Aku dan Papamu

1341 Words
"Selamat datang, Tuan Evan dan Bu Chilsa." 2 orang asisten rumah tangga dengan seragam Hitam putih sudah berdiri di samping kanan dan kiri pintu, menyambut kedatangan mereka berdua. Sontak, Evan dan Chilsa kaget. Padahal mereka yang membuka kunci rumahnya, Bagaimana bisa tiba-tiba sudah ada dua orang itu di dalam rumah. "Kok ada kalian?" tanya Evan bingung. "Kebetulan saya sudah perintahkan sama Tuan harjoko untuk menjadi asisten rumah tangga di sini, Tuan Evan." Ya, ternyata Tuan Harjoko sudah menyiapkan semuanya sejak kemarin. Semuanya sudah tertata rapi, hingga mereka tinggal masuk saja. "Asyeeek, tetep ada mbak-mbak yang bantu aku. Ya udah kalau begitu bawa koper saya ke dalam ya mbak," ucap Chilsa dengan ceria. "Tidak. Apa yang bisa kamu kerjakan sendiri, tidak boleh minta bantuan orang lain. Itu perjanjiannya, bukan?" "Ya Elah Om. Gitu doang masa nggak boleh." Chilsa langsung cemberut. Anak manja itu memang sudah terbiasa menyuruh ini itu kepada mbak yang ada di rumah. "Sesuai perjanjian. Mbak-mbak ini hanya bantu-bantu bersih-bersih rumah dan masak untuk para karyawan yang lain saja. Untuk kebutuhanmu dan kebutuhanku, harus kamu yang menyiapkan." "Ya udah deh nggak apa-apa. Daripada Om galak ngomel. Mbak, antar kita berdua ke kamar utama ya?" "Baik, Bu Chilsa," ucap Surti salah satu asisten rumah tangga yang masih berumur 22 tahun. "Ih, panggil aku Chilsa aja Mbak. Jangan dipanggil ibu. Aku masih kuliah keles." "Baik, Non Chilsa. Mari Saya antar." Noni, salah asisten rumah tangga yang satunya, yang tadi menyambut mereka, segera mengantarkan Chilsa dan Evan ke kamar utama. Chilsa segera menutup pintu saat mereka berdua sudah sampai di kamar. Sepertinya sang kakek sudah menyiapkan sedemikian rupa. Kamar itu didominasi dengan warna pink. Spreinya pun bermotif hello Kitty. Seperti apa yang dia sukai. "Waah … kamar Kita keren banget ya Om. Meskipun rumahnya nggak sebesar punya kakek, tapi kamarnya boleh juga," ucapnya sambil duduk di tempat tidur king size di kamar barunya. "Ini kamar kamu, bukan kamar kita," ucap Evan dingin. Dia duduk di sofa, memainkan handphonenya. Mengecek pekerjaan yang seharusnya dia selesaikan. "Ih, Om. In kamar kita berdua. Kita akan tidur di kamar ini bersama. Titik. No debat." Ya, manja dan keras kepala anak ini mulai lagi. Evan sudah hafal betul dengan tingkahnya, Karena dia sudah mengenal Chilsa sejak dia masih bayi. Evan meletakkan handphonenya di atas meja, lalu menatap sang istri yang saat ini sedang duduk manis di atas ranjang king size berwarna pink itu. Mau teriak, tapi itu cucu dari bosnya. Dia hanya bisa meremas tangannya sendiri untuk meredam emosi. Kemudian dia menatap selesai dengan senyum meskipun sebenarnya dia geram. "Chilsa, kita harus tidur terpisah. Kamu masih kuliah dan masih tergolong semester awal. Jadi tidak seharusnya kita tidur satu kamar. Saya bisa tidur di kamar samping." Chilsa segera melompat dari ranjangnya dan menuju ke arah Evan. Dia mendekati om-om tampannya, dan menggelayut manja di lengan sang suami. Sudah jadi suami ini, nggak ada salahnya kan? Lagian dia sudah tidak bisa manja manja lagi sama Pras. Nggak ada Prass, Om Evan pun jadi. Karena om-om ini meskipun sudah berumur, tetapi masih sangat tampan. Kulitnya bersih, rahangnya kokoh, Matanya agak sipit tetapi memiliki tatapan yang tegas. Apalagi hidungnya yang mancung, semakin menambah laki-laki laki-laki 40 tahun itu. "Jangan begini Chil, lepasin tangan saya." Evan Berusaha untuk melepaskan lengannya dari cengkeraman Chilsa. Kalau boleh jujur sebenarnya dia risih diperlakukan seperti ini. Rasanya anak saja meskipun Sekarang Chilsa sudah menjadi istrinya. Dia masih berusaha lepas, tetapi tidak bisa karena Chilsa menggapit lengannya erat. "Kenapa sih, Om. Kita kan suami istri. Enggak apa-apa dong Kalau aku menggelayut manja sama suami sendiri. Lagi pula, masa iya suami istri tidurnya sendiri-sendiri. Nggak mau, pokoknya Chilsa mau tidur sama Om Evan. Apa lagi Om Evan selalu wangi begini. Mana bisa Chilsa berpaling, Om. Pokoknya hari ini Chilsa mau tidur sama Om dan mau dipeluk." "Chilsa, banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan. Ketika bekerja, saya tidak bisa diganggu. Tolong hargai saya sebagai suami kamu." Saat ini suara Evan mulai meninggi. Dia sudah tidak bisa lagi bermanis-manis. Sudah tidak tahan tepatnya. "Kata kakek, hari ini Om Off Lo kerjanya." "Nggak, saya tetap bekerja." "Ih, Om Evan. Masa sama istri sendiri canggung dan dingin begitu." "Lepasin, Chilsa. Jangan main-main. Sekarang tolong bawakan barang-barang saya ke kamar sebelah. Saya akan tidur di sana dan kamu akan tidur di sini. Lagipula tidak enak kalau sampai terlihat Bianca kita tidur bersama." "Yaelah, Bianca udah gede Om. Dia tahu kalau pasangan suami istri itu tidurnya dalam satu kamar. Pokoknya Chilsa nggak mau pisah kamar sama Om Evan." Chilsa melepaskan kedua tangannya dari lengan Evan. Namun, kedua lengannya malah dilingkarkan ke tubuh Evan. Di rangkulnya sang suami dari samping dengan manja. Tingkah Chilsa yang kekanak-kanakan seperti ini benar-benar berhasil membuat Evan jengah. Andai saja Gadis itu bukan cucu dari atasannya yang selalu menjadi penolong baginya, pasti dia tidak akan sudi menikah dengan bocah ini yang umurnya bahkan separuh dari umurnya. Kalau mereka jalan berdua, sudah dapat dipastikan kalau mereka akan menyangka kalau chilsa adalah putri dari Evan. "Chilsa, lepasin! Kenapa permintaan kamu selalu aneh-aneh. Kamu masih anak-anak. Kamu tahu kenapa saya menerima permintaan kakek kamu untuk menikah denganmu? Bukan karena apa-apa, tetapi karena balas budi atas kebaikan kakek kamu. Jadi kamu jangan berharap lebih. Kamu menginginkan pernikahan ini hanya sebagai status bukan? Sekarang status kita sudah suami istri. Bukankah Itu sudah cukup bagimu? Sekarang lepaskan!" Ya, ada satu lagi alasan kenapa Evan menerima perjodohan ini. Ya itu Karena rasa bersalahnya. Rasa bersalah atas 1 hal yang terjadi dulu. Namun, dia tidak bisa pura-pura bersikap baik Kalau hatinya tidak sreg. Chilsa benar-benar masih kecil. Evan yakin, Chilsa tidak pernah layak menjadi istrinya. Dia jauh lebih layak untuk menjadi anaknya. 'lama-lama om - om ini menarik juga ya? Dingin-dingin gemesin. Tubuhnya yang kekar ternyata enak banget dipeluk. Lihat aja nanti om. Sekarang kau memang masih cuek, berusaha menghindar terus, tapi nanti … ku buat kau tak bisa lepas dariku,' ucap Chilsa dalam hati. "Nggak mau. Memeluk suami kayak gini kan pahala. Mau banget dong dapat pahala dengan cara mudah." Tok tok tok … "Papa … Papa …." Terdengar suara pintu kamar diketuk disertai dengan suara lantang yang memanggil-manggil. Ya, itu suara Bianca yang memanggil-manggil ayahnya. Ternyata dia sudah datang, baru saja dijemput sama Pak Udin. "Dengar, ada Bianca. Lepasin saya!" "Kalau om mau tidur satu ranjang denganku, aku mau lepasin. Kalau nggak, ya nggak. Aku mau seperti ini terus sampai besok dan sampai lusa." Chilsa semakin mengeratkan pelukannya. 'Ya Tuhan, mungkinkah ini memang sebuah kesalahan menikah dengan gadis labil begini. Tingkahnya benar-benar membuatku merinding,' ucap Evan dalam hati sambil menahan kekesalan. Chilsa memang cantik, tapi sama sekali bukan kriterianya. "Papa … Aku masuk ya?" Bianca langsung membuka pintunya sebelum mendapatkan persetujuan dari sang ayah. Mulutnya Langsung menganga saat melihat sang Ayah sedang dipeluk erat oleh sahabatnya, yang sekarang sudah menjelma menjadi ibu tirinya. "Heh, apa-apaan kamu, Chil. Lepasin ayah! Iyuuuuh." Bianca menutup mukanya dengan 2 telapak tangannya. Dia langsung merinding melihat pemandangan yang menurutnya tidak etis meskipun sebenarnya sah-sah saja karena mereka pasangan suami istri. Dengan kekuatan penuh, Evan langsung melepaskan diri dari cengkraman lengan Chilsa. Hingga membuat Gadis itu sedikit terjengkang. Tetapi dia segera menegakkan tubuhnya lalu tersenyum. Cuma begitu doang mah kecil buat si Chilsa. Nggak masalah. Cuma dihempaskan dari pelukan, tidak dihempaskan dari hidup dan itu masih aman-aman saja. "Maaf Sayang, Papa … " "Hei, Anakku Sayang sudah datang. Sini sini peluk mama barumu yang jelita ini, Nak." Chilsa memotong pembicaraan Evan dan menghampiri Bianca sambil merentangkan tangannya. "Jijay banget sih kalian. Kenapa kamu harus di sini sama papaku. Kamar kalian harus terpisah. Aku nggak mau tahu." "Ih, kenapa? Papa dan mamamu ini harus tinggal satu kamar. Namanya juga suami istri. Gimana sih? Jadi kita harus satu kamar supaya kamu cepat punya adik. Sini sini peluk mama dulu, Nak," ucap Chilsa dengan gaya gesreknya. "Chilsa, nggak lucu. Aku tahu kau punya segalanya dan bisa berbuat apapun dengan kekuasaan kakekmu. Tapi tak lantas kau bisa berbuat seenaknya seperti ini. Aku kecewa sama kamu," ucap Bianca, Lalu dia pergi meninggalkan kamar mereka berdua dengan hati yang sakit melihat sahabatnya yang sekarang sudah resmi menjadi ibu tiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD