"Om, Jemput Chilsa sekarang juga."
Chilsa menelpon suaminya, dengan nada manja dan minta keinginannya segera dipenuhi seperti biasanya.
"Ada Pak Udin. Kamu bisa dijemput sama Pak Udin," ucap manusia di seberang sana. Evan masih berada di kantor Tuan Hardjoko, menemani beliau yang sedang memeriksa laporan.
"Tapi aku mau dijemput sama Om sekarang juga. Sekarang juga dan gak mau nanti nanti, Om."
"Aku sedang bekerja dan tidak mau diganggu. Kalau kamu tidak mau menghubungi Pak Udin, kamu bisa naik taksi."
Klik. Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Evan. Dia mulai risih dengan tingkah laku Chilsa yang sama sekali belum dewasa. Dia benar-benar seperti memiliki anak baru, bukan istri baru.
"Ada apa, Van? Chilsa masih manja? Dia selalu merepotkan kamu?"
Masih manja? Pertanyaan macam apa itu. Mana bisa orang berubah dalam waktu beberapa hari saja.
"Em … mungkin masih adaptasi saja, Tuan. Pelan-pelan saya akan membimbing Chilsa supaya tidak lagi manja. Saya mohon izin kepada Tuan Evan agar diberikan kebebasan untuk membimbing selesai dengan cara saya."
"Oh tentu. Tentu saja kamu boleh membimbing dia menjadi orang yang lebih baik. Mungkin sudah cukup saya memanjakan dia. Kamu bisa membimbing dia sama dengan cara kamu membimbing Bianca sehingga dia bisa menjadi perempuan yang dewasa dan bertanggungjawab di umurnya yang sama dengan umur Chilsa. Oh iya, Van. Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu."
"Apa Tuan?"
"Sekarang kamu sudah menjadi cucu menantu saya. Kamu tahu sendiri Saya tidak punya keturunan selain Chilsa. Hanya Chilsa yang akan mewarisi seluruh harta yang saya miliki. Untuk itu, Saya mau kamu belajar mengelola 1 hotel dan satu restoran milik saya. Jadi, jika nanti saatnya tiba kamu pasti sudah siap untuk mengelola semua perusahaan yang saya miliki."
Tuan Hardjoko menatap Evan dengan tatapan yang serius. Dia tahu dedikasi Evan dan dia juga tahu setia apa Evan. Jadi, Saya tidak ragu lagi untuk memberikan amanah sebesar itu untuk Evan.
Evan langsung panas dingin mendengar permintaan Tuan Hardjoko. Dia tidak pernah menyangka sama sekali akan diberi amanah sebesar ini.
"Maaf, Tuan. Bukannya Saya mau menolak permintaan Tuan, Tapi saya merasa belum pantas untuk mendapatkan amanah sebesar itu."
"Evan, sekarang kamu cucu menantu saya dan itu artinya kamu juga cucu saya. Ini juga demi Chilsa. Tolong, terimalah. Saya sudah tahu kinerjanya kamu selama ini. Jadi saya yakin kamu bisa mengembangkan hotel Dan resto ini. Tolong! Saya yakin kamu bisa mengelolanya dan mengembangkannya sesuai apa yang saya harapkan."
"Tuan, Saya_"
"Saya tidak mau menerima penolakan, Evan."
***
Chilsa Angelista. Di umur yang baru saja menginjak 20 tahun beberapa hari yang lalu, kini sudah menjadi seorang istri dari seorang pemilik hotel dan restoran.
Tapi menurutnya, tak ada perubahan berarti dalam hidupnya. Eh ada. Perubahan yang mulai dirasakan selama beberapa hari tinggal di rumah barunya bersama dengan Evan.
"Mbok Suuuuuum … laperrr!"
Ya, seperti itulah kebiasaan Chilsa. Dia selalu menggantungkan hidupnya pada mbok Sum. Orang yang dipercaya Tuan harjoko untuk merawat dia sejak kecil. Semua kebutuhannya dibantu oleh mbok Sum. Mulai dari makan, mandi, ganti pakaian dan semuanya disiapkan oleh Mbok sum.
