Pada Sibuk Mencari

1402 Words
        “Bri.. Bri..”Panggil Bumi yang terbata-bata sembari menatap ponselnya.                Briyanda yang sedang membaca laporan dari adik tingkatnya itu segera saja menoleh ke sahabatnya itu kemudian mengalihkan pandanganya ke layar pintar milik Bumi. “Ada apa?”                Setelah dirinya melihat apa itu. Membuat Briyanda seketika kehilangan akan kemampuannya berjalan dan berbicara.  Dia mengernyitkan alisnya, menatap tak percaya.                Plak//                “Sakit!” Teriak Bumi yang kemudian mengelus belakang kepalanya yang sudah di tepuk dengan lumayan keras oleh Briyanda. “Kepala ini masih ingin aku gunakan seumur hidupku. Kalau terjadi sesuatu gimana!”                “Sekali lagi lu buat ulah. Lu ga akan pernah tau hal apa yang akan menimpa lu nantinya” ancam Briyanda yang sudah kesal dengan tingkah sahabatnya ini. Dia mengira akan mendapatkan kabar mengenai keberadaan Meta. Tapi nyatanya, sahabatnya itu menunjukkan sebuah video lucu kepada dirinya.                Sembari mengusap kepalanya, Bumi meletakkan ponselnya di atas meja kemudian menatap Briyanda heran. “Lah, tumben lu perhatian dengan adik tingkat. Apa yang sudah terjadi kepada kalian?” sadar akan ada sesuatu dengan muka Briyanda membuat Bumi mengernyitkan alisnya. “Kenapa muka lu? Habis duel sama siapa? Sama pacar fans lu?”                Briyanda memang sudah sering mendapatkan acaman dan bahkan di keroyok oleh sekelompok orang yang tidak di kenal. Itu karena pelaku merebut wanita incaran mereka dan itu karena Briyanda. Padahal sebenarnya, Briyanda sama sekali tidak ada merebut satu wanita pun di kampus atau dimanapun itu. Karena faktanya para wanitalah yang mengejar dirinya. Berusaha menjadikan dirinya sebagai kekasih.                Dengan lemah Briyanda menaikkan bahunya serentak. “Aku tidak tau, lagian aku sudah melaporkan kasus ini dan sedang di tindak lajuti” Jawab Briyanda. Dia tidak akan tinggal diam kala dirinya di usik. Semua yang sudah mengganggunya akan menadapatkan ganjarannya. Bumi yang kini menatap raut wajah dingin dan menyeramkan dari Briyanda seketika merasa merinding. Sahabatnya ini kalau sudah masuk mode dingin dan menakutkan ini sungguh sangat menyeramkan, seakan hitungan detik nayawanya bisa melayang dan pelakunya itu adalah Briyanda.                “Lu diam-diam mainya mengerikan. Mana ga ada yang tau lagi kalau lu kaya gini” Bumi menggelengkan kepalanya menatap sahabatnya ini. “Lu itu titisan para penghuni dunia gelap”                “Ketika mereka duluan yang mengusikku, maka aku tidak akan tinggal diam saja” Jemarinya lalu mengetuk meja. Sesuatu kemudian terlintas dikepalanya. “Apa mungkin Meta hilang karena—“                “Karena apa?” tanya Bumi yang penasaran.                Hal ini bisa saja menjadi salah satu dugaan yang masuk akal karena Briyanda merasa bahwa preman yang mengeroyoknya itu berusaha untuk membalas dendam kepada Meta. Terlebih lagi dengan kondisi Meta yang tampak melemah. Bukankah ini semakin mempermudah preman itu buat membalas dendam.                                 “Lu jangan buat anak orang kenapa-kenapa, Bri. Meta itu walau bagaiamanpun wanita.” ucap  Bumi yang berusaha menyadarkan sang sahabat.                “Berisik” Jawab Briyanda. Dia lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Bumi. “Mau kemana lu!” teriak Bumi. Namun Briyanda sama sekali tidak menjawab dan berlalu begitu saja.                “Anak itu, kenapa malah membuat aku susah” rutuk Briyanda dengan kesal. * Vulkanik memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Ini sudah malam hari akan tetapi Meta sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Perwira juga tidak hentinya berusaha menghubungi teman-teman dari klub motor Meta siapa tau ada yang melihat atau bersama dengan Meta. Semua jawaban kompak, bahwa tidak ada yang bertemu dengan Meta tepat hari Meta menghilang. Mendengaar hal itu, Perwira mengusap wajahnya dengan kasar. “Anak itu, kemana dia nyangkutnya? Awas saja kalau ketemu. Aku akan panggang tuh anak sampai gosong.” “Lah, lu doang yang mau goreng tuh anak? Aku malah ingin mengulitinya dan menjadikannya isian kebab atau menggantikan daging ikan salmon pada sushi dengan daging miliknya” Tambah Vulkanik. “Seriusan, kalau tau endingnya beginian, aku tidak akan mengizinkan tuh anak pergi. Dari jaman kita pakai seragam putih merah, tuh anak ga pernah menghilang kaya gini” “Jam sepuluh kenapa terasa begitu lama” Perwira meremat rambutnya dengan kesal. “Kalau sampai tuh anak kenapa-kenapa. Aku tidak akan bisa dengan mudahnya memaafkan diriku sendiri” “Semoga saja tuh anak baik-baik saja” ucap Vulkanik dan kemudian menghela nafasnya. Baik Perwira dan Vulkanik, keduanya saat ini sedang berada di kosan Meta. Berharap kalau Meta bisa saja kembali. Namun hingga kini, Meta sama sekali tidak kembali. “Oh Tuhan, bikin aku cemas saja” kesal Vulkanik dia kemudian mengalihkan pandangannya menatap sang sahabat. “Apa hal itu bisa saja terjadi?” Cepat-cepat Perwira menggelengkan kepalanya. “Aku rasa itu tidak mungkin. Seberat apapun masalah yang dia terima. Meta tidak akan mungkin melakukannya jika sekalipun itu adalah sebuah pilihan terakhir yang bisa dia lakukan. Aku dengan sangat yakin percaya” “Tapi kita sendiri tau dengan bagaimana Meta sangat mencintai Mickey” jawab Perwira. Alhasil membuat Vulkanik terdiam. “Jika orang lain akan memelihara sebuah hewan, namun tuh anak malah menjadikan motor kesayangannya sebagai peliharaannya. Dikasih nama, di mandikan, dirawat dengan baik. Bahkan dia sanggup ga makan, asalkan Mickey sudah di service.”                  “Dari pada dia melakukan hal itu, mungkin dia lebih memilih untuk meminta bantuan kepada kita berdua. Lu tau sendiri bagaimana karakter Meta. Anak itu kalau sudah menetapkan sesuatu, dia tidak akan mungkin lagi mengubahnya terutama dengan keputusan dia ambil” Kukuh Perwira. Sejak kecil mereka berteman dan jelas saja Perwira sangat mengenal baik Meta seperti apa. “Lagian Meta pernah berkata bahwa jika dia masih bisa mencari uang, maka dia akan mencari uang dengan bekerja lebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk berhutang kepada kita”                “Tapi masalahnya untuk motor yang sama dengan milik Meta itu tidaklah sedikit uangnya. Kemaren malam lu ingat ga sih akan masalah ini?” tanya Vulkanik.                Kemaren malam disaat ketiganya berada dikosan Meta. Sebenarnya Meta sudah memikirkan sebuah rencana jika saja Briyanda tidak mau menjadi suami dari Meta. Pemecahan masalahnya adalah Meta harus membeli satu buah motor baru yang akan di modifikasi sama dengan motornya. Tapi balik lagi, kendalanya Meta tidak akan pernah mau menyerahkan mickey ke Klandra. Lebih baik dia membeli motor baru.                “Kalau untuk uang segitu aku punya. Bahkan aku bersedia mencairkan uangnya saat ini juga. Tapi Metakan tidak mau kalau dia harus mengutang kepada kita lagi. Aku benar-benar dibuat pusing dengan Meta. Kenapa jalan hidupnya harus serumit ini.” Perwira mengusap wajahnya dengan kasar.                “Nih anak bukannya membantu uang perkuliahannya, yang ada dia terancam untuk tidak kuliah” ucap Vulkanik. Keduanya kemudian kompak menghela nafas berat bersamaan.                “Wir” panggil  Vulkanik.                Perwira dengan lesu kemudian menoleh. “Kenapa?”                Vulkanik dengan cepat kemudian meraih ponsel yang sedang di pegang oleh Perwira. “Lu beneran?”                “Aku mau minta bantuan dengan Mew, siapa tau dia mau menolong kita. Kalau masalah bayaran ke agensinya. Aku sama sekali tidak masalah. Aku akan bayar berapapun itu”                Perwira yang mendengarnya, mengggelengkan kepalanya. “Jangan bercanda ya”                “Aku ga bercanda. Mew harus membuat postingan terkait hilangnya Meta. Siapa tau Meta yang sedang melihat Mew seketika sadar bahwa kedua sahabatnya ini sedang mengkhawtirkannya” ucap Perwira dengan santainya.                “Tidak disangka otak lu yang jenius seketika berubah tidak berfungsi dengan baik saat Meta topik utamanya” Perwira terdiam mendengarnya. Kenyataannya Meta sangat begitu penting untuknya.                “Aku tau lu cemas akan keberadaan Meta saat ini. Aku juga mencemaskan anak itu, hanya saja kita tidak boleh mengambil tindakan gegabah” ucap Vulkanik. “Yang jelas saat ini jangan sampai ada yang tau lebih banyak kalau Meta menghilang. Aku takut ini akan menjadi lebih bahaya lagi buatnya”                Jika itu adalah pilihan terbaik yang harus diambil maka Perwira tidak menolak sama sekali. Saat ini yang bisa di lakukan keduanya adalah menunggu kepulangan Meta sembari mencari kemungkinan dimana Meta berada.                Ponsel milik Perwira yang dipegang oleh vulkanik tiba-tiba bergetar. Disana sebuah nama pemanggil, membuat keduanya seketika menjadi kaget. “Lah, kenapa nih orang nelpon?”                Vulkanik kemudian menyerahkan ponsel Perwira pada sang empunya. “Malas banget aku jawab. Biarin aja”                Tak lama panggilan itu pun berhenti. “Aneh banget dia nelpon” kesal Perwira. “Kalau saja Meta menghilang dan itu karenanya. Demi jumlah pasir yang ada di muka bumi ini, aku tidak akan pernah memaafkannya.”                “Santai, lu jangan marah-marah dulu.” Melihat Perwira yang saat ini sedang di liputi rasa kesal, dia kemudian berusaha untuk menenangkannya. “Tahan. Janagan marah-marah duluan lu”                “Ga bisa aku sabar. Meta hilang dan keberadaannya sama sekali belum ditemukan” gerutu Perwira. Dia meremat rambutnya dengan kesal. “Met, lu dimana sih"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD