Aku menghela napas, tanganku berusaha mengambil minyak kayu putih di samping matras UKS ini. Sedikit kesusahan karena jarak meja dengan matras agak jauh. Tapi akhirnya aku dapatkan juga minyak kayu putihnya.
Segera aku menaruh beberapa tetes minyak kayu putih ke atas salah satu jari telunjukku, lalu mengedarkannya di kedua pelipisku. Berulang kali aku lakukan. Agar lebih terasa membaik. Karena ocehan mama semakin membuatku pusing.
Sambil sesekali aku taruh sisa minyak yang ada di jariku itu ke hidung. Harap-harap pusing dan mual-mualku sedikit mereda.
Tapi, itu sama sekali tak membantu. Terkadang, kepalaku terasa nyeri hebat. Tapi, tampaknya tidak ada yang peduli.
Sekarang, aku, mama dan adek dibawa ke tempat tinggal si pelaku. Entah, aku juga tidak tahu apa yang mama rencanakan. Karena sedari tadi, aku hanya tidur di matras UKS.
"Mah. Kepala kakak pusing …," rintihku sembari mengaduh. Mama hanya melempar pandangan sinis padaku. Entah kenapa, itu terasa menyesakkan dadaku. Sepertinya sangat sakit ketika orang yang kita kira akan selalu berbaik hati pada kita. Tapi kenyataannya berbeda jauh.
Seperti anak tiri. Kadang kala, aku berpikir apakah aku ini anak tiri? Tapi, mama bilang aku anak kandungnya seratus persen mutlak.
Tapi, aku merasa perlakuan mama kerap berbeda antara kepadaku dengan ke adikku sendiri.
Dadaku semakin sakit. Semakin banyak aku membatin dalam hati, itu semakin mendukung air mata yang tertahan di pelupuk mata itu segera mendarat ke pipinya.
Tes
Akhirnya, air mataku jatuh juga. Untung saja saat ini aku tengah menghadap arah berbalik dari mama. Jadi aku dengan leluasa dapat menitikkan air mataku.
Perlahan-lahan rasa sesak di d**a berangsur-angsur hilang. Tapi itu tidak hilang seratus persen. Mungkin, hanya hilang sekitar delapan puluh persen.
Untuk sisanya, tertanam membekas jadi luka di hatiku. Tersimpan begitu rapat.
Hanya aku yang tahu.
"Udah sampai buk." Ucap sopir yang terdaftar pada aplikasi grabcar itu.
"Okee, deh." Balas mamaku. Kali ini berbeda dari perlakuannya padaku tadi. Kali ini begitu lembut dan begitu sopan. Nada suara itu terkesan santai.
Akhirnya, kami turun dari mobil tersebut. Terlihat si pelaku yang ternyata mengikuti kami dengan motornya dari belakang. Lalu pria sialan itu membayarkan tarif perjalanan kami tadi.
Pria sialan itu menggiring kami untuk masuk ke rumahnya yang hanya sepetak itu. Sepertinya, dia memang orang susah. Tapi tetap saja. Tak ada kata ampun untuk pelanggaran lalu lintas. Apalagi sampai ada korban begini.
Aku berbeda dari mama. Aku adalah wanita tegas nan bengis tanpa ampun. Sangat menjunjung tinggi nilai keadilan. Tidak ada kata toleransi kecil untuk mengasihani pelaku yang telah membuat orang lain terluka dalam hidupku.
Sedangkan mama? Mama dengan mudahnya akan memberikan keringanan. Seperti pada saat ini. Saat pria sialan itu memperlihatkan kondisi rumahnya yang agak miris. Mamaku dengan mudahnya bilang "Karena bapak orang susah. Jadi saya nggak minta yang ribet. Tolong di urut dan dikasih biaya rumah sakit saja sudah cukup pak. Asal bapak mau bertanggungjawab." Ucap Mama, begitu terkesan baik hati.
Aku menghela napas berat, saat mendengar penuturan itu. Sebenarnya aku kesal. Lebih baik aku diurut pakai uang pribadi, dan bapak sialan ini masuk dalam penjara. Daripada aku harus menanggung sakit kepala hebat ini.
Tapi, apalah dayaku. Aku tidak bisa menentang Mama begitu saja, bukan?
Mamaku bukanlah orang yang suka dibantah. Walaupun aku menjelaskan berkali-kali kalau aku tidak membantahnya, hanya saja mengeluarkan unek-unekku. Tapi, baginya itu sama saja seperti membantah.
Haaaahhhh ….
Dikira mama akan tetap membawa bapak sialan ini ke dalam sel penjara.
Tapi,. kenyataannya begitu pahit. Dia malah meringankan orang yang sudah membuatku terluka.
Gak rela banget …!
Deru-deru napasku terdengar begitu geram. Namun siapa lah aku. Tidak berhak bersuara sedikitpun. Aku menahannya. Sangat menahannya dan tetap memperlihatkan perilaku baik. Aku tidak mau menambah-nambah masalah lagi. Biarkan hidup sial ini berjalan pada takdirnya.
Akhirnya, diputuskan kalau pelaku akan mencari tukang urut untukku. Sebelum itu, mama kerap menanyakan terlebih dahulu kepadaku. Si korban. Aku tahu ini bukan pilihan seperti yang mama bilang. Pasti jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin sekali aku mengangguk saja. Menurut padanya. Aku bukanlah anak yang punya posisi khusus di hatinya. Ntahlah. Aku juga tidak paham dengan isi pikiran mamaku. Padahal aku anaknya. Anak kandungnya. Tapi bisa-bisanya dia malah mengasihani orang lain ... Terlebih itu adalah orang yang menabrakku.
Tak berapa lama, datanglah seorang ibu cukup berusia di Cepol dengan tampilan baju ala kadarnya. Sepertinya dia ibu rumah tangga yang entah benar bisa mempunyai keahlian mengurut atau tidak. Aku tidak tahu. Yang jelas, saat proses mengurut dimulai. Tangannya terasa biasa-biasa saja. Tidak seperti tukang urut ahli dekat rumahku.
Dia hanya mengusap-usap minyak urut yang sangat banyak pada tubuhku. Lalu mengusap-usap seluruh tubuhku secara terus menerus. Tidak ada pijatan yang terasa. Padahal, kalau memang benar dia adalah tukang urut biasanya, pasti tubuhku sudah merasakan beberapa penekanan yang biasanya tukang urut lakukan, bukan?
Tapi, ini tidak sama sekali. Ini lebih tepat dibilang hanya membalurkan minyak ke seluruh tubuhku. Aku menghela napas lagi. Tetap diam, tidak protes.
Sekali lagi, aku tidak ingin semuanya menjadi semakin rumit. Aku tahu, mama akan memarahi dan mencaci-makiku habis-habisan ketika di rumah. Jadi aku lebih memilih untuk tetap diam saja. Walaupun orang yang katanya tukang urut ini sibuk sekali mengajakku mengobrol. Tapi aku seperti tak menghiraukannya.
Yah …, hitung-hitung untuk sedikit mengurangi kekesalanku pada hari ini.
Aku menghela napas lagi. "Dek, capek ya?" Tanyanya sembari tangannya masih aktif mengusap-usap punggungku. Aku hanya mengangguk kecil.
Dan, sepanjang pengurutan itu berlangsung. Ibu yang sudah cukup berumur yang katanya tukang urut itu terus berkata kalau dirinya juga pernah ditabrak begini. Dan tak berapa lama sembuh sendiri.
Aku semakin kesal mendengarnya. Karena hal itu seperti menyindirku, kan?
Sabar Fan, sabar … orang kayak gini harus dihadapi dengan kesabaran yang luar biasa!
Aku ingin sekali menyumpal mulut ibu itu. Ingin sekali. Tapi bukankah aku harus bersikap sopan? Terlebih aku yang sekarang kerap menggunakan pakaian yang tergolong perempuan hijrah atau perempuan Solehah dalam balutan syar'i. Tapi, aku tetaplah manusia biasa. Aku bisa marah, bisa merasakan atmosfer emosi. Terlebih aku mudah sekali naik emosinya.
"Jadi gitu, neng. Nah. Ini udah selesai urutnya yah! Cepat sembuh, ya neng. Nanti juga lama-lama sembuh sendiri." Ucapnya sembari beranjak berdiri, ingin pamit sepertinya.
Aku semakin geram dengannya. Aku sudah menutup tubuhku lagi dengan pakaian semula. Tapi, rasanya sangat kesal karena mendengar ocehan terakhir sebelum tukang urut itu pergi. Dan, mamaku berterimakasih kepada ibu tukang urut itu. Aku tidak peduli.
Dia tampak mencurigakan. Seperti bukan tukang urut umumnya. Aku dapat merasakan hal itu dari sentuhan tangannya yang sangat berbeda. Seperti orang yang tidak lihai dalam mengurut.