Chilsa Mulai Bertingkah

1194 Words
Akhirnya Evan malvino berhasil membujuk putrinya agar mau tinggal bersama dengan dirinya. Baginya, Bianca adalah segalanya. Sejak dia dan istrinya berpisah, Bianca tidak pernah lepas dari dirinya. Ya, karena Evan tahu seperti apa istrinya. Dia adalah pribadi yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri daripada kepentingan anaknya. Jadi, Evan berusaha mati-matian agar putrinya tidak memilih untuk tinggal di rumah ibunya. Dia tidak pernah mau lepas dari Bianca. Malam menjelang. Evan tidak bisa pergi kemana-mana karena istri kecilnya tetap saja menempel. Memang, menikah sama anak manja itu hanya merepotkan. "Om, om Evan punya pacar nggak?" tanya Chilsa tiba-tiba. Dia masih menggelayut di lengan suaminya yang saat itu sedang mengutak-atik laptop. Sebagai asisten pribadi, banyak hal yang harus dia urus. "Jangan bertanya hal-hal yang gak penting," jawab laki-laki itu dingin. "Ya elah, ditanya gitu doang jawabnya dingin banget kayak es teler. Om Evan, Om nggak rabun kan? Padahal aku cantik banget seperti ini, Masa nggak ada keinginan untuk memandang aku gitu? Ini udah halal Lo om dipandang lama-lama. Dipegang pun nggak apa-apa. Boleh." Lagi-lagi, Evan memijat keningnya. Dia tidak merasa memiliki istri baru, tetapi rasanya seperti memiliki anak asuh baru. Chilsa selalu bawel dan menempel seperti anak-anak. Membuat ruang gerak Evan terbatas. "Oh … om sedang pusing? Mau dipijit? Chilsa bisa kok mijit om. Chilsa pijit ya?" Gadis itu segera melepaskan tangannya yang membuat Evan sedikit bisa bernafas lega. Namun, gadis yang sudah bisa dibilang dewasa tetapi masih kekanak-kanakan itu langsung menelusup ke belakang sang suami dan memijit pundak dengan begitu keras dan mengguncang-guncang tubuh Evan. Bukannya rileks, tetapi malah semakin pusing. Kali ini dia kembali memijat kepalanya sendiri. Entah untuk yang keberapa kali. 'Ya Tuhan, kenapa aku harus tenggelam dalam situasi seperti ini? Ini betul-betul menjengahkan.' "Enak banget ya Om pijitan Chilsa. Om sampe merem-merem begitu." "Cukup Chil, cukup!" Evan langsung berdiri saat tangan chilsa masih berusaha untuk memijatnya. Enak dari Hongkong? Itu bukan pijitan tapi cuma diguncang-guncang. Yang ada Evan semakin stress. Dia terpaksa harus membentuk Chilsa. Karena saat itu dia benar-benar stress menghadapi tingkah laku Chilsa yang kekanak-kanakan. "Tolong biarkan aku sendiri dulu. Ada yang harus aku kerjakan. Please? Kamu tidur aja dulu. Tolong jangan ganggu sejenak saja. Bisa, Chilsa?" Evan berusaha untuk bersikap semanis mungkin. Dia tersenyum meskipun amat sangat terpaksa. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasi Chilsa yang manjanya setengah hidup "Ya sudah, kalau begitu om Kerja dulu 30 menit. Chilsa mau mandi dulu ya om. Kan hari ini malam pertama pernikahan. Chilsa harus wangi. Izinkan Chilsa mandi dulu ya Om. Jangan rindu dulu." Chilsa mengerlingkan matanya ke Om Evan, kemudian langsung pergi meninggalkan Evan meskipun belum mendapatkan jawaban. Perempuan itu pergi ke kamar mandi. Sementara Evan langsung kembali duduk di sofa dan menyandarkan bahunya ke sofa mewah itu. Laki-laki itu terlihat membuang nafas lega. Akhirnya dia bisa lepas anak-anak yang terperangkap dalam tubuh perempuan dewasa. Belum ada 1 hari usia pernikahan mereka, tetapi Evan rasanya seperti tidak betah menghadapi Chilsa yang manja plus sangat keras kepala. Saat itu, Laki-laki berambut pendek dan tipis itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung beranjak dari duduknya dengan senyum lebar. 'Akhirnya … Bisa lepas juga dari anak manja itu. Good bye, Chilsa.' Dengan penuh percaya diri, Evan memutar knop pintu. Dia membulatkan matanya ketika pintu tidak bisa terbuka. Dia coba sekali lagi, tetapi tetap belum bisa terbuka. Dicobanya berkali-kali dan hasilnya tetap sama. Pintu memang tidak bisa terbuka. Dia kembali membuang nafas kasar. Tangannya dia kepalkan. Bibirnya mengatup sampai mengeluarkan bunyi gameletuk. "Chilsaaaa!!! Kamu kunci pintunya?" Evan berteriak. Dia mencoba untuk tidak emosi meskipun saat itu darahnya sudah mendidih. Urat-uratnya seakan keluar semua. Ternyata dia salah. Chilsa lebih cerdik dari apa yang dia pikirkan. "Iya, Om. Ini kuncinya aku bawa, supaya om nggak kabur di malam pertama," Chilsa menjawabnya sambil teriak dari kamar mandi. Dia menjawab dengan begitu santai. Chilsa ngakak sendirian di kamar mandi. Entah kenapa, dia merasa pernikahan ini seru meskipun tidak dilandasi rasa cinta. Om Evan yang kelewat dingin dan cuek, menjadi tantangan tersendiri bagi Chilsa untuk menaklukkannya. Rasanya seru aja. Hidupnya nggak monoton. "Kenapa mandi bawa kunci? Lempar aja keluar kuncinya." "No. Tunggu aku selesai mandi, Om Tampan!" Suara itu benar-benar membuat Evan lemas. Selama ini dia terbiasa mandiri. Melakukan apa-apa sendiri dan tidak ada yang mengganggu. Dikurung di kamar seperti ini dan terus direcokin, benar-benar membuat dia seperti berada di neraka. 'Memang nggak pernah bener nikah sama anak manja, meskipun usianya sudah dewasa. Sabar, Van. Nikmati prosesnya. Nikmati aja dulu,' hibur laki-laki itu pada dirinya sendiri. Akhirnya Evan kembali menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa untuk sejenak, kemudian dia kembali membuka mata ketika dia mencium bau sabun mandi yang segar. Chilsa keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit dari d**a sampai ke atas lutut. Tangannya sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk pink kesayangannya. Mata Evan langsung melebar menatap paha mulus Chilsa dan juga punggung yang tampak mulus. Sudah 10 tahun lebih, dia tidak melihat pemandangan yang seperti itu. Secuek dan sedingin apapun dia, laki-laki itu tetaplah laki-laki normal yang yang merasakan desiran di dalam d**a ketika melihat sesuatu yang menggoda. Chilsa menoleh. Dia melihat Evan yang menatapnya dengan tatapan tergoda. Bukan Chilsa kalau nggak buat rusuh. Perempuan itu sengaja membungkus rambutnya dengan handuk kemudian berjalan perlahan ke arah sang suami. "Kenapa Om? Chilsa cantik ya? Mau godain? Ayo godain!" Chilsa berdiri di hadapan suaminya. Dia benar-benar menikmati muka panik sang suami. Dia tampak tegang. "Cepat pakai bajumu!" ucap Evan, kemudian dia segera mengalihkan pandangan. Dia mengambil handphonenya dan scroll layarnya meskipun dia tidak sedang scroll apa-apa. "Nggak mau pakai kalau enggak dipakai in." Chilsa semakin mendekat dengan senyum menggoda. Chilsa gemes banget dengan ayah sahabatnya. Wajahnya pucat. Dia pikir hanya perempuan saja yang takut takut jika didekati laki-laki, tetapi ternyata dia terlempar ke dunia terbalik. Suaminya yang takut ketika dia mendekat. Ah … Gadis itu benar-benar tak tahu saja. Satu-satunya hal yang ditakutkan adalah takut khilaf. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Chilsa. Karena dia masih seumuran anaknya dan karena dia tahu Chilsa dari bayi. Rasanya aneh kalau sampai menyentuh dia. Dia pernah ikut menggendong, ikut mengasuh, dan ikut menemani dia ketika dia bayi. Rasanya aneh saja kalau sekarang tiba-tiba Gadis itu menjadi istrinya. Rasanya aneh kalau harus menyentuhnya. "Chil, Please! Jangan seperti ini. Cepat pakai pakaianmu sekarang! Sekarang juga." Chilsa semakin ingin menggoda. Dia mendekat, lalu sengaja duduk di pangkuan sang suami. Dia sok cool padahal sebenarnya dalam hati dia ingin tertawa. 'Ya ampun, om ini ganteng-ganteng dan sok cool, ternyata di deketin keluar keringat dingin,' batin Chilsa sambil tertawa, tetapi hanya tertawa dalam hati. Dia belum ingin mengakhiri ini karena dia belum puas melihat wajah pucat Om Evan. "Om, aku buka ya handuknya. Gerah." Chilsa semakin menjadi-jadi membuat Evan panas dingin. Entah keberanian dari mana yang dimiliki Chilsa tiba-tiba dia seperti itu. Tapi yang jelas, dia suka melihat wajah panik Evan. Menggemaskan baginya. Perlahan, perempuan itu membuka handuk yang melilit. Jantung Evan berdetak dengan begitu kencang tak karuan. "Chilsa, jangan aneh-aneh. Siniin kuncinya dan pergi dari pangkuanku." "Sebentar dong, Om," ucap Chilsa lembut. Perlahan, Chilsa melepaskan ujung handuk yang dililitkan sambil terus menatap muka Evan yang kacau. Satu … dua … tiga … Chilsa benar-benar membuka handuk yang melilit di tubuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD