Sekarang, cewek manis itu sudah sampai di seberang sekolah. Dia mempercepat langkahnya. Seperti rutinitas biasa. Awal masuk gerbang, diwajibkan mencuci tangan terlebih dahulu. Kebetulan sekolah ini sudah menyediakan wastafel yang memadai di dekat gerbang.
Fanny lekas mencuci tangannya, lalu menyapa satpam sekolah dan lekas sedikit lebih mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam bengkel praktek. Dia khawatir kalau sekarang sudah lewat jam masuknya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit silam, akhirnya Fanny sampai juga di dalam kelas bengkel sekolahnya. "Pagi, pak." Sapanya kepada pak Sadadi. Lalu menyalami tangan guru besar yang usianya sudah cukup lansia itu.
"Anak-anak ayo kumpul disini." Ucap Pak Sadadi, dan seketika semua anak-anak mengikuti perintah guru itu. Fanny yang tengah melangkah ke arah teman dekatnya yaitu Inkan, jadi berbelok ke arah yang pak Sadadi katakan.
Ada yang aneh pada hari ini. Terlihat kalau murid yang datang hari ini lebih banyak. Tapi, karena sudah sekolah selama setahun lebih. Fanny sudah hapal dan kenal seluruh wajah teman-teman kelasnya. Dan ketika cewek manis itu meneliti lebih jauh lagi, ternyata ada sekitar sepuluh sampai lima belas orang yang tidak dia kenal.
Siapakah mereka?
Fanny mengerutkan dahi, lalu lekas menyenggol Inkan yang tengah memperhatikan Pak Sadadi yang tengah menjelaskan di depan mereka.
Inkan menggidikkan bahu, sekilas melirik Fanny. "Hah?" Tanyanya dengan nada berbisik.
"Kok banyak orang, sih?" Tanya Fanny penasaran, sembari matanya melirik wajah-wajah bermasker yang tak dia kenal.
"Oh itu. Kan kita sekarang digabung sama anak kelas sebelah, Fan." Jawab Inkan, masih fokus mendengarkan arahan pak Sadadi.
Berbeda dengan Fanny, cewek itu lebih memilih untuk menuntaskan rasa penasarannya ketimbang mendengarkan arahan yang menurutnya sudah seperti biasa. Seperti arahan kemarin. Cewek manis itu terlalu menyepelekan omongan Pak Sadadi yang sebenarnya lumayan penting.
Setelah memberikaan pengarahan selama kurang lebih tiga puluh menit, anak-anak di bubarkan dengan masing-masing tugas yang berbeda. Fanny dan Inkan bergabung dengan anak kelas sebelah. Karena bubutan mereka yang kemarin belum selesai.
Mereka lekas membuka loker untuk mengambil sepatu safety, juga mengambil baju praktek bengkel berwarna abu-abu campur merah itu.
"Fan, tungguin." Celetuk Inkan. Karena sepatu Fanny lebih mudah dipasang. Itu karena kakinya sangat kecil. Berbeda dari cewek umumnya.
"Eh Fan. Lo itu makan gak sih, setiap harinya, Fan?" Celetuk Inkan, sembari melangkah mendekat pada Fanny.
Alih-alih menjawab, cewek manis itu malah tertawa. Lalu bergegas mencari tempat mesin yang sekiranya pas untuk mereka berdua. Sementara teman mereka yang bernama Desi itu ditugaskan untuk mengikuti pelajaran gambar teknik mesin.
Mereka tidak berdua. Karena teman Fanny ikut bergabung. Seseorang dengan tubuh lebar, berkulit kuning Langsat bernama Nisa itu berjalan menghampiri Fanny.
"Hai, Fan!" Sapanya, sembari memegang pundak Fanny. Tentu saja Fanny membalas sapaan itu. Suaranya memang terdengar kecil.
"Kamu bubut juga, hari ini?" Tanya Nisa. Sementara Inkan sudah sibuk mengsetting pahat yang akan digunakan nanti.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba Inkan meneriakinya.
"Woy! Fanny! Lu malah sibuk ngobrol! Bantuin, jancok!" Umpat Inkan. Cewek itu masih sibuk mengatur kedudukan yang pas untuk pahat itu.
Mendengar hal itu, Fanny bergegas melangkah mendekati Inkan. "Heheheh, maaf, Kan." Ucapnya kemudian langsung ikut serta untuk membantu Inkan mengatur pahat tersebut.
Sementara Nisa, cewek cantik itu kembali ke tempatnya.
Cukup lama mereka berkutat fokus pada praktek kali ini. Terasa sedikit berat tapi terlihat semua yang sedang membubut tampak memasang mimik wajah serius.