Dan sekarang … dia masih suka teriak-teriak Meskipun tidak ada lagi Mbok sum di rumahnya. Karena Evan tidak mau Chilsa manja seperti sebelumnya.
"Woe. Lo itu udah menjadi seorang istri. Seharusnya lu masak buat papa gue, malah teriak-teriak nggak jelas kayak gini. Sebentar lagi papa pulang. Belum ada apa-apa di meja makan. Kakek kamu melarang ART kita untuk masak, katanya kamu yang akan masak. Katanya masa manja manja kamu sudah berakhir. Mulai hari ini kamu harus menyiapkan semua kebutuhan kamu sendiri dan menyiapkan kebutuhan papa dan juga aku. Kamu seorang mama kan?"
Bianca langsung menyambangi kamar Chilsa saat perempuan itu teriak teriak memanggil Mbok sum.
"Oh iya ya, nggak ada Mbok sum lagi. Aku kangen mbok sum. Tapi … masa iya gue harus masak sih? Masa gua harus menyiapkan semua kebutuhan lo sama suami gue? No no no … nggak bisa nggak bisa nggak bisa. Gue menginjak dapur aja jarang, Bi."
Chilsa teriak-teriak histeris mengetahui dirinya benar-benar akan menjadi seorang ibu rumah tangga. Padahal, bukannya kemarin dia sudah menyetujui kalau dia akan melakukan semuanya sendiri? Ah … ternyata tidak semudah itu.
"Salah sendiri mau nikah. Nikahnya sama papa gue pula. Cepet keluar dan turun dari kasur lo. Masak sana!"
Bianca menutup pintu Chilsa keras, kemudian dia segera kembali menuju ke kamarnya.
'Rasain Lo. Lo pikir nikah itu enak? Gue yakin, cara memasukkan minyak ke wajan aja lo nggak bisa,' ucap Bianca dalam hati.
***
"Masa iya gue harus masak sih? No ... kuku gue baru menicure dan pedicure. Nggak. Gue pesen makan aja. Beres.
Chilsa tersenyum, kemudian dia benar-benar memesan makanan lewat ojek online. Satu jam kemudian makanan datang, dan dia menyajikan di atas meja makan. Ada nasi, sayur dan juga lauk pauk lengkap tersaji di atas meja.
"Gini aja kok repot, tinggal pencet-pencet HP doang makanan sudah datang. Tak payah lah masak-masak," ucap Chilsa dengan senyum lebar.
Tak lama kemudian, suaminya datang. Chilsa saat itu sudah mandi, wangi, cantik dan juga rapi langsung menghampiri suaminya.
"Selamat malam suamiku, selamat pulang pekerja. Sini tasnya aja aku bawain. Aku bantu ganti baju dulu, nanti kita makan malam bersama ya?" Chilsa meraih tas Evan, lalu menarik tangan suaminya menuju ke kamar. Evan masih melongo melihat banyak makanan yang tersedia di atas meja. Dia tidak sempat tanya apa-apa Karena keburu ditarik ke kamar oleh Chilsa.
"Om, aku bukain bajunya sini."
Chilsa melepaskan dasi Evan, kemudian membuka kancing bajunya sambil menatap Evan yang ternyata masih begitu ganteng di mata Chilsa. Baju terbuka, dan terlihatlah body six pack Evan karena laki-laki itu masih rajin olahraga sampai sekarang.
'Ya Tuhan, Om Evan ganteng banget sih. Tubuhnya atletis parah ….' Chilsa menatap tubuh sixpack Evan.
Saat itu, dia tahu kalau Evan begitu grogi. Kemudian, dia iseng wajah dan telinganya ke d**a Evan.
"Om … Om Evan deg-degan ya? Cie … Om Evan deg-degan. Kenapa Om? Mulai jatuh cinta ya sama gadis manis ini? Sini aku bukain celananya juga."
Chilsa tersenyum manja sambil berusaha meraih celana Evan, tetapi langsung ditepis oleh laki-laki itu. Evan segera berlalu menuju ke kamar mandi dengan detak jantung yang tak karuan. Apakah Chilsa benar-benar tidak tahu, kalau perlakuannya itu bisa mangusik sesuatu yang ada di dalam sana?