"Bro, kenapa? Dia beneran sudah menikah?" tanya Roy.
"Hmmm …." Prass hanya menjawab dengan gumaman. Dia masih shock dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat. Chilsa, si gadis manja yang bahkan ngupas mangga aja minta dikupasin, menikah? Benar-benar tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.
"Serius? Dia nikah? Siapa yang mau sama cewek gila kayak dia?" Anton kali ini ikut nimbrung.
"Gue enggak tahu sama siapa dia nikah? Tapi … Masa iya sih dia nikah? Nggak ada lagi dong yang beliin gue barang-barang branded lagi. s**t! Kirain nggak ada yang mau sama dia."
Prass menggigit ibu jarinya dengan pandangan menerawang. Benar-benar masih sulit diterima oleh otaknya kalau Gadis itu telah menikah. Karena sebelumnya Dia sangat yakin kalau tidak ada yang mau sama Chilsa. Dia memang kaya dan cantik banget, tapi … kalau sudah tiba masa manjanya, Prass bergerak aja nggak boleh. Harus menemani dia dan harus menuruti semua yang dia inginkan.
"Jadi Lo nyesel putus sama dia?"
"Nyeselin orangnya sih enggak, nyeselin hartanya. Nggak ada lagi dong kucuran dana dari dia. Padahal dia royal banget."
"Kacau Lo, kacau … jangan suka morotin anak orang woy. Kena karma mampus lu."
Roy tertawa terbahak-bahak diikuti oleh teman-temannya yang lain. Sementara Prass, Dia hanya bisa diam.
'Sebenarnya, gue nggak serius pengen melepaskan Lo Chil. Gue masih pengen bareng-bareng sama lo kalau rasa kesal ini sudah berakhir. Kenapa sih lu beneran nikah?' Prass terus bertanya-tanya. Sebenarnya, dia merasa tidak rela. Karena sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya kalau Chilsa akan menikah secepat itu.
***
Ketika kelasnya sudah berakhir, Prass buru-buru menghampiri chilsa ke kelasnya. Dia hanya ingin tahu dengan siapa Chilsa menikah dan dia menikah karena apa? Karena rasanya mustahil kalau tiba-tiba saja menikah padahal mereka baru saja putus.
"Ngapain Lo ke sini?" tanya Chilsa ketika Prass nongol di hadapannya. Dia memang sengaja berada di kelas aja menunggu dosen berikutnya datang. Prass sudah sangat hafal dengan kebiasaan itu. Chilsa menatap sinis pas meskipun dalam hati dia tertawa.
"Gue cuma pengen tau aja, Kenapa lo bisa nikah secepat itu? Gue juga pengen tahu sama siapa lo menikah. Lo nggak mungkin menikah secepat itu kalau memang tidak ada apa-apa yang terjadi. Nggak mungkin ada yang mau nikahin lo. Nggak ada yang bisa betah sama lo selain gue."
"Maksud lo? Gue nggak mungkin menikah kalau tidak ada apa-apa yang terjadi? Maksud lo apa?"
Suara Chilsa mulai meninggi. Beberapa temannya yang saat itu ada di kelas langsung menoleh ke arahnya. Mereka pun sok mendengar percakapan dua makhluk yang sebelumnya selalu nempel kemana-mana.
"Chilsa menikah? Nggak sama Prass?"
"Serius dia nikah? Padahal dia kan nggak bisa apa-apa. Buka botol minum aja minta dibukain orang lain."
"Kalau ada yang mau Chilsa, Pasti karena hartanya."
Mereka pada ribut dan berisik. Semua itu bisa didengar oleh Chilsa dengan jelas. Tapi dia tidak peduli dan terus fokus sama Pras yang kata-katanya menggelitik telinga.
"Ya Bisa aja lu nekat melakukan hubungan di luar nikah sama orang lain, kemudian Lo hamil dan Lo …."
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Prass. Emosi Yang meluap membuat Chilsa mempunyai kekuatan lebih untuk melayangkan tangannya ke pipi yang putih bersih itu. Perempuan itu berdiri dihadapan Prass dengan muka hidung dan telinga yang memerah. Darahnya naik ke ubun-ubun saat itu juga.
Dia memang perempuan yang manja yang tidak bisa melakukan banyak hal yang bisa dilakukan oleh perempuan seumurannya. Dia memang bucin kalau sudah suka sama seseorang, tetapi bukan berarti dia adalah cewek murahan yang bisa tidur sama siapa aja. Tuduhan Pras benar-benar menyakitkan hati Chilsa.
Prass memegangi pipinya yang terasa panas. Dia menatap Chilsa yang saat itu itu matanya berkaca-kaca.
"Lo keterlaluan Prass. Gue nggak serendah yang lo pikirkan. Jadi seperti itu gue di mata lo? Jadi serendah itu gue di mata lo? Sekarang gue benar-benar sadar kalau memang lu bukan yang terbaik buat gue."
Chilsa mengalirkan air matanya, kemudian dia meraih tas branded nya di atas meja dengan kasar. Lalu dia segera pergi meninggalkan kan Prass yang masih terbengong di tempatnya.
Dia tidak menyangka kalau kata-katanya akan menyakiti Chilsa sebesar itu. Dia tidak berniat untuk merendahkan Chilsa sama sekali. Dia hanya ingin meluapkan rasa cemburunya saja.
Laki-laki itu terdiam sejenak, kemudian memutuskan untuk mengejar Chilsa. Ya, dia tahu kalau kata-katanya tadi benar-benar keterlaluan. Ternyata, dia masih tidak tega melihat Chilsa sakit seperti itu.
Dia tahu kemana Chilsa ketika dia sedang sedih. Dia pasti berlari ke taman. Benar saja, perempuan itu sedang menangis di sana. Hatinya benar-benar sakit. Meskipun saat itu dia sakit hati sama Prass, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya dia masih mencintai Prass. Dia masih sangat mencintai laki-laki yang sudah tidak menghargai dia lagi. Dituduh melakukan hal buruk oleh orang yang kita cintai itu sangat menyakitkan. Amat sangat menyakitkan.
Prass tidak bisa melakukan apa-apa saat itu. Dia hanya memandang Chilsa dari kejauhan dengan rasa penyesalan. Dia sendiripun bingung dengan perasaannya sendiri. Dia ikut merasakan sakit ketika Chilsa menangis.
'Chil, maafin gue. Gue nggak rela aja kalau ternyata benar-benar nikah sama orang lain. Keputusan gue waktu itu keputusan karena emosi. Gue masih pengen bareng-bareng sama lo.'
Sekarang, dia pun tak tahu. Dia ingin kembali sama Chilsa Karena sekarang dia menyesal Elsa bersama dengan orang lain, atau dia hanya nya nya tidak mau saja kalau mesin ATM berjalan nya sudah tidak ada lagi?
"Kenapa? Lo nyesel udah putus sama mesin ATM Lo."
Prass langsung berjingkat kaget Ketika seseorang menepuk pundaknya. Bianca. Ya, Bianca berdiri di sampingnya dan memergoki dirinya sedang menatap Chilsa dari kejauhan.
"Eh, Lo. Apaan sih. Gue cuma kebetulan lewat aja kok. Ngapain gue menyesal putus sama cewek manja seperti dia. Gue nggak menyesal sama sekali."
"Masa? Kalau memang lu nggak menyesal, Kenapa berdiri di sini sambil melihat India yang sedang menangis? Gue tahu Aku menyesal melepaskan perempuan yang selalu memberikan apa yang lo mau tanpa pikir dua kali. Ya kan?"
"Nggak."
"Udah, jujur aja. Kalau memang lu masih sayang sama dia dan pengen balik lagi sama dia, cara untuk membuat chilsa cerai sama suaminya dan kembali lagi sama lo. Gimana?"
Prass hanya membulatkan matanya mendengar penawaran dari Bianca. Yang dia tahu, Bianca adalah sahabat Chilsa. Bagaimana mungkin seorang sahabat ingin menghancurkan pernikahan sahabatnya?