Rasa Sakit Hati Bianca

1250 Words
"Aku mau pergi, dan aku akan pulang malam." Evan berbicara dengan tegas sambil mengancingkan lengan kemejanya. Dia harus pergi, karena ada hal yang harus dia kerjakan. "Ish, pengantin baru mah nggak boleh begitu atuh. Istirahat dulu," rengek Chilsa manja. Laki-laki itu membuang nafas kasar. Gedeg dengan sifat kekanak-kanakan perempuan yang baru saja menjadi istrinya itu. Kemudian, dia menatap Chilsa dengan tatapan tegas. "Chilsa, ingat. Kamu sudah dewasa. Kamu juga seorang istri sekarang. Seharusnya kamu mengerti bahwa tidak semua yang kamu inginkan bisa tercapai saat itu juga. Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan dan saya harus pergi." "Aku ikut!" Dia berdiri dari duduknya, mendekat ke arah Evan, dan kembali menggamit tangan suaminya manja. Darah Evan seakan mendidih. Rasanya dia ingin menjitak kepala perempuan itu. "Ini pekerjaan. Bukan main-main. Jadi, biarkan aku pergi sendirian. Lagipula, Aku mau menemui Bianca dulu sebelum pergi. Lepaskan Chilsa!" Evan berusaha menarik tangannya, tetapi Chilsa semakin kuat mencengkeramnya. "Nggak mau. Kita bisa menemui Bianca bersama-sama, bukan? Kita tinggal menjelaskan sedikit saja. Pasti dia mau terima. It's really easy, Om." 'Berdebat sama bocah tengil ini tidak akan ada habisnya. Untuk sementara waktu aku biarkan saja dia seperti ini. Andai Saja dia bukan cucu dari Tuan Harjoko, dan andai saja aku tidak punya kesalahan di masa lalu, pasti aku tidak akan mau jadi suami anak kecil ini. Merepotkan dan meresahkan.' "Mikirin apa sih, Om. Ayo!" Chilsa menarik tangan Evan, mengajaknya keluar kamar dan menemui Bianca. Gadis itu memang ajaib. Di mana-mana, biasanya anak muda seperti dia akan takut-takut Jika dia dinikahkan dengan orang yang umurnya jauh lebih tua darinya. Namun tidak dengan Chilsa, dia malah terlihat lebih agresif daripada Evan. Eits, Jangan salah paham. Ini bukan karena Chilsa gadis nggak bener, bukan sama sekali. Dia gadis baik-baik, cuma dia memang gesrek dan cukup percaya diri. Itulah kenapa dia selalu menjadi pihak yang dominan. Sehingga pacar dia sebelumnya, Prass, merasa tidak sanggup lagi menjalin hubungan dengan gadis seperti Chilsa. Terlalu manja. Maklum, Dia tidak memiliki orang tua sejak kecil. Meskipun dia diasuh dengan penuh kasih sayang oleh kakeknya, tetap saja tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Mungkin ini cara dia untuk menyelesaikan inner childnya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di ruang keluarga tempat dimana Bianca duduk. Dia duduk di sebuah sofa warna merah yang terlihat begitu mewah. Di samping sofa itu terdapat koper warna pink yang berisi segala keperluan Bianca. Meskipun dia tidak menyetujui pernikahan papanya, tetapi dia tetap mau tinggal sama sang papa. Karena dia lebih nyaman tinggal sama papa ketimbang sama mama kandungnya. "Hai, anakku sayang. Sini sini sini. Kenapa cemberut begitu sih. Peluk mamanya sini," ucap Chilsa sambil merentangkan tangannya dengan nada manja. "Nggak lucu, Cil. Sumpah ini nggak lucu sama sekali. Kita seumuran dan kita sahabatan, Bagaimana bisa kamu jadi ibu tiriku? Sepertinya aku enggak bisa tinggal di sini," ucap Bianca dengan mata berkaca-kaca. Dia menghadap ke bawah. Segala rasa campur aduk di dalam hatinya. Rasa kesal, rasa sedih, rasa kecewa bercampur menjadi satu. Dia masih belum bisa menerima keadaan ini. Dia sudah meminta kepada ayahnya untuk tidak menerima permintaan Tuan Harjoko. Dia sudah bilang kalau dia tidak menyetujui pernikahan ini, tetapi Evan tidak bisa menolak begitu saja karena sudah terlalu besar jasa tuan hardjoko untuk dirinya dan untuk keluarganya. "Ih, Siapa bilang. Ini super duper lucu. Asik banget tahu punya anak tiri yang seumuran. Kan kita bisa kompak. kita bisa tinggal satu rumah dan kita bisa berangkat kuliah bareng-bareng. kita bisa menghabiskan waktu sama-sama setiap hari dan setiap waktu. ini super lucu dan super menyenangkan, Besty ... Akhirnya kita benar-benar bisa jadi keluarga, pasti bakalan seru banget Bi … Yeay ….!" Jiwa kekanak-kanakan Chilsa masih nampak jelas meskipun dia sudah bersuami. Dia berusaha untuk memeluk Bianca, tetapi Bianca segera menepisnya. Di dongakkan kepalanya, ditatapnya sahabat yang sekarang sudah menjadi ibu tirinya. Entah, sekarang dia masih bisa menyebut Chilsa sebagai sahabat atau tidak. "Dari dulu kamu memang selalu seenaknya sendiri. Kamu selalu memikirkan dirimu sendiri dan memaksakan kehendak kepada orang lain. Chilsa, kamu tahu ini menyakitkan hatiku. Kamu pasti juga tahu kan, aku bakalan malu kalau ketahuan teman-teman kalau memiliki ibu tiri yang seumuran denganku. Pasti orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak tentang papaku. Apalagi kamu berasal dari keluarga kaya raya yang jauh sekali dengan aku. Apa kamu tidak berfikir apa yang akan dipikirkan oleh orang lain di luar sana? Mereka bisa saja menghina kami, Padahal mereka tidak tahu yang sebenarnya. Tidakkah kau berfikir sampai ke situ? Please, jangan terus egois seperti ini, Chilsa!" Bianca menatap Chilsa dengan mata yang basah. Dia benar-benar terpukul atas pernikahan ini. Dia tidak pernah setuju ayahnya menikah lagi, apalagi menikahnya dengan orang yang seumuran dengan dirinya. Dia sangat merasa tidak nyaman. "Utututu … jangan nangis dong, Bi … Aku tahu kamu begini cuma belum terbiasa saja. Maklum, aku sama papa kamu menikah masih beberapa jam. Jadi Aku maklum Kalau kamu masih belum bisa terima. Lagian, lebih baik punya ibu tiri yang seumuran seperti aku kan daripada memiliki ibu tiri yang udah tua dan jahat. Ini tidak semengerikan Apa yang kamu pikirkan. Santai ... Nggak usah sedih. Ayo sini, peluk mamanya." Bukan Chilsa namanya kalau tidak keras kepala. Dia tetap menggoda Bianca meskipun saat itu terlihat bahwa Bianca sedang sedih dan kecewa dengan apa yang terjadi di hidupnya. "Nggak lucu Chil! Aku mau pergi dari sini. Aku nggak mau tinggal sama kamu." Bianca menepis tangan Chilsa yang mengulur, kemudian melangkahkan kakinya berusaha untuk pergi, tetapi tangannya dicegah oleh sang ayah. "Bi … dengarkan Papa. Tolong jangan pergi. Kita bisa bicara dulu. Ayo kita bicara." "Seharusnya kita bicara kemarin, Pa. Kemarin sebelum papa dan Chilsa menjadi sepasang suami istri. Papa sama sekali tidak menghiraukan perasaanku dan lebih mementingkan perasaan atasan Papa dan juga Chilsa. Papa ini hanya dijadikan boneka untuk Chilsa. Papa tahu nggak, Bianca malu, Pa. Malu! Apa nanti kata temen-temen. Kalau Chilsa, sudah pasti dia tidak punya malu. Tapi aku beda dengan Chilsa. Aku tidak bisa memiliki ibu tiri seperti dia." "Itu bisa kita bicarakan. Ayo sekarang ikut papa ke kamar." "Ayo, kita ngomong bertiga. Aku ikut ke kamar juga ya?" Chilsa langsung saja nimbrung pembicaraan mereka. "Kamu di sini dulu! Jangan bantah!" Evan berbicara dengan nada tegas. Laki-laki 40 tahun itu masih tampak begitu mempesona dengan nada tegas dan dinginnya. Chilsa mengangguk dengan senyum nurut. Setelah dipandang dengan serius, ternyata suaminya itu begitu tampan. Rahangnya kokoh, tubuhnya tegap, dan wajahnya bersih tanpa jambang dan kumis. Dia benar-benar tidak tampak kalau sebenarnya sudah berusia 40 tahun. Dengan cemberut, Bianca mengikuti ayahnya ke kamar. Sementara Chilsa masih duduk di ruang keluarga. Dia tersenyum. Chilsa merasa menang sekarang. Dia bisa mematahkan ucapan Prass bahwa dirinya tidak akan menjadi perawan tua dan bisa mendapatkan sosok pria yang jauh lebih baik dari dia. Chilsa tidak sabar untuk segera besok, supaya dia bisa pergi ke kampus dan memamerkan foto pernikahannya pada Prass. Dia tidak mungkin mengirimkannya sekarang, karena takut tersebar dengan cepat. Gadis yang sudah terbiasa hidup mewah sejak bayi itu akan buktikan, bahwa apapun yang dia mau dan apapun yang dia inginkan akan selalu tercapai. Dia akan tunjukkan bahwa putus dengan Prass bukan suatu hal besar dan bukan suatu hal yang harus disesali. Karena dia bisa mendapatkan gantinya dengan cepat, Bahkan dia sudah berhasil menjadi seorang istri. 'Aku tidak akan merasa menyesal karena kehilangan kamu. Justru kamu yang akan menyesal karena sudah melepaskan gadis seperti aku. Aku berani bertaruh bahwa kau tidak akan pernah bisa mendapatkan gadis secantik dan sepengertian aku, Prass. Bukan aku yang menyesal, tetapi kamu yang akan menyesal.' Chilsa menyilangkan tangannya sambil tersenyum sinis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD