Bisakah kalian membayangkan muka pucat Evan sekarang? Orang yang sudah bertahun-tahun tidak menyaksikan tubuh mulus seorang wanita, akan disajikan di hadapannya tetapi dia tidak bisa menyentuh. Bukan tidak bisa. Lebih tepatnya tidak mau. Dia masih ingin mempertahankan citranya sebagai laki-laki dingin yang tidak mudah tergoda oleh rayuan perempuan. Apalagi perempuan manja yang masih seumuran dengan putrinya.
Evan menutup matanya dengan nafas yang memburu. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa menahan diri kalau Chilsa benar-benar membuka handuknya.
Chilsa benar-benar gemes. Ada gitu om om yang seperti ini? Kalau cool ya cool aja Om. Kalau penasaran ya buka mata aja. Ah elaaaah.
Ya, Chilsa berani melakukan itu karena dia tahu kalau Om Evan itu cemen soal wanita. Kalau saja Om Evan agresif, pasti dia tidak berani melakukan itu. Seperti itulah Chilsa. Dia suka bermain-main tetapi ketika ada yang tegas, pasti dia akan ciut.
"Om suami … sini dong buka matanya. Ayo buka! Udah dibuka nih handuknya," ucap Chilsa sambil berusaha menahan tawanya.
"Pergi Chil. Pakai kembali handukmu," ucap Evan masih dalam keadaan mata yang tertutup.
"Yakin Om nggak mau membuka mata? istri sendiri lho Om. Bukan orang lain."
"Pergi Chilsa! Jangan keras kepala!"
"Nggak ah. Nggak mau pergi. Pokoknya kalau Om Evan tidak membuka mata, Aku akan terus disini dan nggak akan pergi."
"Jangan keras kepala ya!"
"Pokoknya begitu. Titik. Harga mati."
Evan terlihat membuang nafas kasar. Akhirnya dengan segenap kekuatan, Evan membuka matanya pelan-pelan. Dia tidak mau lebih lama lagi Chilsa duduk dipangkuannya. Karena hal itu bisa membuat sesuatu yang tidur menjadi bangun. Evan tak suka itu dan tidak mau itu untuk sekarang.
Perlahan matanya terbuka, tetapi dia langsung membulatkan matanya saat dia tahu penampakan Chilsa yang saat ini ada di hadapannya.
Ya, ternyata chilsa tidak polos seperti yang dia duga. Gadis itu memakai mini dress kemben yang panjangnya lebih tinggi sedikit dari panjang handuk tadi. Jadi dia terlihat tidak memakai apa-apa meskipun di dalamnya sebenarnya dia sudah memakai pakaian.
Saat itu, Evan antara lega dan marah. Dia lega karena ternyata Gadis itu tidak b***l di hadapannya sehingga tidak akan terjadi hal-hal yang belum dia inginkan untuk terjadi sekarang. Namun, dia juga marah karena merasa telah dipermainkan. Apalagi setelah melihat Chilsa tertawa terbahak-bahak. Darahnya seakan mendidih saat itu.
Chilsa beranjak dari pangkuan Evan. Dia jongkok di lantai sambil tertawa terbahak-bahak. Dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya melihat muka bengong Evan waktu itu. Dia benar-benar terhibur. Menurutnya ini lebih lucu daripada lawakan komedi yang sering dia tonton.
"Chil, ini bukan waktunya main-main. Kamu sudah dewasa. Jangan main-main seperti bocah begini. Ini tidak lucu."
Om Evan menatap istri super duper manjanya dengan geram. Darahnya benar-benar sudah naik ke ubun-ubun. kalau dia tidak ingat siapa Chilsa, pasti dia sudah memberi pelajaran gadis itu.
"Ini lucu, Om. Lucu banget. Chilsa aja nggak bisa nahan tawa. Tapi … kok Om Evan marah? Om pengen lihat aku nggak pakai apa-apa ya? Hayo ngaku?" tuduh Chilsa masih diiringi dengan tawa. Sebenarnya dia juga bertanya-tanya, apakah mungkin memang Evan mengharapkannya? Buktinya dia marah setelah tahu bahwa sebenarnya jelsa hanya mengerjai saja dan tidak benar-benar ingin tampil polos di hadapannya.
Evan tak menyahut apa-apa. Kesal dan geram campur aduk menjadi satu. Saat itu dia melihat tangan Chilsa kosong tidak ada apa-apa. Dia langsung menuju kamar mandi, dan benar saja apa yang dia juga. Kunci pintunya ada di sana.
Evan segera mengambilnya. Membuka pintu kamar dan segera melesat pergi dari kamar itu. Satu kamar dengan si Chilsa benar-benar membuat dia jantungan. Dia sama sekali tidak seperti menikahi gadis 20 tahun, tetapi seperti menikahi anak TK yang masih suka manja dan masih suka main-main tidak jelas, seperti tadi. Tidak jelas? Entahlah. Yang jelas kejadian tadi benar-benar membuat Evan malu. Dia benar-benar dibuat mainan oleh bocah manja itu.
'Lihat aja. Suatu saat nanti pasti akan aku balas, Chilsa.'
***
Malam itu Evan memutuskan untuk tidur di kamar yang terpisah. Chilsa sudah tidak menghalangi lagi karena dia sudah puas main-main sama Evan tadi malam. Paling tidak itu bisa menjadi penghibur buatnya. Penghibur saat dia tiba-tiba ingat Prass. Laki-laki yang memutuskan dia seenaknya saja. Paling tidak dengan adanya Evan, dia bisa menunjukkan kalau ada laki-laki yang mau sama dirinya yang manja dan selalu minta ditemani.
Paginya, Chilsa benar-benar semangat berangkat kuliah. Karena dia akan menunjukkan pada Prass, bahwa sekarang dia sudah memiliki pengganti dirinya yang jauh lebih baik dan jauh lebih matang dan dewasa. Iya, matang dan dewasa dan bukan tua. Garis bawahi ya? Bukan tua. Karena menurut Chilsa, suaminya sama sekali belum tua meskipun sudah berusia 40 tahun. Dia masih ganteng dan kece badai.
Seperti biasa, dia selalu memakai pakaian polkadot. Entah itu bawahan atau atasannya. Atau mungkin aksesorisnya. Selalu ada sesuatu bermotif polkadot yang dia pakai. Karena polkadot adalah motif paling favorit untuk Chilsa.
Saat itu dia memakai rok polkadot Hitam putih sepanjang lutut dipadu dengan kemeja putih lengan pendek. Rambutnya yang sepanjang bahu dia biarkan terurai. Make up tipis natural menghiasi wajahnya. Tidak lupa sneaker putih kesayangannya.
Satu lagi yang tidak boleh lupa. s**u UHT coklat. Dia harus membawa minuman wajib itu di tasnya.
Kemudian dia keluar kamar dan menuju ke meja makan yang saat itu sudah ada Evan dan Bianca di sana.
Aroma wangi baccarat menguar ke seluruh ruangan. Begitulah Chilsa. Kalau pakai minyak wangi tidak pernah kira-kira. Apalagi minyak wangi favoritnya. Aroma baccarat.
"Selamat pagi semuanya? Selamat pagi suami … selamat pagi anakku!"
Chilsa teriak dengan manja yang membuat Bianca langsung bergidik. Baik Evan maupun Bianca, tidak ada yang menyahut ucapan itu. Evan masih terus menyantap sarapannya.
Kali ini dia tidak meminta chelsa untuk memasak. Biarkan dia menikmati masa-masanya sekarang. Karena sebentar lagi, dia akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang seutuhnya.
"Ish … pada sakit gigi ya? Look! I am ready. Ayo berangkat!" Chilsa merentangkan tangannya kekanak-kanakan yang membuat Bianca jengah.
Dulu, tidak masalah melihat Chilsa kekanak-kanakan seperti itu. Dia bisa memakluminya, tapi tidak sekarang. Tingkah kekanak-kanakannya di hadapan sang Papa benar-benar memuakkan bagi Bianca.
"Ya udah sana diantar sama Pak Udin. Lebih cepat Lo berangkat akan lebih baik," ucap Bianca jengkel. Dia yang semula akan menggigit roti yang sudah dia olesi selai, mendadak tidak nafsu ketika Chilsa datang. Hilang nafsu makannya seketika.
"Terus Lo gimana?"
"Gue diantar sama papa. Sana cepet berangkat sama Pak Udin."
"Ya berarti gue juga harus diantar sama suami gue dong. Masa iya gue diantar sama sopir sementara lo diantar sama suami gue. Nggak. Nggak boleh. Kita harus berangkat sama-sama sebagai sebuah keluarga kecil yang bahagia."
"Dia Bapak gue, dodol! Cepet berangkat sana! Gue nggak akan pernah Sudi menganggap Lo sebagai keluarga," ucap Bianca dongkol. Sementara Evan masih terus fokus sama sarapannya dan tidak mau ikut campur dalam perdebatan 2 remaja tersebut. Dia sudah terlalu capek. Dia ingin hidup tenang beberapa menit saja.
"Tapi dia suami gue. Jadi dia yang harus antar gue dan lo diantar sama Pak Udin. Titik. Sana! Lo aja yang berangkat duluan sama Pak Udin."
Bukan Chilsa namanya kalau tidak keras kepala. Mana mungkin dia mau kalah dan mau mengalah.
"Gila Lo! Dia bapak gue. Jadi jangan sok berkuasa meskipun lo sudah menikah sama Papa. Jangan sok berkuasa juga meskipun rumah Ini hadiah dari kakek Lo. Ingat Chilsa! Papa gue menikah sama Lo juga karena terpaksa, karena mau mau balas budi sama kakek lo. Sana berangkat sama Pak Udin dan gue nggak mau tahu. Pokoknya Lo nggak boleh berangkat sama papa dan jangan pernah mengusik kebahagiaan gue sama Papa. Karena sampai kapanpun gue tidak mau kalau perhatian Papa terbagi sama Lo."
Bianca bersikeras di tempatnya. Dia benar-benar tidak rela kalau papanya sampai dikuasai oleh si Chilsa. Dia hanya punya papa, karena mamanya tidak begitu peduli dengan dirinya. Makanya dia tidak akan rela kalau ada orang lain yang menguasai papanya, meskipun itu sahabatnya sendiri. Sahabat? Entahlah. Dia masih bisa menyebut Chilsa sebagai sahabat atau tidak.
Chilsa cemberut, kemudian segera berlari ke arah Evan yang dari tadi terus berusaha untuk cuek meskipun telinganya sudah panas.
Saat itu, Chilsa memeluk Evan dari belakang dengan manja yang langsung membuat Bianca risih dan jijik memandangnya.
"Om, Om suami … antar aku ya? Masa istrinya yang cantik ini harus berangkat sama Pak Udin? Antar ya? Tolong dong dinasehati Bianca. Masa dia kasar begitu sama mamanya sendiri. s
Seharusnya kan dia sopan, Om."
Bianca langsung mengatupkan bibirnya sampai menimbulkan bunyi gemeletuk. Tangannya mengepal. Rasanya dia ingin melempar kan kepalan tangannya ke wajah Chilsa. Dia benar-benar geram.
"Ngeselin Banget sih Lo. Dasar anak_"
"Cukup!"
Evan teriak. Dia sudah tidak tahan lagi dengan perdebatan dua remaja itu. Sungguh, pernikahan ini benar-benar menyiksa Evan. Dia seperti memiliki dua anak yang cekcok setiap sarapan. Ini benar-benar tidak baik bagi kesehatannya Jika dia terus seperti ini setiap hari.
"Aduh, Om. Kabar-kabar dong kalau mau teriak. Kaget tahu!"
Chilsa masih bisa slow meskipun saat itu darah Evan dan Bianca sudah sama-sama mendidih.
"Saya tidak mau mengantar kalian berdua. Kalian berdua berangkat sama Pak Udin. Titik! Satu lagi. Saya tidak mau mendengar perdebatan di meja makan lagi setelah ini. Kalau sampai hal ini terulang lagi, kalian berdua kan sama-sama mendapatkan hukuman."
Evan membuang nafas kasar, kemudian segera pergi meninggalkan meja makan dengan muka memerah karena marah.