Tampaknya mereka semua memang benar-benar ingin mempelajari praktek ini dengan serius. Atau karena ini masih awal-awalnya mereka memegang kendali mesin bubut itu. Jadi masih terasa mengasyikkan.
Belum bosan.
Terhitung sekitar lima jam mereka telah menempuh pekerjaan berat itu. Untuk seusia mereka, sudah terbilang hebat karena pekerjaan praktek di pemesinan lumayan berat dan menguras tenaga juga kefokusan yang lumayan banyak.
Sekarang sudah pukul dua belas. Semua mesin dimatikan. Sekarang adalah waktunya istirahat untuk yang belum selesai. Dan waktunya pulang untuk yang sudah selesai. Tapi, biasanya anak-anak mesin tidak pulang terlebih dahulu ketika sudah selesai duluan. Biasanya mereka akan mengumpul di sekitar tempat duduk dekat meja Pak Sadadi.
"Fan, jajan yuk." Ajak Inkan sembari menarik tangan Fanny. Mereka belum mengganti sepatu juga baju prakteknya. Tidak juga mencuci tangan. Karena kini yang terus mengusik pikiran mereka adalah perutnya yang telah keroncongan. Setidaknya harus terisi minimal beberapa gorengan juga air minum apa saja untuk kerongkongannya yang telah kering kerontang.
"Kan, itu anak kelas sebelah ya?" Tanya Fanny, sembari melirik cewek-cewek cantik disebelahnya.
Mereka semua sepertinya telah memakai parfum yang harum. Sampai-sampai saat lewat di depan Fanny dan Inkan. Keduanya dapat mencium aroma kuat yang sangat wangi. Juga kulit mereka yang putih bak bidadari dari kayangan. Sangat amat cantik. Apalagi dengan outfit kekinian yang mereka kenakan semakin membuat mereka terlihat sangat cantik bak selebgram.
Inkan dan Fanny saling tukar pandang. Melirik satu sama lain. Keduanya tahu maksud dari tatapan satu sama lain.
"Ini neng." Celetukan ibu penjual es itu mengagetkan mereka, menyadarkan mereka dari lamunan masing-masing. Tentu saja Fanny dan juga Inkan insecure melihat teman-teman kelas sebelah yang sangat cantik juga wangi.
Inkan dan aku lekas membayar es tersebut, lalu menyusul mereka si "para bidadari" itu ke dalam bengkel. Tapi, saat di depan gerbang bengkel, Fanny dan Inkan memutuskan untuk duduk di gerbang saja. Karena sepertinya sejauh mata memandang, tempat hamparan duduk di dalam bengkel benar-benar sudah terisi penuh. Tidak ada tempat kosong lesehan yang tersisa.
"Disana aja, yuk. Kan." Ajak Fanny sembari menyeruput esnya.
Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk duduk di bawah pohon rindang di depan gerbang bengkel memang banyak sekali pohon-pohon besar yang menutupi teriknya sinar matahari saat siang hari begini.
Entah mengapa, suasana mendadak menjadi canggung. Baik Inkan maupun Fanny, keduanya tidak ada yang ingin memulai interaksi terlebih dahulu.
Dari raut wajahnya, sepertinya mereka berdua kompak berkalut tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tidak berbicara, bukan berarti benar-benar sedang menikmati hembusan angin yang sedang adem ayem ini, kan?
Walaupun mulutnya tak bergeming. Tapi isi kepalanya sangat amat berisik. Itu terlihat dari raut wajah keduanya. Sepertinya keduanya masing-masing kena mental, mendadak insecure tidak tahu tempat.
Mungkin ini hanya tentang perihal waktu. Waktu dimana mereka sudah berani menerima kecantikan yang telah Tuhan titipkan pada setiap perempuan. Karena pada dasarnya, semua perempuan itu cantik dari lahir. Karena jelas, kalau tampan jenis kelaminnya laki-laki. Dan juga, cantik itu relatif juga berdasarkan selera masing-masing.
Percaya atau tidak, yang jelas kita akan cantik di mata orang yang tepat.
Ini hanya masalah menerima diri sendiri saja. Terpenjara dalam dimensi waktu singkat untuk insecure dan melihat pantulan diri kita di depan kaca ghaib. Itu bukanlah sesuatu yang aneh. Setiap manusia pasti pernah insecure.
Karena pada dasarnya, tidak ada manusia yang sempurna dari segi apapun..
Tapi, manusia diajarkan untuk selalu bersyukur atas karunia kerupawanan yang telah Tuhan titipkan. Itulah bentuk menghargai Tuhan. Bentuk terimakasih kepada Tuhan, atas organ tubuh yang lengkap. Dari mata yang dua, sampai jari-jari yang lengkap.
Itu sangat patut di syukuri.