New Life

1130 Words
Chilsa menahan tawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Tangan kirinya memegangi perut. Dia tertawa tapi tak mau terdengar oleh Evan. Laki-laki itu benar-benar bisa menjadi hiburan untuk Chilsa di saat seperti ini. "Om … Om. Sikapnya dingin, wajahnya tegas, tapi cuma mau dibukain celananya aja udah lari," ucap Chilsa diiringi dengan gelak tawa. Sebagai istri yang baik, Dia segera mencari baju ganti untuk suami tercintanya Setelah dia berhenti tertawa. 'Aku harus cari baju yang menempel di kulit Om. Supaya kotak-kotaknya lebih terlihat,' ucap Chilsa. Dia menyisir lemari yang isinya belum begitu penuh itu. Dia akhirnya mendapatkan singlet hitam dan celana pendek. 'Untuk hari ini om nggak usah pakai piyama dulu ya? Biar terlihat awet muda harus didandani kayak anak muda dong,' ucap Chilsa dalam hati. Dia mengambil pakaian itu, kemudian segera menuju ke depan pintu kamar mandi. "Om … ini bajunya, aku masuk ya?" goda Chilsa. Sok-sokan aja dia bilang seperti itu. Karena kalaupun di iya kan, dia pasti tidak akan berani. Si jahil itu memang selalu begitu. Bergaya aja dulu. Lainnya menyusul. "Jangan coba-coba masuk. Di situ saja, aku ambil dari dalam," teriak Evan. Dia takut tak bisa mengontrol dirinya kalau sampai melihat Chilsa ada di kamar mandi. "Ah tapi Chilsa pengen masuk Om. Boleh ya?" Evan segera mengguyur kepalanya yang masih penuh dengan busa, kemudian dia segera menuju pintu dan membuka pintunya sedikit. Sangat sedikit hanya cukup untuk mengeluarkan tangannya. "Siniin pakaianku." "Oh my God, tangan om seksi banget sih. Jadi pengen masuk ke kamar mandi," ucap Chilsa manja seperti biasanya. Evan buru-buru meraih pakaian itu dan segera kembali menutup pintu rapat-rapat. Sedangkan Chilsa? Ya, Tentu saja tidak sedang tertawa terbahak-bahak sambil guling-guling di atas kasur. Dia memang sedikit kurang ajar dan tidak sopan. Bisa-bisanya dia mengerjai Om tampannya. 'Terimakasih, Om. Kau sedikit bisa mengobati rasa sakit hatiku karena Prass. Terimakasih,' ucapnya dalam hati. Kemudian, dia tersenyum getir. *** Setelah Evan selesai mandi, mereka bertiga makan di meja makan dengan menu yang baru saja di pesan oleh Chilsa. Menunya benar-benar lengkap ada di atas meja. Ada ayam goreng, ada telur, dan juga aneka sayur. "Siapa yang masak?" tanya Evan sambil mengambil nasi dan meletakkan ke piringnya. Kau tahu apa yang dilakukan oleh Chilsa? Hanya membungkus kedua pipinya dengan telapak tangan sambil menatap Evan yang tampak begitu tampan setelah selesai mandi. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa seorang istri seharusnya mengambilkan makanan untuk suaminya. Bukan malah menontonnya seperti itu. "Menurut Papa siapa? Anak manja ini? Bahkan dia membuka botol minyak aja nggak bisa, Pa. Yang benar aja dia yang masak," sahut bianca dengan muka cemberut. Dia benar-benar muak dengan Chilsa sekarang. Sejak pernikahan antara papanya dengan Chilsa, sejak saat itu juga dia tidak mau menganggap Chilsa sebagai sahabat. "Nggak usah meributkan siapa yang masak, Om. Pokoknya ini dimasak oleh ahlinya." "Besok semua ATM kamu, kartu kredit, kartu debit, aku yang bawa. Karena sekarang kamu istriku, jadi semua kebutuhan kamu aku yang tanggung. Semua uang dari kakek, Aku sita dulu. Jadi mulai besok, Aku tidak mau ada makanan terhidang di meja hasil dari membeli. Mulai besok, kamu yang akan masa dan menyiapkan makanan untuk aku dan Bianca." Evan mengucapkan kata-kata itu dengan santai sambil mengarahkan makanan ke mulutnya. Bianca langsung tersenyum penuh kemenangan. 'Mampus Lo. Enak kan nikah? Hah? Enak? Makan tuh nikah. Gue cuma mau lihat aja, seberapa lama Lo kuat nikah sama Papa gue kalau keadaannya seperti ini,' batin Bianca. "Om … Nggak bisa begitu dong? Perjanjiannya nggak begitu lo Om. Iya, aku memang harus mandiri. Oke, Aku pengen masak dan menyiapkan semua keperluan aku, Om, sama Bianca, tapi nggak harus disita juga dong semua kartu aku. No … aku nggak mau semua kartu-kartu aku diminta sama Om. Nggak mau, titik." Chilsa berbicara sedikit berteriak. Kata-kata Om Evan tadi benar-benar shock. Mana bisa dia hidup tanpa kartu kartunya. Dia terbiasa makan di resto mewah, kalau nggak gitu dia terbiasa makan-makanan yang terbuat langsung dari tangan Mbok sum. Sekarang dia harus makan makanan yang terbuat dari tangannya sendiri? Oh No. Dai tidak bisa membayangkannya. Dia menatap kuku-kukunya yang baru saja di meni pedi, dia juga menatap kulitnya yang baru saja lulur di salon. Bisa berantakan semuanya kalau dia masak di dapur. Kalau terkena percikan minyak panas bagaimana? Kalau jari-jarinya kepotong waktu potong-potong sayur gimana? Kalau matanya pedih terkena asap bagaimana? Bayangan-bayangan itu benar-benar membuat Chilsa merinding. "Menjadi seorang istri memang begitu. Tidak mudah sama sekali. Mulai sekarang kamu memang harus belajar semuanya. Kamu adalah seorang ibu sekarang yang harus mengurus Bianca. Kamu seorang istri sekarang, yang harus mengurus aku. Setelah ini selesai nanti, kamu yang akan beres beres ya?" "No Om. No … aku tidak mau sama sekali melakukan itu semua ini. No no no … Nggak. Nggak mau." Chilsa segera menutup telinganya, kemudian berlari ke kamarnya. Ini benar-benar mimpi buruk untuknya. Kemarin dia menerima persyaratan itu tidak dengan sepenuh hati. Dia mengiyakan saja persyaratan dari Evan supaya dia bisa cepat-cepat menikah dan menunjukkan kepada Pras bahwa dia tidak akan menjadi perawan tua. Apakah kepuasan dia setelah menunjukkan itu sebanding dengan apa yang dia dapatkan setelah pernikahan? Chilsa segera menutup pintu kamarnya rapat. Perempuan manja itu segera mengambil handphonenya dan menghubungi sang kakek. "Kakek … Om Evan jahat Kek. Bilang sama dia jangan sampai meminta kartu-kartu aku. Aku nggak mau ya Kek, Kalau kartu ATM ku, kartu kredit dan kartu debit diminta sama dia semuanya. Aku punya banyak kebutuhan dan aku punya banyak keperluan. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kartu-kartu itu, Kek. Ayo kek, bilang sama Om Evan sekarang supaya tidak mengambil paksa semua kartu kartu aku." Chilsa berbicara dengan menggebu-gebu kepada kakeknya. Dia yakin, kakeknya tidak akan tega melihat dia yang merengek seperti itu. Karena selama ini, apapun yang diminta oleh dia, akan dikabulkan oleh sang kakek. Even, itu adalah hal yang nggak masuk akal termasuk minta dinikahkan. Hanya terdengar tawa ringan dan santai di seberang sana. Chilsa semakin membulatkan matanya. What? Kakeknya hanya tertawa? Apakah ini lucu? Apakah bagi kakaknya ini hanya sebuah lelucon? "Kakek, Please! Chilsa membutuhkan pertolongan kakek sekarang. Tolong Chilsa, Kek." "Cucu Kakek yang paling cantik, bukankah kamu sudah menyetujui untuk menjadi pribadi yang mandiri Setelah kalian menikah? Iya kan? Setelah pernikahan itu, kakek sudah menyerahkan kamu kepada Evan. Jadi Evan yang akan bertanggung jawab atas kamu. Evan yang akan mendidik kamu dan Evan yang akan bertanggung jawab untuk keuangan kamu sekarang, dan Kamu sekarang, asalkan dia tidak kasar dan tidak main tangan. Jadi, kakek tidak bisa berbuat apa-apa Kalau suamimu memang mau minta kartu kartu itu. Tak masalahkan tidak ada kartu-kartu itu, Jika kamu butuh apa-apa, minta langsung sama suamimu. Pasti akan diberikan. Ya? Sudah, jangan merengek lagi. Sekarang kakak ada meeting penting, jadi Sudah dulu ya? Love you cucu Kakek." Klik. Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh kakek Harjoko. Chilsa hanya bisa menatap layar handphonenya dengan mulut yang menganga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD