Pembuktian

1152 Words
"Hiiiiih … semua ini gara-gara lo. Gara-gara Lo. Ini masih hari kedua lo nikah sama bokap gue, tapi hidup gue udah berantakan. Gue udah nggak betah tinggal di rumah kakek Lo ini. Denger ya Chilsa angelista, cewek paling manja dan paling egois sedunia, gue pastiin sebentar lagi lo bakal cerai sama bokap gue." Bianca teriak di depan Chilsa. Mukanya merah padam karena amarah. Karena memang, menurutnya, Chilsa sudah membuat semuanya berantakan. Selain itu, dia benar-benar malu punya ibu tiri yang seumuran. Malu sampai ke ubun-ubun. "Apaan sih Lo Bi, bokap Lo aja santai. Kok Lo ngegas. Terserah lo mau ngomong apa aja. Yang jelas, sekarang gue udah nikah sama bokap Lo dan itu artinya, Lo anak gue. Yuk Nak, berangkat sama mama Nak." Chiilsa meraih tangan Bianca, menariknya gitu saja dan membawanya ke mobil Pak Udin yang sudah siap sedia di depan. Dia terlihat begitu santai seolah mengabaikan perasaan Bianca. Memang dasarnya Chilsa adalah makhluk yang selalu memikirkan perasaannya sendiri. "Lo gila ya? Gue nggak mau satu mobil sama Lo." Bianca teriak sambil berusaha melepaskan tangannya, tetapi cengkraman tangan Chilsa begitu kuat. "Bukannya dulu kita berharap banget bisa 1 mobil setiap hari. Ini doa kita sudah dikabulkan sama Tuhan, dan Lo udah nggak bisa revisi lagi." "Tapi tidak sebagai anak dan ibu tiri. Sebagai sahabat yang aku inginkan, Tapi sekarang gue nggak mau punya sahabat yang egois kayak lo. Mulai saat ini kita bukan sahabat lagi dan lo, nggak bakal diterima menjadi ibu tiri gue. Lepasin!" Bluk. Brak. Chilsa mendorong Bianca masuk ke dalam mobil. Dia juga masuk dan menutup pintunya keras. "Jalan Pak Udin." "Siap Neng." Pak Udin mengacungkan jempolnya, kemudian segera melajukan mobilnya menuju ke kampus. "Dasar cewek otoriter dan sesuka hatinya. Gue benci sama lo dan gue jijik sama lo Chilsa!" Bianca masih teriak emosi. Sedangkan Chilsa, dia hanya senyum-senyum enggak jelas. Dia tahu sahabatnya seperti ini karena belum terbiasa saja. Dia saja perlu adaptasi dengan hal baru ini, apa lagi Bianca. *** Pagi itu, seperti biasa, kampus sudah ramai meskipun masih pagi. Seperti biasa juga, Prass nongkrong di depan bersama dengan kawanannya yang selalu berhasil membuat Chilsa jengah. Perempuan itu menatap Prass yang sedang asyik ngobrol sama teman-temannya. Dia tertawa lepas seolah sangat bahagia. Ya, dia tampak lebih bahagia daripada saat masih bersama dengan dirinya. 'Lo bahagia banget ya lepas dari gue? Gue pastiin suatu saat nanti lo sadar, bahwa gue adalah perempuan terbaik yang pernah ada di hidup lo. Dan saat lo menyadari semuanya, semua sudah terlambat karena gue sudah tidak lagi mengharapkan cowok kaya Lo.' Chilsa menatap Prass dari kejauhan dengan tatapan kebencian. Kemudian, dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. 'No no … nggak boleh emosi. Nanti gue tambah keriput dan tua. Menghadapi cowok seperti itu nggak boleh dengan emosi, tetapi harus dengan kesombongan seperti biasa. Kita tidak boleh merendahkan diri dihadapan musuh. Karena itu akan membuat dia semakin menginjak-injak kita. Ya. Gue harus terlihat tegar dan tidak sedih sama sekali dengan perpisahan ini.' Setelah membuang nafas, Chilsa berjalan lenggak-lenggok dengan penuh percaya diri seperti biasanya sambil berdehem. "Ehem … ehem … " Pras menoleh sedikit ke arah Chilsa, kemudian dia kembali fokus ngobrol bersama dengan sahabatnya yang menurut Chilsa sudah Mengacaukan semuanya. Dia seolah tidak peduli meskipun ada mantan kekasihnya. Mungkin dia hanya dianggap angin lalu. Chilsa membulatkan matanya ketika dia tidak dianggap sama sekali. Dia Hanya dianggap debu berterbangan aja sepertinya Atau mungkin dia Hanya dianggap sebagai iklan lewat? "Ehem ehem …" Dia kembali berdehem sambil meletakkan jari-jarinya di atas kening. Dia pura-pura membenahi poninya Meskipun tidak ada yang salah. Karena sebenarnya niat awalnya adalah memamerkan cincin yang bertengger di jari-jarinya. Sekaligus mencari perhatian dari segerombol laki-laki yang sok-sokan acuh padanya. "Cewek Lo tuh? Caper banget dari tadi. Kegatelan banget kayaknya." Roy menatap chilsa dengan tatapan kesal. "Dia bukan cewek gue kali. Mantan. Mantan Cewek gue yang sepertinya masih sayang. Buktinya dia masih cari perhatian. Sok-sokan mau cari pengganti gue padahal gagal move on. Nggak bakal ada cowok yang mau sama dia. Gue jamin 100%." Prass tega berbicara seperti itu di hadapan sahabat-sahabatnya. Kata-kata itu disambut dengan gelak tawa oleh Roy dan yang lain. Darah Chilsa mendidih saat mendengar kata-kata ejekan dari mereka. Dia tahu kalau roy dan yang lain tidak suka dengan dirinya, tetapi direndahkan seperti ini benar-benar membuat dia kesal dan muak. "Heh … gue nggak bisa move on dari cowok kayak dia? Jangan panggil gue Chilsa kalau gue nggak bisa move on dari cowok yang nggak modal kayak dia. Kalian pikir dia cowok paling wow gitu di kampus ini. Dia itu Cowok nggak penting, dia itu cowok yang nggak guna dan yang selalu morotin ceweknya. Lo tahu berapa uangnya gue keluarkan setiap pergi sama dia? Puluhan juta. Selama ini gue bodoh banget karena sudah banyak mengeluarkan uang untuk orang gak penting seperti dia. Oh iya, satu lagi. Gue totally have moved on from him. See?" Dia menunjukkan jari-jarinya yang sudah berisi cincin. Dia menunjukkannya penuh senyum kesombongan. Dia hanya ingin menunjukkan kepada Prass dan teman-temannya yang enggak punya hati itu bahwa chilsa bisa mendapatkan cowok yang jauh lebih baik daripada Prass. Prass berdiri, lalu menghampiri Chilsa yang saat itu otot-ototnya telah keluar dan matanya melotot sempurna. Dia terusik karena dikatain sebagai laki-laki yang gak guna yang pandai menghabiskan uang Cilsa meskipun memang seperti itu kenyataannya. "Apa yang bisa lu buktikan sama cincin seperti itu? 10 cincin seperti itu bisa lo beli sendiri kan? Karena gue yakin nggak ada yang mau sama lo." "Perlu bukti?" Chilsa segera mengeluarkan handphonenya, Dia menuju ke galeri dan membuka galeri itu serta menunjukkan video ijab qobul dia bersama dengan Evan. Memang sengaja muka Evan sengaja dia blur, bagaimanapun juga dia tidak mau kalau dia diejek bahwa yang menikah dengan dia sudah berumur. Mulut Prass langsung menganga saat melihat video sakral itu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Chilsa telah menikah, bahkan saat mereka baru putus belum ada 1 bulan. "Udah nikah Lo? Serius? Lo nggak serius kan, Chilsa? Mana ada cowok yang mau sama lo? Nggak ada orang yang betah sama lu lama-lama kecuali gue?" "Ini, buktinya ada cowok yang mau nikah sama gue Dan mau janji sehidup semati sama gue. Jadi apa yang lo bilang? Gue bakal jadi perawan tua? Hello … yang ada, lo yang bakal menjadi perjaka tua karena menyia-nyiakan cewek kayak gue. Gue sih nggak pernah rugi sama sekali ya kalau putus sama lo. Enak nggak ada yang habisin duit gue. Kalo Lo … Siapa yang belanjain lo dan traktir lu makan setiap hari? Gue seneng karena lepas dari cowok toxic kayak Lo." Chilsa tersenyum sinis dan sombong kemudian dia segera meninggalkan Pras yang saat itu masih terbengong tidak percaya dengan apa yang dilihat dan tidak percaya dengan apa yang didengar. Chilsa benar-benar sangat emosi waktu itu, tapi dia juga bahagia karena sudah berhasil membuat Prass terkaget-kaget dengan video pernikahan dia. Itulah tujuan dari pernikahan yang tidak masuk akal antara dirinya dengan Evan marvino yang umurnya 2 kali lipat dari umur dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD