Fanny Naksir Yuuada?!

1032 Words
"Cantik banget, yah Kan?" Celetuk Fanny. Memecah keheningan. Cewek cantik itu tersenyum kecut, melirik Inkan. Inkan hanya mengangguk. "Gue insecure." Ucap Inkan. "Sama." Balas Fanny. Lalu melanjutkan kegiatan menyedot es teh. "Udah yuk, udah masuk." Ucap Fanny, kemudian beranjak berdiri sembari menepuk-nepuk bokongnya. Hal tersebut diikuti oleh Inkan. "Anak-anak. Silakan dilanjutkan yang belum selesai. Dan boleh pulang untuk yang sudah selesai." Ucap Pak Sadadi yang sepertinya telah selesai makan di ruang makan guru. Desi, dan beberapa teman kelas kami yang lainnya memutuskan untuk pulang lebih cepat. Sementara Fanny dan Inkan belum pulang. Walaupun benda kerja milik Inkan sudah selesai, Fanny yang kerap manja akhir-akhir ini meminta untuk ditemani. Tentunya juga meminta dibantu. "Kan. Jangan pulang duluan. Gue belum kelar nih." Pinta cewek manis yang tengah memasang kunci cak sekuat tenaga. Inkan tidak banyak bicara, sebetulnya dia sudah lelah. Ingin sekali menolak permintaan Fanny. Tapi, Fanny adalah temannya yang paling dekat. Jadi tidak ada alasan untuk menolak, kecuali jika Inkan mau mengambil resiko besar, yaitu resikonya adalah hubungan mereka akan merenggang untuk beberapa saat. Dengan berat hati, akhirnya Inkan kembali menaruh tasnya, dan segera bergegas membantu Fanny yang tengah kesulitan mengerjakan setengah tahapan lagi sampai akhirnya benda itu benar-benar selesai. Ditengah-tengah kesibukannya itu, tiba-tiba saja mesin bubut itu tidak bisa dinyalakan. Tentu saja hal tersebut membuat Fanny agak panik. Dia dan Inkan sudah berusaha mengutak-atik sesuai yang Pak Sadadi ajarkan jauh-jauh hari. "Ah, gimana nih Kan?" Tanya Fanny dengan raut wajah panik. Tanpa mendengar jawaban Inkan terlebih dahulu, cewek yang mengenakan baju praktek yang sudah sedikit kotor karena oli itu mencari Pak Sadadi. Ah … sepertinya Fanny lupa. Jam sudah melebihi pukul dua belas siang. Itu artinya Pak Sadadi sudah jarang berada di sekolah. Atau mungkin sudah pulang? Fanny tidak tahu. Karena Pak Sadadi tidak kunjung ditemukan, akhirnya Fanny bertekad untuk meminta tolong kepada siapapun guru yang dirasa bisa membantunya. Fanny melihat ibu Obe dari kejauhan, guru mata pelajaran Produk Kreatif Kewirausahaan atau kerap disingkat Pkkw sekaligus wali kelasnya kelas sebelah. Cewek cantik itu lekas berlari-lari kecil ke arah Bu Obe yang ternyata sedang membantu murid kelasnya sendiri. "Bu, permisi. Mesin saya mati." Jelas Fanny. "Tadi udah saya coba nyalain bu. Tapi nggak nyala juga." Sambungnya, menatap Bu Obe yang tengah memperhatikan muridnya itu. "Iya. Sebentar ya." Ucap Bu Obe, yang masih memperhatikan cara kerja muridnya itu. Tampak seorang cowok tinggi besar yang entah siapa namanya. Fanny tidak mengenalnya. Yang jelas cewek manis itu yakin kalau cowok itu bukan anak kelasnya. Setelah menunggu sekitar dua menit, akhirnya Bu Obe bergegas melangkah ke tempat dimana mesin yang Fanny gunakan yang katanya rusak. "Kenapa, Fan?" Tanya Bu Obe, sembari memutar-mutar saklar on off mesin tersebut. Benar saja, entah kenapa kondisinya mati total. Karena merasa ada yang janggal, Bu Obe mengutak-atik saklar utama di bagian depan mesin. Yang Fanny sendiri lupa kalau itu adalah saklar utama fungsi dari mesin tersebut. Tiba-tiba seseorang datang bersamaan Nisa selang beberapa menit setelah cowok baik hati itu pergi. Seorang cowok dengan tubuh ideal, tidak kurus tidak juga gemuk. Tingginya sekitar seratus enam puluh lima centimeter. Dengan rambut yang sedikit berantakan. Tapi yang anehnya, cowok itu langsung mengutak-atik saklar yang tadi di pegang Bu Obe. Dan seketika mesin kembali menyala, berfungsi normal. Entah apa yang salah pada mesin ini. Tapi yang jelas Fanny agak kebingungan karena mesin itu benar-benar bermasalah tadi. Lalu cowok bak superhero itu lekas pergi. Sepertinya ingin ke kamar mandi. Fanny tidak ingin berinteraksi dengannya. Karena Fanny merasa dia tidak mengenal siapa cowok itu. Kalau memang benar dia adalah salah satu anak kelas sebelah …. itu berarti … Seingat Fanny, cowok yang dia kenal di kelas sebelah hanya Yuuada. Masa, Yuuada sih? Fanny segera menempis pikiran itu. Beberapa waktu silam, Yuuada memang intens berinteraksi dengan Fanny via w******p. Lagian emangnya Gue tau muka dia kayak gimana ? Nggak, kan? Fanny segera menempis bayangan terakhir kali dia chattan dengan Yuuada. Cewek cantik itu memilih untuk fokus kepada pekerjaannya sekarang. Karena, jam semakin cepat berdetak. Sementara benda kerjanya belum juga jadi. "Makasih, Bu." Ucap Fanny, sembari mulai membubut lagi. "Eh Fanny. Kamu udah selesai?" Tanya Nisa, yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya tanpa dia ketahui. "Ah, belum. Masih lama kayaknya. Sisa bagian bawah nih." Jawab Fanny sembari mengatur posisi yang pas agar benda kerja miliknya memberikan hasil yang semakin bagus. "Eh, Nis. Tadi cowok yang kesini itu, namanya siapa?" Tanya Fanny, yang masih fokus mengatur titik tepat antara pahat dengan benda kerjanya. Dia sedang mencari titik tengah yang sekiranya paling pas agar benda kerjanya tidak rusak. "Ooohhh, itu. Itu namanya Yuuada. Ketua kelas aku. Cowok yang nilainya paling tinggi di semua pelajaran. Cowok pintar." Jelas Nisa dengan nada santai. Dia memperhatikan kinerja Fanny. Itu karena kelasnya terlambat belajar membubut. Sedangkan kelas Fanny telah melakukan praktek beberapa kali lebih dulu. "Kenapa? Lo suka ya?" Goda Nisa. Cewek lucu itu tersenyum jail. "Idih! Gak mungkin, lah!? Gila aja! Ogah …," cekal Fanny. Karena memang benar saja. Sebenarnya sejauh ini dia tidak menyukai siapapun. Mengingat dia baru saja selesai move on dari cowok sialan yang ia temui waktu jenjang sekolah sebelumnya. Padahal, posisi Yuuada ada di belakangnya persis. Itu hanya berjarak sekitar 5-6 meter saja. Entah cowok itu mendengar percakapan antara Fanny dan Nisa atau tidak. Fanny tidak tahu. Dia hanya asal menjawab sekenanya. Tidak tahu kalau akan ada akibat di hari kedepannya. . . . Saat pekerjaannya hampir selesai, Inkan baru kembali ke tempat Fanny sedang berfokus mengerjakan benda kerjanya itu. "Gimana? Udah kelar?" Tanya Inkan dengan nada seadanya. Sepertinya dia habis menemui seseorang. Itu terlihat dari mimik wajahnya yang sekarang sudah berubah menjadi segar kembali. "Lo habis darimana, sih? Gue capek banget gila … Belum kelar juga ini." Protes Fanny, cewek itu masih tetap menatap benda kerjanya. Tidak mengalihkan pandangannya. Dia berharap praktek tugas pertama ini akan cepat selesai. Rasanya dengkulnya sudah lemas sekali. Tidak kuat untuk melanjutkan praktek ini. Tapi, sayang jika tidak dikerjakan hari ini juga. Karena benda kerjanya itu tinggal sembilan puluh lima persen lagi akan benar-benar selesai. Setelah mengerjakan dengan tingkat kefokusan yang tinggi. Akhirnya tak butuh waktu setengah jam, benda kerja itu sudah benar-benar selesai. Seratus persen! Fanny menghela napas, melirik Inkan yang sedari tadi diam memperhatikannya saja. Ternyata Inkan tidak membantu apa-apa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD