, eh?" Suara bariton itu mendominasi ruangan bercat kuning pastel.
Nathan tertawa lalu menghampiri pria yang sudah berdiri dari kursinya, Renata masih setia menundukan kepala bersurai hitam legam milikinya, hanya sepatu kedua pria itu yang mampu ia tatap.
"Pekerja keras sekali? Kau sudah kaya." Itu suara Nathan lalu disusul tawa renyah sang pria yang bahkan Renata tidak tahu siapa dia.
"Aku bekerja bukan karna ingin menambah kekayaan, tapi memang kewajiban seorang pria"
"Calon suami yang baik."
"Kau saja jomblo Wil, gak usah bilang kalau aku suami yang baik." ucap pria itu lalu terkekeh.
"Ah kenalkan dia adik ku.. sekaligus sekretaris yang aku janjikan." ucap Nathan lalu merangkul bahu mungil Renata.
"Kenapa kau menduduk? Kau malu, eh?" Ucap Nathan dengan nada jahil.
Mendapatkan sikutan dari sang adik Nathan hanya bisa meringis kecil.
"Na-nama saya Renata." Masih tetap dalam posisinya, Renata tak berani melihat siapa pria yang berada dihadapannya saat ini.
Pria itu tak mengeluarkan suara sedikitpun, namun langkahnya terus maju. Bagaimana Renata tahu? Yaa.. karna Renata masih memandang sepatu yang pria itu kenakan.
Berhenti tepat dihadapan Renata, lalu "Kau cantik, jangan sembunyikan wajahmu."
Renata tersentak kala suara bariton itu sangat jelas terdengar, begitu lembut. Renata mengangkat kepalanya perlahan memperhatikan wajah sang pria yang berada dihadapannya sekarang.
"Om gilaa!!?"