Hilang Bak di Telan Udara Tipis

2117 Words
        Briyanda menarik selimut yang dia kenakan untuk membungkus tubuhnya menjadi lebih hangat. Hujan masih saja terdengar sebagai pengantar tidurnya. Membuat Briyanda semakin terbuai akan alam sadarnya.                Udara yang dingin dan juga dirinya yang tidak ada memiliki jadwal ke kampus dipagi hari. Membuat Briyanda tidak ada sedikit pun niat untuk terbangun. Cuaca yang sangat mendukung buat dirinya menjadi kaum rebahan ini dimanfaatkan Briyanda agar tubuhnya bisa beristirahat lebih banyak dari biasanya.                Dia lalu terbangun bukan karena dia memang ingin bangun, akan tetapi karena rasa lapar yang kini dia rasakan. Samar-samar Briyanda mengingat bahwa siang kemaren dirinya terakhir kali makan berat, dan kemudian dia tidak ada makan sama sekali.                Bulu matanya yang indah itu bergetar dan perlahan naik ke atas. Membiarkan iris coklat terang itu di sinari cahaya penerangan lampu kamarnya.  Dia menatap dengan sayu pemandangan yang ada di hadapannya dimana disuguhkan oleh jendelanya yang masih di tutupi oleh tirai miliknya.                Dia kemudian meraih ponselnya yang ada di atas nakas, dimana sudah tercharger. Briyanda mengernyitkan alisnya. Dia yakin kalau semalam dia tidak mengecas ponselnya. Akan tetapi kenapa dia melihat ponselnya itu sedang tercas. Terlebih lagi kalau dayanya sama sekali belum penuh. Masih ada delapan persen untuk mencapai seratus. Hal ini jelas saja menandakan kalau ponselnya baru saja di cas.                Briyanda terdiam sejenak. Seakan dia melupakan sesuatu. Selama beberapa detik dia berusaha mencari jawaban atas kebingungannya kali ini. Dia akhirnya menyadari kalau Meta adalah dalang dari balik ini semua.  Dia lalu mengendarkan pemandangannya ke sekitar, menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan Meta kali ini dimana.                “Meta?” panggilnya dan menoleh ke arah selimut yang membungkus tubuhnya. Dia yakin kalau semalam selimut yang dia gunakan ini dia berikan kepada Meta. Akan tetapi paginya dia malah menemukan dirinya sudah di selimuti selimutnya sendiri.                Ponsel yang ada di atas nakasnya itu lalu di ambil oleh Briyanda. Dia kemudian melirik jam yang tertera disana. Dimana kini sudah menunjukkan pukul hampir jam sebelas siang.                “Dimana anak itu?” monolog Briyanda. “Hari masih hujan begini”                Dia kemudian menyingkap selimut yang dia kenakan. Lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk cuci muka dan kembali berjalan ke dapur. Namun sesuatu kemudian menarik perhatiannya. Dimana sudah ada kantong plastik berisi makanan disana. Briyanda mendekatinya dan meraih bungkusan yang ada di atas meja belajarnya. Sebuah note tertera disana dan segera saja dibaca.                   Bang, terimakasih sudah mengizinkan aku buat menumpang di tempat Abang. Hoodie yang Abang pinjamkan akan aku kembalikan. Dan bubur ini sebagai tanda ucapan terimakasih aku ke Abang. Maaf kalau aku merepotkan Abang selama semalaman.                Tidak perlu berpikir keras, Briyanda sudah mengetahui siapa pengirimnya. Siapa lagi kalau itu bukan dari Meta. Briyanda tanpa sadar menarik kedua sudut tepi mulutnya itu ke atas. Namun itu sangatlah tipis. Jika tidak jeli melihatnya maka tidak akan bisa melihatnya.                Dia lalu mencuci tangannya dan segera saja menyantap bubur yang sudakh dibelikan oleh Meta. Dimana tampilan luarnya sudah sangat menarik buat Meta habiskan. Cuaca dingin sambil makan adalah sesuatu yang begitu nikmat terlebih lagi dirinya tidak perlu bersusah payah membuatnya.                Tidak perlu butuh waktu yang lama. Semangkok bubur ayam itu telah lenyap tak bersisa. Briyanda sangat menikmati akan rasanya yang sangat enak.                “Enak juga” puji Briyanda. Dirinya yagn sangat pemilih makanan ini, jelas saja pujian darinya sangatlah langka.                *                Briyanda akhirnya tiba di kampus pukul setengah satu siang. Dia nyaris saja terlambat karena masih menunggu hujan mereda. Namun hujan yang tidak ada penampakan untuk berhenti itu, membuat dirinya akhirnya memutuskan untuk kekampus dengan menggunakan mantel.                Sesampainya di kampus, Briyanda akan mengira kalau dirinya akan terbebas dengan para adik tingkatnya itu. Namun ternyata dugaannya salah. Adik tingkatnya yang ingin melakukan asistensi sudah menunggu dirinya yang memang ingin tugasnya untuk diasisten olehnya.                Moodnya yang saata ini masuk dalam ketegori baik. Membuat dirinya segera saja duduk dibangku putar kerjanya itu. Kelompok yang dia tangani satu persatu mulai mendatangi dirinya. Melakukan asisten seperti biasanya. Dimana tidak sedikit yang dia gagalkan untuk lulus dalam tahapan pengujian.                Briyanda bukan orang yang akan mudah meluluskan adik tingkatnya itu dengan mudah. Jika tidak memenuhi standarnya sama sekali, maka dengan santai tanpa ada rasa bersalah sama sekali dirinya akan gagalkan.                Hingga akhirnya tiba. Perwira dan Vulkanik yang masuk berdua menenteng masing-masing laporan mereka lalu menyerahkannya kepada Briyanda.                Dia kemudian menaikkan sebelah alisnya menatap kedua adik tingkatnya ini. “Apa kalian tidak mengatakan dengan jelas kepada Meta?” Tanya Briyanda langsung.                Perwira dan Vulkanik yang ditanya lalu saling melirik satu sama lain. “Apa kalian tidak menjawab pertanyaan dari saya?”                Vulkanik menelan salivanya dengan berat, dengan nada gugup dia kemudian menjawab. “Sepertinya Meta salah paham Bang”                “Bukan seperti lagi, tapi ini memang sudah salah paham. Saya katakan ke kalian. Kalau saya tidak menggagalkan kalian pratikum. Akan tetapi saya menggagalkan kalian di pengujian. Salah saya menggagalkan kalian?”                Kedua sahabat dari Meta ini kemudian kompak menggelengkan kepalanya. “Bagus” celetuk Briyanda kesal. “Siapa yang tidak bisa menjawab pertanyaan saya maka saya akan gagalkan tergantung seberapa berat pelanggaran dia lakukan.” Briyanda terdiam mengingat sesuatu. “Dimana Meta. Apa dia sama sekali tidak berniat untuk asistensi?”                “Maaf Bang. Ini adalah salah kami. Dari tadi malam kami belum bisa mencari keberadaannya dimana. Jika kami ketemu, maka kami akan menjelaskan kepadanya masalah ini” ada raut wajah kesedihan yang tergambar dengan begitu jelas disana. Membuat Briyanda seketika menjadi penasaran.                “Menghilang tuh anak? Apa dia tidak kekampus bersama dengan kalian?” tanya dirinya penasaran.                Perwira menggelengkan kepalanya. “Sejak kemaren malam menghilangnya, Bang. Dan hingga kini belum di ketahui keberadaannya dimana. Kami khawatir akan keadaannya sekarang.”                “Metana dari pagi belum pulang?” tanya Briyanda kaget , sekaan tidak percaya akan kabar ini. Dia kira setelah Meta pulang dari kosannya. Wanita itu kembali pulang.                 “Kami tidak bercanda Bang. Semalam katanya dia pergi belikan kami makanan. Ok, karena hari hujan mungkin Meta berteduh. Jadi aku dan Vulkanik menunggunya. Namun hujan ga juga reda membuat kami menyusulnya. Namun hingga kini kami sama sekali tidak menemukan keberadaannya. Yang sedihnya tidak ada yang melihat Meta pergi kemana. Terakhir tukang mie langganan kami dimana Meta terakhir diliat juga tidak mengetahuinya” Jelas Perwira.                Briyanda merasa janggal saat ini. Pasalnya Meta bahkan sempat membelikan bubur buatnya. Jadi tidak mungkin rasanya kalau Meta menghilang begitu saja. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya kalau Meta berada dikosannya semalam. Akan tetapi dia urungkan karena tidak ingin kedua sahabat Meta ini malah berpikir macam-macam akan dirinya.                “Coba ingat-ingat dimana Meta biasanya berada kalau dia menghilang. Mungkin dia berada disana” Usul Briyanda.                “Tanpa Abang suruh, sudah kali lakukan lebih dahulu. Berusah mencari dimana keberadaan dari Meta dari beberapa kemungkinan. Namun hingga kini kami tidak bisa menemukannya. Meta sama sekali tidak membawa ponselnya dimana ini akan semakin mempersulit melacak dimana dia sekarang” sahut Vulkanik.                “Ini belum dua puluh empat jam. Kita tidak bisa melaporkan ini ke polisi karena belum memenuhi syarat” Jawab Briyanda.                “Kami beneran cemas akan dirinya. Terlebih lagi anak itu sangat mudah terserang demam kalau sudah kena hujan. Imunnya itu tidak akan berguna sama sekali ketika di guyur sama alam. Kondisi kakinya yang tidak baik sekarang ini juga membuat kami bertambah cemas. Kalau dia ada apa-apa bagaimana dia akan bisa membela dirinya dari para orang jahat” Perwira menghela nafasnya dan membuat raut wajahnya semakin di tekuk sedih.                “Kami beneran bingung Bang.” tambah Vulkanik.                Untuk satu hal mengenai Meta yang tidak bisa menjaga dirinya dari orang yang ingin berbuat jahat kepadanya rasanya agak aneh di kuping Briyanda. Mengingat dia sendiri bisa melihat betapa kerennya Meta melawan empat orang pria bertubuh besar dan tegap itu di talkukan dengan mudah. Namun Briyanda sadar akan demam yang di derita Meta. Hal ini tentu saja menurunkan kemampuannya.                Seketika Briyanda sadar akan dirinyalah penyebab utama dimana Meta mengalami demam. Itu tepat saat di studio musik dirinya biasa latihan.                “Meta pasti baik-baik saja. Dia tidak akan menghilang begitu saja. Mungkin dia sedang berada di suatu tempat atau apa gitu” Briyanda berusaha untuk membuat sahabat Meta ini tidak terlalu cemas. Walau saat ini ada begitu banyak kasus penculikan orang dengan berbagai motif. Akan tetapi Briyanda yakin kalau Meta tidak akan menjadi salah satu korban.                “Bang, kami berdua mohon jangan mempersulit Meta” Vulkanik kemudian memasang raut wajah memelasnya.                “Mempersulit apanya?” Tanya Briyanda.                              “Abang yang menggagalkannya dalam pratikum ini. Bang, dia sangat berjuang untuk bisa lulus di sini walau bukan dengan nilai yang terbaik. Akan tetapi Meta berusaha agar lulus terbaik menurut versi dan usaha yang dia lakukan” ucap Vulkanik.                “Apa saya pernah mengatakan akan mengagalkan kalian bertiga gagal dalam pratikum?” ucap Briyanda berusaha mengingat keduanya.                Perwira dan Vulkanik saling menatap satu sama lain. Mencari jawaban atas pertanyaan dari Briyanda. Keduanya kemudian kompak menggelengkan kepala.                “Apakah saya salah? Saya hanya mengusir kalian keluar karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari kalian. Saya tidak mengatakan kalau kalian gagal pratikum. Itu hanya isi dari benak kalian sendiri yang menyimpulkannya.”                SKAKMAT                Keduanya lalu kompak terdiam. Karena kenyataannya apa yang di katakan oleh Briyanda benar adanya. Bahwa asisten Dosen mereka ini tidak mengatalan bahwa mereka gagal di pratikum.  “Maaf Bang” ucap Vulkanik dan kemudian di susul oleh Perwira yang sama menyesalnya.                “Nasi sudah menjadi bubur ayam. Kalian sendirilah yang menciptakan opini tersebut. Tapi kenyataannya tidak seperti itu” jawab Briyanda. “Sudah, tunggu dulu selama dua puluh empat jam. Jika tidak ada kabar baru kalian hubungi polisi”                “Meta tidak pernah seperti ini Bang. Dimana pun dia berada, pasti akan memegang ponselnya atau paling tidak dia akan mengatakan kemana dia pergi. Bahkan saat ini dia melewatkan dua kelasnya ketika kami tau kalau Meta tidak akan melewatkan kelasnya lagi. Kalau ini bukan sesuatu yang buruk, jadi apa Bang. Perasaan kami juga mulai tidak enak sejak kemarena malam. Seakan ada sesuatu yang terjadi kepadanya”                Apa yang dikatakan Perwira barusan membuat Briyanda merasa bersalah, walau itu hanya sangat sedikit sekali. Mengingat dirinya sama sekali tidak ingin di bantu oleh Meta. Akan tetapi wanita itu sendiri yang menolongnya dan kemudian terjebak selama semalaman dikosannya lalu saat dia terbangun, dia sama sekali tidak melihat keberadaan Meta dimana.                “Apa keluarganya sudah mengetahui akan hal ini?” tanya Briyanda.                “Saya tidak bisa mengatakan hal ini kepada Abang. Karena ini menyangkut privasi dari Meta sendiri. Tapi yang jelas orang tuanya belum mengetahuinya” jawab Vulkanik.                Ketiganya kemudian terdiam. Bukannya mereka melakukan asistensi akan tetapi ketiganya malah berdiskusi mengenai keberadaan Meta saat ini.                “Bukan apa-apa. Dua hari yang lalu ingat, bahwa ada salah seorang mahasiswi kita yang ditemukan sudah tidak benyawa akibat perbuatan delapan belas ke atas. Saya tidak menginginkan Meta menjadi korbannya. Perjalanan hidupnya tidaklah mulus selama ini, saya ingin dia bahagia” ucap Vulkanik.                Kedua sahabat Meta ini tidak sadar, kalau apa yang mereka katakan mengenai Meta sedari tadi semakin membuat Briyanda bersalah. Karena dia adalah orang terakhir yang bertemu lama dengan Meta. Akan tetapi dia sama sekali tidak dapat membantu dengan banyak.                “Kalian cari Meta sana. Besok saja lagi kalian asistensi” perintah Briyanda dan itu segera di angguki baik Perwira maupun Vulkanik.                Ketika keduanya sudah keluar dari lab. Secara kebetulan Bumi masuk dan menatap raut wajah sang sahabat yang tampak aneh. Biasanya raut wajahnya itu tertekan, kaya ada beban satu ton kapas yang dia pikul. Kini raut wajahnya jauh lebih tertekan seakan bebannya bertambah satu ton tisu serbet warung-warung makan.                “Kenapa wajah lu di tekuk gitu?” tanya Bumi dan kemudian memutuskan untuk duduk disamping Briyanda sembari mengecek laporan adik tingkatnya.                “Si CH4 menghilang. Dan sekarang kedua sahabatnya sedang kelimpungan mencarinya. Bak hilang ditelan udara tipis. Ga ada meninggalkan jejak sama sekali” jelas Briyanda.                “Menghilang? Waduh, jangan sampai kejadian mahasiswi yang lagi viral karena menjadi korban perbuatan delapan belas serta di lenyapkan nyawanya juga di alami oleh Meta” Bukannya merasa lega ketika memberi tahu Meta kepada Bumi. Akan tetapi dia malah menambah beban baru lagi.                “Meta tidak akan mungkin menjadi korban. Aku tau dengan jelas dia bagaimana” kukuh Briyanda yang berusaha untuk menguatkan pemikirannya bahwa Meta saat ini sedang baik- baik saja dan tidak kenapa-kenapa.                Entah Bumi ingin membuat dirinya merasa bersalah atau bagaimana. Tapi yang jelas apa yang dikatakan bumi membuat dia ingin menyumpal mulut sahabatnya ini dengan kaso kakinya. “Di dunia ini apa yang tidak bisa terjadi. Dunia in sedang tidak baik-baik saja.”                Bumi yang saat ini sedang memegang ponselnya meninggalkan laporan adik tingkatnya karena moodnya seketikan menghilang. Jemarinya dengan lincahj mengescroll untuk melihat hiburan yang disuguhkan seketika kaget dengan apa yang dia lihat barusan. “Bri.. Bri..”Panggilnya terbata-bata dan menunjuk ponselnya.                Alhasil seketika menarik perhatian dari Briyanda kemudian menatapnya. “Ada apa?”                Setelah dirinya melihat apa itu. Membuat Briyanda seketika kehilangan akan kemampuannya berjalan dan berbicara. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD