Inkan Kepo

1011 Words
"Eh, Fan. Cowok yang tadi ngebantu Lo. Namanya siapa?" Tanya Inkan sembari menyedot es teh yang sepertinya sangat nikmat. Fanny menelan ludah, melihat Inkan yang begitu enak dapat menikmati jajanan minuman yang tadi dia beli. "Ah, itu namanya Yuuada." Jelas Fanny. Lagi dan lagi cewek manis itu tidak peduli dengan jarak yang sangat dekat diantara mereka. Pasti, Yuuada mendengarnya. Tidak mungkin tidak. Walaupun suara mesin-mesin disini sangat berisik. Tapi jarak diantara mereka benar-benar dekat, kan! Kecuali, jika telinga cowok itu sudah tidak berfungsi normal, alias tuli. Atau, jika dia terlalu fokus pada kerjaannya. Ini bisa menjadi point termasuk akal, sih. Karena Yuuada kan cowok pintar. Pasti dia ingin dapat nilai paling tinggi. Atau mungkin dia dengar, tapi tidak menghiraukannya. Atau juga, mungkin dia dengar tapi pura-pura tidak menghiraukannya walaupun terasa sesak di d**a. Inkan hanya ber-Oh saja. Dan dia melanjutkan menyedot es yang berada dalam genggaman tangannya itu. Sementara tangan yang satu lagi bertumpu pada mesin bubut Fanny. Gayanya benar-benar santai. Berbeda jauh dari teman-teman yang masih membubut. "Dah. Alhamdulillah, kelar!" Oceh Fanny, cewek manis itu menghela napasnya. Lalu membuka kunci cak pada kepala cekam empat yang menjepit kuat benda kerjanya. Tentu saja, Fanny lekas mengambil kain yang sudah disediakan sekolah, khusus untuk membantu mengangkat benda kerja yang telah rapi di bubut sesuai anjuran. Karena itu terbuat dari besi. Pasti masih panas, karena besi itu telah bergesekan dengan pahat yang juga terbuat dari besi selama beberapa menit lalu. Fanny segera mengoles minyak yang ia tumpahkan di benda kerjanya yang tadi. Lalu segera meratakannya dengan kuas yang ada di dekat situ. Cewek manis yang telah letih itu bergegas mengganti pakaiannya. Itu hanya perihal membuka baju khusus praktek bengkel yang sudah penuh oli. Dan juga sepatu safety yang harus ditaruh kembali ke dalam loker miliknya. Lalu kembali mengenakan sepatu sekolah biasa. Setelah selesai, Fanny bergegas menghampiri Inkan yang sudah menyalami Pak Sadadi. Entah sudah sejak kapan kursi kosong itu sudah ditempati Pak Sadadi lagi. Tidak tahu pastinya kapan Pak Sadadi kembali ke sekolah. Mungkin saja sudah lama, atau baru beberapa menit yang lalu. "Inkan, langsung pulang kan?" Tanya Fanny, tangannya sibuk memperbaiki resleting tas sekolahnya. Inkan hanya mengangguk. Sepertinya cewek itu sudah terlalu letih. Apalagi, jam pulangnya sempat tersita selama beberapa jam, kan? Gara-gara Fanny. Setelah sampai di depan gerbang sekolah. Mereka langsung memberi kode sapa yaitu berupa anggukan kecil pada satpam yang biasanya menjaga gerbang ini. Lalu seperti biasa, Inkan dan Fanny duduk di halte busway tempat Fanny menunggu buswaynya datang. Telah menunggu beberapa menit, tapi busway itu tak kunjung datang juga. Yah … memang di beberapa saat busway akan lumayan lama. Sebenarnya Fanny sudah tidak terlalu menikmati perjalanan petualangannya bersama busway yang dia bilang asik dan seru itu. Karena semakin lama, tubuhnya semakin meminta untuk segera diistirahatkan. Tapi bagaimana bisa? Itu sangat tidak mungkin! Perjalanan menuju pulang ke rumah saja waktu tempuhnya sama seperti dari rumah menuju sekolah ini. Sekitar satu jam lebih adalah waktu yang normalnya. Kurang dari satu jam adalah waktu tercepat ketika pengemudinya memang cepat tanggap atau terburu-buru. Tapi, ada kalanya Fanny harus menunggu selama dua sampai tiga jam untuk sampai ke tempat tujuan. Tentu saja itu membuatnya tersiksa selama perjalanan. Biasanya tidak dapat tempat duduk alias harus berdiri berpegangan pada gantungan atau tiang-tiang besi pembatas yang ada di dalam busway itu. Biasanya, macet terjadi ketika hujan. Tepatnya bulan Desember. Bulan itu adalah bulan yang kerap mendatangkan cuaca hujan pada siang atau sore hari. . . . . . Ojol yang Inkan pesan lewat aplikasi di handphonenya itu belum juga datang. Tapi, sayangnya busway jurusan 1A PIK-BALAIKOTA itu sudah muncul di penghujung jalan sana. Fanny lekas berdiri. Dia melirik Inkan yang tampak sedang sibuk dengan handphonenya. "Kan. Duluan ya" ucap Fanny. Yang kemudian lekas melangkah naik ke dalam bus dengan ketentuan menempelkan kartunya terlebih dahulu sebelum diperbolehkan membuka pintu masuk tempat para penumpang duduk. Untunglah hari ini tidak ramai. Malah, bisa dibilang sepi sunyi. Fanny segera duduk di tempat yang menurutnya nyaman. Kursi pertama di bagian sisi kiri itu terlihat menarik untuk ditempati. Cewek imut itu menghela napas, sedikit memerosotkan tubuh kecilnya agar bisa sedikit dapat tempat bersandar untuk kepalanya yang terasa berat juga penat itu. Fanny belum makan dari pagi. Tentu saja asam lambungnya terus-terusan naik sedari adzan Dzuhur berkumandang. Tapi, untungnya dia membawa sedikit uang untuk persiapan urgent di perjalanan. Jadi, dia bisa sedikit mengganjal perutnya dengan beberapa potong gorengan. Hanya itu saja, bisa memberikan sedikit tenaga untuk Fanny. Cewek itu terus bertahan di masa-masa sulit hidupnya. Benar-benar perempuan yang tangguh! Cewek manis itu lekas mencari dimana keberadaan earphone yang sering dia pakai. Jemari-jemari mungilnya mulai bergerilya merogoh satu persatu kantung jaket juga saku celananya. Dimana sih?! Dia terlihat mulai sedikit kesal. Karena sudah merogoh semua sakunya. Tapi tetap saja belum dia temukan barang kesayangannya itu. Fanny mulai gelisah, dia mulai mengingat-ingat saat dimana dia menyimpan earphonenya terakhir kali. Setelah mengingat-ingat. Sepertinya dia belum mengecek saku bagian dalam jaket. Saku yang tersembunyi. Hanya dia yang mengetahui kalau jaket ini memiliki saku di dalam juga. Benar saja, kini earphone kesayangannya itu telah di dapatkannya. Lalu jemari-jemari kerdilnya lekas mencolokkan kabel penghubung earphone itu ke dalam lubang yang sudah tersedia. Tepatnya di sisi bawah handphone. Lalu setelah memastikan ada tanda terhubung, seperti ikon di atas layar sudut kanan handphonenya. Dia mulai mengetik nama musik atau nama penyanyi yang hendak didengarnya. Itu bertuliskan Who Says - Selena Gomez. Setelah terdengar suara awal dari lagu itu. Fanny lekas mematikan handphonenya kembali. Cewek manis itu terlihat begitu letih setelah melakukan aktivitas yang begitu berat untuknya. Dia terlihat enjoy menikmati AC yang memenuhi ruangan busway ini. Terasa dingin tapi tidak terlalu mengganggunya. Justru terasa pas. Dan mendengarkan lantunan lagu itu dengan enjoy, tenang. Karena masih merasa bising dengan suasana sekitar. Fanny membuka matanya, lalu menekan tombol full pada setelan suara di layar handphonenya. Dia ingin merasakan nikmatnya meresapi lagu itu. Bukan mendengar ocehan orang-orang yang sepertinya baru pertama kali naik busway. Tampak ibu-ibu di belakangnya itu mengobrol begitu seru. Tapi, Fanny tidak pernah berniat sekalipun untuk ikut nimbrung di acara tak penting seperti itu. Dia hanya ingin ketenangan sepanjang perjalanan menuju rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD