"Jadi mau bagaimana, pak? Bapak akan bertanggungjawab seperti apa kepada anak saya?" Tanya mamaku yang terdengar lebih tegas dari nada suara yang sebelumnya.
Kami sudah duduk melingkar di dalam rumah sepetak itu. Ada pelaku sialan, kedua anaknya, juga istri dan mertuanya yang sekarang sedang membuatkan sesuatu untukku, mama juga adek. Seperti menjamu tamu pada umumnya. Tapi ini lebih terasa seperti kebaikan yang dilebih-lebihkan.
Mungkin, maksud mertua pria sialan ini adalah untuk diringankan saja hukumannya atau bahkan dilepaskan saja anaknya dari tanggungjawab ini. Yaps, aku yakin sembilan puluh sembilan persen kalau mertuanya menginginkan salah satu dari kedua pilihan itu terjadi.
"Saya mohon jangan dilaporin ke polisi, ya Bu. Saya udah nggak mau berurusan sama polisi. Ribet Bu. Duit terus. Ngga kelar-kelar." Keluh pelaku sialan itu.
"Oke. Tapi anak saya harus di urus sampai sembuh, oke?" Tanya mamaku dengan nada santai. Sepertinya mama menganggap kalau masalahnya sudah selesai begitu saja. Padahal, aku disini mati-matian menahan rasa sakit di kepalaku yang terus berlanjut. Tidak berhenti, bahkan dari tadi semakin nyeri sakit.
Mama melirikku. Dia ingin terlihat seperti seolah-olah sedang memikirkan perasaan dan pertimbangan dariku. Tapi, aku yakin betul kalau mama sebenarnya tidak benar-benar ingin mendengar suara hati dari anak tak berguna macam aku.
Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan. Bersamaan dengan itu, ibu mertua pria sialan ini datang, sudah membawa nampan yang cukup besar.
Entah apa isinya.
Semua bergeser untuk membuat jalan yang lebih besar untuk si nampan. Maklum saja, ini adalah rumah sepetak ukuran 4×8 meter. Kecil sekali, bukan?
Ibu mertuanya tersenyum ramah pada kami, lalu tangan keriputnya mulai menata satu persatu piring berisikan lauk sederhana. Itu ada tiga piring. Dengan masing-masing lauk telur dadar. Dan juga tiga gelas teh hangat. Entah teh manis atau tidak. Aku tidak begitu mempedulikannya.
Itu, sogokan itu tidak membuat pertahananku goyah sedikit pun. Aku tetap masih kesal, marah dan ingin sekali rasanya memasukkan orang sialan ini ke dalam sel.
Aku tak habis pikir. Bisa-bisanya tidak ada yang berpendapat untuk membawaku ke rumah sakit! Bagaimana aku tidak emosi dalam batin?! Kepalaku benar-benar terasa perih juga nyeri hebat. Walaupun aku tidak pingsan lama. Atau koma. Tapi aku tetap merasa ada yang aneh dengan kepalaku sejak kecelakaan itu!
Aku berencana ingin mengutarakan suara hatiku saat di rumah nanti. Mungkin saja aku bisa menggoyahkan pertahanan mama yang terlalu mengasihani pelaku sialan ini.
"Dimakan yah neng. Bu, silakan." Tawar Ibu mertuanya itu. Lantas aku lekas memakan hidangan sederhana itu. Tanpa menjawab terlebih dahulu tentunya. Karena aku ingin melampiaskan kekesalanku pada semua keluarga pelaku sialan itu.
Setelah semua hidangan tandas, aku dibelikan obat pusing dari warung. Awalnya aku menolak, karena masih merasa sangat mual dan beberapa kali hendak ingin muntah-muntah. Tapi, sudah sejam lamanya ditunggu kemuntahanku, tetap saja tidak ada yang keluar dari mulutku.
Aku meringis, mengeluh. Aku berharap kalau ada yang mengusulkan agar aku dibawa ke rumah sakit terdekat saja. Tapi kenyataannya tetap nihil.
Setelah meminum obat, mamaku tampak melakukan beberapa kesepakatan pada pelaku sialan itu. Lalu kami diantar pulang sampai ke depan gang rumahnya. Sebuah bajaj kosong hendak melintas di depan kami. Segera pelaku sialan itu menyetop bajaj biru itu. Lalu membukakan pintu, mempersilakan kami masuk.
"Bang, ke SMKN 109 ya. Berapa?" Tanyanya.
"Tiga puluh ribu, pak!" Jawab sopir bajaj.
Lekas pelaku itu merogoh saku celananya. Menghitung uang yang sesuai dengan permintaan sopir bajaj itu. Lalu lekas memberikannya.
"Makasih, Pak." Ucap mamaku tersenyum ramah. Aku muak melihat semuanya. Ditambah lagi, mualku belum juga membaik sedikitpun.
Aku badmood seharian.
Sesampainya di sekolah, mama bergegas mengambil motor dan segera berpamitan serta berterimakasih pada satpam sekolahku. Lalu membawaku pulang bersamanya.
.
.
.
Saat di dalam perjalanan menuju rumah, mamaku berkali-kali bertanya tentang siapa yang salah sebenarnya. Dia sudah terlihat seperti penyidik saja. Tapi, aku tidak peduli. Aku bungkam tidak mau menjawab. Takut-takut kalau emosiku meluap ketika sedang interaksi dengannya. Aku tak mau menyakiti hatinya.
.
.
.
Setelah beberapa Minggu kecelakaan itu terjadi, karena kepalaku tidak kunjung membaik. Pelaku sialan itu bersama keluarga kecilnya datang ke rumah kami.
"Bu, ini saya bawa makanan buat Fanny. Semoga cepat sembuh ya. Oh iya, ini uang yang sekiranya cukup." Ucapnya lembut sembari memberikan dua lembar uang seratus ribu, juga kantong plastik yang bertuliskan Alfamart. Pertanda kalau mereka habis belanja di supermarket tersebut.
Aku memalingkan wajah. Aku tidak suka bertatap-tatapan dengan si pelaku. Rasanya sakit hati, karena dia benar-benar tidak peka terhadap kondisiku yang kini masih suka merintih.
Aku hanya ingin di bawa ke rumah sakit terdekat. Serta melakukan pengecekan kepala tengkorak ku.
Ingin memastikan saja, apakah aku baik-baik saja sehat wal Afiat atau tidak.
Hanya itu.
Kemarin, jauh-jauh hari aku sudah berbicara mengungkapkan apa yang terbeban di batinku. Tapi, sesuai dugaanku. Mama tidak setuju. Biaya rumah sakit pasti terlalu mahal. Apalagi ketika terdeteksi suatu penyakit. Mungkin biayanya akan semakin membebankan si pelaku sialan yang keadaan ekonominya sangat pas-pasan itu.
Aku masa bodoamat dengan hal itu. Aku sempat bersikeras untuk meminta pertanggungjawaban di bawa ke rumah sakit. Tapi mamaku yang jauh lebih keras kepala juga galak, terus saja menolak keinginanku itu. Bahkan mencaci-makiku, bilang kalau itu semua pasti salahku. Karena Topiku dan outfitku yang sok-sokan muslimah padahal kelakuanku masih jauh dari kata wanita solehah.
Dan kami berakhir bertengkar. Diam-diaman beberapa saat.
Aku kerap menangis di tengah malam, ketika sakit kepala yang terasa amat menyiksa diriku, juga jam tidur yang sangat terganggu itu selalu menghantuiku.
.
.
.
.
"Gimana neng, udah membaik?" Tanyanya sok perhatian padaku. Padahal aku bisa membaca atmosfer kebohongan dalam hatinya.
Pura-pura baik. Pura-pura bertanggung jawab.
Aku mengangguk lemah. Mau bagaimana? Apakah aku harus berbicara jujur terus terang?
Apakah mama tidak akan marah besar padaku nanti?
Aku yakin, mama akan sangat marah karena aku tidak mengikuti kemauannya.
Mamaku tersenyum pada mereka, menawarkan ingin dibelikan minuman apa. Tapi, keluarga pelaku sialan itu menolak terus. Dan meminta untuk segera pamit. Entah kenapa, itu melegakanku.
Mereka sudah pergi. Aku dan mama segera masuk rumah kembali. Lalu mama memberikan selembar uang seratus ribu tadi kepada nenekku. Meminta beliau untuk menemaniku diurut di tukang urut profesional, Mak Lala.
Nenekku diam tak bergeming, pertanda iya. Tangannya lekas menyimpan uang yang diberikan mamaku. Lalu bergegas ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang sepertinya tertunda.
Aku kembali ke kamarku. Bergegas mengistirahatkan tubuh jompo ini. Lalu overthingkingku dimulai.
Aku mulai merasa dunia begitu berat.
Tidak ada yang mengerti posisiku. Sama sekali tidak ada.
Tes.
Akhirnya satu air mata mendarat di pipiku. Rasanya dadaku sakit, karena kerap mendapatkan perlakuan tidak adil di dunia. Aku merasa bahwa kehidupanku tidak diinginkan oleh mama. Karena beliau terlihat membenciku. Sorot matanya selalu mengatakan kalau aku adalah beban sampah untuknya.
Aku tidur, sambil menitikkan air mata. Mencoba berhenti berpikir yang tidak-tidak. Karena itu akan semakin memperburuk kondisiku.
Pelan-pelan, aku mulai mengetik alam bawah sadarku. Mencoba memberi ketenangan dan kesunyian pada diriku sendiri.
Flashback dan POV Fanny selssai.